Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 12


__ADS_3

Sarah dan Vey terkejut, Davin menatap keduanya dengan tatapan tajam, seolah ingin menerkam mereka hidup-hidup. Vey tampak tenang, namun Sarah terlihat ketakutan.


"Kau, ikut saya sekarang!!" perintah Davin kepada Vey.


Davin melangkah begitu saja meninggalkan Vey. Vey segera menyusul Davin yang baru saja memasuki lift dengan tergopoh-gopoh.


"Kita mau kemana, pak?" tanya Vey. Pasalnya hari ini tidak ada jadwal meeting ataupun ketemu klien di luar.


"Diamlah dan ikuti saja kemana saya pergi!!"


Vey me lirik dasi suaminya terlihat kurang rapi. Dia berinisiatif merapikannya dan menarik dasinya begitu saja. Sehingga Davin yang tidak tahu pun ikut tertarik.


"Kau!!" tegur Davin di tengah keterkejutannya.


"Saya hanya ingin merapikan ini, pak!!" ucap Vey, merapikan dasi suaminya.


Jarak mereka sangat dekat, sehingga jika Davin bergerak sedikit saja, maka dipastikan bibir keduanya akan saling menempel. Ternyata Vey memang sengaja melakukanya hanya untuk menggoda suaminya.


Tadi, Davin membuatnya terkejut, maka kini dialah yang membuat Davin terkejut. Dari sudut matanya Vey bisa melihat suaminya sedang memperhatikannya. Dalam hatinya bersorak, berharap suaminya akan terpikat oleh pesonanya. Walaupun dia tahu, dengan bergantinya hari, suaminya akan melupakannya lagi.


"Sepertinya tidak ada yang membantu anda memasangkan dasi secara rapi. Mulai besok saya akan membantu anda memasangkan dasi anda, pak."


Vey tersenyum setelah selesai merapikan dasi suaminya. Lalu dia menjauhkan wajahnya, ketika pintu lift mulai terbuka. Entah kemana Davin akan membawanya pergi. Di bawa ke hotel pun Vey juga pasrah. Malah lebih baik dan mempermudahnya untuk menggoda suaminya.


Vey membuang jauh-jauh pikiran konyolnya. Mana mungkin suaminya membawanya ke hotel. Davin yang sekarang bukanlah Davinnya yang dulu.


Mereka berdua memasuki mobil yang telah siap di depan lobby kantor. Davin dan Vey hanya pergi berdua saja. Vey masih bertanya-tanya di benaknya, suaminya akan membawanya kemana.


Di perjalanan mereka hanya diam, hingga Davinlah yang membuka obrolan. "Apa kamu sudah memiliki kekasih?" tanya Davin tiba-tiba.


Vey langsung terkejut dengan pertanyaan suaminya. "Tidak punya. Apa pak. Davin mau menembak saya?" entah kenapa tiba-tiba Vey bisa bertanya demikian. Davin langsung tersenyum miring, melihat kepercayaan diri sekretarisnya.


"Bangunlah, jangan bermimpi! Saya hanya bertanya. Kamu tahu aturan di perusahaan? di larang berpacaran dengan sesama rekan kerja kantor."


Vey mengernyitkan dahinya, dari mana ada aturan seperti itu. Selama ini meskipun dia tidak pernah mengunjungi kantornya. Dia tidak pernah mendengar aturan seperti yang dikatakan suaminya barusan.


"Saya tidak tahu, pak. Memangnya ada aturan seperti itu?" tanya Vey penasaran.


"Sebentar lagi saya akan memberi aturan seperti itu. Jadi kau harus mengerti batasanmu menjadi seorang sekretaris. Saya tahu, kamu selalu berusaha menggoda saya," ujar Davin. Pandanganya tetap fokus pada jalan di depannya.


"Jadi anda tergoda dengan saya, pak? Jangan katakan bahwa anda tidak tergoda," ucap Vey berharap suaminya tergoda dengannya.


"Saya pria yang memiliki tunangan. Jadi jaga batasanmu, kau hanya secretaris, tidak lebih," Davin menegaskan.

__ADS_1


Vey hanya tersenyum kecut, mendengar ucapan suaminya. Renata lagi dan Renata lagi, membuat kepala Vey terasa ingin pecah. Di mana dia harus mendapatkan penangkal dari ramuan yang Renata berikan pada suaminya.


"Saya tidak akan menggoda anda, pak. Tapi jangan salahkan saya jika suatu saat anda tergoda dengan saya," ucapnya, memalingkan wajahnya melihat ke luar jendela mobil.


Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke tempat tujuan. Ternyata Davin membawanya ke sebuah restoran jepang yang pernah dia kunjungi sebelumnya.


"Jadi pak. Davin mengajak saya makan siang bersama," ucap Vey tersenyum menggoda. Davin hanya merespon dengan deheman.


Mereka segera memasuki restoran jepang yang berada di dalam mall. Seorang pelayan menghampiri mereka berdua.


"Unagi-no-kabayaki!!" ucap keduanya bersamaan ketika pelayan hendak mencatat pesanan mereka.


Davin dan Vey saling pandang, terutama Davin merasa heran karena Vey memesan menu yang sama denganya.


"Kau menyukai Unagi-no-kabayaki juga?" tanya Davin. Vey mengangguk.


"Unagi-no-kabayaki adalah makanan jepang favorit saya, pak!!" ujar Vey. Dia bisa menebak jalan pikiran suaminya saat ini. Sengaja Vey menyamakan menunya agar suaminya mengingat moment-moment mereka dulu.


Tapi percuma saja, Davin tetap bersikap santai dan menganggapnya hanya kebetulan saja. Mungkin Vey harus menambah stok kesabaran nya. Terkadang dia lupa, suaminya masih amnesia dan dalam pengaruh obat pemberian Renata.


Mereka duduk di kursi yang sama. Mereka berdua tidak nampak seperti bos dan sekretarisnya. Melainkan seperti pasangan yang sedang makan siang bersama. Walau pada kenyataannya mereka berdua adalah pasangan suami istri.


"Pak. Davin. Ternyata anda juga makan siang di sini. Senang bisa berjumpa lagi dengan anda!!" sapa seorang pria berpakaian rapi, yang kelihatannya juga seorang ceo.


"Selamat siang pak. Devano. Silahkan bergabung dengan kami, di sini masih ada bangku kosong," tawar Vey, mengalihkan perhatian Devano.


Devano tersenyum sekaligus merasa asing dengan Vey. Wanita cantik yang baru dia lihat apa lagi bersama Davin. Tatapan matanya masih tertuju pada Vey. Davin yang melihatnya pun merasa kurang suka, jika sekretarisnya dilirik pria lain.


"Terimakasih, nona. Anda?" ucap Devano hendak bertanya, namun Vey yang tahu maksudnya segera memperkenalkan diri.


"Perkenalkan saya Vey, sekretaris baru pak. Davin," ucap Vey tersenyum sangat manis. Devano yang melihat Vey untuk pertama kalinya pun terpesona.


Davin berdehem, membuyarkan tatapan Devano yang masih memperhatikan wajah cantik Vey. Vey mengulum senyum, sepertinya suaminya sedang cemburu padanya.


"Pantesan saya baru lihat. Ternyata secretaris anda baru lagi, pak. Davin," ujar Devano membuat Davin merasa risih dengan semua pertanyaanya.


"Pak. Devano ingin pesan apa? Kebetulan kami berdua sudah memesan Unagi-no-kabayaki. Apa pak. Devano juga ingin menyamakan pesanan dengan kami?" tanya Vey sopan. Sengaja dia memperhatikan Devano agar suaminya cemburu padanya.


"Boleh. Samakan saja dengan yang mereka pesan!!" ucap Devano pada pelayan.


"Pak. Davin tidak mencoba makan sashimi? Saya sangat menyukainya, pak," tanya Devano. 


Davin mulai membuka mulut untuk merespon pertanyaan Devano. Namun kalah cepat dengan Vey yang telah menjawabnya lebih dulu.

__ADS_1


"Maaf pak. Devano. Pak. Davin mempunyai alergi makanan mentah," ucap Vey, membuat Davin dan Devano menatap heran pada Vey. 


"Wah-wah. Sepertinya anda sangat mengetahui banyak tentang hal-hal yang disukai dan tidak disukai pak. Davin, nona Vey?" tanya Devano. Vey yang baru sadar atas ucapanya pun merutuki kebodohannya.


Vey melirik ke arah suaminya yang sedang memandang ke arahnya. Seolah Davin ingin menanyakan sesuatu padanya.


Jelas saja Vey sangat hafal apapun tentang suaminya. Apa kesukaan suaminya, apa yang membuat suaminya alergi. Mereka menikah sudah cukup lama, bahkan sebelumnya mereka juga pacaran sudah cukup lama. Tidak heran jika Vey tahu banyak tentang suaminya.


"Saya hanya asal bicara, pak. Bukankah begitu pak. Davin?" tanya Vey.


"Tapi yang kamu ucapkan memang benar. Saya alergi makanan mentah," ucap Davin kemudian.


Hidangan telah tersaji di meja. Mereka mulai menikmati menu yang mereka pesan. Namun tiba-tiba ucapan Devano membuat Davin meletakan kembali makanannya.


"Apakah nona Vey sudah memiliki kekasih? Sepertinya anda cocok dengan pak. Davin yang seorang duda," ucap Devano. Vey langsung tersedak setelah mendengar ucapan Devano yang mengatakan suaminya duda.


Jadi semua orang mengira Davin adalah seorang duda. Bukan hanya Sarah saja yang mengatakan hal yang sama. Bahkan Devano yang orang luar pun mengatakan suaminya duda.


"Saya sudah memiliki calon pak, Devano. Sebaiknya anda tidak mengurusi urusan pribadi saya," ujar Davin dengan nada dinginya.


Vey menatap nanar suaminya. Dadanya terasa sesak, suaminya benar benar menghapus dirinya dari hati dan pikiran. Vey tidak mampu menahan air matanya lagi.


"Permisi, saya mau ke toilet sebentar!!" ucapnya beralasan.


Devano memandang gelagat aneh Vey. Dia menangkap sesuatu yang mengganjal antara Vey dan Davin. Rasa penasarannya membuatnya ingin mengetahui lebih jauh. Dia tersenyum, dan akan mencari tahu tentang Davin dan sekretaris barunya.


Di dalam toilet, Vey menghapus air matanya. Sesak di dadanya membuat air matanya terus mengalir. Ditariknya nafas dalam-dalam, untuk menambah pasokan udara di paru-parunya. 


Diambilnya bedak di tas kerjanya, sapuan tipis bedak yang ia bawa akan menutupi bekas tangisannya. Setelah dirasa wajahnya kembali segar. Vey memaksakan diri untuk tersenyum dan kembali duduk di tempat semula.


Devano bukan lelaki bodoh, dia terlalu peka melihat ekspresi Vey. Bisa dibilang dia adalah pakar ekspresi. Dia tahu, Vey baru saja menangis, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya walau telah ditutupi dengan make up.


Mereka pun kembali ke kantor masing-masing. Di dalam mobil, Vey hanya diam saja. Matanya fokus memandang jalan di depanya. Tanpa dia sadari, Danvin sedang memperhatikannya.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi telah sampai di kantor. Vey keluar lebih dulu meninggalkan Davin. Sedangkan Davin memberikan kunci mobilnya pada satpam agar memarkirkannya ke tempatnya.


Davin mengikuti langkah Vey yang masih bisa dikejar. Vey terlihat buru-buru, Davin pun mempercepat langkahnya.


"Vey," panggil Davin, membuat langkah Vey terhenti.


"Ya, pak!!" jawab Vey kemudian.


Davin masuk ke dalam lift yang sama dengan Vey. Arah pandangnya menatap penuh tanya pada Vey.

__ADS_1


"Darimana kamu tahu saya alergi makanan mentah?" tanya Davin, membuat Vey mati kutu.


__ADS_2