![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
"Tuan. Selimutnya, tolong berikan padaku!" iba Rimbun, masih mendekap tubuhnya sendiri.
Sesaat Ken tertegun, untung segera tersadar,jika ada yang tidak beres pada gadis itu.
"Bun? Kau kenapa?" mendekat.
"Kau sakit?"
Rimbun melirik, masih mendekap tubuhnya sendiri. "Dingin Tuan. Dingin sekali. Maafkan aku tidak bisa berangkat bekerja hari ini." sahut Rimbun, kini meringkuk.
Ken meletakkan telapak tangannya di dahi Rimbun.
"Ya Tuhan...Panas sekali!" cepat menarik tangannya dan meraba lengan Rimbun.
"Kau sakit Rimbun. Badanmu sangat panas!" Ken sungguh terkejut dan mendadak panik.
Cepat mengambil kembali selimut Rimbun yang ia buang tadi. Kembali memasang selimut itu di tubuh Rimbun yang sudah meringkuk.
Kemudian duduk di samping si Rimbun.
"Rim."
"Em." Mendekap selimut dengan erat.
"Kenapa kau bisa demam seperti ini?"
Rimbun memicingkan matanya sebelah.
"Mungkin flu Tuan, kebanyakan minum es Si*r*"
"Flu apanya? Kau panas sekali. Kita harus ke Dokter."
"Tidak usah Tuan. Tadi pagi sudah minum Aspirin, dan barusan sudah minum Bod**x, yang Ekstra malah, dua sekaligus. Sebentar lagi pasti sembuh." ucap Rimbun, sedikit tidak jelas seperti orang sedang bergumam saja.
"Astaga. Kau minum obat warung?"
"Bukan. Obat Toko. Semalam beli di Toko kok!"
"Warung sama toko sama saja! Cuma beda ukurannya saja." ucap Ken geram.
"Gak sama Tuan. Beda." Rimbun masih menyahut meskipun seperti setengah bergumam.
"Tidak bisa! Kita harus ke Rumah sakit sekarang." Ken ngotot, kini cepat meraih tubuh Rimbun. Dan berniat menggendongnya.
"Eh,mau apa?" Rimbun mengelak.
"Kita harus ke Rumah sakit Bun."
"Tidak mau!"
"Tapi nanti kalau kau tidak sembuh sembuh , bagaimana dengan pekerjaan kita? Belum lagi persiapan untuk pernikahan Tuan Nath. Kau tidak memikirkan itu?"
"Ah baiklah. Tapi aku bisa jalan sendiri. Jangan menggendongku." sahut Rimbun.
Ken hanya mendengus saja. Kemudian membantu Rimbun berdiri.
" Tapi aku bawa selimut, tidak apa apa kan? Untuk di mobil. Dingin sekali Tuan."
"Terserah terserah." jawab Ken.
Mereka keluar dari kamar itu.
"Tolong tutup pintunya Tuan."
"Oh iya. Tunggu sebentar." Ken menutup pintu kamar itu.
"Jangan lupa di kunci. Takut ada maling."
"Astaga... Si Jembun, lagi darurat juga masih sempet sempetnya mikirin maling." keluh Ken, sambil mengunci pintu.
__ADS_1
"Untuk jaga jaga Tuan."
"Iya iya. Takut barangmu raib di embat maling!" kesuh Ken.
"Ayo. Biar ku bantu." Ken meraih pundak Rimbun.
"Eh, bisa kok. Masih kuat berjalan." Rimbun menepis tangan Ken, kemudian berjalan menuju mobil Ken yang terparkir di depan sana. Ken mengikuti dari belakang.
Terlihat Rimbun sempoyongan.
"Rim, kau seperti orang mabuk. Masih kuat?" tanya Ken cukup khawatir.
"Kepalanya berat sebelah Tuan."
"Kalau begitu biar ku gendong." Ken cepat mengangkat tubuh Rimbun.
"Eh, Tuan!"
"Diam lah. Nanti kau nelungsep. Malah bukan Flu lagi, jadi Ayan." Ken melangkah kembali membawa tubuh Rimbun ke Mobil.
Setelah memasukkan Rimbun ke mobil, ia pun menyusul dan melaju kembali.
Sesekali Ken menoleh pada Rimbun yang sesekali terdengar merintih.
"Selain dingin, apa yang kau keluhkan?" Tanya Ken.
"Kepalaku, rasanya mau pecah. Seluruh tulangku sakit semua." Jawab Rimbun tanpa menoleh sedikitpun. Menyandarkan kepalanya di jok mobil dengan mendekap selimutnya.
"Apa sering sakit seperti ini?" kembali bertanya.
Rimbun mengangguk saja. Tidak lagi menjawab. Mungkin kali ini Rimbun sedang menahan sakit.
Mobil itu kini berhenti di depan Rumah sakit. Ken meraih Jaketnya yang ada di jok belakang.
"Pakai jaket ini. Tidak mungkin kau akan masuk ke Rumah Sakit dengan Selimut lusuh ini." ucap Ken.
Rimbun Al'Rea Fiandi.
***
Ken cukup terkejut mendengar penjelasan Dokter ketika usai memeriksa Rimbun.
Jika Rimbun sedang terkena penyakit Tipes.
"Sepertinya, Nona ini sering kelelahan. Mengakibatkan penyakit Tipesnya kambuh. Karena Nona memang punya punya riwayat penyakit ini dan juga lambung Nona sedikit bermasalah. Makan juga tidak boleh sembarang." Jelas sang Dokter.
"Apa dia perlu di rawat inap?" Tanya Ken.
"Sebenarnya dirawat inap itu akan jauh lebih baik. Tapi jika Nona keberatan juga tidak mengapa. Asal Nona harus beristirahat total di rumah. Jangan banyak mengeluarkan tenaga. Walaupun sekedar untuk berjalan kaki saja."
"Baiklah Dok, aku akan bertanya dulu padanya. Apakah dia bersedia untuk dirawat inap." ucap Ken.
"Silahkan Tuan. Jika akan dirawat, anda bisa konfirmasi kepada Suster." Ucap Dokter itu kemudian melangkah pergi.
Ken mendekat pada Rimbun.
Tapi belum saja Ken bertanya, Rimbun sudah menolak untuk dirawat inap.
"Aku tidak mau di rawat inap. Aku aku pulang saja." rengek Rimbun.
"Ah baiklah. Tidak perlu merengek begitu. Tunggu sebentar. Aku akan menyelesaikan biaya administrasinya."
Ken kemudian meninggalkan Rimbun untuk ke ruang resepsionis.
Pria itu terlihat tersenyum senyum sendiri saat sudah selesai membayar semuanya, dengan menatap lembar kertas ditangannya. Bukti pembayaran lengkap dengan identitas pasien.
__ADS_1
"Nama panjang si Bun Bun ternyata bagus juga. Al'Rea Fiandi. Hehe, kenapa di panggil Rimbun Sih?"
Ken kembali pada Rimbun, masih dengan memikirkan nama panjang Rimbun.
"Ayo kita pulang."
Rimbun mengangguk. Ken pun membawa gadis itu kembali ke mobilnya.
Sepanjang perjalanan Ken tak lepas melirik Rimbun. Ada kebingungan di hati Ken saat hendak mengantar Rimbun pulang ke kostnya.
'Mana mungkin aku akan mengantarnya ke kostsan kumuh itu. Rimbun sedang sakit. Butuh tempat tinggal yang nyaman dan layak untuk beristirahat. Ah,.. Kalau ku bawa pulang ke rumah Tuan Nath. Nona juga sedang butuh perhatian Ekstra.' Ken terlihat menimbang.
"Bun, jangan dulu ke kostmu ya?" menoleh.
"Em. Terus kemana?"
"Ke tempatku dulu."
"Rumah yang kemarin? Aku tidak mau Tuan. Tidak enak dengan Nona Mira dan Tuan Nath. Merepotkan mereka nanti. Nona kan sedang sakit juga." sahut Rimbun menolak.
"Kau benar, tapi kau ini sedang sakit. Tempatmu itu tidak bagus untuk kesehatan mu saat ini Rimbun?"
"Tidak apa apa Tuan. Tidak apa apa. Itu jauh lebih baik dari pada harus merepotkan orang lain."
"Aku tidak akan tenang Rim.. Siapa yang akan memperhatikan dan merawatmu kalau disana. Aku tidak mungkin mau kesana terus, aku sumpek sama kamarmu. Belum lagi gak enak dilihat ibu kostmu kan?" ucap Ken.
"Ya tidak perlu kesana lah. Aku biasa sendiri kok!"
"Tidak bisa Rimbun. Aku khawatir."
Akhirnya, Ken memutar haluan. Tidak membawa Rimbun ke Rumah Nathan, tidak juga mengantar Rimbun ke Kost nya.
Ken terus melajukan mobilnya ke suatu tempat yang ia anggap tepat untuk merawat Rimbun saat ini.
Mobil itu kini sudah berhenti. Melirik Rimbun yang saat ini tengah tertidur. Ken segera turun, dan tanpa membangunkan Rimbun Ken membopong tubuh ramping itu dan memasuki tempat itu.
Baru saja hendak mendekati pintu, Rimbun membuka matanya. Menyadari tubuhnya berada di gendongan Ken, Rimbun berontak dan turun dari gendongan Ken.
"Kenapa tidak membangunkan aku Tuan!"
"Kau sangat terlelap Bun. Aku tidak tega."
"Memang sudah sampai?"
"Sudah."
Rimbun menoleh, memutar matanya.
"Kau membawaku kemana Tuan?" merasa asing dengan tempat ini.
"Ini Villa milikku. Untuk sementara kau tinggal disini dulu. Agar aku mudah menjenguk mu. Disini juga ada beberapa pelayan yang bisa menjagamu." jawab Ken.
"Ayo masuk!" ucap Ken ketika seseorang pelayan pria membuka pintu dan menyapa ramah pada Ken.
Seketika Rimbun melotot.
"Tidak mau. Aku tidak mau tinggal di tempat orang, Tuan! Aku mau ke kost ku saja." Rimbun tetap menolak dan cepat melangkah.
"Eh, kau ini kenapa keras kepala sekali!" segera menyambar tubuh Rimbun dan menaikan di pundaknya.
"Kau memang harus pakai kekerasan, Jelek!"
Ken membawa Rimbun masuk, selayaknya memikul beras , tak peduli Rimbun berontak dan memukuli punggungnya.
Ken menoleh dulu pada seorang pelayan itu, sebelum menaiki tangga.
"Siapkan bubur hangat dan bawa ke kamar ku!"
"Baik Tuan!"
__ADS_1
_____________