![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Mira sungguh terkejut ketika melihat sebuah kilatan pisau yang sudah digenggam pria itu. Seketika Mira mundur.
"Si-siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?" Mira terbata.
Pria itu melepas maskernya. Sungguh membuat Mira tercengang ketika sangat mengenali wajah itu.
"Hah! Kau...! Bagaimana mungkin?" Mira menutup mulutnya karena sangat terkejut, terus menarik mundur kakinya. Dan pria itu terus mendekat.
"Ya. Ini aku Mira! Kau masih mengenaliku bukan?"
"Mau apa? Kau mau apa?? Pergi! Jangan menggangguku!" teriak Mira.
"Aku datang kemari, untuk membunuhmu dan bayi Nathan. Aku akan membuatnya menyesal sudah menghancurkan aku. Aku akan membunuhmu dan calon bayinya, Mira!"
"Kau tidak boleh melakukan itu Ricard! Jika kau melakukannya, maka Nathan tidak akan mengampuni mu lagi. Jangan lakukan itu Ricard!" tubuh Mira seketika gemetaran, wajahnya telah pucat.
Brug...!!
Pria itu mendorong tubuh Mira dengan sangat kuat, hingga Mira terpelanting ke lantai.
"Argh....!!" Mira meringis menahan sakit dibagian perutnya.
"Aku tidak peduli Mira! Kau dan bayi di dalam perutmu itu harus mati ditangan ku. Dengan begitu, Nathan akan menangis darah.. Haha .. kau harus mati Mira!"
"Jangan..! Jangan lakukan itu. Fic....!! Fic...!!" Mira berteriak sangat kencang, sembari menarik tubuhnya mundur.
"Kau harus mati Mira!" pria itu mengangkat pisau itu dan siap menusuk perut Mira yang masih meringsut dilantai.
Dor...!!!"
"Argh....!" satu peluru milik Fic tepat sasaran mengenai tangan pria yang menggenggam pisau itu sebelum sempat menyentuh perut Mira. Seketika pisau itu terjatuh.
Dor...!!!
Satu peluru lagi dari pistol yang di genggam Fic kembali meluncur mengenai bahu kiri pria itu. Namun pria itu masih bisa bertahan dan memilih melarikan diri dengan meloncati tangga sambil menghindari beberapa peluru milik Fic.
Fic hendak berlari untuk mengejar.
"Fic!" panggil Mira masih terus memegangi perutnya.
Fic menoleh.
"Nona!"
"Tolong aku. Perut ku sakit." rintih Mira.
Fic, langsung merogoh hpnya. Menghubungi siapapun diluar sana yang bisa di hubungi.
[ Kejar, Tukang servis itu. Dia penyusup. Dapatkan dia. Jangan sampai lolos!] seru Fic, saat panggilannya diangkat.
[Siap Tuan!]
Fic kembali mengantongi hpnya dan segera menyimpan pistolnya dahulu dibalik jasnya. Kemudian menghampiri Mira.
Seketika matanya terbelalak ketika melihat darah segar dari paha Mira sudah mengalir kelantai.
"Astaga..!!! Nona, kau berdarah!" berlari mendekat.
"Fic. Hubungi Tuan Nath. Perutku sakit. Cepat hubungi dia!" rintih Mira.
"Tidak bisa. Tidak bisa, Nona." Fic menggeleng.
"Aku tidak bisa menghubungi Tuan Nath sekarang. Itu akan terlambat. Maafkan Aku Nona. Maafkan aku!" Fic langsung meraih tubuh Mira dan membawanya berlari keluar. Tak peduli dengan darah Mira yang sudah mengotori bajunya.
Fic terus berlari keluar, disambut beberapa penjaga yang tertinggal, karena sebagian dari mereka mengejar Ricard.
"Cepat bawa mobil!" teriak Fic.
Tanpa sempat bertanya apa yang terjadi, seseorang diantara mereka segera membuka pintu mobil yang ada.
Begitu Fic memasukan Mira dan ikut menyusul di kursi belakang, tanpa perintah seseorang itu sudah menginjak pedal gas dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Temukan Rumah sakit terdekat!" kembali Fic berseru pada pria yang duduk didepan setir.
"Iya Tuan."
"Arg....!!" Fic menangis seperti anak kecil di samping tubuh Mira dengan memangku kepala Mira.
"Tuan Nath! Maafkan aku!" Fic lemas menatap wajah Mira yang semakin pucat.
"Nona! Bertahanlah!" ucap Fic, penuh dengan ketakutan dan kecemasan.
"Perutku sakit, Fic." keluh Mira.
"Bertahanlah Nona. Jika terjadi apa apa pada Nona, kami semua akan mati ditangan Tuan Nath. Kumohon bertahanlah!" suara Fic terdengar bergetar.
"Aku mengantuk Fic!"
"Tidak Nona, tidak. Jangan tidur. Kau tidak boleh tertidur. Tetaplah terjaga Nona!" Fic tak tahan melihat wajah kekasih Bosnya yang semakin memucat itu. Tangan Fic terus menyapu rambut Mira dan mengguncang bahu Mira, berharap agar Mira tetap tersadar.
"Cepat Bodoh!!!" Fic berseru lagi pada sang sopir dadakannya itu.
"Iya Tuan!" Pria yang ikut panik dan khawatir itu menginjak gas dengan kecepatan tinggi .
Hanya butuh beberapa menit saja, mobil itu sudah berhenti tepat di depan Rumah sakit terdekat yang ia jumpai.
Fic cepat membuka kunci pintu mobil itu, meraih tubuh Mira dan membuka pintu dengan menendangnya.
Segera berlari ke dalam Rumah sakit sambil terus berteriak.
Beberapa Suster dan Seorang Dokter sudah menyambutnya. Segera mendorong tubuh Mira ke ruangan UGD.
"Selamatkan dia Dokter! Dia terjatuh. Dia sedang mengandung!" seru Fic pada seorang Dokter.
"Tenanglah Tuan. Kami akan segera menangani Pasien. Anda bisa menunggu di luar!" sahut Dokter itu menutup pintu Ruangan UGD.
Sementara disana.
Seketika tubuh Ken menggigil menahan gemetar, sesaat setelah mengangkat panggilan dari Fic.
[Aku tidak tau Tuan! Dokter sedang menanganinya. Nona tadi tidak sempat pingsan. Tapi.. Tapi...] Suara Fic terbata.
[ Tapi apa Fic???]
[ Nona berdarah! Nona berdarah Tuan?]
Ken langsung menutup panggilan. Menoleh pada Rimbun yang sempat bingung melihat wajah pucatnya.
"Tuan Ken? Ada apa?"
"Rim. Kau tetap disini. Selesaikan semua ini. Kau bisakan? Kau pasti bisa. Kau pasti bisa." menunjuk berkas berkasnya.
"Iya Tuan! Tapi ada apa? Kenapa Tuan tiba tiba pucat dan panik?"
"Ada hal yang cukup serius menimpa Nona Mira. Aku harus pergi." selesai bicara Ken segera melangkah cepat menemui Nathan di ruangannya.
"Nona Mira? Siapa lagi dia? Apa salah satu kekasih Tuan Ken juga?" Rimbun hanya bisa menggelengkan kepala.
"Dasar Playboy. Pusing kan, kebanyakan pacar?" umpat Rimbun, tanpa tau apa apa.
Ken menghampiri Nathan.
"Tuan. Kita harus pergi!" cepat menarik tangan Nathan dan membawanya keluar.
"Ken. Ada apa?" Nathan yang bingung karena Ken tidak menjawab akhirnya hanya pasrah ketika Ken menariknya untuk cepat berjalan.
"Ken! Kita mau kemana sih?" Nathan masih bertanya ketika Ken membuka pintu mobil.
"Tuan Kau harus tenang." ucap Ken, melirik Nathan yang sudah duduk disampingnya.
"Ada apa Ken?" perasaan Nathan mendadak tidak enak.
"Nona. Dia sakit. Dan Fic saat ini, sudah membawanya ke rumah sakit."
__ADS_1
Nathan terbelalak, meraih kerah kemeja Ken.
"Apa yang terjadi brengsekk! Mira tadi pagi masih baik baik saja. Apa yang terjadi?" melepaskan tangannya. Tubuhnya langsung melemas, menjambak rambutnya sendiri. Pikirannya sudah tak karuan.
Ken sama sekali tidak menjawab pertanyaan Nathan. Segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***
Dua pria itu sudah berlari kencang ke dalam Rumah Sakit dimana Mira berada.
"Fic!" panggil Ken, segera menghampiri Fic yang terlihat berdiri disana.
Fic menoleh,
"Tuan Nath. Tuan Ken!"
"Apa yang terjadi?" Sorot mata Nathan sudah sangat tajam.
Fic tiba tiba berlutut di kaki Nathan.
"Maafkan aku Tuan. Ampuni kami. Kami kecolongan."
"Apa yang terjadi???" mencengkeram bahu Fic.
"Tukang servis itu.. Dia ternyata Ricard. Dia menyamar menjadi tukang servis Kran."
Jantung Nathan hampir saja meledak.
"Mana mungkin? Mana mungkin Fic! Apa yang ia lakukan pada Mira????"
"Katakan Fic!"
"Dia mendorong tubuh Nona hingga terjatuh. Pria itu ingin membunuh Nona dan calon bayi Tuan. Dia hampir menikam perut Nona dengan sebuah pisau. Tapi aku sempat menembak tangan dan bahu kirinya. Hingga Nona terhindar dari tikaman itu."
Seketika tubuh Nathan bergetar hebat. Keringat dingin mengalir deras membasahi rahangnya.
"Nona berdarah Tuan. Nona berdarah akibat dorongan Ricard. Aku sungguh takut dan panik! Tak sempat menghubungi Kalian. Aku langsung membawa Nona kemari. Dan para penjaga saat ini sedang mengejar Ricard." Fic kini tersimpuh di lantai menunduk dengan kedua tangan tertumpu dilantai. Sudah siap menerima hukuman apapun dari Nathan.
"Aku bersalah Tuan. Aku bersalah. Aku teledor. Anda boleh menghukum ku!"
Mata Nathan langsung membulat, tangannya terkepal keras dan melayang ke arah Fic.
Namun Ken, cepat menangkap dengan tepat.
"Tenangkan dirimu Tuan. Fic sudah melakukan yang terbaik. Kau tidak harus menghukumnya." ucap Ken.
Nathan hanya bisa terisak, menghapus air matanya dan duduk dengan lemas di kursi. Matanya tidak lepas dari pintu ruangan dimana Mira berada di dalam, sedang ditangani oleh tim Medis.
Begitu menyesalnya Nathan, hari ini sudah meninggalkan Mira. Padahal pagi tadi, Mira sempat meminta ikut.
"Pergilah Fic. Bersihkan dirimu dulu. Baru nanti kau kembali. Biar aku yang berbicara pada Tuan Nath." ucap Ken pada Fic, sambil membantu Fic berdiri.
"Terimakasih Tuan Ken. Ampuni aku."
Ken hanya mengangguk, membiarkan Fic berlalu. Kemudian menghampiri Nathan, dan menepuk lembut bahunya. Nathan mendongak.
"Kenapa bisa seperti ini Ken? Kita baru saja selesai menyiapkan hari bahagia kami! Kenapa ini terjadi? Kenapa Ricard bisa keluar dari penjara!"
"Tenanglah Tuan. Dia terluka. Tidak mungkin bisa kabur jauh. Penjaga pasti akan mendapatkannya. Kau bisa memberi hukuman sendiri pada bajingan itu!" ucap Ken.
"Lalu bagaimana keadaan Mira sekarang Ken? Dia pasti sedang kesakitan di dalam sana." Nathan masih terisak.
"Semoga tidak terjadi apa apa pada Nona. Fic tadi mengatakan jika Nona tidak sempat pingsan, hanya berdarah saja."
"Mira Berdarah Ken! Masalahnya, dia terjatuh dan berdarah. Darah apa Ken?" Nathan berdiri, mengguncang bahu Ken.
"Mira sedang hamil muda! Lalu dia jatuh dan berdarah. Kau lihat tadi, kau lihat baju dan Jas Fic? Penuh darah di bagian depan. Artinya, Itu darah dari mana?"
Ken hanya terdiam,. hatinya ikut tersayat mendengar ucapan Nathan. Dia mengerti yang dimaksud Nathan. Jika saat ini, pria itu tengah mengkhawatirkan kandungan Mira. Sebab, hanya dengan melihat bagian baju Fic yang terkena darah Mira saja, mereka sudah bisa menebak dari mana darah Mira mengalir.
______________________
__ADS_1