![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Nathan melangkah keluar dari markas Roy dengan membopong tubuh Mira, diikuti Ken dari belakang.
Disana Mereka bisa melihat dua manusia yang tengah berdiri di dekat mobil . Fic dan Rimbun menunduk dengan wajah pias.
Segera menggeser langkahnya ketika langkah Kedua pria itu sudah mendekat.
Nathan langsung memasuki mobilnya setelah Ken membukakan pintu tanpa mau peduli dengan dua manusia itu.
"Kau ikut aku!" Tuding Ken pada Rimbun dengan suara yang cukup sinis. Tanpa sempat menjawab, Ken sudah mendorong saja tubuh Rimbun untuk kedalam mobil.
Sementara Fic sendiri, ikut bergegas memasuki mobil yang ia bawa dari rumah saat mengantar Mira ke tempat ini tadi.
Dua mobil itu melaju. Mobil yang dikendarai Ken di depan dan Milik Fic dibelakang. Tidak ada percakapan sedikit pun yang terdengar. Antara Nathan dan Mira dan juga antara Ken dan Rimbun.
Sama sama terdiam.
Hingga mereka sudah sampai ke Rumah kembali, Nathan langsung saja membawa Mira ke kamarnya.
Menyandarkan Punggung Mira ke tepi Ranjang. Kemudian pria itu duduk di sampingnya. Sesekali menyibak rambut panjang milik Mira dengan terus menatap si pemilik wajah ayu itu.
"Kau ini sedang sakit dan tidak boleh banyak berjalan dulu. Kau malah nekad kesana."
"Maafkan aku Nath. Aku melakukan ini demi dirimu."
"Ya, aku tau itu. Tapi dari mana kau tau kalau aku ada disana?" tanya Nathan.
"Rimbun mengatakan jika kau pergi dari kantor. Saat aku bertanya, kira kira Tuan Nath pergi kemana? Dia bilang tidak sengaja mendengar kau berbicara pada Ken, jika kau akan menunggunya di markas Roy. Menyuruh Ken cepat menyusul untuk memberi pelajaran pada Ricard. Setelah itu aku langsung bertanya pada Fic."
"Aku tak habis pikir. Fic malah mengantarmu kesana. Bodoh sekali dia!"
"Nath, Fic tidak bersalah. Maafkan dia ya? Aku yang memaksanya. Awalnya dia terus menolak, tapi aku mengancamnya dengan mengatakan akan pergi kesana sendiri dengan berlari." jelas Mira.
"Kau nakal sekali." Nathan mencubit hidung Mira.
"Kau lupa dengan janjimu tadi Nath?"
"Ah, iya iya. Aku tidak lupa. Ya sudah. Baiklah baiklah, kita lupakan saja." potong Nathan cepat.
Mira tiba tiba memeluk Nathan. Kembali terisak.
"Aku hanya tidak ingin kau menjadi seorang pembunuh. Aku tidak mau Nath. Lalu apa bedanya kau dengan Ricard kalau begitu?"
"Aku sudah meminta maaf Mira.Jangan menangis lagi." Nathan membelai rambut Wanitanya itu.
"Terimakasih sudah datang tepat waktu untuk menyelamatkan aku dari dosa itu. Terimakasih." Nathan menciumi kepala Mira. Kemudian mengangkat wajah Mira.
"Beruntung Mobil Ken sempat mogok dijalan. Akhirnya ia terlambat datang, dan kau bisa menyusul tepat waktu. Jika tidak, mungkin aku sudah mencabut nyawa Ricard."
"Tuhan sudah mengatur semuanya Nath. Dia menyelamatkan mu, bahkan saat kau akan melakukan kesalahan terbesar pun."
"Kau benar Mira. Kau benar." sahut Nathan.
"Ya sudah, kau istirahat dulu. Kau pasti lelah." Nathan kembali menyadarkan tubuh Mira.
"Jangan hukum Fic dan Rimbun ya? Mereka tidak bersalah." pinta Mira, sembari memegang tangan Nathan.
"Itu urusan Ken, Mira. Aku tidak bisa mencegahnya." bantah Nathan.
"Nath! Kau harus mencegah Ken! Ayolah!" bujuk Mira.
"Ya, baiklah. Tapi Aku mandi dulu." Sahut Nathan, tak ingin berdebat lagi memilih cepat melangkah memasuki kamar mandi.
Membuat hati Mira semakin khawatir memikirkan Fic dan juga Rimbun yang mungkin sedang di interograsi oleh Ken.
Sementara di luar kamar, tepatnya di lantai bawah. Apa yang dikhawatirkan Mira benar sedang berlangsung.
Dimana saat ini Ken sedang berdiri menatap tajam Fic dan Rimbun yang sama sama menunduk dihadapannya.
"Aku menyuruhmu menjaga Nona! Kenapa kau malah mengantar Nona kesana?" bentak Ken pada Fic, membuat Rimbun tersentak dan takut melihat kemarahan Ken. Baru kali ini Rimbun melihat pria itu murka.
"Maafkan aku Tuan. Aku terpaksa, dari pada Nona pergi sendiri dengan berlari?"
"Kenapa tidak menahannya?"
__ADS_1
"Aku tidak berani Tuan. Nona memberontak, dan itu membahayakan kesehatannya yang belum pulih. Nona bisa mengalami pendarahan lagi jika banyak bergerak dan mengeluarkan tenaga terus menerus." bantah Fic.
"Kenapa Nona bisa tau keberadaan kami, hah? Dari mana?"
"Aku juga tidak tau Tuan. Sungguh,! Aku tidak mengatakan apapun pada Nona!"
Bug ...!
Satu pukulan Ken mendarat di perut Fic, membuat pria itu meringis menahan sakit. Melihat itu Rimbun langsung berteriak.
"Tuan! Kenapa memukulnya?"
"Diam kamu! Nanti giliran mu!" Ken menuding Rimbun yang langsung menciut, dan Ken kembali pada Fic.
"Kau tau, karena kebodohanmu! Aku gagal menabur otak si bajingan Ricard itu!"
Fic tidak menjawab lagi, hanya menunduk.
"Kau sungguh tidak berguna dan tidak bisa diandalkan!" Tangan Ken kembali melayang.
"Cukup Tuan!" Rimbun menghadang pukulan Ken dengan tubuhnya. Hampir saja pukulan itu mengenai tubuh Rimbun, beruntung Ken cepat menghentikan Tangannya.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan? Minggir!"
"Tidak! Kau kejam Tuan Ken! Dia tidak bersalah!" tuding Rimbun.
"Kau mau membelanya? Kau mau aku pukul juga hah?"
"Nona, apa yang kau lakukan? Minggir lah. Aku memang bersalah." bisik Fic.
"Tidak Tuan. Anda tidak bersalah. Aku yang memberitahu Nona Mira tentang keberadaan Tuan Nath di markas Roy Roy siapa itu." ucap Rimbun.
"Jadi kau yang mengatakan pada Nona tentang keberadaan kami?" Ken menuding Rimbun.
"Ya. Aku yang mengatakannya. Jadi ini bukan salah Tuan Fic. Tapi salahku. Ayo.. pukul aku saja! Aku tidak takut!" Rimbun mendekat pada Ken.
"Kau tau apa akibatnya karena tindakanmu itu Rimbun?!"
"Ya aku tau. Nona Mira akhirnya menggagalkan rencana keji kalian!" Rimbun melotot.
"Anda kejam, seperti seorang Mafia. Berhati binatang. Aku membencimu Tuan Ken! Aku membencimu!" teriak Rimbun berlari meninggalkan Ken yang bungkam seribu bahasa.
"Rim... Rim.." Ken tersadar, segera menyusul Rimbun yang melarikan diri ke ruang sebelah.
Terdengar Rimbun terisak disudut ruangan.
"Rim.." Ken mendekat, menyentuh bahu Rimbun yang langsung menepisnya.
"Jangan menyentuhku penjahat! Pergi! Aku tidak ingin melihatmu!"
"Rimbun. Kau harus dengarkan aku dulu. Kau belum tau siapa Ricard itu?" ucap Ken berusaha menjelaskan.
"Siapapun dia. Dia manusia juga kan? Dia juga ingin hidup sama seperti kita! Seenaknya kau ingin membunuhnya. Memang kau siapa? Malaikat? Tuhan?" kembali menuding.
"Bukan begitu. Tapi Ricard itu sangat jahat!"
"Ada Pihak Yang Berwajib yang bisa menghukumnya! Tidak harus kau!" bentak Rimbun.
"Sudah Rimbun. Tapi Dia melarikan diri dari penjara. Dan dia sudah mencelakai Nona Mira. Apa kau tau itu?" mengguncang lengan Rimbun.
"Nona saja memaafkannya. Kenapa kau tidak?"
"Kesalahannya sangat besar Rimbun! Akibat perbuatannya, Nona dan Tuan Nath harus kehilangan calon bayi mereka. Apa kau tau tentang itu?"
Seketika Rimbun terbelalak.
"Dia juga sudah berkali kali mencoba mencelakai Tuan Nath, bahkan ketika kau pernah menolongku dari dua pria yang hendak membunuhku tempo lalu, itu suruhan Ricard." Ken berusaha untuk menjelaskan pada Rimbun.
Kini Rimbun mendongak.
"Benar begitu?"
"Sungguh Rim.."
__ADS_1
"Tapi kau sudah memukul Tuan Fic. Dia itu tidak bersalah. Cepat minta maaf."
"Rimbun! Mana bisa. Aku tidak biasa meminta maaf pada bawahan ku!"
"Kalau begitu pergilah." ucap Rimbun melengos.
"Ah .. Baiklah." Ken akhirnya mengalah, menengok pada Fic yang masih berdiri disana tanpa keluar dari ruangan itu.
"Fic!!! Aku minta maaf, karena sudah memukulmu. Kau boleh pergi!" kemudian menoleh kembali pada Rimbun.
"Sudah! Jangan marah lagi. Ayo, naik keatas." menarik Tangan Rimbun.
"Tidak mau, aku mau pulang saja." tolak Rimbun.
"Rimbun! Kau ini. Aku sudah bela belain meminta maaf pada Fic. Kau malah mau pulang?"
"Memangnya kenapa? Aku mau pulang kok tidak boleh!"
"Menginap disini, temani Nona Mira!"
"Apa? Menginap? Yang benar saja. Sudah ada Tuan Nath. Yang ada aku malah menggangu mereka!" Rimbun menunjuk dada Ken.
"Ya.. Ya.. Temani aku saja kalau begitu. Besok, besok kita bisa pergi ke kantor sama sama. Asyik bukan?"
"Asyik kepalamu itu!" Rimbun melotot.
"Aku tidak mau menginap disini. Nanti kost an ku digondol semut bagaimana?"
"Mana ada semut menggondol kost Segede itu, ubun ubun?" Ken kini melotot.
"Katamu Kost ku kecil. Bisa saja lah!"
"Rimbun, jangan bercanda. Ayolah menginap saja." Ken terus merayu.
"Tidak bisa. Kalau ada maling bagaimana? Bisa habis barang ku di embat maling." bantah Rimbun.
"Astoge...! Memang barang apa sih yang kau simpan disana? Paling juga Ganjel Mobil warisan Ayahmu itu."
"Nah , itu tau!"
"Maling tidak akan doyan! Sudah menginap saja."
"Aku tidak mau!!! Aku tidak mau dekat dekat denganmu. Kau itu pria galak dan jahat!"
Seketika mata Ken membulat.
"Aku sudah meminta maaf Bun. Maafkan aku. Aku tidak akan kasar lagi.." iba Ken.
"Tidak bisa. Aku tetap takut padamu."
"Rimbun! Segitunya kau padaku?"
"Aku mau pulang Tuan Ken! Antar aku pulang! Atau aku akan meminta Tuan Fic untuk mengantarku."
Mendengar itu Ken naik pitam, mendorong tubuh Rimbun hingga mentok ke tembok. Ken segera mengukung tubuh Rimbun dengan kedua tangannya.
"Tuan. Anda mau apa!" Jerit Rimbun.
"Aku benar benar tidak tahan mendengar celoteh dari mulut ini, jelek!"
Ken tiba tiba mencium bibir gadis itu dengan cepat. Membuat Rimbun terkejut dan mendorong tubuh Ken. Tapi Ken menahan tangan Rimbun dengan kuat dan melanjutkan aksinya hingga beberapa saat.
"Mampus kamu! Itu hukuman mu karena sudah membantahku!" seru Ken masih mengukung tubuh Rimbun, dengan satu tangan menyeka bibirnya sendiri yang basah.
"Argh...!" Rimbun mendorong kuat Tubuh Ken hingga mundur beberapa langkah.
"Brengsekk! Brengsekk!" teriak Rimbun.
Plak....Plak...Plak...!!!
Berkali kali Rimbun menampar pipi Ken dengan cukup kuat.
"Ah.. Sakit Rimbun! Berhenti!" Jerit Ken, tanpa mengelak ataupun mencegah.
__ADS_1
Tapi Rimbun tidak berhenti, terus menampar pipi Ken sampai memerah, meninggalkan bekas jari limanya disana.
_________________