
Bagas telah mendapatkan orang yang tepat, untuk dipekerjakan di rumah Davin sebagai mata-matanya. Orang itu yang tak lain adalah Mita, seorang gadis seumuran adiknya, yang semalam menawarinya sebuah keperawanan dengan harga yang fantastis.
Tentu saja Bagas tidak menerima tawaran Mita melainkan memberi gadis itu tawaran lain yakni menjadi budaknya. Dengan dijanjikan akan mengurus semua biaya perawatan ayahnya sampai ayahnya sembuh. Mita pun dengan senang hati akan melakukan semua perintah Bagas.
"Tandatangani surat perjanjian ini. Mulai saat ini, kau terikat kontrak kerja sebagai budak ku," ucap Bagas, menyerahkan secarik kertas untuk Mita tandatangani.
Bagas menyeringai, dia tidak perlu susah-susah mencari mata-mata. Karena orang itu datang padanya dengan sendirinya.
Setelah Mita menandatangani berkas perjanjian itu, Bagas menyuruh gadis itu pergi. Dia akan datang setiap Bagas memintanya datang. Sedangkan Bagas diam-diam mengikuti arah kemana gadis itu pergi.
Tentu saja Bagas harus melihat asal usul gadis itu. Di mana tempat tinggalnya dan bagaimana kehidupannya sehari-hari.
Mita pulang hanya berjalan kaki. Karena waktu sudah menunjukan hampir tengah malam. Gadis itu sebenarnya merasa ketakutan, tapi dia tetap memberanikan dirinya.
Langkah Mita berbelok di sebuah gang tak jauh dari lokasi Bar. Bagas yang mengikutinya dari belakang, menghentikan mobilnya. Terpaksa pria itu ikut berjalan melewati gang sempit dan kumuh yang sebelumnya tidak pernah dia lewati.
Bau got, bau sampah-sampah busuk masuk ke indra penciumannya. Dikeluarkannya saputangan di kantong celananya guna menutupi hidungnya.
"Bagaimana gadis itu bisa hidup di lingkungan kumuh ini. Apa dia bisa bernafas dengan bebas setiap harinya? Aku rasa, aku akan mati jika tinggal di tempat seperti ini," gerutunya.
Pandanganya mencari jejak Mita yang hilang karena Bagas terlalu fokus dengan bau-bau sampah yang mengganggu pernafasannya.
Beberapa gerombolan preman menghadang Mita, saat gadis itu melewati mereka begitu saja.
"Cantik. Selarut ini kau dari mana? Kemarilah kita bersenang-senang!!" ucap salah satu di antara gerombolan preman itu. Mita ketakutan, dia tidak bisa bela diri, sekedar untuk lari dari gerombolan preman-preman yang menghadang langkahnya.
"Lepaskan! Aku mau pulang."
"Nanti saja pulangnya, kita bersenang-senang sebentar saja. Ayolah, bukankah kamu terbiasa bersenang-senang dengan berbagai macam pria di luar sana?"
"Lepaskan, aku tidak mau, aku ingin pulang. Biarkan aku pergi, aku hanya numpang lewat dan tidak mengganggu kalian," teriak Mita.
__ADS_1
Mita terus menjerit ketika dua tangan seorang pria menariknya. Mita terus memberontak, meminta preman-preman itu agar melepaskannya.
"Apakah kalian bosan hidup? Lepaskan dia!!" perintah Bagas dengan nada dinginya.
"Pak. Bagas. Tolong saya, pak," mohon Mita.
Bukanya melepaskan Mita, dua preman yang mencekal pergelangan tangan Mita, menyuruh anggota mereka yang lain untuk menyerang bagas. Bagas dengan senang hati meladeni, karena mereka bukanlah tandinganya.
Bahkan Bagas mengeluarkan sebuah pistol di saku celananya, membuat preman-preman itu menyerah dan kabur dari hadapannya.
Reflek saking takutnya, Mita berlari memeluk tubuh Bagas. Tubuh Bagas menegang, setelah mendapatkan serangan dadakan dari Mita. Bahkan pasokan udara di paru-parunya seperti terhenti.
Bagas langsung melepaskan tubuh Mita, dan menatap tajam ke arah gadis itu. Mita ketakutan, lalu dia mundur secara pelan-pelan, memberi jarak antara dia dan Bagas.
"Maafkan saya, pak!!" ucapnya seperti cicitan kecil yang hampir tak terdengar.
"Kau tinggal di lingkungan yang sangat berbahaya dan,,,. Bagas menjeda ucapanya selanjutnya, karena lagi-lagi dia menutupi hidungnya menggunakan sapu tangannya.
"Di mana rumahmu? Segeralah masuk. Rasanya aku akan segera mati di tempat ini karena menahan nafas," omelnya.
"Masuklah! Aku akan menghubungimu jika aku memerlukanmu. Aku pulang, rasanya mau mati, jika berlama-lama di tempat ini."
Bagas memutar tubuhnya, dia berjalan kembali menuju tempat di mana dia memarkirkan mobilnya. Mita tersenyum melihat tingkah lelaki yang menjadi bosnya saat ini.
"Dasar orang kaya, mencium bau sampah saja serasa ingin mati, hehehe."
Keesokan harinya, Bagas lagi-lagi memerintah seseorang untuk mulai meneror Renata dan Retno. Dia akan memberi sedikit syok terapi, sebagai awal balas dendamnya.
Persis seperti rencananya semalam. Siang ini, setelah memastikan Davin sudah berangkat ke kantornya. Bagas menyuruh seseorang, mengirim teror pertama untuk Renata.
Saat itu Renata dan ibunya sedang bersantai di ruang keluarga. Tiba-tiba bel pintu utama berbunyi, ada sebuah kotak yang mirip paketan berada di depan pintu utama.
__ADS_1
Surti, si asisten rumah tangga di rumah itu, berjalan menemui Renata. Dialah orang pertama yang melihat sebuah kotak berukuran besar di teras rumah.
Renata menutup majalah yang sedang di bacanya. Mendengar ucapan asisten rumah tangganya membuatnya penasaran. Retno yang juga penasaran pun mengikuti langkah putrinya.
"Siapa pengirimnya?" tanya Renata lalu melihat tidak ada nama pengirim di kotak itu.
Penasaran apa isinya, Renata langsung membukanya pelan-pelan. Ditariknya tali pita yang menghiasi kotak itu. Dia berpikir, mungkin kotak ini surprize dari Davin untuknya. Dan setelah dia membuka semua tali pita itu, dia langsung dikejutkan isi di dalamnya.
"Arghhhh!!" Renata berteriak sambil menendang kardus paket yang dikirim seseorang untuknya. Berisikan sebuah pisau kecil yang menancap di foto wajahnya. Dihiasi tikus-tikus mati yang darahnya masih terlihat segar seperti baru saja di bunuh.
Retno mengambil secarik kertas yang terselip di antara puluhan tikus mati itu. Lalu dia segera membacanya dan matanya membola seketika.
"Apa kau menyukai kejutan ku? Tunggu kejutan spesial selanjutnya."
Renata menjerit ketakutan bercampur rasa jijiknya. Retno segera membawa masuk putrinya ke dalam dan meminta satpam membuang paket itu.
Di kantornya, Bagas tertawa puas setelah menyaksikan rekaman video Renata dari orang suruhannya. Baginya, ketakutan Renata adalah hiburan yang menarik.
"Kali ini tikus-tikus itu yang mati, sebentar lagi kau akan berada di posisinya, Renata," ucap Bagas, masih melanjutkan tawanya.
Renata masih ketakutan di dalam dekapan ibunya. Retno menduga orang yang mengirim teror pada mereka, tak lain adalah Vey.
"Pasti ini semua ulah Vey! Mama akan menyewa detektif untuk mencari tahu tentang semua ini. Sebelumnya mama sudah menyewa seorang detektif. Namun sepertinya detektif itu tidak becus bekerja. Nyatanya hingga saat ini, belum ada kabar keberadaan wanita itu."
"Sepertinya ada seseorang yang melindunginya, ma," Renata mulai curiga.
"Bagas!! Pasti dia yang melindungi Vey saat ini," ucap Retno kemudian. Renata sependapat dengan ucapan ibunya.
Mereka berduka merutuki kebodohannya. Kenapa dulu, mereka tidak memastikan Vey sudah mati atau masih hidup. Pasalnya setelah kecelakaan itu terjadi, baik Renata maupun Retno tidak melihat keberadaannya.
"Semua ini tidak bisa dibiarkan, ma. Mereka akan semakin meneror kita. Bagaimana jika Davin tahu? Dia pasti curiga."
__ADS_1
Retno menatap wajah putrinya yang masih di hinggapi rasa ketakutan. Sebenarnya dia juga takut, tapi Retno masih bisa mengontrol dirinya dibanding Renata.
"Tenanglah, kita tunggu para detektif menemukan keberadaan Vey. Kita bunuh dia, dan kali ini kita harus memastikan dia benar-benar mati."