Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 58


__ADS_3

Untuk sementara Davin pulang ke apartemen Bagas yang ditempati Vey. Bukan dia tidak mampu membeli apartemen sendiri. Davin sedang menunggu rumah barunya. Dia membuat rumah yang sangat besar dan memiliki halaman yang sangat luas.


Rumah itu sengaja dibuat besar dan luas, karena suatu hari dia dan Vey akan memiliki anak. Bahkan sebelum Vey hamil, Davin telah menyiapkannya dari sekarang. Berharap istrinya bisa segera mengandung calon pewaris mereka.


Sedangkan Bagas membawa Mita ke rumahnya. Rumah yang lumayan besar namun terasa sepi.


Bagaimana tidak terasa sepi, rumah itu hanya di tempatnya berdua dengan Bagas. Bagas benar-benar tidak mau melepaskannya. Karena Mita sudah menandatangani kontrak budak seumur hidup.


Mita sempat khawatir, apa kata orang di luaran sana, jika lelaki dan perempuan tanpa ikatan tinggal dalam satu atap. Bahkan Mita sampai berbohong kepada ayahnya, dia berkata saat ini dia masih bekerja menjadi asisten rumah tangga.


Banyak tetangganya yang bertanya pada ayahnya, dan ayahnya langsung menelponnya. Darimana dia mendapatkan uang untuk membiayai pengobatan ayahnya. Siapa pria yang datang ke rumahnya dan membawa ayahnya pergi. Apakah dia menjual diri demi mendapatkan uang. Semua pertanyaan itu muncul dan langsung di tanyakan langsung pada ayahnya.


Untung saja sakit jantung ayahnya telah sembuh total. Semua ini berkat Bagas, yang mengeluarkan uang banyak demi penyembuhan jantung ayahnya. Tak hanya itu, pria itu juga menjamin hidup ayahnya. Bagas juga membantu dalam segi perekonomian ayahnya Mita. Dan sebagai gantinya, Mita harus menjadi budaknya untuk selamanya.


Mita bingung sebenarnya apa posisinya di rumah sebesar itu. Dia tidak diizinkan bekerja, hanya duduk menunggu kepulangan Bagas. Soal bersih-bersih rumah sudah ada dua asisten khusus. Dan soal masak juga ada koki khusus.


Mita sangat jenuh berdiam diri di dalam rumah. Kadang dia turun ke lantai bawah dan membantu para asisten rumah tangga mengerjakan pekerjaannya. 


Pernah suatu ketika dia ingin memasak, Bagas langsung menegurnya.


"Beginilah pekerjaan seorang budak? Hanya berdiam diri, menonton televisi, keluar pun tidak diperbolehkan!!"


Tak lama Mita mendengar ponselnya berbunyi. Buru-buru dia mengangkatnya, takutnya Bagas Lah yang menelponnya. 


"Mbak Vey. Tumben telpon aku!!"

__ADS_1


Mita mengangkat telpon dari Vey. Vey mengajaknya shopping, tapi Mita ragu untuk mengiyakan ajakan Vey. Karena dia harus izin dulu pada Bagas.


"Maaf mbak Vey. Bukanya saya menolak, tapi saya harus izin dulu ke pak Bagas. Belum tentu pak Bagas mengizinkan saya keluar, meskipun saya sudah izin."


"Tenanglah, kakakku pasti mengizinkan. Kamu pergi denganku bukan orang lain, gak perlu takut, aku akan menjemputmu sekarang!!"


Vey langsung mematikan panggilan telepon, bahkan Mita belum sempat menjawab ucapan akhirnya.


Mita segera mengambil tasnya dan menunggu Vey di teras rumah Bagas. Sekitar sepuluh menit, Vey telah sampai di rumah Bagas. Tangannya melambai-lambai ke arah Mita agar menghampirinya di depan gerbang.


Vey Naik taxi, karena dia belum berani menyetir mobil sendirian. Setiap hendak mencoba, traumanya selalu muncul dan membuatnya tidak ingin menyetir hingga sekarang.


"Selamat siang mbak Vey!!" sapa Mita. Vey mempersilahkan Mita cepat masuk ke dalam taxi.


"Kau pasti merasa jenuh di rumah sebesar ini, bukan? Apa lagi hanya berdiam diri tanpa melakukan aktivitas!!"


"Kita mau kemana, mbak?" tanya Mita.


"Bisa gak, kamu panggil aku Vey saja. Gak usah di tambah Mbak. Siapa tahu kamu sebentar lagi jadi kakak iparku!!" ucap Vey tanpa berfikir. Mita langsung terkejut, dan merasa pendengarannya salah.


Vey tersenyum tanpa dosa, memperhatikan ekspresi terkejut Mita. Jika benar Bagas menyukai Mita, maka Vey setuju. Karena Mita adalah gadis yang baik dan lembut. 


Di dunia ini hanya dua wanita yang mampu menundukkan Bagas. Pertama adalah almarhumah ibunya dan kedua adalah Vey. Mungkin Mita termasuk yang bisa menundukkan Bagas. Karena Mita seperti sosok almarhumah ibunya. Lembut, cantik, mungil dan penuh kasih sayang. Wanita seperti Mita memang cocok untuk orang seperti Bagas.


"Kita ke mall, kita shopping, kita borong semua barang-barang yang kita suka, kita ke salon untuk melakukan perawatan, kamu mau?"

__ADS_1


"Saya mau-mau saja, mbak. Maksud saya Vey, hanya saja saya tidak punya uang untuk shopping ataupun perawatan!!" ucap Mita polos.


Vey tersenyum, dia langsung mengambil black card di dalam dompetnya. "Kartu tanpa batas, kita bisa membeli dengan kartu ini. Jangan pikirin uangnya, kakakku kaya, uangnya tidak akan habis sampai ke tujuh turunan."


"Kau tahu, kadang aku heran, kakakku rajin bekerja tapi uangnya hanya memenuhi buku tabungannya. Pacaran tidak pernah, dekat dengan seorang wanita tidak pernah, lalu uangnya digunakan untuk apa?" 


"Kamu tidak tahu kakakmu di luar sana, Vey. Mungkin kamu tidak tahu kakakmu memiliki sebuah bar. Kamu juga pasti tidak tahu, banyak wanita yang menghangatkan ranjang kakakmu," kata-kata itu hanya ada di dalam pikiran Mita.


"Semenjak ibu kami meninggal, dan ayah kami menikah lagi, kakakmu menjadi lelaki tertutup. Dia tidak bisa begitu saja mempercayai wanita. Sulit baginya mempercayai seorang wanita. Kadang aku mencemaskannya, di usianya yang masuk kepala tiga, dia belum juga menikah."


Vey menjeda ucapannya lalu menatap Mita. Vey juga menggenggam kedua tangan Mita.


"Aku yakin, kakak pasti menyukaimu. Kalau tidak, tidak mungkin kakakku membawamu ke rumahnya dan tinggal bersamanya!!"


"Kamu terlalu berlebihan, Vey. Pak Bagas hanya menganggapku sebagai budaknya, tidak lebih!!" sahut Mita. Dia tidak ingin berharap lebih karena dia sadar kastanya dengan Bagas sangat berbeda jauh.


"Aku lebih mengenal kakakku, aku yakin dia menyukaimu. Bukankah kamu juga menyukai kakakku? Jangan bilang tidak, karena aku juga tahu kau menyukainya!!"


Ucapan Vey membuat Mita mendadak salah tingkah. Siapa yang tak akan menyukai Bagas. Pria yang tampan dan juga mapan, minusnya hanya terlalu kaku seperti patung Pancoran.


"Baiklah, tidak perlu menjawab karena aku telah mendapat jawaban dari sikapmu. Hari ini kita perawatan seluruh tubuh. Aku akan merubah-mu lebih cantik, agar kakakku semakin menyukaimu!!" 


Vey sangat bersemangat, apa lagi berbelanja dengan Mita dan melakukan perawatan tubuh dengan Mita, seakan Vey telah menemukan teman yang tepat.


Dia tidak sabar melihat reaksi kakaknya, ketika melihat perubahan pada Mita. Vey juga berharap Bagas segera menyatakan perasaanya pada Mita dan menjadikan gadis itu sebagai istrinya.

__ADS_1


Mita hanya mengikuti kemanapun Vey mengajaknya pergi. Ini juga pertama kali bagi dirinya menginjakkan kakinya ke dalam mall. Gadis yang kehidupannya penuh kekurangan sepertinya tidak pernah memiliki kesempatan untuk sekedar memanjakan dirinya. Bisa makan setiap harinya saja, Mita sudah sangat bersyukur.


__ADS_2