Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Nathan berlutut.


__ADS_3

"Nona! Anda tidak boleh pergi!" Fic sekuat tenaga mencegah Mira, ketika kekasih Bosnya itu sudah berontak akan lari keluar rumah.


"Tidak Bisa Tuan Fic! Ayah ku sakit. Dia menyuruhku pulang sekarang juga!" bantah Mira, sudah kalang kabut sesaat ketika selesai menerima telepon dari tetangganya yang mengatakan jika Ayah Mira jatuh sakit dan parah. Meminta Mira harus pulang sekarang juga.


"Nona, mohon tenanglah. Setidaknya tunggu Tuan Nath dahulu." Fic terus mencegah.


"Tidak bisa Fic! Aku tidak bisa menunggu siapapun! Aku takut Fic, Aku takut terjadi apa apa dan menyesal jika tidak segera pulang pada Ayahku!" seru Mira, segera menyambar tas kecil miliknya dan bergegas keluar kamar dengan langkah yang sangat cepat.


'Aduh! Bagaimana ini? Bisa gawat." Fic pun semakin panik dan terus mengikuti langkah Mira sampai keluar rumah.


"Nona! Tunggu dulu!" Fic menghadang langkah kaki Mira.


"Tuan Fic! Jangan menghalangiku. Itu Ayahku. Kalau terjadi apa apa bagaimana? Kau mau bertanggung jawab Hah?"


"Tapi anda tanggung jawabku, Nona. Aku bisa di gantung Tuan Nath jika membiarkan Nona pergi!"


"Kalau begitu, kau bisa mengantarku! Menemaniku sampai ke rumahku."


Fic berpikir sejenak.


"Ah baiklah. Apa boleh buat!" Fic segera membuka pintu mobil yang ada.


"Masuklah Nona. Aku akan mengantarmu sampai tujuan." Fic mempersilakan Mira untuk masuk ke kursi belakang.


Fic pun segera masuk untuk mengemudi. Tak ada pilihan lain untuknya kecuali tetap bersama kekasih Bosnya itu.


Sebelum Fic menjalankan mobilnya, ia sempat menyuruh beberapa pengawal untuk mengikuti mobil mereka dari belakang.


Mereka pun akhirnya berangkat ke Kampung halaman Mira yang lumayan jauh dari kota itu.


Fic terus melirik Mira yang tak berhenti menangis.


"Nona! Berhentilah menangis, itu tidak baik untuk kesehatan bayi Tuan Nath! Kita akan segera sampai." bujuk Fic.


"Aku khawatir Fic, aku sangat khawatir. Ayahku, sudah sekian lama aku tidak bertemu dengannya dan malah mendapat kabar buruk seperti ini." sahut Mira masih menangis.


"Tenanglah Nona. Kita akan segera sampai, dan aku harus menghubungi Tuan Nath untuk mengabarkan ini." Fic meraih hpnya masih sambil mengemudi.


"Jangan Fic, jangan menghubungi Nathan. Dia sedang ada urusan yang sangat penting. Nanti hanya akan mengganggunya." cegah Mira.


"Tidak bisa Nona. Apapun itu Tuan Nath harus tau."


Fic langsung menekan kontak Nathan.


"Tuan! Nona Mira. Maafkan saya Tuan!" sapa panik Fic, ketika panggilannya terhubung.


Yang disana, Nathan cukup terkejut mendengar suara panik dari Fic. Padahal mereka saat ini tengah ada di perjalanan menuju pulang ke rumah dengan membawa kabar gembira untuk Mira.


"Apa Fic? Ada apa dengan Mira?" tanya Nathan tak kalah paniknya.


"Nona memaksa pulang ke kampungnya, dan saya tidak bisa lagi mencegah."


"APA Fic?"


"Nona mendapat kabar jika Ayahnya jatuh sakit dan meminta Nona pulang hari ini juga. Dan saya saat ini sedang berada di perjalanan untuk mengantarnya."


Nathan langsung menoleh pada Ken yang sama terkejutnya.


"Ken, Mira!"


"Suruh Fic untuk Share lokasi. Kita menyusul kesana." sahut Ken cepat.


"Kau dengar Fic, terus hidupkan JPS mu. Kami akan menyusul kalian." ucap Nathan.

__ADS_1


"Ah, baiklah Tuan. Apa anda perlu berbicara dengan Nona? Dia tidak berhenti menangis."


"Berikan padanya." jawab Nathan cepat.


Fic segera mengulurkan hp miliknya pada Mira yang masih terisak.


"Nath! Ayahku."


"Sayang.. Tak usah menangis. Tenanglah. Fic akan mengantarmu. Dan kami sedang menyusul kalian." sahut Nathan.


"Apa kalian sudah selesai?"


"Ah, iya. Kami sudah selesai dan masih dalam perjalanan pulang. Tapi Ken memutar arah untuk menyusul kalian. Jangan panik ya. Mira, jangan khawatir. Ayahmu akan baik baik saja. Kita akan segera membawanya ke rumah sakit setelah tiba disana."


"Iya Nath. Iya. Aku hanya khawatir."


"Baiklah, berhentilah menangis. Aku akan segera menyusul mu."


Dan panggilan pun berakhir.


Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya Mira meminta Fic untuk menghentikan mobilnya.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Fic menepikan mobilnya.


"Itu rumahku." menunjuk sebuah rumah sederhana yang tidak jauh dari mobil mereka berhenti.


"Aku turun Fic. Kau tunggu disini saja."


"Tapi Nona!"


"Fic, ayahku bisa salah paham. Ini kampung ku, tidak akan terjadi apa apa padaku. Percayalah. Aku harus masuk sendirian dulu. Kau bisa menunggu Nathan disini."


"Baiklah Nona. Jika ada apa apa yang mengancam, anda harus berteriak yang kencang. Dan aku akan segera masuk." sahut Fic.


Berlari kecil ke arah rumahnya. Tidak ada yang dipikirkannya selain rasa khawatir yang berlebih.


Mira terpaku sesaat di depan pintu rumahnya. Nampak sangat sepi. Lalu Mira mengetuk pintu, mengucapkan berkali kali salam dan memanggil manggil Ayahnya.


Tidak ada jawaban. Akhirnya Mira mendorong pintu itu. Ia melangkah masuk.


"Ayah! Mira sudah datang. Ayah kau dimana?"


"Mira."


Suara itu membuat Mira menoleh. Ayahnya sudah berdiri di ujung sana melangkah mendekatinya.


"Ayah! Apa yang terjadi.? Ayah baik baik saja kan?" Mira berhambur ke arah Ayahnya dan segera memeluk Ayahnya dengan terisak.


Tapi Ayah Mira langsung mendorong tubuh Mira.


"Jangan menyentuhku Mira!"


Mira sungguh terkejut dengan penolakan Ayahnya yang ingin ia peluk itu.


"Ayah! Ada apa ini?"


"Ada apa kau bilang? Dasar perempuan murahan!"


"Ayah. Ayah kenapa?" Mira semakin terkejut.


"Jangan memanggilku Ayah. Kau bukan anakku lagi Mira!"


Plak....!!

__ADS_1


Tamparan yang cukup kuat melayang ke pipi Mira, membuat Mira jatuh tersungkur ke lantai. Beruntung Mira jatuh dengan posisi miring dan tidak menyebabkan perutnya menyentuh lantai sedikitpun.


Mira menoleh, memegang pipinya yang pedih.


"Ayah. Kenapa memukul Mira? Apa salah Mira?" Mira terisak.


"Apa salah mu? Kau sudah mengecewakan Ayah, Mira! Apa yang kau perbuat? Kau sudah menjadi istri durhaka? Kenapa melakukan itu Mira? Kenapa?" bentak Ayahnya menuding kasar.


"Aku tidak mengerti yang kau bicarakan Ayah?"


"Kau sudah mengkhianati suamimu! Kau sudah berselingkuh dengan pria lain!" Ayahnya kini mencengkeram kuat dagu Mira.


"Ayah, kau salah paham?" Mira terus menggeleng.


"Apa kau hamil? Apa kau sedang hamil Mira?"


"Jawab!"


Mira tidak menjawab pertanyaan Ayahnya malah semakin menangis.


"Kau sungguh keterlaluan Mira! Kenapa kau bisa menjadi perempuan murahan seperti itu? Kenapa kau mengecewakan Ayah. Kenapa kau mempermalukan Ayahmu?" Ayah Mira terus berteriak.


"Kau salah paham Ayah.." Mira pun terus merengek.


"Aku sudah tau semuanya. Ricard sudah bercerita padaku. Dan kau masih mau mengelak?"


"Kau berselingkuh, mengkhianati suamimu yang sudah sangat baik pada Ayahmu ini. Kau berselingkuh Mira! Kau sampai hamil dengan selingkuhan mu itu!" Ayah Mira kembali menuding Mira.


Mira terus menggeleng. "Itu tidak benar Ayah. Apa yang dikatakan mas Ricard bohong semua. Ayah harus tau yang sebenarnya. Ceritanya tidak seperti itu?" Mira kini merangkak, memegang kedua kaki Ayahnya.


"Maafkan Mira. Maafkan Mira Ayah! Mira memang sedang hamil. Mengandung bayi pria lain. Tapi ini semua bukan salah Mira!"


"Diam Mira! Diam!" Ayah Mira sungguh geram. Melepaskan tangan Mira dan mendorong Mira kembali hingga Mira tersungkur lagi ke lantai.


"Mira!" suara Nathan yang sudah berdiri di depan pintu dengan mata yang membulat sempurna.


Mira dan Ayahnya menoleh.


"Nath."


Melihat keadaan Mira yang sudah tersungkur dilantai, tentu saja membuat Nathan langsung berlari merengkuh tubuh Mira.


"Mira. Kau tidak apa apa?"


Mira hanya menggeleng.


"Maafkan aku." Nathan memeluk Mira. Dan kemudian menoleh pada Ayah Mira dengan mata yang penuh amarah.


"Apa yang kau lakukan padanya?" sudah mengepalkan tangannya.


"Kau..!!" menuding Ayah Mira yang masih tercengang.


"Berani sekali kau menyakitinya???" Nathan berdiri.


"Nathan! Jangan Nath. Dia Ayahku!" Mira segera menyambar tangan Nathan yang hendak menghampiri Ayahnya.


Seketika langkah Nathan terhenti, menoleh pada Mira. Kepalan tangannya terbuka perlahan. Kembali menoleh pada Ayah Mira. Lalu tiba tiba Nathan berlutut dihadapan Ayah Mira.


Untuk pertama kalinya di dalam hidup seorang Nathan, harus berlutut dihadapan seseorang.


"Maafkan saya Pak. Saya yang salah. Jika anda ingin menghukum, hukumlah saya. Tolong jangan hukum Mira. Dia sama sekali tidak bersalah."


_______________

__ADS_1


__ADS_2