Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Rimbun milik kami.


__ADS_3

"Tuan Al', selamat datang." ucap Ken pada salah satu Pengusaha Muda dari keluarga Fiandi Jaya.


"Ah iya Tuan Ken." Jawab Pengusaha muda yang bernama Al' itu, segera duduk saat Ken mempersilahkan.


"Selamat bekerja sama dengan Perusahaan kami. Semoga anda bisa menjadi mitra kerja kami yang baik."


"Aku akan berusaha sebaik mungkin Tuan. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan kalian."


"Baiklah. Kalau begitu, selamat bergabung dan maaf, Tuan Nathan tidak bisa menemui mu." ucap Ken.


"Ah iya. Tidak apa apa. Aku mengerti, jika Tuan Nath baru saja menikah. Di terima bekerjasama dengan kalian saja, aku sudah sangat bersyukur. Karena gosip yang ku dengar, Perusahaan Edoardo ini paling memilih rekan bisnis." jawab Al'.


"Kau benar. Tuan Nath, tidak sembarang menerima Orang. Sebelum anda kembali ke Negeri ini, Tuan Nath sudah banyak tau tentang Perusahaan anda. Ah, maksudnya dari Paman angkat anda lebih tepatnya."


"Ah iya. Paman angkat ku itu adalah satu satunya orang kepercayaan Kakek, setelah kepergian orang tuaku. Dia adalah orang kesetiaan kami yang mengurus perusahaan sampai aku kembali kemari untuk meneruskan Perusahaan Ayahku." sahut Al'.


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan menghubungi Asisten ku dulu untuk membawakan berkas kontrak kerjasama kita yang perlu kau tanda tangani." ucap Ken. Mengambil Hpnya.


Setelah mengulik sejenak dan panggilannya diangkat,


[Rimbun. Tolong bawa berkas yang aku siapkan dimeja ku ke Ruangan Tuan Nath. Sekarang ya?]


[Baik Tuan. Tunggu sebentar.]


Al' seperti terkejut mendengar Ken menyebut nama Rimbun.


"Rimbun?" sambil menatap Ken.


"Oh, dia. Dia Asisten ku. Namanya memang unik. Tapi nama panjangnya sebenarnya bagus. Aku juga tidak tau, kenapa dia di panggil Rimbun."


Ken tersenyum, mengangguk tengkuknya sendiri.


"Siapa nama panjangnya?" Al' bertanya dengan nada cukup serius.


"Al'Rea Fiandi."


"Hah!" kali ini Al' cukup terkejut.


"Ada apa Tuan Al'? Kenapa kaget sekali? Apa kau mengenalnya?" tanya Ken, nampak penasaran dengan perubahan mimik Pria di depannya itu yang tiba tiba berubah tegang.


"Dia.. Apa dia?"


"Selamat Siang." Rimbun sudah berdiri di depan mereka.


"Ini berkasnya Tuan." Meletakkan Berkas diatas meja.


Mata Al' seketika membulat. Pria itu berdiri. Menatap Rimbun dengan teliti, dari atas sampai bawah kemudian mengulangi lagi.


"Mata itu.." Al' mendekat.


"Rimbun." menyentuh pundak Rimbun.


"Eh, Tuan! Apa yang anda lakukan?" Rimbun segera menepis tangan pria itu lalu mundur beberapa langkah.


Melihat itu, tentu Ken langsung berdiri dan menarik Rimbun ke arahnya.


"Tuan Al', tolong jaga sikap anda. Dia wanitaku." Mata Ken sudah memerah saja.


"Wanita mu?" Al' kini menatap Ken.


"Maksudku, dia kekasihku. Tolong jaga sikap anda atau aku akan marah!" jawab Ken, masih ramah tapi penuh penekanan.


"Oh. Maafkan aku. Aku.. aku hanya, ah. Dia.." Al' menoleh kembali pada Rimbun yang meringsut ke lengan Ken.


"Melihatnya, aku jadi teringat adikku. Ah, iya. Adik perempuan ku satu satunya Tuan. Maafkan aku. Maaf." Al' kembali duduk. Matanya masih terus melirik ke Rimbun.


Hati Ken yang masih dongkol, terpaksa duduk kembali dengan menggenggam erat tangan Rimbun yang juga duduk di sampingnya.


Suasana menjadi canggung dan hening sejenak.


"Tuan. Boleh kah aku bertanya sebentar pada gadis ini?" Al' memberanikan diri untuk bicara pada Ken.

__ADS_1


Ken menoleh pada Rimbun, dengan sedikit ragu Ken akhirnya mengangguk.


"Asal kau bisa menjaga sikapmu Tuan. Sebab, gadis ini bukan hanya Asisten disini, tapi dia kekasihku." jawab Ken.


Al' terlihat mengangguk. Kemudian menatap Rimbun.


"Benarkan nama panjangmu, Al'Rea Fiandi?"


Rimbun yang masih kebingungan karena sikap pria itu, hanya mengangguk saja.


"Apa nama Ayahmu Fiandi?"


Rimbun kali ini menggeleng.


"Nama Ayahku, Harun."


"Ibumu bernama Santi?"


"Ah iya. Kenapa anda bisa tau?"


Baik Ken maupun Rimbun sama sama terkejut ketika Al' tiba tiba berdiri kembali.


"Tuan. Ijinkan sebentar saja. Aku hanya ingin melihat pundak gadis ini." mendekat kembali pada Rimbun.


"Apa maksudmu?" Ken pun berdiri, mendorong tubuh Al' dengan kasar.


"Kau jangan main main dengan ku Tuan. Berani kau kurang ajar, aku akan menghajar mu disini! Aku tidak memandang siapapun Anda!"


"Maafkan aku Tuan Ken. Tolong lah Tuan. Aku hanya ingin memastikan apakah gadis ini adikku."


"Adik?" Ken dan Rimbun saling menoleh.


"Adik ku satu satunya hilang sekitar 23 tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil yang menimpa orangtuaku. Pada saat itu, adikku masih berusia beberapa bulan. Jika dia ikut meninggal di tempat kejadian, Kami tidak bisa menemukannya jasadnya." ucap Al', membuat Ken dan Rimbun saling melempar pandangan.


"Kau salah orang Tuan. Aku lahir dari orang biasa. Jadi mana mungkin aku adikmu." ucap Rimbun pada pria di depannya itu.


Pria itu tak menggubris ucapan Rimbun, kini menoleh pada Ken, dan memohon.


"Tanda?" Ken lagi lagi keheranan.


"Iya. Kami memiliki tanda hitam yang sama. Aku di bahu sebelah kanan dan Adikku disebelah kiri."


"Tuan Ken. Mu mohon sebentar saja. Kita akan memastikan bersama. Apakah Rimbun ini adalah Rimbun adikku?" pria itu terus memohon.


Ken berpikir sejenak. Dia pernah melihat tubuh bagian atas Rimbun beberapa waktu yang lalu. Tapi Ken tidak bisa mengingat apakah ada tanda hitam di bahu kiri Rimbun. Apa mungkin karena pada saat itu, Ken terlalu tegang dan terpengaruh setruman dari tubuh Rimbun sehingga dia tidak bisa fokus?


"Baiklah, aku yang akan membukanya. Jika tidak ada tanda apapun, kau jangan mengganggunya lagi, atau kau akan berurusan denganku!" tuding Ken.


Pria itu mengangguk setuju.


Ken sudah menyentuh bahu Rimbun.


"Apa sih? Aku tidak mau!" Rimbun menepis tangan Ken.


"Sebentar saja Rim? Hanya untuk memastikan. Siapa tau kau benar adiknya. Artinya kau anak dari keluarga kaya raya, bukan gadis miskin." Bisik Ken.


"Apa sih?" Menampol pelan bahu Ken.


"Haha. Aku hanya bercanda. Cepat lah."


akhirnya Rimbun menurut ketika Ken membuka pelan bajunya, menarik sedikit kerah kemeja Rimbun untuk mengintip pundaknya.


Mata Ken seketika terbelalak, menoleh pada Al'.


Pria itu pun mendekat, ikut mengintip dengan seksama.


"Adikku. Dia adikku!" jerit Al' histeris, ketika melihat tanda hitam yang sangat jelas di bahu Rimbun.


Seketika merengkuh tubuh Rimbun.


Namun Rimbun mendorong Al'.

__ADS_1


"Belum tentu Tuan!"


"Sayang.. Kau adikku. Kau adik Bang Al'. Saudara ku satu satunya."


"Banyak yang punya tanda lahir! Aku belum tentu adikmu." Rimbun meringsut kebelakang tubuh Ken. Berlindung dari Pria yang terus ingin memeluknya itu.


"Rimbun! Aku yakin kau adikku. Kami sudah mencari mu sekian lama."


"Tuan Al'. Mohon tenang lah. Kau tidak bisa memaksanya. Bukan ataupun benar dia adikmu. Dia tidak tau apa yang terjadi." cegah Ken, membuat Al' berhenti. Menghela nafas berat. Kemudian mengangguk.


"Baiklah. Satu satu nya solusi yang tepat adalah Tes DNA. Kami harus melakukan tes DNA untuk memastikannya." ucap Al'.


"Aku tidak mau!" sahut Rimbun.


"Rim, benar kata Tuan Al' ini. Sebaiknya kalian melakukan tes DNA agar bisa mengetahui dengan pasti, apakah kau benar adiknya atau bukan?" Ken setuju dengan usul Al'.


"Terus, kalau aku adiknya atau bukan, mau apa memangnya?" Rimbun masih sewot.


"Sayang.. Kakek saat ini sedang sakit keras. Dua puluh tahun lebih Kakek terpukul. Merasakan kehilangan anak satu satunya dan harus kehilangan cucu perempuannya. Jika kau benar Rimbun milik kami, Kakek pasti akan sembuh dari sakitnya. Dia terus memikirkan kamu." ucap Al'.


Rimbun terdiam sejenak.


"Sebenarnya, apa yang terjadi pada orang tuamu dan adikmu, Tuan? Karena setahuku, selama dari bayi, aku bersama orang tuaku saja. Mereka yang membesarkan aku."


Kini ketiga orang itu kembali duduk. Sejenak menenangkan hati dan pikiran yang saling berkecamuk.


"Orangtuaku meninggal pada kecelakaan tunggal. Mobil mereka jatuh ke jurang. Pada saat ini, adikku yang masih berusia beberapa bulan ikut serta bersama mereka. Jika adikku ikut meninggal pada kecelakaan maut itu, tapi kami tidak bisa menemukan jasadnya disana." Al' memulai bercerita.


"Kakek, sudah berusaha mencari dengan segala cara. Tapi kakek selalu yakin, jika Rimbun kami masih hidup dan selamat."


"Beberapa bulan kemudian, Kakek yang cukup terpukul dengan kejadian itu akhirnya putus asa. Kakek memutuskan untuk pindah keluar Negeri dan membawaku serta setelah menjual hunian milik kami."


"Beberapa tahun kemudian, kakek bertandang kemari untuk melihat Perusahaan milik Ayah yang dikelola orang kepercayaan Ayah. Saat itu, Kakek singgah ke Rumah bekas milik kami hanya sekedar untuk melepas rindu. Disana, Kakek bertemu dengan seorang satpam. Satpam itu mengatakan jika setahun setelah Kami pergi, ada seorang wanita yang mengaku bernama Santi datang ke Rumah itu dengan membawa seorang bayi perempuan berusia hampir sekitar setahun setengah. Wanita itu mengaku menemukan bayi itu dan baru mengetahui identitas bayi itu setelah membuka kalung yang ia temukan di pakaian sang bayi." Al' menjeda kalimat. Menatap Ken dan Rimbun secara bergantian.


Sementara Ken dan Rimbun masih menjadi pendengar yang setia.


"Sayang sekali, pada saat itu, Satpam itu tidak memiliki alamat ataupun nomor telepon Kami. Begitu juga wanita itu, setelah tau jika pemilik rumah itu sudah berganti, dia juga tidak meninggalkan alamat atau nomor telepon yang bisa dihubungi. Tapi Kakek yakin seratusan persen, jika wanita bernama Santi itu adalah orang yang sudah menemukan dan menyelamatkan Rimbun kami. Dan kalung yang ia temukan itu adalah milik Ibuku. Ada nama Rimbun dan keluarga kami di Liontin kalung itu." Al' mengakhiri ceritanya, melirik kembali dua wajah di depannya itu.


"Apa kau mempunyai kalung peninggalan dari orang tuamu?" Ken bertanya pada Rimbun.


Rimbun berpikir sejenak. "Tidak ada. Aku tidak punya kalung apapun selain pemberianmu ini." menunjuk kalung miliknya.


Kedua pria itu menarik nafas.


"Apa orangtuamu tidak pernah bercerita apapun padamu?" Ken kembali bertanya.


"Tidak pernah. Cerita apa? Ayah, cuma sibuk cerita masalah hutangnya saja."


Ken hanya mendengus.


"Bisakah aku bertemu dengan orang tuamu?" kali ini Al' bertanya pada Rimbun.


"Ah, Tuan Al'. Orang tuanya sudah berpulang." Ken yang menyahut.


"Keduanya?" menoleh pada Ken dan kemudian pada Rimbun.


Mereka mengangguk hampir bersamaan.


"Oh, maafkan aku. Kalau begitu, kita harus melakukan Tes DNA. Hanya itu satu satunya jalan. Ku mohon Tuan. Jika benar dia adikku , aku tidak akan menghalangi hubungan kalian. Sungguh! Aku akan mendukung kalian." Al' kembali memohon pada Ken.


"Percaya diri sekali. Jika iya. Jika tidak bagaimana? Kau sudah mengintip tubuh kekasih ku! Kau akan ku hajar dahulu sebelum aku memaafkanmu."


'Ya Tuhan, hanya bahu saja. Posesif sekali sih?'


"Ah iya Tuan. Jika dia ternyata bukan adikku, maka kau boleh menghajar ku untuk pertanggungjawaban ku yang sudah mengintip bahu Kekasih mu tadi. Aku akan meminta maaf dan tidak akan mengganggu gadis ini sedikit pun lagi." jawab Al'.


Akhirnya mereka setuju. Dan kini mereka melangkah untuk pergi ke Rumah sakit. Bahkan Al' belum sempat menanda tangani Berkas kontrak kerjasama mereka.


'Enak saja! Jika Rimbun benar bukan adikmu. Mana mungkin aku akan menerima mu sebagai rekan bisnis? Kau sudah mengintip tubuh kekasih ku. Maka aku tidak akan Sudi bekerjasama dengan mu Tuan Al' ! Aku akan batalkan kerja sama ini.' ucap Ken dalam hati


________________

__ADS_1


__ADS_2