![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Ini belum terlalu malam,
Namun pesta meriah yang seharian tadi berlangsung sudah selesai. Rumah itu kembali terlihat sepi.
Karena sudah ada pada kesepakatan, jika pesta akan berlangsung dari pagi hingga petang saja. Tidak lebih dari jam delapan malam.
Itu semua disebabkan , karena pesta diadakan di Rumah pribadi Nathan, bukan di Hotel atau gedung lainnya.
Hanya tinggal para pelayan yang tidak bisa dibilang berjumlah sedikit. Puluhan lebih. Belum lagi staf WO.
Tanpa hitungan jam, rumah itu kembali rapih seperti sedia kala. Tinggal beberapa pelayan yang mengepel lantai dan menghapus debu yang tersisa.
Ayah, sudah pergi ke kamar khusus yang disiapkan oleh mereka untuk beristirahat. Kamar sementara saat ia berada di rumah ini. Atau mungkin akan menjadi kamar milik Ayah seutuhnya jika Ayah bersedia tinggal selamanya disini.
Ken, sudah mengantar Rimbun. Tapi bukan mengantar pulang ke Rumahnya. Tapi ke kamar Ken sendiri.
"Beristirahat dan menginap di kamarku ini saja, Jelek!"
"Tidak mau! Aku mau pulang," Rengek Rimbun.
"Ini sudah malam. Kau pasti lelah. Nanti tipesmu kumat kalau kau kelelahan." mengangkat paksa Rimbun. Membantingnya di ranjang.
"Gaun ku kusut. Tuh kan rusak. Dasar kasar!"
"Bisa tidak sih, romantis sedikit?!" keluh Rimbun.
"Kau bandel sekali, Jelek! Aku jadi gemes padamu." menunjuk kening Rimbun.
"Kau memaksaku untuk tidur di kamarmu? Mana mungkin? Aku tidak mau??" masih berteriak.
"Aku tidak akan menerobos ke sini Rimbun? Jika kau tidak percaya, kunci dari dalam!" Ken melotot, mendekatkan wajahnya.
"Lalu kau tidur dimana?"
"Banyak kamar disini." duduk disisi ranjangnya.
Menarik nafas panjang, melirik gadis yang bersungut-sungut itu.
"Berganti lah. Itu koper mu." menunjuk sisi ruangan.
"Jika kau lapar atau perlu yang lain. Hubungi nomorku. Pelayan wanita yang akan mendatangi mu." Ken berdiri.
Kembali menoleh.
"Seperti hantu saja aku ini di matamu. Aku ini kekasih mu!" menunjuk dada Rimbun.
"Memang kau hantu. Kekasihku, Hantu!" menepis tangan Ken.
"Hantu Tampan?" Ken kembali mendekatkan wajahnya.
"Tampan dari mana? Mengerikan! Aku takut."
"Baiklah. Jika itu mau mu!" Ken cepat menarik tengkuk Rimbun . Mencium brutal bibir Rimbun, walau hanya beberapa detik saja.
"Aku tidak akan menampakkan batang hidungku, kecuali kau yang merindukan aku dan ingin aku temui. Puas!" melepaskan ciumannya.
Kemudian berdiri dan melangkah.
Rimbun melempar bantal ke punggung Ken.
"Tukang Paksa!"
__ADS_1
Ken terkikik di balik pintu. Tak menghiraukan teriakan Rimbun yang menggelegar. Hatinya dipenuhi bunga bunga yang bermekaran. Bahagia.
Bisa bersama dengan si Jelek untuk malam ini pikirnya. Walau telinganya sudah pasti akan pekak karena teriakan teriakan Rimbun. Belum lagi saat Rimbun mencak-mencak. Sudah pasti pukulan Rimbun yang akan diterimanya.
Tapi Ken senang. Suka rela menerima apapun dari Rimbun. Asal bisa mencicil sedikit demi sedikit. Cicilan ciuman yang nantinya kan terbayar lunas. Menikahinya!
Begitulah, sepasang kekasih yang selalu adu mulut dan fisik tanpa ada romantisnya itu.
Di kamar lain,
Kamar itu tanpa hiasan. Ranjangnya pun tak berubah. Tidak ada taburan bunga selayaknya ranjang pengantin baru pada umumnya.
Ini kamar Nathan. Masih sama ketika mereka keluar tadi dan masuk kesini kembali.
Saat Staf WO ingin menghias kamar itu. Mira keberatan. Tidak ingin ada perubahan. Akhirnya Nathan hanya bisa mengiyakan saja.
"Cinta kita memang tidak mungkin berubah. Kamar ini pun juga. Tak perlu di ubah."
Tapi ada sedikit yang membuat ranjangnya terlihat sempit.
Beberapa bingkisan kado tertumpuk disana.
Mira yang sudah selesai berganti, cepat menaiki ranjang dan duduk di tengah.
Nathan hanya melirik Mira yang sibuk membuka kado kado itu sambil berganti piyama.
"Kenapa mengusungnya ke kamar?"
"Sengaja Nath. Aku menyuruh pelayan membawa kemari karena penasaran." jawab Mira sama sekali tak melirik Nathan.
"Kau ini. Barang seperti itu, aku bisa membelikan untuk mu sebanyak yang kau mau." kini mendekat. Ikut naik ke ranjang.
"Sebenarnya aku penasaran isinya apa. Biasanya, kalau orang kampung kadonya besar besar setahuku. Kok ini kecil kecil ya?" Mira meneliti beberapa kotak kado yang terlihat sangat kecil.
"Tapi, inikan kado buatmu dari teman temanmu. Aku bahkan tidak mengenal pemberinya."
"Itu milikmu. Dan kau tidak perlu mengenal mereka, tapi mereka yang harus mengenalmu."
Mira tersenyum, sudah paham maksud pria yang kini sudah menjadi suaminya itu.
Mira kemudian membuka satu dari bingkisan itu.
"Hah!" matanya terbelalak.
Perhiasan indah berada di dalamnya.
"Astaga! Jadi kado orang orang kaya itu seperti ini?"
Brug!!"
Kaki Nathan menyampar semua kado itu menggunakan kakinya hingga terbuang dari atas ranjang.
"Di urus besok saja sayang..! Aku tidak ingin di ganggu dengan hadiah hadiah yang tidak sebanding dengan milikmu yang sudah dibeli kemarin kemarin untuk mu."
"Tapi ini cantik Nath."
"Masih cantik punyamu Mira. Kau tidak percaya? Ini barang lokal. Punyamu itu perhiasan luar Negeri punya!" Nathan meraih kotak itu.
"Eh, jangan. Biar ku simpan dulu." Cepat cepat menarik nakas disisi ranjang dan segera menyimpannya.
"Jangan mudah terpengaruh dengan sebuah hadiah Mira." Nathan menangkap kedua pipi istrinya.
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Seindah apapun hadiah dari mereka, belum tentu si pemberi itu ikhlas."
"Maksudmu, teman teman mu tidak ikhlas memberi ini semua?"
"Bukan begitu, tapi kau perlu tau. Banyak yang terlihat baik di depan kita. Tapi buruk di belakang kita. Artinya, penjilat."
"Mereka hanya mencari muka di depanmu, hanya karena ingin dianggap baik. Jangan mudah percaya dengan orang luar. Kecuali orang orang kita saja."
"Aku tidak paham maksudmu Nath?"
"Mira. Kau sudah menjadi Nyonya Nathan. Kau harus tau, jika dunia bisnis itu kejam. Suamimu ini seorang Pengusaha. Sebagian orang ada yang tidak suka padaku diluar sana. Mereka hanya berpura pura baik demi kelancaran bisnis mereka. Dan aku hanya berusaha mengimbanginya saja. Tidak akan lebih."
"Hem, begitu ya."
"Ya. Jadi, sebaik apapun hadiah dari mereka, kau tidak perlu senang atau berterimakasih. Karena itu, hanya sebagai formal mereka saja."
"Aku sedikit mengerti sekarang."
"Ah iya. Pelan pelan kau akan banyak mengerti. Tak perlu memikirkan itu. Yang terpenting, lihat aku saja dan orang orang di dalam rumah ini. Karena mereka yang berada disini sudah pasti orang pilihan Ken yang terbaik."
Mira hanya mengangguk. Bergeser untuk mendekat pada Nathan.
"Aku masih seperti bermimpi Nath. Kita menikah."
"Aku juga. Aku masih seperti bermimpi, akhirnya aku berhasil menikahi mu sayang." meraup wajah Mira.
"Kita Sah, Mira. Habislah kau malam ini olehku."
Mira tergelak. "Kau tidak akan menyisakan untuk besok?"
"Tidak akan! Akan ku habiskan malam ini juga. Sampai subuh." Nathan cepat merengkuh tengkuk Mira, merapatkan kening mereka.
"Yang akan ku habiskan adalah Rindu yang ku pendam selama ini. Sisanya adalah cintaku yang tak kan pernah habis untukmu selama nafasku masih berhembus." ucap Nathan. Nafasnya terasa begitu hangat menyapu wajah Mira.
Keduanya semakin merapatkan tubuhnya, dengan genggaman tangan yang semakin kuat.
"Kau milikku Mira. Kau resmi menjadi milikku."
Tak ada lagi suara dari keduanya. Kecuali hanya debaran jantung mereka yang semakin keras. Tanpa bisa di bedakan , jantung milik siapa yang berdebar paling keras.
Deru nafas yang semakin menggebu, di tambah gerakan gerakan tubuh dan tangan mereka yang mulai terlihat. Gesekan kulit, hingga penyatuan diri mereka setelah bercumbuu cukup lama.
Dan,
Eluhan merdu mengiringi malam pertama Pengantin baru ini , mereguk segala kenikmatan. Saling berbagi dan saling menumpahkan kerinduan yang ada.
Mereka mengulangi, lagi dan lagi. Hingga Mira merasa lelah. Tertidur dengan lelapnya.
Namun Nathan belum juga berhenti.
Masih Bergerak!
Tiba tiba pintu kamar Nathan digedor seseorang. Sambil terdengar suara yang cukup kuat memanggil.
"Nathan! Mira! Tolong buka pintunya. Aku ingin bicara. Ku mohon!"
Nathan cukup mengenal suara itu. Dia menoleh, tapi tidak segera beranjak turun.
"Bodoh sekali Fic!"
__ADS_1
____________________