
Vey langsung menutup mulutnya, dia tidak sadar dengan ucapannya. Tapi semua terlambat, Devano sudah mendengar ucapannya. Bahkan kolega bisnis di perusahaannya itu menuntut penjelasan padanya.
"Kalau boleh tahu, apa maksud nona Vey barusan? Apa itu artinya, pak Davin adalah?" Devano menggantung ucapannya, karena Vey akhirnya mau menjelaskan.
"Ya, Mas Davin, maksud saya pak Davin adalah suami saya," ucap Vey, Devano terkejut. Bahkan sebelumnya dia menduga ada keanehan ketika dia melihat Davin dan Vey. Ternyata dugaannya di luar ekspektasi, bahkan ternyata mereka berdua adalah suami istri.
Sebelumnya Devano menduga antara sekretaris dan atasannya ada main di belakang. Seperti umumnya cerita di novel-novel hubungan tersembunyi antara bos dan sekretarisnya. Nyatanya status mereka di luar dugaan nya, mereka adalah pasangan suami istri.
"Ternyata dugaan saya selama ini salah. Saya mengira anda adalah selingkuhan pak Davin, nona," ucap Devano, sontak membuat Vey tertawa.
"Bisa dibilang begitu, pak. Nyatanya saya istri rasa simpanan," ucapnya sambil tersenyum kecut.
"Lantas bagaimana ceritanya sekarang pak Davin bisa bersama wanita beracun itu? Maksud saya Renata," tanya Devano ingin tahu.
Ucapan Devano serta melihat cara bicaranya ketika menyebut nama Renata mengundang pertanyaan bagi Vey.
"Apakah anda mengenal Renata, pak Devano?" tanya Vey, yang kini jadi penasaran.
"Tentu, siapa yang tidak kenal si penipu seperti dia. Dia adalah mantan istri saya, dia menceraikan saya setelah menguras semua harta saya," ucap Devano bagai sebuah petir yang menyambar Vey.
Dunia begitu sempit, sehingga Tuhan mempertemukannya dengan seseorang yang juga pernah menjadi korban Renata. Vey menggeleng, antara tidak percaya tetapi melihat semuanya memang telah terjadi.
__ADS_1
"Itu berarti kita sama-sama korban Renata, pak? Lantas tadi anda bilang, bahwa Renata menguras harta anda, tetapi anda masih sukses sampai sekarang?" tanya Vey, Devano tersenyum sambil menerawang ke masa lalunya.
"Panjang ceritanya, karena dulu saya sangat mencintainya. Bodohnya saya terlalu mempercayainya. Cinta membuat saya bodoh dalam sekejap. Sebenarnya saya malu ingin bercerita. Tetapi karena nasib kita hampir sama, maka saya akan menceritakannya," ucap Devano menerawang ke masa lalu.
"Dulu, waktu pertama saya mengenalnya, Renata sangat polos. Kami juga sama-sama saling mencintai. Entah, mungkin karena hasutan dari ibunya, membuat dia berubah. Dalam usia satu tahun pernikahan kami, Renata berubah. Semua aset-aset berharga saya telah dikuasainya dengan ibunya. Mungkin kata-kata saling mencintai tadi tidak cocok, lebih cocok hanya saya yang mencintai dia dan itu semua yang membuat saya bodoh. Setelah semua aset berharga saya jatuh ke tangan mereka. Saya tidak memiliki harta yang tersisa. Satu-satunya harta yang tersisa hanya otak saya. Saya merantau ke negeri seberang, mencari modal untuk membangun usaha dari nol kembali. Alhamdulillah Tuhan masih mempercayai saya hingga detik ini, seperti yang nona Vey lihat," cerita singkat dari Devano.
Vey terhanyut ke dalam cerita Devano dan membandingkan dengan nasibnya sendiri. Sama-sama tertipu pada orang yang sama, tetapi cerita Devano mampu menambah motivasi baginya untuk tetap berjuang demi rumah tangganya.
Devano memandang ke arah Vey. "Ceritakan apa yang terjadi pada rumah tangga kalian, nona Vey!!" pinta Devano. Siapa tahu dia bisa membantu Vey menyelesaikan permasalahannya.
Lagi-lagi Vey tersenyum kecut, karena harus mengingat kejadian pahit dalam hidupnya. Bahkan setiap malam dia masih memimpikan tentang kecelakaan maun bersama suaminya tempo hari. Sehingga membuat Vey berdamai dengan mimpinya dan membuatnya terlihat biasa saja meskipun menyakitkan.
"Ceritanya kita sama-sama di tipu oleh Renata dan ibunya, tuan Devano. Bedanya, mereka menipu hati dan harta anda. Lain halnya dengan saya, mereka mencelakai saya, hingga kecelakaan maut itu terjadi. Renata merusak rem mobil saya, dia menginginkan kematian saya, demi menguasai suami serta harta-harta kami berdua. Bukan hanya itu..., Vey menjeda ucapannya, dia menghapus air mata yang menetes di wajahnya.
"Terimakasih, pak!!"
Vey menarik dalam-dalam nafasnya, sebelum dia melanjutkan ceritanya. Devano menyimak dan mendengar baik-baik cerita Vey. Seakan cerita Vey adalah sebuah dongeng yang menarik yang ingin dia dengar sampai selesai.
"Saat itu saya sedang mengandung 4 bulan. Bahkan saya dan mas Davin menantikan kelahiran buah hati kami. Gara-gara ulah Renata dan Retno, saya kehilangan bayi kami, pak," Vey menekan dadanya yang sesak, tapi dia masih kuat melanjutkan ceritanya.
"Bahkan saya baru menyadari saya keguguran, setelah beberapa bulan sadar dari koma. Saya terbangun langsung di tampar oleh kenyataan pahit. Saya kehilangan bayi serta suami saya sekaligus. Rumah saya dan harta harta saya di rumah itu di kuasai Renata dan Retno. Suami saya amnesia dimanfaatkan oleh mereka. Bahkan sampai sekarang mas Davin tidak mengingat saya."
__ADS_1
Bahkan Devano yang seorang laki-laki pun sampai meneteskan air matanya setelah mendengar cerita Vey. Baginya Vey adalah sosok wanita yang kuat yang pernah ditemui.
"Saya tidak menyangka dua wanita itu bisa sekejam ini pada anda," ucap Devano masih menyimak.
Vey tersenyum kecut, untuk menutupi duka nya. "Saya yang terlalu bodoh, pak. Saya salah bersikap baik pada seseorang. Selama ini saya sudah menganggap Renata seperti saudara kandung saya sendiri. Menganggap Retno seperti ibu kandung saya sendiri. Menuruti kemauan mereka, tapi apa balasan mereka pada saya? Nyawa saya yang mereka incar," ucap Vey tersenyum getir.
"Saya mempunyai kakak laki-laki dan pasti anda kenal dengannya. Bagas, Ceo di angkasa group yang juga bekerja sama dengan perusahaan anda. Dia adalah kakak saya, dan satu-satunya orang yang menentang pernikahan ayah kami dengan Retno dari awal. Hingga dia memilih meninggalkan rumah karena ayah kami tetap menikahi Retno."
"Lagi-lagi saya mendapatkan fakta yang sama sekali tidak saya sangka, nona. Ternyata anda adalah adik dari pak Bagas. Dunia ini begitu sempit, tetapi saya merasa senang bisa mengenal dua saudara yang sama-sama hebatnya seperti kalian," puji Devano tulus.
"Terimakasih atas pujiannya, pak. Maaf jika cerita saya membuat anda sedikit terganggu."
"Sama sekali tidak, nona Vey. Justru saya mengetahui banyak fakta dari cerita anda. Izinkan saya membantu anda, nona Vey. Karena lawan anda adalah lawan saya juga."
Vey tersenyum mengangguk, dia merasa bahwa Devano adalah orang yang bisa di percaya. Apa salahnya juga, Devano juga ingin memberi pelajaran pada Renata dan ibunya.
"Berarti anda menawari saya sebuah kerja sama, pak?" tanya Vey dengan nada bercanda tetapi serius. Devano mengangguk, dengan senang hati dia akan bekerja sama menjalankan Misi yang sama.
"Baiklah, mulai sekarang kita kerja sama, nona Vey. Dan sebaiknya saya antar anda pulang, hari sudah terlalu larut dan tidak baik jika anda pulang sendiri."
Vey mengangguk, lagi pula dia masih trauma jika pulang sendiri. Seakan kecelakaan itu selalu melintas di pikirannya. Bahkan sampai saat ini Vey tidak berani menyetir mobilnya sendiri, bisa di bilang dia trauma.
__ADS_1
Mobil mereka melaju meninggalkan lokasi apotik 24 jam. Tanpa mereka sadari sedari tadi ada yang memotret mereka diam-diam.