
"Kami menemukan keberadaan wanita itu, tuan!!" ucap seseorang yang memberikan kabar pada Devano.
Lama tidak terlihat, ternyata diam-diam Devano memantau Renata. Setelah mendengar kabar kaburnya Renata dari penjara, Devano juga mengerahkan orang-orangnya untuk mencari Renata.
"Di mana dia?" tanyanya sambil menghisap rokoknya.
"Di sebuah kos-kosan kecil di daerah xxx dan dia bersama seorang wanita bernama Andien yang tak lain mantan karyawan Wings Corporation, tuan."
"Andien. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tetap awasi mereka, laporkan semua hal tentang mereka. Gerak gerik mereka dan apapun yang mereka lakukan."
"Renata, aku memberimu segalanya yang kau butuhkan. Tapi kau merusak semuanya dan kini kau menjadi gembel yang tidak memiliki apapun. Dan parahnya lagi, nyawamu sedang di incar oleh orang-orang suruhanku, Bagas dan Davin. Apakah ini dinamakan karma atas kejahatanmu padaku di masa lalu. Sayang, bagaimanapun kita pernah menjadi suami istri. Aku tidak ingin kau mati di tangan orang lain, yang berhak membunuhmu adalah aku."
Benci dan cinta memang sangat berbeda, tapi apalah arti cinta yang telah berubah menjadi rasa benci.
Devano muak melihat Renata yang terus berulah. Dia tidak rela wanita yang pernah mengisi hatinya sekaligus menghancurkan hatinya, mati di tangan orang lain. Bagaimanapun caranya, harus dia yang membunuh Renata.
Devano mematikan rokoknya, dia mengganti pakaiannya mengenakan hoodie hitam dan masker hitam. Dia akan melihat sendiri kondisi Renata saat ini.
Mungkin dengan berpura-pura baik padanya, akan mempermudah rencananya. Permainan akan dimulai dan dialah pemeran utamanya dalam akting yang akan dia lakukan.
Ketika dia telah tiba di depan kos-kosan kecil yang dikatakan orang suruhannya tadi, dia merasa kasihan membayangkan kehidupan Renata saat ini. Pasti mantan istrinya itu kekurangan uang sehingga dia tinggal di kos-kosan yang terbilang sangat murah baginya.
Devano melangkahkan kakinya, dia masuk begitu saja dan langsung di hadang pemilik kos-kosan itu.
"Apa anda tidak bisa membaca tulisan di depan gerbang? Selain wanita dilarang masuk ke dalam kos-kosan ini."
"Apakah ini cukup? Saya hanya ingin bertemu dengan seseorang!!"
Siapa yang tidak suka uang, termasuk pemilik kos-kosan itu. Dengan menyodorkan 10 lembar uang ratusan ribu, cukup untuk menyogok si pemilik kos.
"Kalau begini kamu boleh masuk. Setiap hari juga boleh asal ada beginian!!" ucapnya menunjuk sepuluh lembar uang yang telah berpindah di tangannya.
"Dasar matre!!" gumam Devano lirih.
"Di mana kamar Renata? Maksudku wanita temannya Andien!!"
__ADS_1
Mendengar nama Andien si pemilik kos langsung paham. Kalau nama Renata dia tidak tahu karena Renata hanya numpang di kos-kosan yang Andien sewa.
"Di sana, kamar paling ujung!!" ucapnya menunjuk dengan jari telunjuknya.
Devano langsung melangkah menuju kamar yang ditunjuk si pemilik kos. Ada dua orang wanita yang sedang duduk di depan kamar merek, memandang ke arah Devano.
"Cowok, mau cari siapa?" tanya salah satu dari mereka. Devano cuek, tidak menghiraukan dua wanita itu. Pandangannya lurus menuju pada kamar tujuannya.
"Dasar sombong!!" maki dua wanita tersebut, tapi tidak mempengaruhi Devano.
Sesampainya di depan kamar Andien dan Renata, Devano langsung mengetuk kamar mereka. Kebetulan Renata yang membukakan pintunya.
"Siapa? ada ap_
Ucapannya menggantung setelah melihat wajah Devano yang baru saja membuka maskernya. Dengan cepat Renata mencoba menutup kembali pintu kamarnya namun gagal karena di tahan tangan Devano yang lebih kuat darinya.
"Lepas, mau apa kamu kemari? Bagaimana kamu tahu keberadaanku?" teriak Renata. Andien keluar setelah mendengar suara heboh di depan kamarnya.
"Ada apa sih? Dia siapa, Ren?" tanya Andien.
"Saya ada perlu dengannya!!" ucap Devano.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk di kos-kosan wanita?" tanya Andien.
Devano merogoh uang di sakunya untuk menutup mulut Andien. Bagaimana reaksi Andien, dia langsung senang melihat sepuluh lembar uang ratusan ribu di tangannya.
"Apakah cukup? Saya akan membawanya pergi, saya ada perlu dengannya!!" ucap Devano menarik Renata keluar meninggalkan kos.
"Cih, bawa saja wanita itu tidak berguna. Lumayan dapat uang buat bayar kos-kosan!!" ucap Andien lalu menutup kembali pintu kamarnya.
Devano membawa Renata masuk ke dalam mobilnya. Lalu mengunci pintu mobilnya sehingga Renata tidak bisa keluar.
"Apa maumu? Mau kamu bawa kemana aku?"
Renata memberontak, dia takut Devano akan membawanya kembali ke kantor polisi. Melihat Devano hanya diam tidak merespon membuat renata mencekal tangan Devano memintanya menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
Cekalan tangan Renata tidak membuatnya terpengaruh. Tapi daripada telinganya sakit mendengar teriakan wanita itu, Devano pun akhirnya menjawab pertanyaan Renata.
"Diamlah, kenapa kau sangat ketakutan? Aku tidak akan membawamu ke kantor polisi. Aku hanya merasa kasihan padamu dan kehidupanmu saat ini. Bukankah kau tidak bisa hidup susah? Maka ikutlah denganku, aku akan membawamu ke rumahku dan memberimu kehidupan mewah."
"Sungguh? Apa ini bukan jebakakmu? Kau tidak takut aku mengambil semua hartamu lagi?" tanya Renata dengan tatapan menyelidik.
Devano hanya tersenyum, tapi dibalik senyumnya tersimpan banyak rencana.
"Ambil saja jika kau mau. Kau tahu, setelah perceraian kita, tidak ada satu wanitapun yang menikmati hartaku."
Renata tertegun, dia berfikir, apakah Devano masih mencintainya.
"Kenapa? Apa tidak ada wanita yang mampu memikat mu? Atau kau belum move on dariku?"
"Menurutmu? Kamu bisa melihat dari kesendirianku kali ini. Aku tahu, kau dulu melakukan semua itu atas dasar perintah ibumu. Jika aku memberimu satu kesempatan lagi, apa kau akan menipuku lagi?"
Renata terdiam, dia berpikir daripada hidup susah seperti gelandangan, akan lebih baiknya dia kembali pada Devano. Dia beranggapan Devano masih mencintainya. Kalau tidak, tidak mungkin Devano mencarinya kembali.
"Sepertinya bukan hal yang buruk. Dia bahkan lebih kaya dibandingkan dia yang dulu. Sekarang tidak ada ibu yang akan mengendalikanku. Baiklah Devano, aku akan ikut denganmu. Dengan ikut denganmu, maka aku lebih mudah menghancurkan Vey," gumamnya.
Diam-diam Devano bisa menebak rencana Renata. Tapi dia pura-pura tidak tahu dan bersikap biasa saja.
"Bagaimana? Kau mau ikut tinggal bersamaku?" tanya Devano.
"Baiklah, aku akan ikut denganmu!!" jawab Renata.
Dalam pikiran Devano berkata, "Bagus, kau telah masuk ke dalam perangkapku, Renata."
Devano menjalankan mobilnya memasuki kawasan perumahan elite. Renata sampai terkagum-kagum melihat perumahan yang penghuninya orang kalangan atas semua. Sangat jauh dari kos-kosan murahan yang ditempatinya dengan Andien.
"Ini baru tempat yang cocok untukku, bukan kos-kosan sampah seperti tadi!!" gumamnya masih memperhatikan sekeliling perumahan yang dia lewati hingga memasuki gerbang perumahan paling besar di antara yang lainnya.
Devano memilih perumahan karena dia tinggal seorang diri. Meskipun dia pengusaha sukses, rumah mewah tidak ada artinya jika dia sendiri yang menempatinya.
Devano menyeringai melihat mangsanya telah sampai di kandangnya. Misi selanjutnya dia akan membalas dendamnya pada Renata.
__ADS_1