Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 51


__ADS_3

Bagas membawa Mita di tempat pertama kali mereka bertemu. Di sebuah bar yang pemiliknya adalah Bagas sendiri. Selama ini lelaki itu memang tidur di sana. Karena akhir-akhir ini, apartemennya ditempati adiknya.


Suasana bar masih sepi, bahkan belum ada pelanggan yang datang satupun. Waktu masih menunjukan jam dua sore. Sedangkan para pengunjung biasanya berdatangan di malam hari.


Mita sudah ketar ketir ketika kakinya mengikuti langkah Bagas menuju sebuah ruangan yang dulu pernah dia datangi. Mengingatkannya pada tempo lalu, ketika dirinya hendak menjual keperawanannya pada Bagas.


Suara kenop pintu semakin membuat Mita ketar ketir, saat pintu telah terbuka lebar. Bagas telah masuk ke dalam, sedangkan dirinya masih berdiri di ambang pintu.


"Kenapa kau masih berdiri di sana? cepat masuk!!" perintahnya.


Mita segera masuk dan menutup kembali pintu. Jujur, Mita sangat was-was berada di dalam satu ruangan dengan Bagas. Dengan langkah pelan dia menghampiri Bagas yang sedang berbaring di sofa sambil memijat pelipisnya.


Mita bingung harus melakukan apa setelah ini. Bahkan Bagas tidak menginstruksikan harus melakukan apa. Yang dia bisa lakukan hanya berdiri sambil memperhatikan Bagas.


Bagas memperhatikan gadis itu melalui cela sebelah matanya yang sedikit terbuka. "Kau ingin menjadi patung rupanya? Di sana kamarmu, masuklah, mandilah dan beristirahatlah," perintahnya.


Gadis itu langsung bernafas lega seraya tersenyum. Dengan langkah lebar, dia segera masuk ke dalam kamar yang ditunjuk Bagas.


Kamar yang tidak terlalu luas dan juga tidak terlalu sempit. Juga terdapat kamar mandi pribadi di dalamnya.


Gadis itu bingung karena tidak membawa pakaiannya satu pun. Karena Bagas tiba-tiba asal menariknya pergi. Tidak memberi waktu untuknya mengemasi semua barang-barangnya.


Sudut mata Mita melihat lemari di pojok ruangan. Dia membukanya, dan di dalam sudah tersusun rapi pakaian wanita.


"Apakah ini semua pakaian wanita yang pernah dibawanya kesana?" gumamnya pelan.


Pikiran gadis itu sudah menjalar kemana-mana. Padahal semua pakaian itu masih baru dan baru Bagas siapkan kemarin malam. Karena dia sudah berencana membawa Mita ke sana.

__ADS_1


Mita tak berani memakainya tanpa izin terlebih dahulu pada Bagas. Dia keluar dari kamar dan menemui Bagas kembali.


"Pak Bagas!!" panggilnya dengan suara pelan, karena dia takut mengganggu istirahat Bagas.


"Hemm!!" Bagas hanya menjawab dengan deheman singkat.


"Pakaian di lemari itu_


"Pakailah, semua milikmu!!" jawab Bagas singkat. Mita hendak bertanya lagi, namun tangan Bagas memintanya untuk masuk ke dalam kamarnya kembali.


Mita pun akhirnya masuk ke dalam kamarnya dan memilih salah satu pakaian yang pantas dia kenakan. Ketika tangannya hendak mengambil pakaian dalam di dalam lagi. Tiba-tiba otaknya bertanya-tanya.


"Kenapa dia bisa tahu ukuranku?"


Minta hendak keluar kembali, gadis itu ingin bertanya tapi di urungkannya. Tidak mungkin dia bertanya bagaimana Bagas bisa mengetahui ukuran pakaian dalamnya. Membayangkan saja sudah membuatnya malu sendiri.


Sedangkan di luar sana, Bagas memikirkan tentang ayahnya. Melihat tubuh ayahnya semakin kurus membuat sudut hatinya terasa nyeri. Tapi itu lebih baik daripada foto-foto yang Mita kirimkan tempo hari.


Gadis yang menjadi budaknya itu telah merawat ayahnya hingga sembuh. Tanpa Mita, Bagas sendiri tak bisa membayangkan bagaimana nasib ayahnya. Diam-diam dan semarah-marahnya Bagas pada ayahnya, pria itu tetap memantaunya.


Sebagai balasannya, Bagas sendiri juga membawa ayah Mita berobat hingga sembuh. Entah kenapa, Bagas melihat Mita, seperti melihat almarhumah ibunya. Lembut dan penuh ketulusan yang tidak dia lihat pada diri wanita lain.


Sepertinya pria itu mulai tertarik dengan budaknya sendiri. Tapi tidak ada salahnya jika Bagas tertarik dengan Mita. Gadis itu memiliki banyak kelebihan dan kekurangannya hanyalah harta.


Bagas memejamkan matanya sejenak, untuk mengontrol rasa pusing di kepalanya. Dia sengaja tidak meminum minuman beralkohol karena ada Mita di sini.


Dia takut mabuk dan tidak bisa mengontrol dirinya. Oleh karena itu dia memilih memejamkan matanya demi mengontrol pusing di kepalanya.

__ADS_1


Sedangkan di rumah Davin, Vey enggan masuk ke dalam rumahnya. Rumah itu memang memiliki banyak kenangan hangatnya keluarga. Tetapi juga meninggalkan bekas kenangan buruk. Apalagi barang-barang di rumah itu telah di rubah total oleh Renata dan Retno.


"Kenapa tidak masuk?" tanya Davin. Bahkan ayahnya sudah masuk kembali ke dalam kamarnya.


Vey menggeleng seraya menarik tangan suaminya. Sedari tadi mereka hanya di luar, padahal hari sudah hampir menjelang malam.


"Aku tidak ingin tinggal di sini. Terlalu banyak kenangan buruk serta jejak wanita itu di sini. Apa lagi kamar yang dulu kita tempati," ucap Vey menundukan pandangannya. Davin langsung faham ucapan istrinya.


Davin memeluk istrinya seraya berbisik di telinganya. "Jadi kau mau kemana, sayang? Ke hotel? Ke apartemen Bagas? Atau kita beli rumah baru?" tanyanya dengan nada menggoda.


"Rumah baru sepertinya lebih bagus, mas!!" ucap Vey, melepaskan pelukan suaminya lalu menatap wajah suaminya.


Davin tersenyum, tangannya mentoel hidung mungil istrinya. "Tidak secepat itu kita mendapatkan rumah, sayang. Apa lagi kau lihat saat ini sudah jam berapa? Bagaimana kalau malam ini kita menginap sementara di hotel?" tawarnya seraya mengerlingkan sebelah matanya.


Vey langsung paham, saat ini suaminya sedang dihinggapi setan mesum. Tetapi setelah di fikir-fikir, daripada dia tidur di rumah bekas Renata, lebih baik mereka bermalam di hotel malam ini.


"Baiklah, kita ke hotel,sayang! Tapi, kita izin ayahku dulu, bagaimana?" tawar Vey.


Davin langsung menggendong Vey ala bridal style membawanya masuk ke dalam mobilnya. Buat apa izin ayahnya, ayahnya pasti memahami privasi pengantin baru.


"Ayah pasti tahu, tidak perlu izin. Beliau pernah muda, sayang!!" ucap Davin meletakkan tubuh istrinya di kursi samping kemudi, lalu membatu Vey memakai seat belt.


Vey menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. Seolah dia adalah gadis yang baru saja menikah. Davin terkekeh melihat reaksi istrinya, sekaligus gemas ingin secepatnya menghukum istrinya.


Bagus memperhatikan anak dan menantunya dari atas. Pria yang tak lagi muda itu tersenyum dan memaklumi. Tetapi terkadang dia juga merasakan kesepian berada di dalam rumah sebesar itu sendirian.


Setidaknya tidak ada lagi orang yang akan menindasnya. Secepatnya Bagus akan menceraikan Retno dan membiarkan wanita itu mendekam di balik jeruji penjara seumur hidup.

__ADS_1


__ADS_2