![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Rimbun belum juga berhenti menampar wajah Ken, hingga Pria itu sudah tidak kuat lagi untuk menahan pedih di pipinya.
Untuk selanjutnya, Ken menahan tangan Rimbun.
"Berhenti Jelek! Kau menyiksaku!"
Rimbun berhenti, menatap wajah Ken dengan jarak dekat. Seketika tercengang.
"Ya Tuhan! Pipi mu memerah Tuan!" pekik Rimbun.
"Ya iyalah. Namanya juga kamu gampar. Bengkak kan jadinya! Aduh... sakit." Rengek Ken, memegangi pipinya.
"Tu-Tuan. Ma-Maafkan aku. Aku tidak bisa mengontrol emosiku. Maaf ya?" Rimbun kini menyesali perbuatannya yang sudah meninggalkan bekas lima jari di pipi kanan Ken.
"Sakit.. huhu.. ini panas sekali. Seperti tersiram air panas!" rintih Ken mengipas pipinya dengan tangan, sambil melirik wajah Rimbun yang berubah khawatir.
"Maafkan aku Tuan. Aduh.. bagaimana ya?" Rimbun kini berjongkok, meniup niup Pipi Ken yang masih memerah itu.
"Kau harus mengobatinya. Harus bertanggung jawab. Jika tidak Tuan Nath akan marah dan menghukum mu karena kau sudah berlaku keji pada orang kesetiaannya ini. Lihat saja! Kau akan dihukumnya!" ancam Ken, hatinya ingin terkikik melihat Rimbun yang semakin merasa bersalah.
"Jangan Tuan. Jangan adukan pada Tuan Nath Ya? Aku akan mengobatinya." Rimbun kali ini mengiba. Membawa Ken duduk di sofa.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil Air es untuk mengompresnya." ucap Rimbun. Ken hanya mengangguk saja, dan Rimbun segera beranjak untuk pergi ke dapur.
"Hihi.... Sering sering saja seperti ini. Lumayan Kan? Dapat perlakuan baik dari si jelek itu." Lirih Ken, setelah Rimbun pergi.
"Arg...Sial. Tapi ini sakit juga. Tangan si ubun ubun ternyata kasar sekali." Ken mengusap kembali pipinya.
"Tapi tidak apa apa. Yang penting, sudah bisa menyeruput bibirnya yang manis itu. Cerewet. Tapi manisnya... Ampun. Gak ketulungan!" Ken tersenyum senyum memegangi bibirnya sendiri.
Tak lama Kemudian, si ubun ubun datang dengan membawa baskom kecil berisi air es dengan sapu tangan kecil miliknya yang ia ambil dari dalam tasnya.
Duduk di sebelah Ken, Pria itu melirik sebentar.
"Kau ketemu dapurnya?"
"Aku punya mulut. Jadi bertanya."
"Ah, iya. Kau punya mulut. Mulut yang cerewet!"
"Sudah diam! Aku mau mengompres Pipimu." Rimbun mulai menempelkan sapu tangan itu.
"Ah.. Pelan pelan jelek! Kau mau membunuhku ya?" seketika Ken menjerit.
"Gak usah lebay Tuan. Baru saja disentuh." sahut Rimbun.
"Sakit tau!" ketus Ken.
"Diam!" Rimbun menahan tangan Ken dan segera mengompres Pipi Ken.
"Pakek Perasaan kenapa Jelek? Biar nikmat!" ucap Ken.
Mata Rimbun langsung melotot.
"Nikmat nikmat. Nih, nikmatin!" mengusap dengan kasar.
"Ah..kau ya. Kau sengaja ingin membuatku mati!" Seru Ken menahan tangan Rimbun segera.
"Kau mau ku hukum lagi ya? Aku akan menghukum mu dibagian yang lain kalau begitu." Ken kini menahan dua tangan Rimbun, sembari mendekatkan wajahnya.
"Ti-Tidak Tuan. Maafkan aku. Lepas! Aku akan mengulanginya dengan baik dan pakai perasaan." balas Rimbun, sudah panik saja.
"He.. Apa yang kalian lakukan!" tiba tiba Nathan sudah berdiri di ujung sana.
Serentak Ken melepaskan tangannya dan menoleh.
"Tuan Nath!" Ken melirik Rimbun yang cepat berdiri.
"Ken? Apa yang kau lakukan padanya? Kau sedang menghukumnya?" Nathan mendekat.
"Oh, eh iya Tuan. Aku sedang menghukumnya." Sahut Ken terbata.
"Tidak perlu Ken. Mira tidak ingin kau menghukum Rimbun ataupun Fic. Kata Mira, mereka tidak bersalah. Maafkan saja mereka." ucap Nathan.
"Ah, kalau itu keinginan Nona, baiklah." sahut Ken.
__ADS_1
"Ken. Kau kenapa? Wajahmu?" Nathan mendekat, mengangkat wajah Ken dan meneliti. Namun Ken segera menepis tangan Nathan.
"Ken? Siapa yang melakukan ini. Kau habis berantem dengan siapa hah? Siapa yang memukulmu? Berani sekali dia!" seru Nathan.
Ken dan Rimbun jadi panik.
'Mampus Aku! Kalau Tuan Nath tau, itu perbuatan ku, bagaimana?' Rimbun sudah ketat ketir hatinya.
"Tuan Nath. Ini tadi, ini aku.. Aku tadi terjatuh. Ya, aku terjatuh dan terkena ujung meja. Ya, begitulah." jawab cepat Ken.
"Terjatuh?" Nathan kembali memeriksa.
"Tapi ini seperti bekas tamparan tangan Ken? Astaga! Bekas jari lima!" pekik Nathan.
Nathan langsung melirik Rimbun yang seketika menunduk.
"Apa kau yang melakukan ini padanya?" tanya Nathan.
"Ma-maafkan saya Tuan. Saya.. saya tidak sengaja. Tuan Ken, dia.. dia yang sudah kurang ajar padaku. Jadi aku, aku terpaksa melakukannya. Maafkan saya Tuan." iba Rimbun.
"Jadi kau benar benar menggampar Ken?" Nathan melotot sudah.
Rimbun mengangguk, "Maafkan saya Tuan."
Kini Nathan menoleh pada Ken.
"Astaga Ken!" Nathan mendengus.
"Kalau begini ceritanya. Aku tidak bisa ikut campur."
"Tuan! Kau tidak jadi membelaku?" Ken segera mendelik.
"Maafkan aku Ken! Itu derita Lo!"
Kemudian melirik Rimbun,
"Kalau begitu, kau boleh menggampar Ken sesukamu Rimbun. Lanjut kan. Lanjutkan saja, haha...! Dia memang kurang ajar."
"Kau ya? Aku sudah mati matian membelamu, tapi kau malah..-" Ken mengepalkan tangannya.
Ken menoleh pada Rimbun yang sudah berubah beringas lagi.
"Apa hah! Tidak ada yang membelamu kan? Aku jadi leluasa untuk menghajarmu sekarang!" Mata Rimbun terlihat sadis., mendekat pada Ken yang meringsut mundur.
"Sudahlah Manis, aku meminta maaf atas kejadian tadi. Aku minta maaf ya manis?"
"Minta maaf? Kau sudah sering melakukannya padaku!"
"Kapan? Baru juga,.. Tiga kali. Ya, baru tiga kali saja dibilang sering." sahut Ken sewot.
"Baru kok tiga kali. Itu namanya sering. Kau kira aku wanita murahan? Seperti pacar pacarmu itu? Main sosor anak perawan orang saja! Dasar laknat!" Rimbun menuding dada Ken.
"Heh, aku ini tidak pernah mencium mereka. Sudah ku bilang aku tidak pernah mencium siapapun selain kau!" Bantah Ken.
"Kau masih mau mengatakan jika aku wanita pertama yang kau cium begitu? Dasar Playboy!"
"Sungguh Rimbun. Kau harus percaya padaku. Begini saja. Aku akan bertanggung jawab jika kau tidak percaya."
"Bertanggung jawab?" Kini Rimbun menganga.
"Ya. Aku akan menikahi mu sebagai pertanggungjawaban ku karena sudah mencium mu. Bagaimana? Cowok sejati kan aku?"
Rimbun terkekeh mendengar itu. "Sejati apanya?"
"Kenapa tertawa?"
"Kau sedang melamar ku Tuan Ken?" Rimbun bertanya.
"Tidak, aku hanya sedang mengajakmu menikah." sahut Ken.
"Aneh orang ini. Kau sakit?" Rimbun memeriksa kening Ken, pria itu segera menepisnya.
"Aku sedang tidak sakit Jelek! Aku ingin menikahi mu untuk bertanggung jawab atas tiga perbuatan ku. Pertama mencium mu di depan Sella. Kedua mencium mu di depan Nona Mira. Dan ketiga yang tadi!"
"Mimpi saja! Meskipun aku ini Jelek dan Miskin, kau itu bukan tipeku. Aku ingin punya suami orang baik seperti Tuan Nath."
__ADS_1
Ken langsung melotot.
"Kau kira aku juga tidak baik? Aku sudah membayar semua hutang hutangmu. Aku juga sudah memberimu banyak uang untuk membuatmu cantik seperti ini. Satu lagi yang kau lupa Jelek! Aku sudah menyuruhmu bekerja di kantorku. Kurang baik dimana lagi coba!" protes Ken.
"Kau tidak ikhlas? Astaga.. Ternyata kau tidak ikhlas melakukan itu? Tenyata ada udang di balik bukit?"
"Batu Rimbun. Batu! Bukan Bukit."
"Batu itu kecil. Bukit lebih besar! Kebaikanmu kan besar, sebesar bukit. Tapi menyembunyikan maksud tertentu yang tidak baik!" celoteh Rimbun.
"Astaga...Rimbun. Aku ini baik. Pria sejati yang ingin bertanggung jawab. Kau ini malah ribet sekali. Mau tidak menikah denganku? Tinggal jawab saja susah sekali. Berbelit Belit." kesuh Ken.
"Aku tidak mau!"
"Kenapa Rim? Aku ikhlas membantumu. Tidak ada udang di balik batu, atau bukit . Serius."
"Sama saja! Aku tetap tidak mau menikah denganmu Tuan Ken! Kau itu pria galak dan jahat. Aku tidak mau hidup kaya harta tapi nantinya akan makan hati!" tuding Rimbun.
"Rim, aku tidak akan memberimu makan hati. Tapi jantung. Jantungku! Bagaimana? Menikah Yuk! Bareng Tuan Nath sama Nona Mira. Pasti seru!"
"Seru hidung mu itu!" Rimbun melangkah pergi.
"Eh, kau mau kemana?" Ken menyusul.
"Pulang! Aku mau pulang. Terserah, ada yang mau mengantar atau tidak. Aku bisa jalan kaki!" teriak Rimbun.
Mau tidak mau Ken pun terus mengikuti langkah kaki Rimbun hingga sampai diluar.
"Aku akan mengantarmu!" Ken menarik tangan Rimbun ke mobil.
Kemudian Ken, mengemudi mobilnya menuju kost Rimbun.
Sepanjang perjalanan Ken terus melirik Rimbun yang memasang wajah tertekuk itu.
"Kau masih marah?"
Rimbun hanya menggeleng.
"Aku serius mengajak mu menikah Rimbun?"
"Sudah diam! Aku sedang tidak Mood untuk bercanda!" bentak Rimbun.
"Aku sedang tidak bercanda Manis ku, yang imut?" rayu Ken.
"Begini saja. Aku suka padamu. Ah, iya. Aku mencintaimu. Haha.. aku jatuh cinta pada si jelek keriting ini, si sawo matang yang dekil ini. Lalu , ingin menikahinya." tambah Ken.
"Hihi..Tuan Ken pintar merayu ya?"
"Aku sedang menghinamu Jelek! Bukan merayu."
"Bagiku, kau sedang merayu." Rimbun tersenyum melirik Ken.
Ken menggaruk rambutnya.
"Tapi kau mau kan?" Ken mengulang pertanyaannya.
"Tidak mau! Aku tidak mau. Kau mau sedang bercanda kek, mau serius kek. Aku tidak mau!"
Ken mendengus, mengelus dadanya.
'Kenapa si Jelek ini batu sekali sih? Apa caraku salah mengutarakan cinta ku ya?' Ken kini berpikir.
' Sepertinya Aku harus banyak belajar pada Tuan Nath.'
Sebagai mantan Fackboy, Ken memang tidak pandai merangkai kata apalagi mengutarakan cinta.
Kali ini Ken terdiam sambil berpikir, hingga berhenti di depan kost milik Rimbun.
Keduanya sama terdiam untuk beberapa saat. Saling melempar pandang kemudian meluruskan pandangan masing masing kembali.
"Bun! Kost mu di gondol semut!" Ken menunjuk ke arah Kost Rimbun.
"Hah! Yang benar Tuan!" Rimbun seketika terbelalak kaget.
Terdengar Ken tergelak. Menundukkan kepalanya di setir. Hingga bahunya terlihat berguncang karena menahan tawa.
__ADS_1
______________