![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Hari terus bergulir,
Perasaan diantara Nathan dan Mira tumbuh dengan pesat dan semakin membesar saja.
Rasa sayang bukan lagi sekedar sayang bagi Nathan, namun segalanya. Melihat Mira semakin membuatnya bahagia. Itu sebabnya, Nathan tidak lagi anteng saat di kantor. Berangkat, sudah pasti terlambat. Pulang? Huh, sebelum waktunya.
Cinta , memang bikin orang sinting! Teriak Ken.
Di dalam hati memaki? Tentu saja tidak.
Ken berbeda, sekretaris laknat yang mau memaki bahkan memarahi Tuannya jika berada diposisi yang salah.
Kadang jika di luar kantor, tidak bisa dibedakan, apakah mereka atasan dan bawahan , rekan bisnis, saudara atau sahabat?
Keduanya terlihat akur, sangat kompak. Tapi sering cekcok mulut , mengumpat kemudian tertawa bersama. Kebersamaan yang kental, itulah hal kecil dari mereka yang harus kita ketahui.
Sejak kecil mereka bersama, sebenarnya mereka bukan saudara. Hanya terbiasa bersama dan saling mengikat janji setia. Untung sama sama pria , jika tidak. Bisa jadi beredar gosip, Mereka pacaran!
Malam ini adalah malam Minggu, Malam Pesta ulang tahun Kayla yang diadakan secara tertutup di sebuah Hotel. Hanya teman teman dekat yang di undang. Mungkin sengaja, Kayla tidak ingin melibatkan keluarganya yang membenci Ricard. Atau sebenarnya ini keinginan Ricard dengan suatu tujuan.
Nathan terlihat sibuk menyiapkan diri untuk pergi dibantu oleh Mira.
"Sudah. Lihatlah, kau terlihat sangat tampan." ucap Mira.
Nathan menatap kegelisahan di mata Mira.
"Maafkan aku, aku tidak bisa membawamu ke sana."
Mira mengulas senyum. "Tidak apa apa. Aku juga tidak biasa ke pesta. Cepatlah pergi. Nanti terlambat."
"Sebentar saja. Aku tidak akan menunggu pesta selesai. Aku akan segera pulang."
Mira mengangguk saja. Hatinya seperti berat melepas kepergian Nathan. Terlebih mengingat jika disana ada Ricard.
Nathan melirik Ken yang sedang menunggunya di sofa.
"Kau sudah siap Ken?"
"Apanya? Tidak lihat apa? Aku sudah kering, menunggu orang yang sedang kasmaran, sungguh menyebalkan!" Ken bangun dan melangkah menghampiri Nathan yang sedang tatap tatapan dengan Mira.
"Kau ini. Iri bilang Bos!" mendelik ke arah Ken.
"Ck, iri? Tidak lihat, di depan sepuluh wanita sedang mengantri menungguku." timbal Ken.
"Mengantri untuk menabokmu!" umpat Nathan.
"Haha..mana ada. Ken gitu, mengantri untuk dicintai!"
"Jangan dengarkan dia Mira. Wanita selalu datang untuk menggampar wajah Ken." ucap Nathan pada Mira yang tersenyum dengan lawakan garing mereka.
"Ken itu Fackboy. Pacarnya selusin. Tak ada satu pun yang ia lamar! Parah kan dia?" ucap Nathan kembali.
"Itu karena belum bertemu dengan cinta sejatinya. Bukan Fackboy! Sudahlah Tuan. Ayo! Malah membongkar aib. Itu rahasia kita!" ucap Ken, masih saja setia menunggu Nathan di depan pintu.
"Ck, Ken lagi Ken lagi. Pergi selalu denganmu. Sampai terdengar gosip kita pacaran Ken, awas saja kau!"
"Hahaha..!" ketiganya jadi tertawa.
"Baiklah, aku tunggu dibawah. Lima menit!" Ken melangkah keluar.
Nathan kembali menatap Mira.
"Baik baik di rumah. Tidur saja di kamarku. Kau bisa menonton atau apapun yang kau mau. Aku tidak lama."
Mira mengangguk, "Hati hati."
Satu kecupan cukup panjang mendarat di kening Mira.
Baru saja Nathan memutar tubuhnya, tiba tiba Ken kembali.
"Tuan! Gudang barang kita kebakaran!"
__ADS_1
"Yang benar Ken!" Nathan langsung terkejut.
"Penjaga mengatakan, curiga seseorang sengaja membakarnya."
"Kita pergi ke sana Tuan!"
"Pestanya?"
"Ah.. Aku takut ini jebakan Ricard. Apa mau dia. Ingin Tuan datang ke Pesta itu atau tidak?" Ken terlihat berpikir keras.
"Kau pergi dengan Fic, aku bisa pergi sendiri ke pesta. Di dua tempat itu pasti ada sesuatu yang tidak beres. Kita akan menyelidikinya." ucap Nathan.
"Jika Fic bersama ku, lalu nona Mira?"
Nathan cepat menoleh pada Mira yang masih mematung dengan wajah sudah penuh kekhawatiran.
"Mira! Kau di kamar saja. Jangan keluar. Banyak pengawal di luar sana. Tidak akan terjadi apa apa. Kau aman di sini."
Mira mengangguk berat. "Hati hati Tuan."
"Em.."
Setelah memastikan Mira masuk ke kamar dua pria itu bergegas. Segera melaju dengan mobil masing masing dengan tujuan yang berbeda.
Di kamar, tentu perasaan Mira sudah tak menentu. Berkali kali menarik nafas berat. "Ya Tuhan. Lindungi Tuan Nath."
Mobil milik Nathan yang begitu cepat melaju dan berhenti tepat di depan tujuan. Sebelum menuruni mobil Nathan menghubungi Ken dahulu.
"Bagaimana Ken?"
"Tidak terlalu parah Tuan. Kau tidak akan jatuh miskin karena ini. Tidak perlu khawatir. Tapi, aku tidak bisa pulang cepat malam ini. Aku harus mengusutnya malam ini juga."
"Baiklah Ken."
"Berhati hati Tuan. Aku khawatir Ricard bermaksud buruk padamu di pesta itu. Jangan lupa meminum obat dariku itu!"
"Baiklah, aku tidak akan lupa."
"Aku akan cepat pulang. Hanya masuk sebentar saja."
"Hubungi aku jika sedikit saja ada yang mencurigakan." ucap Ken. Mematikan panggilan.
Nathan terlihat merogoh sesuatu dari sakunya. Kemudian segera menelannya, lalu Nathan keluar dari mobil. Melangkah masuk.
Di dalam, pesta belum dimulai. Para teman teman Nathan pun terlihat baru datang.
Melihat Nathan datang, mereka segera menyambut dengan sangat hangat. Terlebih Ricard.
"Nath, kupikir kau tidak datang. Kau sendirian?" Sapa Ricard.
Nathan hanya tersenyum.
"Mana pacarmu Nath, kau berbohong pada kami?" Kayla langsung menghampiri.
"Kayla? Selamat Ulang Tahun ya? Ini kado untukmu. Kau pasti suka. Perhiasan dari Luar Negeri punya." ucap Nathan tak ingin menjawab pertanyaan mereka.
"Aku tidak bisa lama lama. Pacarku sedang sakit. Jadi aku tidak bisa membawanya kemari dan tidak bisa lama meninggalkannya." ucap Nathan tanpa ingin basa basi.
"Atau kau sedang berbohong?" tanya Cesilia yang baru saja menghampiri Nathan.
"Ku rasa kalian tau siapa aku. Apa pernah kau berbohong?" ralat Nathan.
Mereka terdiam.
"Baiklah, selamat bersenang-senang. Aku pulang dulu. Maaf tidak bisa menemani kalian." Nathan segera memutar tubuhnya.
"Setidaknya minumlah dahulu untuk menghargai kami Nath!" seru Ricard.
Nathan menoleh, menatap gelas yang sudah digenggam Ricard. Ricard mengulurkan gelas berisi Wine itu.
Nathan masih terdiam, enggan untuk menerimanya.
__ADS_1
"Kau Mengira aku akan meracunimu? Hahaha... Nathan pecundang!" meletakkan gelas itu di atas meja.
Nathan tersenyum simpul, kemudian mendekati gelas itu dan mengambilnya.
"Kau pikir, aku akan mati hanya karena racun mu ini?" Nathan menatap Ricard.
Ricard tergelak. "Aku tidak mungkin menaruh racun di gelas mu. Jika pun ku taruh, semua juga sudah tau jika Nathan Edoardo bukan hanya pria hebat, melainkan manusia anti racun! Jadi buktikan pada kami!"
Nathan memanas dengan ucapan Ricard, segera menengguk habis minuman itu dan melempar gelas itu sembarang. Sejenak ia menatap teman temannya.
"Aku pulang!" Nathan kembali memutar tubuhnya. Namun baru saja ia melangkah, ia merasa tubuhnya seperti terbakar. Pusing dan gemetar.
"Nath, kau kenapa?" Cesilia langsung menghampirinya.
"Kau meracuninya Ricard?" menoleh pada Ricard yang malah terbahak.
"Aku hanya ingin mengenalkannya pada surga dunia." sahut Ricard tertawa keras.
Nathan langsung menoleh. "Bajingan, Aku akan membunuhmu setelah ini Ricard. Dengar itu!" Nathan mengepalkan tangannya.
"Setelah ini kau akan berterima kasih padaku karena jasaku, Nathan. Hahaha!" Ricard tertawa.
Nathan semakin merasakan tubuhnya panas. dan gemetar.
"Nath , biar ku bantu. Aku akan memanggil dokter untuk mu." ucap Cesilia langsung meraih tubuh Nathan yang gemetar.
Nathan menoleh pada Cesilia. Mulai menelan ludah ketika melihat leher jenjang milik Cesilia.
"Cepat kau bantu dia Ces. Jika tidak, dia akan mati memanas." Ricard semakin terbahak.
"Minggir!" Nathan menghempaskan tubuh Cesilia kemudian berlari keluar.
Cesilia yang bingung tidak mengerti apa yang terjadi menoleh pada Ricard.
"Kau konyol Ric!"
"Heh, aku membantumu untuk mendapatkannya. Cepat kejar dia bodoh!"
"Kau cari mati!" umpat Cesilia kemudian berlari mengejar Nathan.
Sementara Ricard berjalan santai menyusul. "Aku ingin memastikan apa yang akan terjadi selanjutnya."
Nathan sudah mencapai mobilnya.
Dengan tangan gemetar ia mencoba meraih pintu mobil.
Obat perangsang terkuat di dunia, berhasil mendominasi tubuh Nathan. Membuat libidonya dan hormonnya meningkat cukup tajam. Nathan menyandarkan tubuhnya disisi mobil, Meraba seluruh tubuhnya sendiri.
"Nath apa sebenarnya yang diberikan Ricard padamu?" Cesilia yang sudah menyusul langsung mendekat dengan wajah penuh khawatir.
"Aku akan mengantarmu!" kemudian Cesilia membuka pintu mobil Nathan dan menarik Nathan masuk.
Nathan hanya terdiam, mencoba melawan pengaruh obat itu sekuat tenaganya.
Saat Cesilia sudah ikut duduk disampingnya di depan kemudi. Cesilia yang menggunakan gaun terbuka, menampakkan bagian atas dadanya dan paha mulusnya sungguh membuat Nathan yang sudah dikuasi obat laknat itu sungguh ingin menerkamnya saat ini juga.
Namun Nathan masih mampu mengendalikan diri. Memejamkan matanya dengan kuat dan merengkuh tubuhnya sendiri.
"Keluar! Keluar Jal*Ng! Aku tau, ini bagian dari rencana mu juga!"
"Nath, apa yang kau bicarakan. Aku tidak tau apa apa?" Cesilia memeluk tubuh Nathan.
"Biar ku bantu. Semua akan baik baik saja. Aku akan membantumu. Jika tidak kau akan mati Nathan." Cesilia melepaskan pelukannya dan menatap kedua mata Nathan.
Nathan masih tetap memejamkan matanya, kemudian tiba tiba mendorong tubuh Cesilia hingga terjatuh dan segera menindihnya. Sorot mata penuh gairah yang meluap luap kini tertuju pada bibir Cesilia. Dengan nafas yang sudah memburu tak karuan. Nathan cepat meraih wajah itu.
Saat ciuman hampir terjadi, tiba tiba Nathan berteriak.
"Mira ...!!!"
_____________
__ADS_1