Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
99,99 % Positif!


__ADS_3

Mereka saat ini sudah berada di mobil, dalam perjalanan ke Rumah Sakit.


Tentu saja dengan dua mobil yang berbeda. Al' Mengendarai mobilnya seorang diri. Sementara Ken dan Rimbun berada di mobil milik Ken sendiri, mengikuti mobil Al' yang berada didepan mereka.


Ketiga kepala itu sama sama berpikir. Namun berbeda pemikiran. Ken sudah mulai resah, jika Rimbun ternyata benar adalah Adik kandung Al' apakah mereka akan menjadi penghalang cintanya pada Rimbun.


Al' pun demikian. Pikirannya terfokus pada Rimbun. Entah kenapa dia begitu yakin jika Gadis itu adalah Adiknya.


'Kakek, aku sudah menemukan cucumu. Aku akan membawanya pulang untukmu. Kau pasti akan senang.'


Sementara Rimbun, sesekali menoleh pada Ken. Pikirannya dipenuhi kegelisahan. Tapi bukan takut jika dia adalah adik kandung Al'. Hanya saja Rimbun tidak habis mengerti, kenapa kedua orang tuanya tidak pernah bercerita apapun padanya.


'Setidaknya, kasih tau donk bocoran sedikit saja jika aku ini anak orang kaya. Atau, bilang saja, Rimbun , kau itu bukan anak kandung kami. Kami Nemu! Sepertinya kau ini anak seorang Pengusaha. Kan aku agak ada bangganya sedikit. Tidak begitu terhina. Hihi, anak orang kaya!'


Rimbun menoleh pada Ken. Sekilas ia menangkap wajah gelisah pria itu.


'Jika benar aku adik pria itu, artinya aku harus berpisah dengan Tuan Ken. Dia sudah baik sekali padaku. Aku mulai nyaman dengannya.'


Rimbun menghela nafas.


'Jadi anak orang kaya. Tuan Ken juga kaya. Ah, aku tidak mau. Biar saja, meskipun nanti aku ini adik pria itu, aku tidak mau ikut dengannya. Aku masih ingin bersama Tuan Ken. Aku kan sedang belajar menyukainya.'


Lamunan ketiganya buyar ketika melintasi sebuah Gedung Rumah Sakit. Dua si pengendara mobil yang sedikit kehilangan konsentrasi itu kini memutar mobilnya untuk membelok ke arah Rumah Sakit yang hampir terlewat.


Kedua mobil itu berhenti. Ketiganya pun turun. Tanpa ucapan sedikit pun , hanya saling melempar pandangan dan senyum yang terlihat canggung.


Hanya dengan anggukan samar, Al' memberi kode pada Ken dan juga Rimbun untuk mengikuti langkahnya. Ken pun hanya membalas dengan anggukan samar juga.


"Tuan." Rimbun menahan tangan Ken.


Ken menoleh, "Tidak perlu takut. Ayo!"


Rimbun menarik nafas panjang, meremas jemari Ken dan kini menggenggam dengan erat.


Ken tersenyum menatap Rimbun. Membalas genggaman dengan sama eratnya kemudian membawa Rimbun melangkah.


Masih tanpa percakapan, Ken memilih mengajak Rimbun untuk duduk di bangku panjang, sambil menatap Al' yang tengah berbicara pada seorang Resepsionis.


Tak begitu lama menunggu, seorang perawat menemui Al' dan kemudian mengarahkan mereka ke sebuah ruangan Khusus.


Al' masuk sendiri tanpa meminta Ken ataupun Rimbun untuk ikut serta.


Setelah berbicara serius pada seorang Dokter, Al' nampak keluar dari ruangan itu, menghampiri mereka yang masih berdiri di depan ruangan.


"Dokter memintamu untuk masuk bersama ku." ucap Al' pada Rimbun.


Gadis itu tidak menjawab melainkan menoleh pada Ken.


"Masuklah. Aku akan menunggumu disini."


"Aku takut." memegangi lengan Ken.


"Ada kak Al' disini. Tidak perlu takut sayang."


"Kak Al', Kak Al'! Heh, belum tentu!" tuding Ken.


"Maafkan aku Tuan. Maaf. Aku hanya, sekedar ingin menenangkan hati Kekasihmu ini." sahut Al'.


"Menenangkan. Tidak Perlu! Aku bisa sendiri." jawab Ken ketus.


"Aku akan menemanimu. Ayo." membujuk Rimbun dengan lembut.


"Tapi aku takut. Pasti didalam akan di apa apain kan?" merengek.


"Tidak usah takut. Kan ada aku. Kalau kau di apa apain, aku akan menghajar mereka. Ayo!"


Rimbun akhirnya pasrah, mengikuti langkah Ken yang mendahului Al'.


Ketegangan itu akhirnya berlalu ketika Tim Dokter sudah selesai mengambil simpel darah dan beberapa helai rambut Al' dan Rimbun.

__ADS_1


Mereka kemudian disuruh menunggu di luar kembali. Sementara Tim Dokter sedang melakukan tes Laboratorium untuk mencocokkan DNA milik mereka berdua.


Ketegangan semakin nampak diantara mereka bertiga. Ken terus mendekap tubuh Rimbun yang mengetek di ketiaknya.


"Kau takut?" tanya Ken.


"Tidak. Aku hanya.. , hanya sedikit resah." jawab Rimbun.


"Kau resah? Resah memikirkan berpisah denganku jika kau benar adiknya. Kau pasti akan dibawa pulang olehnya."


"Em." Rimbun mengangguk.


"Tenanglah. Tidak perlu memikirkan itu dulu." menepuk halus punggung Rimbun.


Rimbun melirik Al' yang duduk disisi sana. Pria itu yang terus menatapnya itu langsung melempar senyuman padanya.


Ada rasa aneh ketika menatap senyum itu. 'Apa dia benar Kakakku? Hihi, setampan itukah kakak ku?'


Keheningan itu tak berlangsung lama, manakala seorang Perawat menghampiri mereka.


Ketiganya berdiri. Tegang, dengan dada sama sama bergemuruh.


"Tuan. Ini adalah hasil Labnya." perawatan itu berbicara ada Al'. Mengulurkan sebuah Map. Al' cepat menyambut. Melirik Perawat yang sudah berlalu itu, kemudian menoleh pada Rimbun. Gadis itu pun menoleh dengan kepala masih di ketiak Ken.


Tangan Al' terlihat gemetaran. Membuka Map itu untuk memeriksa isi kertas di dalamnya.


Matanya seketika membulat sempurna ketika membaca hasil dari Lab.


99.99% Positif!


Dengan tubuh yang semakin gemetar, pria itu melangkah mendekati Ken dan Rimbun.


Mengulurkan Kertas itu pada Ken. Ken pun ikut tercengang saat membaca hal yang sama. Menoleh pada Rimbun yang belum ikut membaca.


"Apa hasilnya? Bukan kan? Aku bukan adiknya? Sudah ku bilang juga."


"Hah!" Rimbun melotot.


"Mana mungkin?" kini menatap Pria yang kini sudah tak berjarak dari hadapannya itu. Kedua mata pria itu berkaca kaca, hingga buliran bening menetes ke pipinya.


"Rimbun. Adik ku." tangannya bergerak pelan menyentuh kedua pipi Rimbun.


"Al'Rea Fiandi. Ini kak Al'Rafa Fiandi. Aku kakak kandungmu."


Rimbun terpaku, dengan tubuh yang kini ikut gemetar. Dadanya bergemuruh hebat. Melihat air mata pria itu terus menetes dadanya tiba tiba sesak.


"Rim. Kamu adikku sayang!"


"Kakak. Kau jadi kakak ku?" mengambil tangan yang berada di pipinya.


"Rimbun." Al' langsung memeluk Rimbun. Terisak dan mendekap dengan kuat.


"Ya Tuhan. Aku menemukan adikku. Aku menemukannya!"


Kembali menatap wajah Rimbun. Kembali meraup wajah itu dan kembali memeluknya.


"Maafkan kami. Maafkan kami tidak bisa menemukanmu selama ini. Kau pasti sangat menderita hidup diluar sana. Kau pasti sangat menderita ya?"


"Ah. Kak. Aku tidak menderita kok. Hanya sengsara saja." celetuk Rimbun. Ia pun ikut menangis. Tidak pernah terbersit sedikitpun jika dirinya mempunyai seorang kakak. Kakak yang tampan dan Tajir seperti Al'Rafa itu. Tidak pernah sedikitpun Rimbun menyangka jika dirinya terlahir dai keluarga kaya. Keluarga Fiandi Jaya.


Ken hanya bisa bungkam seribu bahasa, menatap dua insan yang sedang dilanda haru itu.


Matanya ikut berkaca kaca, namun semampunya pria itu menahannya untuk tidak meneteskan air mata. Walau dadanya sesak. Pemandangan di depannya, begitu mengharukan. Pertemuan dua saudara kandung yang terpisah sekian lama.


"Taun Ken. Dia kakak ku ternyata."


Ken mengangguk. "Aku ikut bahagia, kau ternyata punya saudara."


"Tuan Ken. Terimakasih. Kau sudah menjaga Adikku." ucap Al'.

__ADS_1


"Ah, tidak masalah. Dia kan pacarku. Sudah seharusnya aku menjaganya." jawab Ken.


"Iya Tuan. Apapun alasannya aku harus berterima kasih padamu. Dan sekarang, aku harus membawa Adikku pulang."


"Pulang?" Rimbun tercengang.


"Sayang. Kau harus pulang. Pulang ke rumah mu. Ke Rumah kita."


"Tapi,"


"Kakek sudah sangat lama menunggumu. Dia ada disini, di rumah kita dahulu. Kakek membelinya kembali karena ingin tinggal disana lagi." ucap Al'.


"Kau mau pulang bersama kak Al' kan? Menemui Kakek mu. Kakek Kita Rimbun. Dia terus memikirkan mu." bujuk Al'.


Rimbun menoleh pada Ken.


Ken mengangguk. "Pulanglah. Disana tempatmu."


"Tapi Tuan,"


"Aku akan mengantarmu."


Kini Rimbun pun mengangguk.


Ketiganya kembali melangkah keluar dari Rumah Sakit menuju mobil. Kali ini Rimbun berjalan bukan di samping Ken lagi, melainkan di samping Al', karena pria itu terus menggenggam erat jemarinya.


Al' membuka pintu mobilnya.


"Duduk lah bersama ku Sayang."


"Tapi, aku tadi bersama Tuan Ken."


"Ikutlah bersamanya. Mobilku akan di belakang kalian." sahut Ken. Dia harus bisa menekan perasaannya, dia paham bagaimana perasaan Al' saat ini yang sedang berbahagia karena pertemuan tidak terduga nya dengan Adik kandungnya.


Rimbun lagi lagi hanya bisa menurut.


Hingga beberapa waktu lamanya, mobil keduanya yang melaju itu kini berhenti di depan sebuah Rumah besar yang mewah.


Ketiganya keluar menuruni mobil.


"Ayo masuk." Al' mengajak mereka masuk.


Al' membawa mereka melangkah masuk.


"Tuan Ken. Kau bisa menunggu disini sebentar? Aku akan membawa Rimbun menemui Kakek kami dahulu." ucap Al' setelah tiba di ruang keluarga milik Rumah itu.


"Kenapa dia tidak ikut masuk saja?" bantah Rimbun.


"Rim. Masuk lah. Aku menunggumu disini." ucap Ken kemudian duduk di sofa.


Lagi lagi, Rimbun menurut. Melangkah dibelakang Al' yang membawanya ke sebuah kamar.


"Kakek!" panggil Al' setelah membuka pintu.


Sang Kakek yang sedang berbaring itu menoleh, dengan mimik wajah malasnya.


"Dari mana kau Cucu keparat? Kau bilang hanya akan rapat sebentar. Kau terlambat beberapa Jam!" Sang Kakek mengumpat.


"Kakek. Jangan marah marah dulu. Lihat siapa yang aku bawa." Al' menarik tangan Rimbun untuk mendekat.


Kakek hanya melirik sekilas, lalu membuang wajahnya.


"Lagi lagi kau membawa Wanita. Kakek bosan! Kakek belum mau punya Cucu menantu! Kau ini!" menunjuk kasar.


"Bawa adikmu! Bawa adikmu Al'. Temukan dia. Kakek hanya ingin Dia. Hanya ingin Rimbun!"


____________


[Waktu yang benar untuk mendapatkan hasil Tes DNA yang tercepat saja memerlukan waktu 24 jam, sedangkan waktu biasa memerlukan dua hingga empat Minggu.] Di cerita ini disengaja dipersingkat saja. Anggap pakai Express, Oke!

__ADS_1


__ADS_2