![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Nathan sudah berdiri di depan pintu kamar Mira. Biasanya Nathan langsung masuk tanpa permisi, tapi kali ini tidak.
Pria itu berdiri cukup lama di depan pintu itu. Sesekali menekan dadanya sendiri.
"Aku sungguh jatuh cinta padanya. Bagaimana ini? Semoga tidak terlalu sulit. Ayah, doakan Putramu."
Sekilas bayangan pria gagah yang dulu selalu ada disisinya itu terlintas di benak Nathan.
"Kisah ku akan tidak terlalu buruk Ayah. Saat aku mendapatkan calon menantu mu. Bukankah Ayah pernah berpesan padaku. Gadis atau janda itu sama saja. Yang terpenting adalah akhlak. Bahkan zaman sekarang Gadis itu banyak yang hanya statusnya saja."
"Ayah sendiri, menikahi janda yang sudah memiliki anak. Dan Ayah juga yang menjadikan wanita itu janda. Hahaha.. sepertinya kita akan senasib. Hanya saja kau lebih buruk dariku Ayah."
Nathan berhenti berbicara sendiri. Kemudian mulai mengetuk pintu. Di lakukannya berkali kali hingga Mira membuka pintu.
"Lama sekali?" tanya Nathan.
"Saya tadi, sedang di kamar mandi." jawab Mira , segera menarik tatapannya ketika beradu dengan pria di depannya itu.
"Boleh masuk?" tanya Nathan melihat Mira masih memegangi gagang pintu.
"Eh, iya. Tentu saja." Mira segera membuka lebar pintunya.
Nathan melangkah, duduk di sisi ranjang.
"Kau ingin menghubungi Ayahmu?" Nathan bertanya lagi.
"Boleh Tuan?" Mira langsung mendekat.
"Kenapa tidak?" Nathan mengeluarkan hpnya.
Lalu memberikan pada Mira.
Mira segera menerima hp itu. Tapi saat menggeser tombol kunci, Mira melotot untuk beberapa saat. Menatap teliti wallpaper hp milik Nathan itu. Kemudian menoleh pada Nathan.
"Ada masalah?" tanya Nathan, melihat Mira menatapnya penuh keheranan.
"Kenapa wallpaper anda photo ini Tuan?"
"Sesuka ku dong? Kan hp ku." jangan Nathan ringan saja.
"Dari mana mendapatkannya?"
"Mencuri diam diam. Biarkan saja. Tidak mengganggumu ini." jawab Nathan semakin santai.
Mira menghela nafas. "Kenapa harus photo saya?"
"Lalu photo siapa harusnya? Ken? Mana mungkin. Dikira nanti kami suami istri."
Mira ingin tertawa mendengar lawakan Nathan, tapi tidak jadi.
"Setahu saya, wallpaper seseorang itu adalah kekasihnya. Begitu."
"Kalau begitu jadi kekasih ku saja. Beres kan?"
Mira langsung menoleh." Tuan! Bicara anda sembarangan. Ucapan adalah doa." sahut Mira.
Mira segera beranjak, Nathan lagi lagi menyambar tangan Mira.
"Mira!"
"Selingkuh yuk!" ucap Nathan tiba tiba.
"Tuan!" tentu Mira terkejut mendengarnya.
Nathan terdiam. Menggeser duduknya.
Nathan menarik nafas resah. Kemudian menatap Mira.
__ADS_1
"Aku tau pernikahan mu tidak bahagia."
"Pernikahan saya memang tidak bahagia. Tapi selingkuh itu bukan hal yang baik Tuan?"
"Kalau begitu, Bercerai darinya dan menikahlah denganku. Aku akan membahagiakanmu dengan hidupku Mira." ucap Nathan, kali ini cukup serius.
"Aku tidak bisa Tuan. Aku.."
"Baiklah, kalau begitu. Aku yang akan membuat dia menceraikan mu. Aku yang akan merebutmu darinya."
"Tuan! Kenapa anda jadi seperti ini?" tanya Mira sedikit mulai terguncang dengan semua ucapan Nathan.
"Karena aku mencintaimu." kini Nathan menarik tangan Mira ke depan dadanya.
"Aku tidak pernah menyukai wanita manapun. Saat bertemu denganmu, aku menyukaimu. Lalu suka itu, berubah menjadi cinta. Iya.. Aku jatuh cinta padamu Mira. Aku mencintaimu."
Mendadak lidah Mira kelu. Tubuhnya terasa panas dingin. Seumur hidup baru kali ini ada pria yang mengutarakan cinta padanya. Bahkan Ricard suaminya tidak pernah mengatakan itu. Tapi, walau bagaimanapun juga, Dia bersuami. Berstatus istri orang. Mana mungkin?
"Ini salah Tuan!"
"Aku tau. Aku tau ini salah. Tapi kita bisa meluruskannya." Nathan kini memegangi kedua pipi Mira , menatap dalam dalam. Menyibakkan rambut Mira berkali kali.
"Pertemuan kita. Kejadian kemarin kemarin, itu bukan kebetulan. Aku yakin ini sebagian takdir kita Mira. Kita di pertemukan untuk bersama. Percayalah padaku Mira. Percayalah. Aku bukan Ricard. Aku Nathan. Aku mencintaimu. Tidak mungkin menyakitimu. Sungguh! Itu sungguh. Aku sudah yakin dengan perasaanku." ucap Nathan.
Mendengar semua itu, mata Mira berkaca kaca. Setitik kristal bening menetes di ujung matanya .
"Tuan. Anda salah. Saya ini bukan perempuan yang baik untuk Tuan. Mana mungkin Tuan Nath bisa jatuh cinta pada saya. Saya ini buruk. Tidak pantas untuk anda." ucap Mira.
Nathan mengusap air mata itu. "Tidak ada manusia yang baik, selain kita mau berusaha memperbaikinya. Dan kita, akan memperbaiki yang salah. Bagaimana? Kau setuju?"
Mira masih terdiam.
"Sekarang jawab aku! Apa kau mulai mencintaiku?"
Mira gelagapan.
"Baiklah. Kau bisa mempertimbangkannya dulu. Bisa bertanya pada hatimu dulu. Siapa yang kau cintai. Aku? Atau suamimu." Nathan melepaskan tangannya.
"Hubungi Ayahmu."
Mira segera mengangguk.
Segera kembali pada hp yang masih digenggamnya.
Mira menoleh lagi pada Nathan.
"Nomornya? Apa Tuan masih menyimpannya?" tanya Mira saat mengingat jika sudah tidak memiliki nomor tetangganya di kampung yang biasa ia hubungi.
"Tentu saja."
Nathan langsung menunjukan nomor yang sengaja memang ia simpan itu.
Mata Mira langsung terbelalak ketika melihat nama kontak itu.
Kembali menoleh pada Nathan yang tersenyum tipis.
"Kelakuan Ken. Mungkin dia mengira itu nomor milik Ayahmu." Nathan mengkambing hitamkan Ken.
"Kenapa harus Calon Mertua?"
"Amin kan saja Mira. Semoga terlaksana."
"Tapi ini nomor tetangga."
"Anggap saja nomor Ayahmu. Jika nanti Ayahmu sudah memiliki hp sendiri. Kau bisa menghapusnya."
Mira tidak ingin berdebat. Segera menekan nomor itu.
__ADS_1
"Halo Bibi. Bisakah aku berbicara dengan Ayahku sebentar?" tanya Mira saat panggilannya terangkat.
"Mira ya?" yang di sana.
"Iya Bi.."
"Tunggu sebentar ya. Bibi jalan dulu."
"Iya Bibi. Terimakasih."
Tidak lama dari menunggu, suara serak dari laki laki yang dirindukan Mira selama ini terdengar di iringi isakan kecil.
"Mira.. Bagaimana kabarmu nak?"
"Baik Ayah. Ayah bagaimana? Apa sudah menerima uang dari Bibi?" air mata Mira langsung mengalir deras. Rasa sesak karena sudah menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya selama ini dari Ayahnya.
"Mira! Katakan pada suamimu. Terimakasih banyak atas uangnya. Ayah sekarang bisa ditangani Dokter spesialis tulang nak?"
"Suami?" Mira sangat terkejut, Ayahnya mengira jika uang itu dari suaminya.
"Ayah. Uang itu..."
Tiba tiba Nathan meletakkan jari telunjuknya di bibir Mira sambil menggelengkan kepalanya.
Mira langsung mengerti.
"Mira.. Ada apa nak. Apa suamimu tidak bilang padamu bahwa dia mengirim uang banyak untuk Ayah?" suara Ayah Mira.
"Banyak? Memang berapa Ayah?" Mira bertanya, tapi matanya melirik Nathan yang berada pas di depannya.
"Dua ratus juta Mira."
"Hah! Dia ratus juta. Ya Tuhan!" Mira kembali menoleh pada Nathan yang mengangguk samar.
"Itu sangat banyak Mira. Hutang hutang kita langsung Ayah bayar lunas. Ayah saja sampai tidak percaya. Tapi setelah sekretaris suamimu menelepon Ayah dan mengatakan jika uang itu sengaja untuk biaya berobat Ayah, Ayah baru percaya. Mira , suamimu itu sungguh baik ya? Dia ingin Ayah sembuh Nak. Dia sangat bertanggung jawab rupanya. Katakan padanya. Ayah sangat berterima kasih sekali. Ayah pasti gunakan uang itu untuk berobat. Ayah ingin sembuh Mira. Ingin segera bisa menengok mu Nak! Ayah rindu padamu Mira!" seketika Mira menangis tersedu.
"Mira juga rindu Ayah!"
"Baiklah. Jangan menangis. Doakan Ayah cepat sembuh dan bisa menengok mu ke kota. Atau kau yang pulang ke sini. Hati hati disana nak ya. Jadi istri yang baik. Jangan kecewa kan suamimu yang sudah mau membantu kita. Dia pria baik Mira. Dia pria baik karena mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Jaga suamimu baik baik."
Ucapan Ayahnya semakin membuat Mira tersedu. Sampai panggilan terputus Mira masih menangis.
"Ayah, kau salah paham. Suamiku tidak seperti itu. Ayah, Kau salah paham!! Bukan dia. Bukan dia!"
Nathan segera merengkuh tubuh Mira, membawanya dalam pelukannya. Membelai rambut Mira.
"Kenapa melakukan ini pada kami Tuan?" lirih Mira masih di dada Nathan.
"Karena aku peduli padamu. Aku juga merasa harus membantu Ayahmu. Aku tidak punya Ayah Mira. Aku tau bagaimana sedihnya seorang anak saat takut kehilangan orangtuanya." jawab Nathan.
"Tapi Ayah salah paham."
"Jadikan aku suamimu. Maka Ayahmu tidak akan salah paham lagi."
"Tuan. Kenapa anda nekat?" Mira mengangkat wajahnya.
"Karena aku serius."
"Aku masih istri orang. Akan menjadi masalah nantinya." ucap Mira.
"Istrimu Semangatku. Haha.. Akan ku ucapkan itu di depan suamimu kelak."
"Anda berani?" Mira menatap seksama.
"Kau sedang menantang ku?" Nathan memegang kedua pundak Mira.
"Nathan Edoardo tidak takut pada siapapun!"
__ADS_1
________________