Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Bila perlu, Besok!


__ADS_3

Setelah Mira sudah menyampaikan maksudnya kepada Ayah begitu juga dengan Nathan dan Ken, akhinya mereka sepakat untuk berangkat langsung ke Rumah keluarga Rimbun malam ini juga.


Dengan mengendarai dua mobil yang berbeda. Mira bersama Nathan dan Ayah, mengunakan sopir tentunya. Dan Ken bersama Rimbun, tanpa seorang Sopir.


Terdengar suara nafas Nathan yang kasar.


"Nath, kau kenapa?" tanya Mira seperti menangkap kegelisahan di wajah suaminya.


"Aku hanya sedang memikirkan Ken. Bisa bisanya melamar seorang gadis dengan tangan kosong tanpa persiapan apapun. Kau tau Mira, Keluarga Fiandi itu, termasuk Keluarga terpandang di kota ini. Apa itu tidak memalukan?" ucap kegelisahan Nathan.


"Aku juga tidak mengerti, apa mungkin setelah ini Ken akan mengirim hadiah untuk keluarga Rimbun. Kita juga tidak tau kan?"


"Haha.. mana ada seperti itu. Yang namanya hadiah lamaran, datang bersama orang yang melamar. Masa iya menyusul?" bantah Nathan.


"Mungkin, Ken takut di tolak. Jadi, menyiapkan apapun akan percuma." jawab Mira.


"Kau benar. Ken ternyata takut di tolak."


Ayah yang duduk di jok depan pun menoleh ke belakang karena mendengar obrolan mereka.


"Tidak Seperti itu juga Nak? Ada yang melamar dahulu, dan jika sudah diterima baru hadiahnya menyusul kok."


"Benarkah?" tanya Nathan.


"Tidak usah jauh jauh contohnya. Memang kau membawa apa ke rumah saat melamar Mira?"


Mendengar itu wajah Nathan seketika memerah menahan malu.


"Yang ada kau membawa perut buncit Mira." sambung Ayah.


Nathan sungguh tersipu dengan ucapan Ayah. Mira, malah tertawa sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ayah. Kau bisa saja." Nathan menutupi malu.


"Benar kan? Dan hadiah demi hadiah menyusul setelah kau melamar Mira. Bahkan sampai kau menikah dengan mira hadiah darimu tidak berhenti juga." beruntung ayah berkata demikian, dan memang benar yang dikatakan Ayah. Nathan terus menghadiahi Ayah Mertuanya. Bahkan sudah membelikan rumah besar di kampungnya, tanah dan beberapa kebun. Karena Ayah bersikukuh untuk tetap pulang ke Desa.


Mendengar itu hati Nathan yang tadinya ciut langsung melambung tinggi. Seketika menoleh pada Mira dan menepuk dadanya.


"Kau dengar kata Ayah Mira. Suamimu ini hebat kan?"


"Iya, kau hebat sayang. Kau lelaki terhebatku." puji Mira, semakin membuat Nathan melambung saja.


Di mobil belakang, Ken melirik Rimbun. Wajah gadis itu datar saja. Tidak ada ketegangan atau gugup sedikit pun, tidak seperti kebanyakan gadis ynag akan di kamar, biasanya sudah terlihat bahagia, atau minimal tegang lah . Lain hal dengan Ken, hatinya sudah jedag jedug sejak dari keluar rumah tadi.


'Ni anak, mental terbuat dari apa sih?'


"Kau tidak tegang?" tanya Ken.


Rimbun menggeleng. "Tegang kenapa?"


"Ya, siapa tau, kan mau dilamar?"


"Tidak juga." santai saja.


"Apa kau bahagia?"


"Tentu saja. Aku bahagia karena akan dilamar oleh mu." jawab Rimbun.


Ken mendengus. " Apa kau kecewa karena aku tidak membawa hadiah apapun?"


"Tidak Tuan Ken, memangnya untuk apa hadiah? Kau lupa kalau aku sekarang sudah punya keluarga kaya. Aku tidak perlu hadiah apapun lagi darimu." sahut Rimbun, kini gadis itu meraih lengan Ken.


"Aku hanya perlu cintamu dan kesetiaan mu saja sekarang." tanpa di duga, Rimbun sedikit bergeser untuk mengecup singkat kening kiri Ken. Sambil tersenyum malu, rimbun kembali duduk di posisinya semula. Ken, cukup terkejut. Mengusap usap bekas kecupan Rimbun.


Menoleh pada gadis yang kini menunduk itu. Bibir Ken tersenyum, tapi hatinya meledak ledak rasanya.


"Eh, Tuan. Hati hati!"


"Astaga!" Ken langsung membenarkan setirnya yang hampir oleng, akibat hilang konsentrasi karena


kecupan dadakan dari Rimbun.

__ADS_1


"Maafkan aku, maafkan aku. Aku hampir kehilangan konsentrasi gara gara ciuman dadakan mu."


"Lebay tau! Kau saja sering melakukannya. Menyerobotnya lagi."


Ken tertawa.


"Tapi kau suka kan?" ledek Ken.


"Tidak. Mana ada."


"Ngaku.."


"Eh, yang benar nyetirnya. Nanti tidak jadi nikah lho."


"Ah, iya iya. Maafkan aku." Ken segera kembali fokus ke jalan. Sambil sesekali tersenyum, dan sesekali melirik Rimbun.


Jam 20.30.


Rombongan Nathan sudah tiba di depan rumah Keluarga Fiandi.


Al' berlari kecil menyambut mereka. Al' nampak begitu hangat menyambut. Bahkan menyapa Ken dengan sopan kali ini.


Ken dan Rimbun sempat dibuat heran oleh sikap hangat Al' yang tidak seperti biasa.


Mereka akhirnya masuk dan duduk.


Derap langkah terdengar ujung tangga. Mereka menoleh secara bersamaan. Kakek sudah melempar senyum lebar, menghampiri mereka.


Melempar senyum ke arah Ken.


Kemudian pada Nathan dan Mira. Rupanya Kakek sudah sangat mengenal Nathan meskipun belum secara langsung.


"Selamat datang Tuan Nath, Nona. Suatu kehormatan yang tak terduga, Rumah kami kedatangan Tuan Muda Nathan Edoardo beserta keluarga. Sungguh."


"Ah, Kakek, jangan bicara seperti itu. Kami ini sudah menganggap Rimbun keluarga kami." jawab Nathan sedikit kikuk juga.


"Dan Ini, apa ini Ayah kalian?" tanya Kakek menunjuk hormat kepada Ayah.


"Oh, iya iya. Selamat datang Tuan, inilah rumah keluarga Rimbun. Saya ini, Kakek kandungnya Rimbun." Kakek memperkenalkan diri kemudian duduk.


" Ah, iya. Tapi, jangan memanggil saya Tuan. Seharusnya saya yang memanggil Anda Tuan." jawab Ayah.


"Lalu saya harus memanggil apa?"


Mereka masing masing menoleh, mendadak bingung soal panggilan.


"Baik lah, kalau begitu bagaimana jika saya memanggil Anda besan saja. Bukankah sebentar lagi, kita akan berbesanan?" ucap Kakek, tergelak kecil sambil melirik Ken dan Rimbun yang sejak tadi sudah tidak bisa menyembunyikan rasa tegang Mereka. Namun ucapan Kakek barusan sungguh bisa mencairkan suasana.


"Pucuk di cinta ulam pun tiba. Kau benar Tuan." Ayah tersenyum.


Mereka semua ikut tertawa kecil sebelum akhirnya suasana menjadi hening sejenak, saling melempar senyum meskipun masih terlihat canggung.


Terdengar Ayah berdehem. Kemudian memulai bicara.


"Tuan. Berhubung anda sudah memanggil saya besan, saya akan langsung saja kalau begitu , untuk mengutarakan niat kami datang kemari selain mengantar Nak Rimbun pulang."


Kakek mengangguk, sudah bisa menebak apa tujuan mereka kemari.


"Jadi begini , Tuan." Ayah berdehem hingga beberapa kali.


"Nak Ken dan Nak Rimbun ini, mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Dan rupanya mereka ini, saling mencintai. Jadi, Saya sebagai wakil dari keluarga Nak Ken, ingin melamar Nak Rimbun untuk Nak Ken. Bagaimana? Apa Tuan, bisa menerima lamaran kami ini?"


Suasana menjadi hening kembali. Kakek menoleh dahulu pada Al' yang duduk di sebelahnya.


Al' tersenyum saja, kemudian mengangguk pada Kakek.


Lalu, terdengar suara dari Kakek.


"Tidak ada alasan untuk kami menolak lamaran ini. Apalagi Tuan Ken selama ini sudah menjaga cucu ku dengan baik. Saya akan menerima lamaran ini dengan sangat senang."


"Benar kah?" Nathan bersuara cukup keras.

__ADS_1


"Ken! Kau diterima! Lamaran kita diterima. Haha...!" Nathan mengguncang bahu Ken yang tersenyum lebar. Mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Alhamdulillah!" puji syukur dari Ayah.


"Tapi mohon maafkan kami, Tuan. Kami kesini tidak membawa apa apa." baru saja Ayah selesai bicara dan Kakek belum sempat untuk membalasnya, suara klakson yang cukup keras mengejutkan mereka. Semua menoleh keluar.


Fic, sudah berdiri di depan pintu. Tersenyum lebar, dan tak lupa mengangguk hormat pada mereka.


"Fic! Ada apa? Kenapa kau tiba tiba kemari?" Nathan segera menghampiri.


Fic menggeser kakinya beberapa langkah ke samping, menoleh ke belakang.


"Ayo, masuk!" mempersilahkan beberapa pria dan wanita yang langsung masuk.


"Apa apaan ini?" semua tercengang kecuali Ken yang hanya tersenyum senang.


"Kami membawa hadiah lamaran dari Tuan Ken untuk keluarga Nona Rimbun." ucap Fic.


"Hah! Astaga! Kau ya?" Rimbun mencubit perut Ken.


"Hanya kejutan kecil untukmu Jelek!"


Kakek, sejenak terpaku sebelum akhirnya mendekat ke arah mereka yang sudah masuk satu persatu meletakkan bingkisan di atas meja. Hingga meja panjang yang terbuat dari kaca tebal itu sudah penuh saja oleh bingkisan. Bahkan masih ada sisa banyak di tangan mereka dan akhirnya terpaksa ditumpuk dengan rapih.


Buah, bunga bahkan barang barang kecil berharga lainnya. Tak lupa, kue pun ada di antaranya.


"Ini. Kenapa mesti membawa hadiah segala, sebanyak ini lagi?" Kakek cukup tercengang dengan semua barang yang sudah berjejer itu.


"Merepotkan kalian saja." menunjuk, tapi senang.


"Ah iya Tuan. Kami juga tidak tau, jika Nak Ken sudah menyiapkan ini semua sendiri." sahut Ayah.


Ken tersenyum, menoleh pada Nathan yang sudah menatapnya penuh pertanyaan.


"Niat lamaran ini sungguh dadakan sekali Kakek. Ketika Rimbun datang dan menanyakan kapan saya akan melamarnya, saya langsung menjawab malam ini juga. Karena belum ada persiapan sedikitpun, saya segera menghubungi kepala pelayan untuk mempersiapkan ini semua. Maafkan saya jika tidak tau, hadiah apa yang seharusnya dibawa pada saat lamaran. Sekali lagi, mohon maafkan saya." ucap Ken.


Nathan dan Mira melongo.


Kakek tersenyum kembali, " Seharusnya tak perlu serepot ini. Tapi baiklah, Kakek sangat senang dengan hadiah hadiah ini, apalagi Rimbun. Pasti dia sangat senang sekali. Terimakasih Nak. Kau ini, sungguh lelaki hebat. Acara dadakan pun masih sempat memikirkan semua ini."


"Ayo, ayo. Duduk lagi." Kakek mengajak mereka duduk kembali.


Setelah Fic pamit undur diri, Ken pun kini mengeluarkan sepasang cincin. Kemudian meminta Rimbun untuk mengulurkan tangannya. Sepasang Cincin indah itu kini terselip di jari manis mereka berdua.


Rimbun tersenyum, menatap Cincin yang sudah melingkar di jarinya itu.


"Apa ini juga, kau beli secara dadakan?"


"Tidak. Cincin ini sudah ku persiapkan sejak pertama kali aku mengajakmu menikah." jawab Ken.


"Tapi, maaf ya. Mungkin hanya sebentar saja kita memakainya."


"Kenapa?" Rimbun sempat heran.


" Aku akan segera menggantinya dengan Cincin kawin. Karena aku ingin, kita secepatnya menikah. Kau mau?"


Rimbun kembali tersenyum, lalu mengangguk. Di sambut tawa bahagia oleh semua.


"Lebih cepat memang lebih baik. Jika kelamaan takut basi!" Al' yang sejak tadi tak bersuara akhirnya ikut bicara.


"Haha.. Kau benar. Kau benar!" Kakek menepuk nepuk bahu Al'.


"Setelah itu, kau harus menyusul adikmu."


"Siap Kek! Tak perlu khawatir. Seminggu setelah Rimbun menikah, bersiap lah untuk melamar seorang gadis untuk ku."


Kembali rumah itu di penuhi gelak tawa bahagia.


Suasana kembali tenang. Dan di akhir pembicaraan, mereka membahas hari pernikahan yang akan dilangsungkan secepatnya. Bila perlu, Besok!


___________

__ADS_1


__ADS_2