
Vey sangat syok setelah melihat kecelakaan yang menimpa Renata. Saking syoknya membuat perutnya menjadi terasa sakit.
"Aduh, mas. Perutku sakit!!"
"Sayang, apa yang terjadi denganmu? kita kembali lagi ke rumah sakit, ya?"
Davi nampak cemas melihat istrinya kesakitan. Dia langsung memutar mobilnya kembali ke arah rumah sakit. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk menimpa istri dan calon anaknya.
"Mas, sakit!!" Vey, mengaduh kesakitan. Bahkan keringat dingin bercucuran membasahi dahinya.
"Sabar sayang. Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit!!"
Tangan kiri Davin menggenggam erat tangan Vey. Memberi istrinya kekuatan sampai mereka tiba di rumah sakit.
Lebih banyak di rumah sakit Davin memarkir motornya di sembarangan tempat. Dia tidak peduli orang lain memarahinya. Yang terpenting saat itu adalah keselamatan istri dan calon bayinya.
Davin langsung membuka pintu mobilnya lalu menggendong istrinya, lalu membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter...Suster, tolong istri saya!!" teriak Davin.
Untung saja Vey langsung ditangani oleh dokter. Jika tidak, entahlah bagaimana nasib Vey dan juga calon bayinya. Davin menemani istrinya masuk ke poli kandungan.
"Bagaimana keadaan istri saya dan bayi yang dikandungnya, dok?" tanya Davin sangat khawatir.
"Untuk saat ini Ibu dan calon bayi yang dikandungnya sehat. Hanya saja jangan terlalu stress ya Bu, kasihan bayinya soalnya kandungan ibu sangat lemah. Jangan memikirkan hal-hal yang terlalu berat. Sepertinya ibu saat ini sedang stress, kalau ibunya stress maka akan berpengaruh pada tumbuh kembang janin di dalam kandungan ibu."
"Sayang, kamu dengar kan? apa yang dikatakan dokter barusan. Kamu jangan terlalu banyak berpikir, ya. Bikin rileks agar bayi kita bisa tumbuh sehat dan terlahir normal."
"Betul kata suaminya, Bu. Saya akan mencatatkan resep vitamin. Tolong nanti di tebus di apotek terdekat ya pak!!"
"Baik dok Apakah istri saya boleh pulang hari ini, untuk sementara menginap di sini?"
"Istrinya boleh istirahat di rumah, Pak. Ingat jangan terlalu capek. Selalu dibikin Happy dan jangan stress ya, Bu!!"
Sebenarnya Vey masih syok dengan kejadian tadi. Tapi setelah dokter menyarankan agar dia tidak stress, maka dia mencoba melupakan tragedi kematian Renata tadi.
Bahkan ketika dia akan pulang dan baru saja memasuki mobilnya, tiba-tiba rasa takut itu datang menghampirinya. Dia takut ada seseorang yang mencelakainya dan bayinya.
__ADS_1
Melihat istrinya hanya diam saja dan nampak ketakutan, Davin menggenggam erat tangan Vey.
"Rileks sayang, Jangan berfikir yang tidak-tidak. Ingat pesan Dokter tadi, jangan takut ada aku disini!!"
"Oh ya kamu menginginkan apa? apa kamu ingin makan sesuatu atau membeli apa gitu. Kita ke mall mau nggak? atau langsung pulang ke rumah?" tawar Davin mencoba menghibur istrinya.
"Kita langsung pulang aja ya, Mas. Aku lelah aku ingin beristirahat!!"
"Baiklah, sayang!!"
Davin mulai menjalankan mobilnya. Dia tidak melintas di jalur sebelumnya. Dia takut akan membuat istrinya ketakutan. Jika dia melintasi jalur, tempat di mana terjadinya kecelakaan Renata dan Andien tadi. Jadi Davin memilih jalur yang lain. Walaupun agak jauh, yang penting istrinya tidak merasa takut dan bisa sampai di rumah mereka dengan aman.
Di Singapura Mita baru saja sadar dari komanya. Dia memanggil nama Bagas, Bagas yang baru keluar dari kamar mandi pun terkejut.
"Pak Bagas!!" sapa Minta.
"Sayang, akhirnya kau sadar!!"
Bagas langsung memeluk tubuh Mita. Mita yang masih lemah pun mengaduh sakit.
Minta tersenyum ketika dia baru saja sadar, dia melihat hal yang berbeda pada diri Bagas. Bagas terlihat sangat mengkhawatirkan dirinya dan sikapnya terlihat sangat lembut berbeda dari biasanya. Jika biasanya dia bersikap kaku seperti Patung Pancoran. Kali ini sikap Dia sangat berbeda dan jauh dari biasanya.
"Pak aku ada di mana? Apa yang terjadi denganku? Kenapa dipasang infus di tanganku?" tanya Mita, matanya memperhatikan di seluruh ruangan itu yang nampak asing baginya.
"Sayang, kamu nggak ingat apa yang terjadi denganmu. Kamu mengalami koma selama berbulan-bulan setelah kecelakaan itu. Kamu tidak mengingatnya?"
Bagas memperhatikan wajah Mita yang nampak mengingat-ingat sesuatu. Mita pun teringat Kejadian beberapa bulan yang lalu. Untung saja kecelakaan itu tidak membuatnya Amnesia. Sehingga dia mampu mengingat semua kejadian yang pernah dialami.
"Vey, di mana dia, Pak? apakah dia baik-baik saja? sepertinya ada seseorang yang ingin mencelakainya. Anda harus melindungi adik anda, Pak!!"
Bagas menatap wajah Mita, lalu mengelus rambutnya, membuat gadis itu merasa malu.
"Bisakah tidak usah terlalu formal saat kita berbicara. Aku bukan bosmu, Aku adalah calon suamimu, Apakah kau lupa? dan jangan memanggilku dengan panggilan, Pak. Aku bukan Bapakmu tapi aku calon suamimu. Dan hilangkan kata Anda di antara kita, menjadi aku dan kamu. Apakah kamu bisa? Kau harus membiasakan itu."
"Baik, pak. Eh, maksud saya...terus saya harus memanggil apa, dong?" Minta nampak bingung harus menggunakan panggilan apa ke Bagas.
"Coba panggil aku sayang!!" pinta Bagas.
__ADS_1
Mita semakin tersipu malu dan senyum-senyum sendiri. Bagas semakin jago menggoda gadis itu.
"Ayo cepat panggil aku sayang, aku ingin mendengarnya sekarang juga!!"
"Pak, aku baru saja sadar dan kau langsung memerintah ku. Aku haus, bisa minta tolong ambilkan minum? tenggorokanku terasa kering!!"
Bagas tahu Mita hanya beralasan, meskipun tak sepenuhnya alasan. Iya tahu Mita belum siap memanggilnya dengan sebutan sayang. Sangat jelas dari raut wajahnya yang masih malu-malu. Tapi Bagas tetap mengambilkannya sebotol air mineral untuknya minum.
"Terimakasih!!" ucap Mita tersenyum.
Ketika Mita akan meminumnya, tiba-tiba bagas membantunya. Bagas membantu memegang botol air mineralnya dan meminta Mita membuka sedikit mulutnya.
"Uhuk...uhuk!!" Mita langsung tersedak saking gugupnya.
"Pelan-pelan sayang. Apa kau merasa gugup di dekatku?" tanya Bagas langsung membuat Mita terbatuk-batuk kembali.
"Pak Bagas jangan menggodaku terus!!" protes Mita.
"Kau memanggilku apa barusan? Pak? Apa kau minta dihukum?"
Wajah Bagas semakin mendekat dan hanya berjarak 1 cm aja. Mita kembali gugup dan langsung mengucapkan kata maaf.
"Maafkan aku, maksudku tadi jangan menggodaku terus, sayang!!"
"Tidak bisa. Kesalahan harus tetap mendapatkan hukuman dan inilah hukuman untukmu!!"
Bagas langsung mencium bibir Mita, Mita hanya pasrah daripada Bagas memberinya hukuman yang lebih dari itu. Melihat Mita hanya pasrah saja, membuat Bagas tersenyum.
Setelah mencium bibir Mita, Bagas langsung memeluk tubuh calon istrinya itu dan membisikkan sesuatu di dekat telinga Mita.
"Aku sangat senang sekaligus bersyukur. Akhirnya kau sadar, kau tahu aku sangat merindukanmu. Aku takut kehilanganmu, please jangan pernah koma lagi!!"
Mita terharu mendengar bisikan Bagas barusan, hingga dia meneteskan air matanya.
"Aku sangat mencintaimu, Mita dan aku tidak mau kehilanganmu!!" bisiknya lagi.
Mita membalas pelukan Bagas, tak kalah erat. Dia juga membisikan di telinga Bagas bahwa dia juga sangat mencintai Bagas.
__ADS_1