Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Sudah dekil,jelek, banyak hutang lagi.


__ADS_3

"Ken. Apa kau masih di kantor?" suara Nathan dari sebrang telepon.


"Masih Tuan. Tapi aku sudah mau pulang." jawab Ken, membereskan berkas berkas di atas meja kerjanya.


"Dasar pemalas, jam berapa ini? Bagaimana perusahaan mau maju kalau kau begitu?"


Ken melirik jam, sore masih beberapa jam lagi.


"Aku sudah selesai semuanya! Jika anda keberatan, kita bertukar saja. Anda kemari dan aku yang dirumah!" kesal Ken.


"Enak saja. Aku sedang menjaga Mira. Dia sedang tidak enak badan hari ini!"


"Biar aku yang menjaga dan merawatnya." jawab Ken.


"Kau cari mati ya!"


"Haha... Pilih mana?" Ken terbahak.


"Ya sudah lah. Jika kau sudah mau pulang, Mira ingin menitip sesuatu."


"Apa Tuan?" tanya Ken, masih dengan santainya.


"Mira meminta mangga. Mangga muda Ken? Dia ingin memakannya. Kau harus mendapatkannya!"


Panggilan terputus.


"Mangga? Mangga muda?" Ken seperti sedang memikirkan sesuatu sambil melangkah keluar.


"Nona Mira ingin memakan mangga muda?" seperti ada yang tidak beres, Ken terus memikirkan itu sampai ke mobilnya.


"Hah! Apa jangan jangan Nona..." menepuk jidat, kemudian membuka pintu mobil dan masuk.


"Astaga! Nona ngidam?" Ken setengah berteriak.


"Bisa gawat ini!"


Masih dengan setengah khawatir memikirkan jika Mira memang sedang mengidam, Ken menghidupkan mobilnya.


Sebenarnya hamil atau pun tidak, itu tidak akan jadi masalah bagi Ken, karena Nathan sudah pasti akan menikahi Mira. Tapi memikirkan jika Mira benar benar hamil, lalu tentang proses perceraian Mira dengan Ricard yang masih berjalan dan pasti akan butuh waktu sekitar dua bulan lagi atau mungkin malah lebih.


"Jika Nona sungguh hamil, Tuan Nath tetap tidak bisa menikahinya dalam waktu dekat ini. Lalu bagaimana ini? Itu pasti akan membuat Tuan Nath kebingungan."


"Semoga firasat ku kali ini meleset."


Ken cepat melajukan mobilnya. Menuju sebuah toko buah segar.


Berhenti di sana dan segera turun untuk mendapatkan pesanan Nathan.


Yang di cari sudah ada di tangannya, Ken kembali ke mobil.


"Lepas!! Lepaskan aku!"


Suara dari ujung sana membuat Ken menoleh.


Dua pria sedang menarik seorang wanita.


"Cepat ikut kami. Kau harus menjelaskan sendiri pada bos kami!" bentak salah satu pria yang menarik wanita itu.


"Sudah ku bilang kalau aku belum punya uang. Aku baru saja di pecat!" teriak sang wanita.


"Bukan urusan kami! Kau sudah sangat terlambat dan terus merepotkan kami. Jadi sebaiknya kau ikut kami untuk menjelaskan sendiri pada bos kami!"


"Ayo ikut!"


"Tidak mau! Tidak mau Tuan Tuan. Tolong lah,beri aku kesempatan sekali lagi. Aku akan mencari pekerjaan baru dan membayar hutangku." iba wanita itu.


Dua pria itu rupanya tidak peduli. Terus menyeretnya.


"Lepaskan Aku. Aku tidak mau ikut! Tolong!"


Ken yang melihat itu langsung menghampiri.


"Heh, lepas kan dia. Kalian ini, bisa bisa nya bersikap kasar pada wanita!" ucap Ken sudah berdiri di belakang mereka.


Kedua pria itu menoleh.

__ADS_1


"Apa urusanmu bung? Kau tidak perlu ikut campur. Dia berhutang pada bos kami, sudah sekian lama dia tidak mau membayarnya. Mencicil saja tidak. Dia harus bertanggung jawab!" ucap salah satu dari pria itu.


"Tuan! Tolong aku. Aku tidak mau ikut mereka." wanita itu merengek dan menoleh pada Ken.


Mata Ken seketika membulat.


"Hah!! Kau rupanya!" ketika mengenali wajah tidak asing itu.


"Tuan Ken! Tolong aku Tuan Ken. Tolong aku kali ini Tuan!" wanita yang tak lain adalah Rimbun itu mengiba iba pada Ken.


"Ah... Aku tidak jadi menolongnya. Bawa saja dia!" Ucap Ken pada kedua pria itu.


"Dasar biang kerok!" umpat Ken yang masih sangat kesal dengan Office Girl yang sudah berani menantangnya pagi tadi. Ken memutar kembali langkahnya.


Dua pria itu kembali menarik Rimbun menuju mobil mereka.


"Tuan.. ku mohon tolong aku. Mereka akan membawaku ke bos Rentenir, lalu akan menjualku ke pasar gelap! Tolong Tuan Ken!!" Rimbun sempat berteriak ke arah Ken yang sudah membuka pintu mobil.


Ken masuk dan duduk menghidupkan mesin mobil.


"Pasar gelap! Bos Rentenir?"


Mendadak memori otak Ken berputar.


'Bos Rentenir?'


Kata kata itu membuatnya tersentak. Bayangan saat Mira di bawa dua pria dan Bos Rentenir beberapa Minggu lalu begitu saja terlintas di benaknya, membuat Ken langsung mendorong pintu mobil.


Ken berlari menyusul dua pria yang masih menarik paksa Rimbun.


"Hei, lepaskan dia. Aku akan membayar hutangnya. Ayo lepaskan!" ucap Ken pada dua pria itu.


"Tuan Ken?" Rimbun merasa seperti tidak percaya.


"Kau serius akan membayar hutangnya bung?"


"Ya. Katakan saja berapa hutangnya." jawab Ken.


"Sepuluh juta. Kau bisa melunasinya sekarang? Jika tidak, kami akan tetap membawanya."


"Sial. Tidak ada uang ces rupanya." gumam Ken. Terpaksa mengeluarkan selembar cek, mengambil pena di balik jasnya kemudian menulis dahulu nominal yang sengaja ia lebihi dari nominal yang di sebut mereka tadi.


"Aku tidak membawa uang ces. Ambil ini. Itu sudah aku lebihi. Cepat lepaskan dia!" Ken memberikan cek tersebut yang langsung disambar satu pria itu. Setelah meneliti, Pria itu tersenyum dan mendorong tubuh Rimbun ke arah Ken yang cepat menangkap tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Begini kan bagus. Jadi kau tidak merepotkan kami lagi!" ucap pria itu, melangkah pergi di ikuti temannya.


Ken langsung mendorong tubuh Rimbun, mengusap jasnya.


Rimbun seketika menoleh, dan berlutut merangkul kaki Ken.


"Tuan Ken! Terimakasih sekali. Terimakasih sudah menolongku!" Rimbun sekarang terisak.


"Minggir. Jangan menyentuhku!" Ken menarik kakinya.


"Ah iya. Maafkan aku Tuan. Tapi aku tetap berterima kasih kepada Tuan yang telah menolongku. Aku janji akan membayar Uang Tuan tadi." ucap Rimbun, berdiri. Mengusap sisa air matanya.


"Sudah dekil, jelek, kurang ajar, banyak hutang lagi. Menyusahkanku saja!" umpat Ken melangkah kembali ke mobilnya.


Sementara Rimbun hanya bisa menatap langkah pria itu sambil terus bersyukur.


'Meskipun dia kejam, tapi hatinya ternyata baik juga ya?'


Rimbun menghela nafas lalu melangkah pergi mendahului mobil Ken.


Ken sendiri masih melihat gadis itu dari kaca mobilnya.


"Kenapa gadis itu bisa mempunyai hutang pada rentenir?" Ken rupanya sempat memikirkan itu. Kemudian melaju pelan jauh di belakang Rimbun berjalan.


Terlihat rimbun berhenti, dan duduk dipinggir jalan melonjorkan kakinya.


Ken masih melihat itu.


"Mau apa dia, malah bersantai disitu? Dasar bodoh!" umpat Ken, namun seketika Ken tertegun saat melihat gadis itu memijat betisnya sendiri.


Ken menghentikan mobilnya tepat di depan gadis itu duduk. Melihat mobil Ken, Rimbun langsung berdiri.

__ADS_1


"Tuan Ken. Anda belum pulang?"


"Masuklah, aku akan mengantarmu." ucap Ken dari dalam mobil.


"Ah, tidak perlu Tuan. Aku bisa jalan sendiri." sahut Rimbun sambil menggeleng.


"Ayo masuk! Aku tau kau tidak punya uang untuk naik angkot. Jadi masuklah. Kita searah."


"Searah?" Rimbun menggaruk tengkuknya sendiri.


"Cepat masuk! Atau aku akan meminta uangku sekarang!"


"Eh,eh i, iya Tuan. Aku masuk." mendengar ancaman Ken , Rimbun memilih untuk masuk ke mobil Ken. Duduk dengan merapat di pintu.


Mobil Ken kembali melaju.


"Di mana Rumah mu?" tanya Ken, tanpa menoleh.


"Rumah?" gadis itu malah balik bertanya.


"Iya Rumahmu. Aku akan mengantarmu." kini Ken menoleh sebentar.


"Aku, aku tidak punya rumah Tuan."


"Hah!" Ken menoleh kembali.


"Yang benar saja. Lalu kau tinggal dimana selama ini hah!"


"Tadinya, aku tinggal di kamar kost. Tapi aku sudah diusir karena tidak bisa membayar uang bulanan. Beberapa Minggu kemarin, aku tinggal di kamar karyawati di perusahaan anda. Tapi kan aku sudah dipecat. Jadi sekarang, aku tidak punya tempat tinggal." jawab Rimbun apa adanya.


'Ya Tuhan!' Ken sempat terkejut.


'Semiskin itukah gadis ini?' Ken tiba tiba merasa bersalah karena sudah memecatnya.


"Tuan tidak usah khawatir." gadis itu tiba tiba bicara lagi.


"Di depan sana, ada sebuah jembatan. Anda bisa menurunkan aku disana. Orang orang yang tidak punya tempat tinggal banyak yang tinggal disana." ucap Rimbun tersenyum senang dengan idenya.


Ken mendengus, melirik gadis itu. Semakin merasa bersalah.


Tiba tiba Ken menghentikan mobilnya.


"Turunlah disini saja." ucap Ken kemudian merogoh dompetnya. Mengeluarkan semua uang yang ada disana,yang memang hanya ada beberapa lembar.


"Disitu, ada banyak kost khusus wanita." tunjuk Ken sambil mengulurkan uang pada Rimbun.


"Pakailah. Ini bisa untuk membayar dua bulan kamar kost mu."


Rimbun terlihat meremas jarinya.


"Tidak perlu Tuan. Kau sudah sangat membantuku. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi. Tidak apa apa. Aku sudah biasa. Tenang saja."


"Heh! Kau sedang membantahku?" Ken membentak.


"Bu,bukan begitu Tuan!" Rimbun meringsut, takut.


Ken menarik tangan Rimbun dan meletakkan uang itu ke telapak tangannya.


"Ambil!" menggenggamkan uang itu.


"Kau jangan senang dulu. Uang ini tidak gratis, digabung dengan uang yang sudah untuk membayar hutang mu tadi. Kau harus menggantinya padaku dengan cara mencicilnya tiap bulan. Kau mengerti?" ucap Ken.


"Sungguh kah Tuan. Kalau begitu saya nanti akan mencicilnya setelah mendapatkan pekerjaan."


"Em. Cepatlah keluar. Aku masih banyak urusan."


"Ah, iya. Sekali lagi, terimakasih ya Tuan. Ternyata anda pria yang baik." Rimbun buru buru membuka pintu.


Sebelum turun, sempat menoleh sebentar, untuk bertanya, " Sebulan, aku harus mencicil berapa Tuan?"


Ken menghela nafas. "Terserah kau saja."


Brak!!


Ken menutup pintu dan kembali melaju.

__ADS_1


________________


__ADS_2