![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Hari ini, setelah Ken memberi penjelasan soal proses perceraian yang tidak terlalu rumit hanya mungkin akan membutuhkan waktu itu, Nathan nampak mulai tenang.
Mira, kegelisahan wanita itu berangsur membaik.
Seluruh perlakuan dan sikap Nathan yang semakin hari semakin menunjukkan perasaan cinta yang begitu dalam padanya pun membuatnya nyaman dan bahagia. Merasa dicintai dengan teramat sangat. Terlebih setelah kejadian menjijikkan waktu itu, Nathan sebisa mungkin menjaga diri untuk tidak menyentuh Mira.
Nathan sendiri, bukannya sok bisa. Sebenarnya pria itu tersiksa juga. Tidak bisa dipungkiri olehnya jika kejadian itu sudah mengenalkannya dengan rasa tubuh Mira, meskipun Nathan tidak mengingat rasanya, tapi karena Nathan pria normal, tubuhnya selalu merespon dengan sendirinya jika dekat dengan Mira.
Pernah suatu malam, ketika berada di atas ranjang yang sama dengan Mira. Tubuh Nathan menggeliat, rasa panas dan hentakan hentakan dari dalam tubuhnya yang terus menuntut sesuatu. Nathan sampai turun dari ranjang meninggalkan Mira. Memilih ke kamar mandi untuk mengusir gejolak yang terus meningkat itu.
"Apa ini? Astaga!" Meraba lengannya.
"Apa karena aku sudah pernah melakukan itu, jadi aku ketagihan maksudnya? Ah..." meremas rambutnya.
"Tidak tidak. Mira bisa kabur dariku jika aku sampai melakukannya kembali!" pekik Nathan dalam hati.
"Nath.." suara Mira dari luar kamar mandi.
"Nathan! Apa yang kau lakukan di dalam?" kembali memanggil.
"Tunggu sebentar!" jawaban Nathan, diselingi suara gemricik air.
"Aneh! Kenapa malam malam begini dia mandi? Bukan kah sore tadi dia sudah mandi?" Mira nampak berpikir.
"Mira, kenapa bangun?" Nathan sudah membuka pintu kamar mandi dengan hanya memakai handuk saja.
"Aku ingin buang air kecil. Kau kenapa mandi lagi? Kau gerah?"
"Ah, i, iya. Aku gerah!" jawab Nathan gelagapan.
"Aneh, padahal aku dingin. Kenapa kau bisa gerah? Apa karena kau habis makan sate yang dibawa Ken sore tadi?"
"Ah, ya ya. Mungkin, bisa jadi." jawab Nathan kembali.
"Aku juga memakannya Nath. Tapi aku tidak merasakan apa apa? Jangan jangan, apa kau sakit?" Mira mendadak khawatir. Mengulurkan tangannya untuk memeriksa kening Nathan.
"Tidak panas."
"Mira, yang namanya tubuh manusia itu berbeda beda. Mungkin kau kebal dengan sate, sementara aku tidak. Sudah sana kalau mau pipis nanti keburu ngompol lho." Nathan langsung menyisih, menghindari pertanyaan pertanyaan dari Mira yang tidak mungkin ia jawab dengan jujur jika sebenarnya dia memang sedang terbakar. Terbakar gairah.
Mira hanya tersenyum kecil kemudian masuk kamar mandi.
Nathan bergegas meraih pakaiannya kembali dan memilih untuk duduk di Sofa.
"Nath, kau tidur lagi? Ini masih malam loh?" Mira yang sudah selesai menghampiri Nathan dan duduk disebelahnya.
"Ya, tidurlah Mira. Nanti aku menyusul. Aku masih ingin disini sebentar." jawab Nathan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menemanimu." menggeser duduknya.
"Eh, tidak perlu. Kau harus tidur. Nanti kau sakit jika kurang tidur." bujuk Nathan.
"Aku akan tidur disini kalau begitu." Mira menyandarkan kepalanya di dada Nathan.
"Tidak masalah jika itu mau mu." Nathan langsung menyambut hangat tubuh Mira. Memeluknya dengan lembut. Sesekali menciumi pipi Mira.
"Aku mencintaimu Mira." suara Nathan berbisik begitu hangat bagi Mira. Wanita itu menoleh, meraih wajah Nathan.
"Terimakasih."
"Lho kok berterima kasih?"
"Untuk cintanya."
"Jangan berterima kasih. Harusnya kau membalas. Itu sudah membuatku bahagia."
Mira mengangguk. "Kita akan menikah setelah ini kan?"
"Tentu saja. Jika saja kau tidak ada urusan dengan Ricard, mungkin sudah dari kemarin kemarin aku menikahi mu." Nathan mengusap lembut wajah Mira.
"Maafkan aku, kita harus bertemu dengan posisi ku seperti ini."
"Tidak Mira. Seharusnya aku yang meminta maaf, sudah memaksamu tinggal didalam hidupku. Sudahlah. Tidurlah disini. Aku akan memindahkan mu nanti." Nathan langsung memutar tubuh Mira agar menyandar di dadanya. Kemudian kembali mendekapnya sambil terus membelai rambutnya.
Nathan yang masih setia mendekap Mira itu semakin mengeratkan dekapannya. Tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu yang ada dibalik baju Mira. Pikirannya langsung menegang kembali.
"Astaga..! Kenapa harus tersentuh sih?" hati Nathan menjerit.
Tangannya seperti tidak ingin pergi, malah bergerak pelan meremas. Sambil menaruh wajahnya di leher Mira.
Beberapa kali gerakan tangan Nathan yang meremas lembut sudah mampu membuat yang dibawah sana menegang dan seperti berontak.
Nafas Nathan semakin tak beraturan. Cepat cepat menarik tangannya kembali. Memijat pelipisnya.
"Tanpa obat sialan itu saja aku seperti tidak bisa menahan diri begini." keluh Nathan. Segera bangun mengangkat tubuh Mira dan membaringkannya di ranjang. Menarik selimut menutupi tubuh Mira. Dia sendiri beranjak. Namun sempat menoleh kembali, mantap wajah Mira. Kemudian mendekatinya kembali.
"Kenapa ada gadis desa yang begitu manis seperti mu Mira." Nathan kembali menciumi wajah Mira. Ciumannya mulai merambat ke leher.
Nathan langsung tersentak ketika Mira menggeliat. Cepat menarik tubuhnya kembali.
"Huh." menghela nafas, kemudian cepat beranjak keluar kamar dan meringkuk di sofa di ruang tengah yang ada di depan kamarnya. Menutup wajahnya dengan bantal dan berusaha untuk tidur.
___
Pagi itu,
__ADS_1
Seorang pria terbelalak hebat ketika selesai membaca sebuah berkas surat panggilan ditangannya, terlebih saat membaca nama Seorang Advokat ternama yang tertera di bawah.
"Gusnando Husnan??" matanya semakin terbelalak.
"Dia adalah Pengacara Nona Mira yang akan mengurus semua gugatannya di Pengadilan Agama." ucap sang Juru Sita yang mengantar surat itu.
"Mana mungkin?"
"Bagaimana Tuan Ricard? Apa anda bersedia menandatangani surat ini?" tanya Juru Sita itu.
Ricard tersenyum sinis. Merobek kertas di tangannya itu.
"Katakan padanya, jika menginginkan tanda tanganku, suruh menemuiku sendiri secara langsung!" ucap keras Ricard, melempar sobekan kertas itu ke wajah sang Juru Sita.
"Baiklah Tuan. Saya akan menyampaikannya. Kalau begitu saya permisi." Juru Sita itu pun pergi.
"Brengsek! Punya nyali perempuan sialan itu!" umpat Ricard geram.
"Sudah berani kabur dariku sekarang malah berani menggugat cerai aku. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk menyewa pengacara handal?" Ricard sungguh tercengang dibuatnya. Bisa bisanya wanita kampung seperti Mira itu menyewa seorang Pengacara handal untuk menuntutnya di Pengadilan Agama. Ricard tak habis pikir.
Ricard mengepalkan tangannya.
"Aku akan mempersulitmu Mira. Kau tidak bisa lepas begitu saja dariku sebelum aku puas membalas rasa sakit hatiku padamu. Lihat saja! Aku akan menemukanmu dan menyeret mu kembali!"
"Brengsek!!" Ricard berteriak.
Dia benar benar kesal. Kejadian saat ia gagal mengerjai Nathan saja sudah membuatnya kesal bukan main, apalagi sampai saat ini dia belum mendapatkan kabar buruk mengenai Nathan malam itu, ini lagi malah ditambah Seorang Juru Sita mendatanginya, membawa surat panggilan dari Pengadilan Agama terkait gugatan cerai Mira untuknya.
"Ric, ada apa?" Kayla yang baru saja tiba langsung bertanya ketika melihat kekasihnya itu marah marah.
"Perempuan itu berani menggugat cerai aku!"
"Hah. Yang benar Ric?" Kayla sempat terkejut juga.
"Dia bahkan menyewa Pengacara ternama di Negeri ini!"
"Kok bisa seperti itu?" tanya Kayla tak kalah terkejutnya.
"Aku sendiri tidak mengerti."
"Tapi baguslah Ric, berarti sebentar lagi kau akan terbebas dari pernikahan konyolmu itu."
"Enak saja. Aku belum selesai dengannya Kayla. Aku tidak bisa terima. Perempuan itu sudah berani menantang ku. Dia harus membayar mahal untuk keberaniannya itu!"
"Tapi Ric,"
"Tanpa orang lain, perempuan itu tidak mungkin bisa berbuat apa apa. Tapi siapa yang ada dibelakangnya? Seseorang itu pasti bukan orang sembarang. Jika orang biasa,mana mungkin bisa dengan cepat membuat salinan identitas Mira bahkan seluruh catatan pernikahan ku dengannya. Belum lagi Husnan adalah seorang Advokat nomor satu kalangan atas. Aku harus mencari tau sendiri!"
__ADS_1
___________