Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 41


__ADS_3

Davin terbangun setelah pingsan beberapa jam lamanya. Seingatnya dia tadi berada di pemakaman. Namun kenapa tiba-tiba sekarang dia sudah berada di kamarnya.


Davin bangkit dari ranjang tempat tidurnya, keluar dari kamar. Rumah tampak sepi, hanya ada Mita di bawah sana sedang menyiapkan masakan malam.


"Kenapa rumah tampak sepi, dimana yang lain?" tanya Davin ketika sudah berada di meja makan.


"Pak Davin sudah sadar?" tanya Mita menghampiri Davin. Davin mengernyitkan dahinya merasa aneh dengan pertanyaan Mita.


Davin tidak menanggapi ucapan Mita, dia bertanya sekali lagi kenapa rumah nampak sepi dan di mana orang-orang lain seperti Renata dan Retno.


"Tadi sore nyonya dan nona Renata keluar, pak. Sepertinya pergi ke pesta."


"Oh ya, pak. Tadi non Renata menitipkan ini pada saya. Katanya anda diminta memilih desain mana yang menurut anda sukai," ucap Mita menyerahkan lima lembar desain undangan pernikahan.


Davin melihat satu persatu desain undangan di tangannya. Dia masih dalam kondisi berduka, sudah dihadapkan dengan kenyataan tentang pernikahannya dengan Renata.


Setelah melihat-lihat undangan itu, Davin meletakkan kembali di atas meja makan. Dia bangkit dari duduknya, menuju ruang kerja nya.


"Pak Davin tidak makan malam?" tanya Mita dan hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Davin.


Dia masih berduka dan belum menerima kenyataan meninggalnya Vey. Sesampainya di ruang kerjanya, dia langsung mengunci pintu. Dia tidak ingin diganggu oleh siapapun saat ini.


Davin termenung sambil menghisap sebatang rokok dan alkohol. Baginya hanya rokok dan alkohol yang dapat mengobati dukannya.


"Maafkan saya, Vey!!" Davin meracau tidak jelas. Dia mulai mabuk, setelah menghabiskan satu setengah botol minuman beralkohol di meja kerjanya.


Tengah malam Renata dan Retno baru pulang setelah merayakan party kematian Vey. Semua lampu ruangan di rumah itu sudah padam.


Renata berjalan menuju kamar yang ditempatinya bersama Davin. Setelah dia memasuki kamar, matanya tidak melihat keberadaan Davin. Lalu dia keluar lagi menuju ruang kerja Davin.


"Sial, dikunci dari dalam!!"


Renata tidak ambil pusing, karena dia juga sangat lelah dan mengantuk. Dia lebih memilih membaringkan tubuhnya di ranjang kamarnya.


Hingga esok hari, setelah semua orang di rumah itu sudah bangun. Davin belum juga keluar dari ruang kerjanya. Renata kembali menghampirinya dan mengetuk pintu yang sedari tadi malam di kunci Davin dari dalam.

__ADS_1


"Mas Davin!! Apakah kamu masih tidur di dalam? buka pintunya," teriak Renata memanggil Davin.


Davin terbangun setelah mendengar teriakan Renata. Kepalanya masih terasa pusing, namun dia tetap membukakan pintu untuk Renata.


Pintu terbuka, Renata langsung menutup hidungnya karena bau alkohol yang sangat menyengat di tubuh Davin.


"Kau mabuk, mas?" tanyanya, namun Davin berlalu saja melewatinya.


Tidak ada sahutan seolah seperti orang bisu, Davin hanya diam saja. Dia terus melangkah memasuki kamarnya menuju kamar mandi.


Renata tidak mempedulikan Davin, dia berjalan ke lantai bawah menuju ruang makan. Di sana Retno sudah duduk sedari tadi menyantap sarapan paginya.


"Davin mana, Ren?" tanya Retno.


"Mandi. Sepertinya semalaman dia mabuk berat!!" ucap Renata, tangannya sambil mengoles selembar roti tawar dengan blueband.


"Mabuk? Apa dia masih memikirkan Vey?" tanya Retno dan hanya di jawab dengan anggukan kepala Renata.


Renata menikmati roti tawarnya dan tidak ingin ambil pusing soal Davin. Yang terpenting baginya Vey sudah mati. Jadi dia merasa lebih tenang dan lebih bisa bersantai.


"Cih, orang mati saja masih dipikirin!!" ucap Retno, kembali menikmati sarapan paginya.


"Aneh banget sih, si Davin. Tumben dia tidak menyapa mama, Ren?"


"Biarkan saja dia, ma, dia masih mikirin Vey!!" sahut Renata mengibaskan tangannya.


Terdengar mobil Davin telah dinyalakan, tak lama mobilnya pun keluar dari gerbang rumahnya menuju kantor. Renata dan Retno tidak ambil pusing dengan sikap Davin.


Sesampainya di kantor, setelah turun dari mobilnya. Davin melihat begitu banyak karangan bunga duka cita lengkap terpampang photo Vey di sana.


Davin menghentikan langkahnya, melihat si pengirim bunga-bunga. Devano, Bagas, dan para kolega bisnisnya yang lainlah yang mengirim karangan bunga duka cita atas meninggalnya Vey.


Setelahnya dia melihat foto Vey di karangan bunga tersebut. Tak bisa dibohongi, masih ada luka di hatinya ketika melihat foto Vey.


Apalagi ketika dia melewati meja kerja yang biasanya ada Vey di sana. Tidak ada sapaan selamat pagi lagi. Tidak ada senyuman manis dari sekretarisnya lagi.

__ADS_1


Tanpa di sadari, Davin duduk di kursi yang biasanya diduduki Vey. Pandangannya kosong, bahkan berkas-berkas yang telah dikerjakan Vey masih tersusun rapi di mejanya.


Davin terdiam dalam lamunannya, mengingat moment moment bersama secretarisnya. Tanpa dia sadari karyawan lain sedari tadi melihatnya.


"Sepertinya pak Davin sangat kehilangan si Vey!!" ucap salah satu karyawan.


"Bukan hanya pak Davin. Tapi kita semua di sini kehilangan Vey. Apa lagi aku, aku belum sempat minta maaf pada Vey," ucap Sarah.


"Halah, orangnya sudah mati, ngapain kalian bahas!!" sahut Andin yang gak suka pada Vey.


"Diam kamu, Andin. Apa kamu tidak tahu, Vey adalah istri pak Davin. Kamu tidak dengar yang di katakan Rizal tempo hari?" Sarah menegur Andin.


"Syukur deh dia mati, jadi aku aman!!" ucap Andin lalu berlalu meninggalkan karyawan lain yang masih berdiri memperhatikan Davin.


Rizal melangkah menghampiri Davin yang masih duduk di kursi Vey. Dia menyapa Davin, membuat Davin tersadar dari lamunannya.


"Selamat pagi pak Davin. Apakah pak Davin membutuhkan sesuatu, saya bisa membantu pak Davin!!"


Davin langsung berdiri setelah tahu yang menyapanya adalah Rizal. Dia teringat ucapan karyawan lain yang membahas soal pingsannya tempo hari.


"Gue kesal sama si Rizal, kalau Rizal tidak meninggalkan Vey, pasti Vey masih hidup sampai sekarang. Gara-gara Rizal meninggalkan Vey, Vey meninggal!!"


Davin mengingat kembali ucapan karyawan lain yang tidak sengaja dia dengar. Matanya menatap tajam pada Rizal. Seperti ada kemarahan yang harus di tuntaskannya pada Rizal.


Rizal menatap bingung pada perubahan ekspresi bosnya. Apalagi Rizal semakin terkejut ketika Davin menarik kerah kemeja nya.


"Kenapa kau pergi meninggalkan Vey sendirian, hah? Kenapa kau tidak melindunginya? karena kamu Vey meninggal!!"


Rizal semakin terkejut mendengar yang Davin ucapkan padanya. Bahkan Davin memberi satu pukulan di wajah Rizal. Karyawan lain yang sedari tadi hanya mengintip pun berlari mencoba melepaskan tangan Davin yang hendak memukul Rizal kembali.


"Lepas. Apa kalian semua ingin saya pecat?" teriak Davin kesetanan. Membuat semua karyawan takut pada nya.


Davin tidak jadi memukul Rizal, dia masuk ke dalam ruangannya dan membanting pintu ruangannya. Semua karyawan mematung melihat kemarahan bos nya.


Rizal kembali merasa bersalah, bahkan beberapa hari ini dia selalu dihantui rasa bersalah.

__ADS_1


"Sabar, Zal. Pak Davin masih berduka, alangkah lebih baiknya kita membiarkannya sendirian dulu!!" ujar Sarah. Lalu semuanya bubar, kembali ke meja kerja masing-masing.


"Aarrrr!!" Davin membanting semua furnitur di dalam ruangannya. Dia melampiaskan semua duka dan kemarahannya dengan membanting semua yang ada di dalam ruang kerja nya.


__ADS_2