Ku Rebut Istrimu]

Ku Rebut Istrimu]
Jelek, tapi Manis!


__ADS_3

Mereka sudah selesai makan.


Ken hanya bisa mendengus ketika melihat Rimbun yang sibuk membungkus sisa makanan ke dalam kantong yang baru saja ia minta dari pelayan.


"Heh, Ubun ubun! Sudah lah. Kau ini, bikin malu saja!" cetus Ken.


"Sayang Tuan. Kau sudah membayar mahal tapi tidak habis. Mending untuk makan malam ku, tidak mubajir ke buang."


"Ah, terserah lah. Cepat, cepat!"


Ken melangkah duluan meninggalkan Rimbun.


Rimbun berlari kecil menyusul.


"Tuan Ken! Kau sudah mau pergi ya?" tanya Rimbun saat sudah berada diluar.


"Kenapa?" Ken menoleh.


"Uang gaji ku mana?" tanya Rimbun nyengir sambil mengangkat kedua alisnya.


"Astaga.. Kalau masalah uang kau ingat sekali ya?"


Ken merogoh dompet, menghitung berapa uang.


"Jangan lupa Tiga bulan gaji. Jangan dipotong hutangku!"


"Bringsik! Ambil nih!" Ken mengulurkan uang itu.


"Ah.. ini beneran Tuan. Aku, aku hanya bercanda lho." matanya terbelalak menatap lembaran merah yang banyak itu, dan kini berada ditangannya. Tidak menyangka jika Ken benar benar akan membayarnya dengan tiga lipat gajinya. Padahal Rimbun sebenarnya hanya bercanda untuk sekedar mengerjai Ken.


"Bercanda tapi nagih terus." ketus Ken.


"Tuan, Sungguh. Demi Tuhan, Aku hanya bercanda!" Rimbun mengembalikan uang itu ke tangan Ken. Ken langsung menarik tangannya. Tapi Rimbun kembali menaruh uang itu di tangan Ken lagi.


"Sudah ambil saja. Kau masih butuh uang kan?"


"Tidak Tuan. Aku sungguh bercanda. Masalah pemecatanku kemarin, itu kan memang salah ku yang sudah kurang ajar padamu! Aku hanya bercanda Tuan! Sungguh!" Rimbun menyembunyikan kedua tangannya ke belakang punggungnya.


"Kau ini kenapa keras kepala sekali? Terima tidak! Jika tidak, aku akan menagih hutangmu semua!"


"Loh, kok jadi begitu?" Rimbun jadi meringsut mundur.


"Pilih, terima atau_"


"Ha.. iya, iya. Aku terima, aku terima! Jangan dulu menagihku Tuan. Aku belum punya uang sepersen pun. Aku baru mulai berkerja hari ini." Rimbun langsung menyambar uang itu dan mengantonginya.


"Begitu kan bagus. Sudah cepat masuk!"


"Masuk? Masuk kemana?" Rimbun bingung.


"Masuk ke sumur! Ya ke mobil lah. Kau ini aneh. Tidak melihat, aku membuka pintu apa?" lagi lagi Ken ketus dengan membuka pintu mobilnya.


"Tuan Ken mau mengantar aku pulang?"


"Iya. Cepat masuk!"


"Tidak bisa Tuan. Aku harus bekerja dulu! Tuh, disini banyak botol bekas. Sayang kalau di tinggal. Rejeki!"


Brug!


Tak tahan dengan celoteh gadis itu, Ken menarik tangan Rimbun dan mendorongnya ke mobil.


Kemudian dia ikut menyusul.


"Tuan, kenapa memaksaku pulang? Aku masih harus bekerja? Aku ini ada bos. Jika aku tidak mendapatkan barang sedikit pun hari ini, aku bisa di pecat, dan kehilangan pekerjaan ku lagi!" teriak Rimbun.

__ADS_1


"Ubun ubun, dengarkan aku! Aku hanya ingin bertanggung jawab atas keselamatan dirimu. Jika kau tetap di sekitar sini, bisa jadi dua pria itu kembali lagi, lalu mengenalimu yang sudah membokongnya dan.._"


"Dor... pecah kepalamu!" Ken menunjuk kening rimbun dengan dua jarinya.


Mata Rimbun langsung terbelalak.


"Benar kah? Kalau begitu, antar aku pulang Tuan. Aku takut." Rimbun meringsut ngeri.


"Aku akan mengantarmu. Tunggu sebentar, aku harus menghubungi Tuan Nath dahulu."


Selesai bicara, Ken merogoh HP nya dan menghubungi Nathan.


"Tuan." panggilan sudah terhubung.


"Ken, kau sudah bertemu dengannya?" tanya yang disana dengan nada cukup was was.


"Belum Tuan. Ada sedikit masalah. Aku, ingin meminta anda untuk menghubungi anak buah anda. Sepertinya, aku membutuhkan mereka."


"Ada apa Ken? Jangan bilang jika kau bermasalah serius."


"Apa Nona ada?"


"Ah, iya. Aku sedang bersamanya. Katakan saja Ken, Mira mencemaskan mu."


"Ada seseorang yang ingin membunuhku, aku curiga ini adalah ulah Ricard. Untuk jaga jaga, aku ingin mengajak anak buah mu."


"Ken, kau jangan bercanda. Apa yang terjadi?" Nathan disana sudah sangat khawatir.


"Dua pria, hampir saja melubangi kepalaku dengan pistol. Beruntung, gadis dekil ini melihatku. Dan memukul pria yang menodongku itu dengan besi tepat di tengkuknya, hingga aku bisa selamat. Mereka berhasil melarikan diri. Tapi aku bisa mengenali wajah mereka dengan jelas. Aku akan segera menangkap mereka."


"Hah, Mira." Nathan yang sungguh terkejut mendengar penjelasan dari Ken, seketika menoleh pada Mira.


"Jangan katakan apapun pada Nona. Yakinkan saja, jika semua baik baik saja."


"Mulut mu Ken. Dia sudah mendengar bodoh! Ah,baiklah. Aku akan menenangkan Mira. Kau, Hubungi mereka, dan berhati hati lah. Aku Tidak ingin mendengar lagi kabar buruk darimu, sedikit pun. Jika kau tidak sanggup. Aku akan turun tangan sendiri."


Ken segera menutup panggilannya, lalu mengirim pesan singkat, jelas dan padat pada Anak buah rahasia milik Nathan.


Kemudian melaju kembali untuk mengantar Rimbun.


Yang disana, tentu khawatir. Terlebih Mira.


"Sudah ku bilang. Jangan pergi hari ini. Firasat ku sudah tidak enak!" ucap Mira yang mendengar jelas pembicaraan Nathan dan Ken tadi.


"Mira, tidak terjadi apa apa pada Ken. Percayalah!"


"Tidak terjadi apa apa bagaimana? Buktinya Ken hampir celaka bukan?"


Nathan hanya menunduk, karena semua firasat Mira dari awal memang benar.


'Ken tidak mempercayai mulutku sih!' kesalnya dalam hati.


"Aku hanya takut jika Ken celaka Nath. Kalau dia mati bagaimana?"


"Mira."


"Dia satu satunya yang terus mendukung mu, mendukung kita. Jika tidak ada Ken, siapa yang akan bersama mu? Aku? Aku bisa apa? Aku hanya bisa menyusahkan mu Nath!"


Nathan langsung memeluk Mira.


"Kenapa terus bicara seperti itu? Kau tidak menyusahkanku. Kau tidak pernah menyusahkanku sedikit pun Mira. Jangan bicara seperti itu lagi. Mana kita tau jalan yang akan kita temui ini sebelumnya? Kita tidak pernah tau kan?"


"Sebelum kau bertemu dengan ku, hidupmu damai Nath. Setelah kita bertemu, kau terus mendapatkan masalah."


"Ya, yang kau ucapkan memang benar. Tapi kau harus tau, jika kehadiranmu membuat aku bahagia. Membuat hidupku berwarna. Apalagi saat ini, ada calon anakku diperut mu. Kau akan menjadi ibu dari anak ku. Apa kau tau aku sangat bahagia? Meskipun kehadirannya tidak tepat, dan dengan cara yang salah. Tapi aku bahagia Mira. Apapun akan kulakukan untuk kalian. Aku akan menjaga kalian, dan berjanji tidak akan pergi dari kalian." Nathan memeluk Mira dengan erat.

__ADS_1


"Percayalah, sesulit apapun masalah yang ada, masalah yang akan kita hadapi, jika kita bersama dan saling menguatkan, kita akan menang. Dan Ken, Maafkan aku atas kejadian yang hampir saja membuat Ken celaka. Kali ini aku hanya memberinya kesempatan. Aku tidak mungkin melepasnya sendirian."


Mira mengangguk dalam tangisnya. Berusaha untuk yakin dengan ucapan Nathan. Jika mereka, benar benar akan bahagia setelah ini.


Beralih pada Ken,


Mobilnya sudah berhenti di ujung jalan tempat kosan milik Rimbun.


"Turunlah, aku tidak bisa mengantar mu sampai ke kamar kos mu. Aku harus buru buru."


"Terimakasih Tuan, atas semuanya. Hati hati ya." Rimbun membuka pintu.


"Bun..!" Ken memanggil.


"Iya Tuan."


"Besi mu jangan lupa."


"Eh iya."


"Ah, Bun." Ken kembali memanggil.


"Besok, datang lah ke Perusahaan ku. Kau boleh bekerja lagi disana."


"Hah! Mana bisa! Personalia akan menolak ku Tuan. Mereka sudah tau kalau aku di pecat!" protes Rimbun.


"Siapa yang menyuruhmu menemui Personalia? Temui aku ubun ubun. Ke ruangan ku langsung! Bilang saja, aku yang memanggilmu."


"Hehe, baiklah Tuan. Terimakasih sekali.Terimakasih sekali.. Anda ternyata bukan hanya tampan tapi baik sekali." ucap Rimbun sangat girang. Meraih tangan Ken, dan mencium dengan keningnya berkali kaki.


Ken hanya tersenyum melihat tingkah Rimbun.


"Sudah! Ada yang melihat itu!"


"Hah!" Rimbun langsung celingukan memeriksa keluar.


"Tidak ada."


"Haha.., kau lucu sekali, jelek! Sudah sana. Habiskan sisa makanan yang tadi."


"Ah, iya. Masih sangat banyak ya?" Rimbun akhirnya turun, segera mengambil besi yang ada di bagasi tadi. Kemudian kembali berdiri di depan pintu mobil Ken, sambil melambaikan tangan pada Ken.


"Jangan lagi jadi pemulung, jelek! Kau akan makin jelek nanti!" seru Ken. Yang hanya di balas anggukan senang dari Rimbun.


Ken tersenyum saja, sambil kembali melaju.


Hatinya mendadak merasa bahagia, ketika membayangkan wajah senang Rimbun tadi.


"Melihat dia senang, aku jadi bahagia ya? Rimbun , Rimbun. Jelek. Tapi Manis!"


"Hihi.." Ken tersenyum senyum sendiri.


"Astaga! Sudah gila aku. Bisa bisanya terbayang si jelek itu. Hah! Pacarku masih ada sepuluh. Mana cantik cantik lagi."


"Huh, Yang dua sudah berhasil ku putusin. Tinggal sepuluh, harus segera mencari cara untuk memutuskannya. Pusing sekali punya banyak pacar. Mana tidak ada yang bisa membuatku jatuh cinta. Apa coba gunanya punya pacar. Tidak bisa membuat bahagia!" gumam Ken.


"Tuan Nath, kau sangat beruntung. Sekali bertemu dengan Nona Mira. Langsung mendapatkan cinta sejati. Aku.. Kemana cinta sejatiku? Tidak juga muncul."


Ken terus berbicara sendiri.


"Ah, Ricard. Fokus dulu pada si bangsatt itu, baru urusan mencari cinta sejati!"


Ken melirik ke samping. Rupanya, dua mobil milik Anak buah Nathan sudah mengawalnya.


Ken, segera melaju cepat ke arah Rumah Ricard .

__ADS_1


_________


__ADS_2