![Ku Rebut Istrimu]](https://asset.asean.biz.id/ku-rebut-istrimu-.webp)
Masih dengan perasaan campur aduk, Rimbun melangkah cepat mendekat pada Mira.
"Nona. Maafkan Aku. Tadi, tadi itu aku tidak sempat menghindar. Maafkan aku. Jangan marah ya? Nanti, nanti aku akan memukul Tuan Ken jika dia sudah kembali. Sungguh maafkan aku." ucap Rimbun pada Mira.
"Kenapa meminta maaf padaku? Bagus lah, jika Ken sudah mau mencium mu. Artinya dia mulai perhatian padamu. Jangan sia sia kan kesempatan itu. Jarang terjadi lho." sahut Mira tanpa tau jika gadis ini sedang salah pemikiran alias salah sangka padanya.
"Tapi Nona. Ah, Tuan Ken itu memang Playboy. Dia harus dikasih pelajaran agar jangan terus melecehkan wanita!"
"Jangan begitu Rimbun. Kau salah. Ken itu sebenarnya tidak Playboy kok. Aku tau semua cerita tentangnya. Meskipun pacarnya banyak, tidak ada satupun yang ia sukai. Dan sekarang, semua pacarnya sudah diputuskannya. Jadi ku rasa, kau yang pertama mendapatkan ciuman darinya." sahut Mira.
Rimbun sungguh dibuat ternganga dengan ucapan Mira barusan.
"Anda tidak marah?" Rimbun bingung.
"Marah? Maksud mu?" Kini Mira yang bingung.
"Ya, marah! Pacar Nona sudah berani mencium wanita lain di depan anda sendiri! Masa Nona tidak marah? Aku saja marah lho!"
"Pacar?" Mira semakin heran.
"Anda, bukannya salah satu dari Pacar Tuan Ken yang mungkin belum diputuskannya? Atau anda malah Tunangannya?"
"Astaga...!!" Seru Mira mulai sadar tentang kesalahan pahaman Rimbun.
"Jadi kau mengira, aku ini pacar Ken? Begitu?" tanya Mira.
"Lalu? Anda.. Anda ini..--"
"Rimbun. Memang Ken belum bercerita ya? Belum memberitahu mu?"
Rimbun menggeleng.
"Pantas kau sewot. Kau sudah salah paham. Aku ini, calon istrinya Nathan. Kau kenal Nathan?"
"Hah!" Rimbun seketika terbelalak dan segera berlutut.
"Nona Mira. Maafkan saya kalau begitu. Sungguh, saya tidak tau. Tuan Ken tidak memberitahuku. Ah, maafkan aku. Maafkan aku Nona." Rengek Rimbun.
"Eh, jangan begitu. Kenapa jadi berlutut sih?" Seru Mira.
"Tuan Ken keterlaluan. Dia tidak memberitahuku tentang Nona Mira itu siapa."
"Sudah, jangan menyalahkan Ken. Mungkin dia lupa karena terlalu sibuk. Ayo duduk lah disini. Kita sekarang sudah menjadi teman bukan? Karena Ken itu, bukan hanya Sekretaris Tuan Nath, tapi juga sahabat Tuan Nath. Dan juga sahabat ku. Artinya, kau juga jadi sahabat ku." ucap Mira.
Rimbun akhirnya mengangguk, hatinya sungguh malu luar biasa karena kesalahpahaman itu. Lalu berdiri dan duduk di samping Mira.
"Bukankah kau yang membantu Ken menyiapkan pernikahan kami, kenapa bisa tidak tau namaku?" tanya Mira.
"Waktu itu, kami hanya masih merancang persiapan. Sementara kemarin kemarin, Tuan Ken bersama Tuan Nath sendiri yang melanjutkan. Karena hari pernikahannya diundur, maka undangan pun belum jadi di buat. Jadi, aku sungguh tidak tau jika calon istri Tuan Nath itu bernama Mira." jelas Rimbun.
"Aku jadi malu." lirih Rimbun, menggaruk tengkuknya.
"Tidak perlu malu. Aku dan Ken memang sangat dekat. Ken selalu memperlakukan aku dengan kasih sayangnya. Tapi, Dia menjagaku hanya demi Tuan Nath. Sungguh beruntung wanita yang akan menjadi kekasihnya kelak. Pasti akan diperlakukan dengan penuh perhatian dan Cinta olehnya." ucap Mira.
"Ah, Nona. Tuan Ken itu Playboy. Dia akan seperti itu pada setiap wanita." bantah Rimbun.
"Apa kau belum tau alasannya kenapa dia Playboy?" Mira menyelidik.
"Sudah sih? Tapi kan, belum tentu bisa dipercaya."
"Kau harus percaya. Sebab semenjak Nathan bersamaku, Ken sudah memutuskan semua pacarnya."
"Iya sih. Tapi, apa hubungannya dengan ku?"
"Haha.. Kau ini. Tidak sadar juga. Ken itu menyukaimu!"
"Hah! Mana ada. Menyukai ku? Anda bercanda Nona. Aku? haha... jelas bukan tipenya." Rimbun tertawa geli sambil menuding hidungnya sendiri.
"Kita taruhan Yuk? Kalau kau kalah, kau harus menginap disini selama sebulan. Jika aku yang kalah, maka aku, akan memasakkan makan siang untukmu selama sebulan." ucap Mira. Disambut gelak tawa dari Rimbun.
Akhir kedua wanita itu saling tertawa riang.
Sementara beralih pada dua pria yang kini sudah melangkah masuk ke dalam markas milik Roy.
"Mari Tuan!" Roy yang sudah siap menyambut kedatangan Kedua pria itu membawa mereka melangkah pada sebuah ruangan.
Roy membuka pintu dan mempersilahkan Nathan dan Ken masuk.
__ADS_1
Keduanya langsung bisa melihat dengan jelas, sosok Ricard yang tengah duduk bersandar di sudut dinding dengan keadaan yang menyedihkan. Wajahnya sudah memucat dengan baju yang penuh noda darah yang sudah mengering.
Ken menerima sebuah ember berisi air dari tangan Roy. Ken mendekat kemudian menyiramkan air tersebut ke wajah Ricard.
Terdengar suara terbatuk batuk dari mulut Ricard. Perlahan matanya terbuka dan mendongak. Seketika Ricard berteriak histeris.
"Nathan! Maafkan aku! Ampuni aku. Ku mohon. Ampuni aku Nathan! Lepaskan aku dari sini." iba Ricard, kini berusaha merangkak dengan menarik satu tangannya yang sudah tidak bisa bergerak itu.
"Berani sekali kau meminta maaf, setelah apa yang kau lakukan pada Mira!" Nathan mencengkeram dagu Ricard dengan emosi yang sudah meluap luap.
"Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku bersumpah demi apapun juga Nath. Tolong lepaskan aku."
Bug...!
Satu tendangan milik Nathan melayang ke kepala Ricard.
"Ini dari Ibunya Mira!"
Ricard terpental ke lantai.
"Kau sudah membuat Ibu Mira mati."
kemudian Nathan meraih pisau dari tangan Roy.
"Dan ini, salam dari Ayah Mira!" bles...! Nathan menusuk paha Kiri Ricard.
Pria itu mengerang kesakitan.
"Dan ini, untuk bayi yang ada karena ulah mu dan harus pergi karena ulah mu juga!"
Bles...!!! Nathan kembali menusuk lengan Ricard bagian kanan.
Ricard mengerang hebat!
"Ampuni Aku! Ampuni aku!" Masih terdengar raungan dari mulut Ricard yang sangat menyayat.
Ricard berusaha untuk bergerak, dengan merayap dilantai, berusaha untuk menggapai kaki Nathan.
"Singkirkan tangan kotormu itu dari Tuan Nath, Sampah!" tendangan dari Ken membuat Pria itu kembali terpental menjauh dari kaki Nathan.
"Ampuni aku Nathan! Ampuni aku!" kini Ricard benar benar mengiba dengan tubuh yang mulai melemah, karena darah terus mengalir dari lukanya.
"Roy!" Nathan menoleh pada Roy yang langsung mendekat.
Roy mengulurkan sebuah pistol yang langsung di sambut oleh Nathan.
Nathan sudah menggenggam pistol itu dengan cukup kuat. Tangannya terlihat cukup gemetar menahan Emosi.
Nathan mendekat pada Ricard. Kini berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dengan tubuh Ricard yang tergeletak di lantai.
"Aku akan mengampuni mu, tapi di neraka!" Nathan menempelkan moncong pistol itu tepat di kening Ricard.
"Jangan Nath. Ku mohon. Ampuni aku!" Ricard sungguh memelas.
"Sayangnya aku tidak bisa. Aku sudah berjanji pada Mira, untuk menabur otak Iblis mu ini di luar kepalamu!"
"Bersiap lah, untuk bertemu dengan calon bayiku yang telah kau bunuh! Kau harus bertanggung jawab di akhirat!"
Ricard tidak bisa lagi berucap. Pria itu sudah pasrah. Memejamkan matanya, siap untuk mati ditangan Nathan.
"Mati kau Anjingg....!!"
"Nathan. Jangan!!!" suara lengkingan itu membuat semua yang ada menoleh.
"Mira!" Nathan segera menarik pistolnya dan berdiri cepat.
Mira berlari cepat kearah Nathan dan seketika memeluknya.
"Jangan membunuhnya Nath. Jangan! Ku mohon!" Mira merengkuh kuat tubuh Nathan.
"Mira, bagaimana kau bisa kemari?" Nathan menarik tubuh Mira.
"Aku ingin menyelamatkan mu." Mira menatap kedua mata Nathan sambil menangis.
"Mira. Aku sedang tidak dalam bahaya? Untuk apa menyelamatkan aku? Aku baik baik saja. Lihat lah! Lihat Mira? Orang yang sudah membuatmu menderita itu. Aku akan membunuhnya untukmu. Apa kau yang ingin membunuhnya? Aku akan mengajarimu caranya, kalau begitu."
"Tidak Nath. Kau tidak boleh melakukan itu!"
__ADS_1
"Mira! Kau ini kenapa?" Nathan mengguncang bahu Mira.
"Kau datang hanya ingin menyelamatkan dia? Kau tidak ingat, jika dia yang sudah menyebabkan Ibumu mati. Membuat kita kehilangan calon bayi kita?"
"Tidak Nath. Bukan begitu."
"Kau tidak boleh kasian padanya Mira. Dia sudah diluar batas! Aku tidak akan mengampuni dia lagi!" Nathan mengarahkan kembali pistolnya.
"Tidak Nathan! Jangan. Demi aku, jangan lakukan itu!" Mira segera menurunkan tangah Nathan.
"Lihat aku Nathan, lihat aku." Mira merengkuh tengkuk Nathan, mengusap kedua pipi pria itu.
"Dengar aku. Aku tidak mau kau menjadi pembunuh! Aku tidak mau Nathan. Kemarin, aku hanya dikuasai Emosi. Aku sampai menyuruhmu untuk membunuhnya."
"Tapi tidak Nath. Kita tidak boleh menghukumnya dengan cara kita. Tuhan, hanya Tuhan yang berhak menghukumnya. Seberapa pun dosa manusia, sefatal apapun itu, kita tidak berhak menghakiminya. Dia berhak mendapatkan keadilan!"
"Kau bicara apa Mira! Dia tidak pantas di ampuni. Kau tau itu? Dia tidak berhak mendapatkan keadilan apapun. Aku tetap akan menabur otaknya Mira. Aku akan membunuhnya!"
"Tidak!" Mira menarik pistol itu dari tangan Nathan dan melemparnya jauh.
Ken yang melihat itu segera menyambar pistol itu dan segera mengarahkan pada Ricard.
"Ken! Jangan. Jangan lakukan itu?!" teriak Mira, membuat Ken menahan tangannya yang hampir saja menarik pelatuk itu dan menoleh pada Nathan, menunggu persetujuan dari Nathan.
Mira kembali menoleh pada Nathan.
Kini Mira mencium bibir Nathan sesaat. Kembali menatap wajah Nathan.
"Aku sungguh tidak mau, mempunyai suami seorang pembunuh! Aku sungguh tidak mau, jika nanti harus melahirkan seorang anak, yang Ayahnya seorang pembunuh!"
"Mira."
"Jika kau nekat membunuhnya, jangan pernah kau menikahiku Nathan! Karena aku tidak mau menikah dengan seorang pria yang kejam!" teriak Mira.
"Mira, kau bicara apa? Aku tidak kejam. Dia yang kejam. Dia yang sudah membuatmu menderita! Apa kau sudah lupa itu?" Kini Nathan meraih wajah Mira.
"Nath! Kau adalah pria terbaik yang aku temui selama hidupku. Pria yang penuh kelembutan. Jangan berubah menjadi Pria berhati iblis hanya karena dendam atau emosi."
"Maafkan Ricard. Lepaskan dia. Ku mohon Nath. Ada yang lebih berhak menghukumnya. Bukan kamu. Bukan kita."
"Mira, mana mungkin?"
"Nath. Sebesar apapun kesalahan Ricard. Tanpa dia, kita tidak akan pernah bertemu."
Seketika, ucapan Mira kali ini membuat Nathan bungkam, begitu juga dengan Ken, yang langsung menurunkan tangannya.
"Jika Ricard tidak membawaku ke kota ini, mana mungkin kita bisa kenal? Jika Ricard tidak berlaku kejam padaku, apa mungkin kita bisa bersama seperti saat ini? Mungkin kita, tidak akan pernah jatuh cinta."
"Tanpa kejahatan dia. Kita tidak mungkin bisa bersatu Nath! Tolong Pikirkan itu." Mira menangis keras terisak memeluk Nathan.
"Aku mencintaimu Nathan. Aku bahagia bisa bertemu laki laki hebat dan baik seperti mu. Tetaplah menjadi Nathan ku yang kemarin. Jangan mengotori dirimu dengan dosa seperti ini." Mira terus menangis.
"Aku akan menikah denganmu, tapi kau harus janji padaku, jangan jadi pembunuh. Jika kau melakukan itu, jangan pernah menikahi ku. Akan kembali pada Ayahku, dan tidak akan berharap padamu lagi. Biarlah, tidak ada lagi yang perlu kau pertanggungjawabkan bukan? Bayimu, sudah tidak ada di perut ku. Mungkin kau tidak punya alasan untuk mempertahankan aku lagi." Mira kembali menangis tersedu.
Tangan Nathan bergerak, memeluk tubuh Mira dengan erat.
"Maafkan Aku. Maafkan aku Mira. Berhenti lah menangis. Aku minta maaf." Nathan menarik tubuh Mira, mengusap air mata Wanita itu.
"Menikahlah dengan ku. Dan aku berjanji padamu, aku tidak akan menjadi pria yang kejam. Kau tidak mungkin mempunyai suami seorang pembunuh. Kau dengar itu? Berhenti lah meminta padaku. Berhenti lah menangis." Nathan kembali mendekap Mira.
"Ken. Kita pulang!" menoleh pada Ken yang langsung mengangguk.
"Suruh Roy membawa Sampah itu ke Rumah sakit. Obati dia sampai sembuh dan serahkan pada Yang berwajib kembali!"
"Baik Tuan!"
Selesai bicara, Nathan kembali menoleh pada Ricard, menarik tubuh Mira dari pelukannya dan kini melangkah menghampiri Ricard yang sudah tak berdaya itu.
Namun Ricard masih tersadar, masih bisa mendengar dan melihat dengan jelas.
"Mira yang sudah mengampuni mu. Dan benar kata Mira, walau bagaimana pun juga, kami memang perlu berterimakasih padamu. Karena kau lah, yang sudah menjadi alasan kami bertemu. Demi Mira, aku melepaskan mu. Tapi , ini adalah kesempatan terakhirmu. Gunakan sebaik mungkin untukmu bertobat! Jika tidak, maka aku tidak akan lagi mendengarkan ucapan siapapun. Jika aku tidak bisa menggunakan tanganku karena janji ku pada Mira, maka aku akan menggunakan tangan Orang lain untuk menghabisi mu! Kau dengar Sampah!"
Ricard sudah tidak bisa menjawab, kecuali hanya memutar kedua bola matanya dan kemudian terkulai pingsan.
Nathan kembali pada Mira.
"Kita pulang sayang." merengkuh tubuh Mira untuk membopongnya, kemudian melangkah keluar di susul Ken dari belakang.
__ADS_1
____________________