Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Mana mungkin.. Mana mungkin?


__ADS_3

Nathan hanya memandangi Mira yang sedang sibuk bersiap. Memoles tipis wajahnya juga sudah berganti dengan pakaian yang lebih seksi. Nampak keceriaan di wajah yang sudah lama terlihat suram itu. Menulis kebahagiaan tersendiri di hati Nathan.


'Tetaplah seperti itu Mira. Bahagia mu adalah tujuanku sekarang.'


"Ah Nath, bagaimana? Apa ini lebih baik?" Mira menoleh, kemudian memutar tubuhnya. Menunjukan gaun pendek selutut berwarna putih pembelian Nathan tempo lalu. Rambut hitam panjangnya yang dibiarkan terurai ikut bergoyang akibat ia berputar.


"Astaga..!" pekik Nathan memperhatikan Mira dari ujung rambut hingga kakinya, membuat Mira langsung berhenti dan tercengang.


"Jelek ya? Maaf. Kalau begitu aku akan memperbaikinya lagi." menunduk, memilin ujung gaunnya.


"Astaga...!" Nathan kembali memekik sambil menghampiri.


"Aku kaget Mira. Aku terkejut! Kau." menunjuk.


"Bidadari, lewat!"


"Nathan! Aku sedang tidak ingin bercanda?!!" Mira kali ini yang memekik.


"Siapa yang bercanda. Bidadari lewat kok!" ucap Nathan sedikit pelan.


"Lewat mana? Lewat mana Hah! Aku tidak melihatnya??" teriak Mira dekat ditelinga Nathan, kesal dengan candaan Nathan.


"Lewat .. lewat samping, hehe." Nathan langsung menyergap tubuh Mira.


"Kau cantik sekali. Sumpah, aku sampai terkejut. Kenapa tidak setiap hari seperti ini?" bisik Nathan.


"Kau bohong." Mira menarik tubuhnya.


"Apa aku pernah berbohong? Sumpah demi apapun kau sangat cantik sayang.. Tanpa make-up ataupun gaun seperti saja aku sudah tergila gila padamu. Apalagi kau seperti ini, bisa bisa aku tidak bergeser sedikit pun dari sisimu."


"Jika seperti itu, aku tidak akan berdandan lagi kalau begitu." sahut Mira.


"Kok begitu?"


"Kasian Ken. Dia pasti repot!"


"Kok jadi kasian Ken sih? Apa hubungannya?" protes Nathan.


"Jika Tuan Nath tidak mau bergeser, Ken akan repot bekerja sendirian. Dan anda hanya akan bermalas-malasan di rumah." celetuk Mira.


Nathan langsung terbahak. "Haha.. kau benar Mira. Tapi itu tidak mungkin. Aku akan lebih giat bekerja karena sebentar lagi aku harus memberi makan anak orang. Setelah itu tidak akan lama lagi, harus memberi makan anakku sendiri." celoteh Nathan, mencubit kecil hidung Mira.


Mira hanya tersenyum saja, sekilas bayangan langsung mengisi lamunannya. 'Benarkah? Jika iya, aku pasti akan sangat bahagia.'


"Ayo..!" ajak Nathan meraih tangan Mira. Menggenggamnya, membawanya melangkah.


**


"Apa aku perlu menemani kalian?" Ken membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Tidak perlu Ken. Untuk saat ini saja. Percayalah padaku! Kami akan baik baik saja." Nathan menepuk bahu Ken untuk meyakinkan pria itu.


"Baiklah, aku memang perlu istirahat. Aku hanya sedikit khawatir saja."


"Tenang saja." Nathan kemudian menutup pintu mobil.


"Tuan. Jika bertemu Ricard. Hajar Bae ya? Bila butuh bantuan tenaga segera hubungi aku. Aku akan menyumbangkan kaki dan tanganku dengan suka rela untuk menghajarnya!" teriak Ken.


Nathan hanya tersenyum menanggapi itu, melirik Mira yang sudah duduk disampingnya sembari mulai melajukan pelan mobilnya.


"Ken sangat membenci suamimu." ucap Nathan pada Mira yang langsung tersenyum sinis. Mira tidak pernah tersenyum sinis seperti itu sebelumnya.


"Jangan menyebut dia suamiku lagi. Siapapun akan membencinya jika tau kelakuannya. Termasuk aku." sahut Mira.

__ADS_1


"Syukurlah. Aku senang sekali mendengarnya. Kau tidak mengakui dia sebagai suamimu lagi."


Kini suasana hening, hanya sesekali mereka menoleh dan saling tersenyum. Sesekali Nathan sempat meraih tangan Mira dan membawanya pada bibirnya. Menaruh ke pipinya sebentar kemudian melepaskannya lagi untuk fokus pada setir.


Epilog,


Mereka sudah berada di dalam sebuah Mall mewah. Mira sibuk memilih apapun yang ia mau setelah Nathan mengatakan agar Mira mengambil apapun yang ia inginkan.


"Termasuk Mall ini jika kau mau!"


Mira hanya tersenyum, sempat mencubit pinggang Nathan.


"Aku tidak akan jatuh miskin hanya untuk itu Mira. Jangan ragu." ucap Nathan, memilih berdiri agak jauh dari Mira tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun. Setiap senyum Mira merekah, menambah satu kebahagiaan dihati pria itu, hingga kebahagiaan begitu menumpuk dihatinya saat ini.


Mira mengambil satu baju lalu menunjukkannya pada Nathan.


"Bagaimana yang ini?"


"Bagus. Ambil saja."


"Kalau yang ini?" menunjuk yang lain.


"Bagus juga."


"Aduh, semua bagus. Lalu yang mana?" Mira kebingungan untuk menentukan pilihan.


"Kau ini. Ambil saja semua! Semua cocok untukmu."


"Nath." Mira langsung mendelik.


"Mbak .. mbak..!" Nathan memanggil seorang pelayan Mall.


"Iya Tuan." langsung mendekat.


"Baik Tuan!"


"Nathan, kau ini. Pemborosan!"


Nathan tak menggubris tetap menyuruh pelayan untuk membungkus semuanya.


Selesai membayar kemudian menghampiri Mira.


"Sudah selesai?"


Mira mengangguk.


"Tidak mau menambah?"


Mira menggeleng.


"Cukup Tuan Nath. Itu sudah banyak!"


"Kalau begitu, kita lanjut jalan jalan ya? Kau mau kemana. Mau ke taman? Tempat biasa kau dulu berjualan asongan? Siapa tau kau rindu. Atau kita ke kafe Favoritku, disana banyak minuman segar." ajak Nathan sembari melangkah. Satu tangan menggandeng Mira. Satu tangan menjinjing dua kantong besar.


Seperti suami istri habis pulang dari pasar. Ah.. Sungguh bahagia rasa hati Nathan.


"Mira." tiba tiba Nathan berhenti ketika baru berada diluar.


"Sepertinya aku tidak tahan lagi. Diam lah disini sebentar. Aku harus ke Toilet." Nathan menaruh kantong itu di sisi kaki Mira.


"Aku ikut saja." rengek Mira.


"Ck, disana banyak pria. Tunggu sebentar saja. Tidak sampai lima menit. Jangan kemana mana."

__ADS_1


"Toilet hanya di situ." Nathan menunjuk Toilet pria yang memang terlihat dari tempat Mira berdiri saat ini. Nathan langsung berlari kecil meninggalkan Mira setelah Mira mengangguk. Mira bisa melihat dengan jelas saat Nathan memasuki pintu toilet.


Mira terlihat tersenyum menatap dua kantong yang ia jinjing dari lantai itu.


"Baru kali ini didalam hidupku berbelanja barang mewah dan gaun bagus seperti ini." gumamnya.


Grep!


Tiba tiba sebuah tangan menangkap pergelangan Mira. Membuat Mira terkejut hingga kantong kantong itu terjatuh dari tangannya.


"Ketemu disini rupanya kau jalangg..!"


"Mas Ricard!" pekik Mira, wajahnya langsung pias. Kaget bukan kepalang saat menoleh pada pria yang mencengkeram kuat pergelangan tangannya itu.


"Wanita murahan. Cepat! Ikut aku pulang sekarang!" Ricard dengan kasar menarik tangan Mira.


"Lepas , lepas mas. Kita tidak punya urusan lagi!" Mira berontak.


"Enak saja kau! Sudah berani kabur dariku, lalu menggugat cerai aku. Aku tidak akan melepaskan mu sialan.!"


"Lepas mas lepas. Tolong..!" Mira menjerit.


"Brengsek kau Mira. Siapa yang akan menolongmu hah!"


"Oh, rupanya kau sudah jadi simpanan orang kaya ya? Pantas saja aku hampir tidak mengenalimu karena perubahan mu yang super drastis ini."


"Katakan padaku Siapa yang sudah memeliharamu sampai kau berani menentangku Hah!" kembali menarik tangan Mira dengan sangat kasar.


"Tidak. Lepaskan aku. Nath..!!" Mira berteriak memanggil Nathan.


"Hah! Nath??" Ricard sempat terkejut, namun belum saja hilang rasa terkejutnya, sebuah tangan sudah menarik tangan Ricard dengan sangat kuat hingga terlepas genggaman tangannya dari pergelangan Mira.


"Singkirkan tangan kotormu ini dari kekasihku brengsek!"


Sebuah tinjuan melayang ke tubuh Ricard hingga ia terpental mundur.


"Kau tidak apa apa sayang?" Nathan segera memeluk Mira.


"Nath, aku takut!" Mira meringsut di dada Nathan.


"Tidak apa apa. Jangan takut. Ada aku disini. Kau aman, tidak perlu takut dengan pria brengsek seperti dia itu." ucap Nathan membelai lembut kepala Mira, kemudian menoleh pada Ricard.


"Kau sudah membuat Kekasihku takut, Ricard! Kau harus bertanggung jawab!" matanya sudah memerah menatap Ricard.


"Nathan! Kau..!" Ricard benar benar terbelalak hebat. Menatap Nathan lalu menatap Mira secara bergantian.


"Ya, ini aku. Nathan Edoardo. Kau belum pikun kan? Atau kau sudah pikun karena terlalu banyak pikiran?"


"Tapi, dia. Dia.. mana mungkin.. mana mungkin?" persis seperti yang pernah diperagakan oleh Ken beberapa waktu yang lalu. Nathan ingin terpingkal mengingat itu.


"Kenapa? Kok kaget? Oh, kau belum mengenalnya ya?"


"Jadi!" otak Ricard langsung beku seketika.


"Jadi, dia adalah Mira, gadis desa yang tinggal di kota ini beberapa bulan yang lalu. Sekarang Mira ini adalah Kekasihku, Pacarku. Kau paham? Wanita yang pernah kau lihat di rumah ku itu. Sayang sekali waktu itu dia sedang tidak enak badan, jadi dia tidak bisa turun. Padahal aku ingin sekali mengenalkannya padamu dan Kayla." sahut Nathan. Kemudian menoleh pada Mira.


"Sayang.. sebentar ya? Aku ada urusan dengan temanku ini."


"Nath." Mira langsung memegang tangan Nathan.


"Mira. Tidak apa apa. Sebentar saja. Ini kantong belanjaanmu. Pegang lah. Takut ketinggalan. Pemborosan!" ucap Nathan tersenyum melepaskan tangan Mira, dan masih sempat sempatnya mencium kening Mira.


Lalu kembali menoleh dan menghampiri Ricard yang masih menganga.

__ADS_1


____________


__ADS_2