
Bagas baru saja tiba di mansion ya, setelah menempuh jarak beberapa menit dari kantornya. Setelah memasuki halaman mansion ya, di sana sudah terparkir mobil Davin. Di dalam sana, Davin dan Vey telah duduk santai menunggu Bagas dan Mita.
Bagas terus mengendarai mobilnya hingga ke garasi mobil. Setelahnya dia keluar dan menggendong Mita keluar dari mobil.
Bagas memasuki mansion, dia terus berjalan dan tidak menoleh sama sekali ke arah Davin maupun Vey.
Melihat kakaknya menggendong Mita, Vey langsung berdiri menghadang langkah Bagas.
"Tunggu, apa yang terjadi padanya?" tanya Vey.
"Minggir lah, kau tahu badannya sangat berat!!"
Bagas melewati adiknya melanjutkan langkahnya menuju kamar Mita. Ucapannya soal tubuh Mita yang berat barusan hanyalah alasan. Bahkan berat badan gadis itu sangat ringan bagi Bagas.
Setelah meletakkan Mita di atas tempat tidurnya. Bagas memanggil para maid untuk menggantikan pakaian Mita yang bau alkohol.
"Mbak Darmi, mbak Ira!!" panggilnya di pertengahan anak tangga. Kedua maid itu segera menghampiri Bagas yang telah turun ke lantai bawah.
"Tolong bersihkan tubuh Mita dan gantikan dengan baju tidur!!" perintahnya, lalu kedua maid itu segera berjalan ke lantai atas menuju kamar Mita.
"Kenapa dengannya, kak?" tanya Vey yang masih penasaran.
Bagas tersenyum mengingat kebodohan Mita. Vey masih menunggu jawaban dari kakaknya.
"Gadis itu benar-benar bodoh. Kau tahu, hari ini aku mengajaknya ke kantorku. Baru ku tinggal meeting satu jam, gadis bodoh itu meminum dua kaleng bir. Ku rasa dia tidak melihat minuman apa yang dia teguk." ucap Bagas menceritakan.
"Maksudnya dia mabuk?" timpal Davin, Bagas mengangguk.
"Astaga Mita. Lagian kenapa kakak menaruh bir di kantor?" protes Vey.
"Memangnya kenapa? Apa yang salah? Bahkan dari dulu kulkas di ruangan itu isinya hanya bir. Dia saja yang ceroboh tanpa melihat-lihat dulu sebelum meminumnya. Untung saja yang dia minum bukan racun."
__ADS_1
Bagas berujar santai, tapi mata Vey tetap menatapnya, seolah dia menaruh curiga pada kakaknya.
"Lalu setelah kau tahu dia mabuk, kau tidak memanfaatkan situasi dalam kesempatan, bukan?" tanyanya penuh selidik. Sekejap wajah Bagas berubah memerah teringat ciuman Mita tadi.
Melihat perubahan ekspresi kakaknya menambah kecurigaan pada diri Vey. Bahkan Vey beranjak duduk mendekati kakaknya, menunggu jawaban. Tapi Bagas tetap bungkam, apa mungkin dia menceritakan adegan tadi pada Vey.
"Katakan padaku, apa yang terjadi setelah Mita mabuk? ekspresi mu mencurigakan, kak. Jangan-jangan kau menggrepe-***** tubuhnya!!"
Tatapan Vey semakin menyelidik karena Bagas masih bungkam. Penasarannya semakin bertambah dan dugaannya semakin kuat pada kakaknya.
Vey terus mendesak Bagas untuk menceritakan kejadian setelah Mita mabuk. Awalnya Bagas bungkam, tapi karena desakan Vey, akhirnya dia membuka suaranya .
"Gadis itu hampir saja memperkosaku!!" ucap Bagas singkat, namun mampu membuat Vey dan Davin terkejut. Vey tidak percaya, dia langsung protes pada kakaknya dan menuduh Bagas Lah yang ingin memperkosa Mita.
"Tidak mungkin Mita berbuat seperti itu, kak. Pasti kau yang ingin memperkosanya dan memanfaatkan ketidak sadarannya!!" tuduh Vey. Bagas mengusap kasar wajahnya sebelum melotkan matanya ke arah Vey.
"Kau pikir kakakmu ini sebejat itu? Kau lupa dia sedang mabuk? Orang mabuk bisa melakukan apapun yang tidak akan pernah dia lakukan dalam kondisi sadar. Dia yang menarikku terlebih dahulu dan langsung menciumku. Entahlah apa yang ada di otaknya, aku sungguh malu membayangkannya!!" ujar Bagas, pipinya bersemu merah karena malu.
Vey terus menatapnya, tetapi tatapannya kali ini seperti menggoda kakaknya. "Cieh, yang baru dapat first kiss. Bagaimana rasanya berciuman dengan gadis polos sepertinya, kak?" tanya Vey yang penasaran.
"Sayang, kau jangan menggoda kakakmu!!" tegur Davin, karena dia tahu rasanya jika di posisi Bagas.
Bagas langsung menyentil dahi Vey dan membuat wanita itu mengasuh sakit. "Buang pikiran kotormu!!" ucap Bagas, bangkit dari sofa ruang tamu dan menaiki tangga.
"Kak, mau kemana? Aku belum selesai?" panggil Vey.
"Mandi, gerah!!" sahut Bagas yang terus berjalan menaiki anak tangga. Hingga sesampainya di dalam kamarnya, Bagas menyandarkan punggungnya di balik pintu.
"Rasanya sangat manis!!" ucapnya menjawab pertanyaan Vey tadi. Bahkan jari jempolnya meraba bibirnya dan membayangkan ciumannya dengan Mita tadi siang.
Bagas tersenyum, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia melepas semua kain yang melekat di tubuhnya dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Membayangkan ciuman panasnya dengan Mita tadi siang, membuat ular pitonnya bangun.
__ADS_1
"Sssttt, sialan!!" umpatnya.
Gara-gara gadis itu, pikiran Bagas mendadak kacau. Pikirannya tercemar oleh bayangan ciuman panasnya dengan gadis itu. Seolah Bagas ingin mengulanginya lagi.
Dia tidak menyangka, gadis sepolos Mita, ternyata sangat membuatnya candu. Dia juga tidak habis pikir, bagaimana bisa gadis itu memporak porandakan hatinya.
Setelah menuntaskan semuanya dengan mandi air dingin, Bagas keluar dari kamar mandi dan hanya melilitkan handuk di pinggangnya. Sebelumnya dia sudah mengunci pintu kamarnya. Dia terlalu waspada, apalagi soal ruangan pribadinya.
Dia juga khawatir jika Mita tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya. Apa lagi dalam kondisinya yang hanya melilitkan handuk di tubuh bagian bawahnya.
Ponselnya di atas nakas berbunyi, ternyata Vey yang mengirimkan pesan. "Aku pulang. Saranku segera nikahi saja Mita. Kau bebas memilikinya setelah kau nikahi gadis itu, kak. Ingat, jangan kebablasan sebelum kau nikahi dia, awas saja!!" ancamnya melalui pesan WhatsApp.
"Kau pikir aku kurang waras!!" ucap Bagas menimpali adiknya.
Menikah. Bahkan kalimat itu tidak pernah tertulis di kamus seorang Bagas. Tetapi dia akan mencoba merubah isi sebagian kamusnya.
"Menikah, apakah itu pilihan yang tepat? Bahkan selama ini aku tidak pernah terbayangkan akan menikah. Tapi apa salahnya, gadis itu tidak terlalu buruk, hanya sedikit bodoh!!" gumamnya sambil mengenakan baju tidurnya.
Sebelum tidur, Bagas keluar menuju kamar Mita. Yang dia lakukan hanya mengecek keadaan gadis itu.
Selimut yang menutupi tubuh Mita terjatuh di lantai. Bagas segera mengambilnya dan menyelamatkan kembali di tubuh Mita.
Gadis itu sangat cantik meskipun dalam posisi tidur. Bagas memperhatikan wajah damai Mita yang terpejam. Tiba-tiba bibir Bagas tersenyum.
Bahkan tangannya mengelus wajah Mita yang sangat halus. Wajah itu bagaikan magnet yang membuat Bagas semakin mendekat. Apa lagi bagian bibirnya yang sangat ranum.
Tiba-tiba pikiran Bagas berputar kembali pada kejadian tadi siang. Ular pitonnya pun bangkit kembali hanya dengan membayangkan ciuman panasnya tadi siang.
"Sialan. Kenapa gadis ini sangat meresahkan!!"
Bagas segera keluar dari kamar Mita, sebelum hal yang tidak-tidak tak mampu di kontrolnya. Bagaimanapun dia lelaki normal yang mudah terpancing dengan hal-hal seintim itu, walaupun hanya dengan mengingatnya.
__ADS_1
Pria itu terpaksa mandi lagi dan rasanya dia akan menjadi gila setelah ini. Dia akan memikirkan usul dari Vey, agar segera menikahi Mita.