Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 57


__ADS_3

Setelah melayani suaminya, Vey keluar menuju pantry. Dia akan membuatkan kopi spesial untuk suaminya. Sengaja Vey tidak mencarikan sekretaris baru untuk suaminya. Karena dia sendiri yang akan menjadi sekretaris plus-plus untuk suaminya. Plus-plus di rumah dan plus-plus di kantor.


Tiada hari dan tiada waktu yang terbuang di sepanjang harinya. Mereka nempel terus seperti perangko. Kemanapun Davin pergi, maka Vey ada di sampingnya. Tidak akan ada cela bagi Pelakor untuk menyusup di kehidupan rumah tangganya lagi.


Di rumah bercinta, di kantor pun bercinta sambil bekerja. Seperti pengantin baru yang tidak ada puas-puasnya.


Setelah sampai di pastry, Vey melihat Andin sedang mengaduk kopi. Dia hanya melewatinya dan menganggap wanita itu tidak ada.


Diambilnya cangkir khusus milik Davin, lalu segera dia peracikan kopi tanpa gula untuk suaminya. Vey melirik wanita itu telah pergi, tetapi bola matanya melebar ketika melihat Andien masuk ke dalam ruangan Davin.


"Semakin didiamkan semakin ngelunjak!!"


Vey segera menyelesaikan pembuatan kopinya. Lalu bergegas masuk ke dalam ruangan Davin.


"Sayang, cepat sekali kamu buat kopinya!!" ucap Davin tanpa melihat siapa yang datang, karena dia terlalu fokus pada dokumen-dokumen yang sedang dia baca.


"Ini pak, kopinya!!" ucap Andin, sontak Davin mendongakkan wajahnya.


"Kau. Dimana istri saya?" tanya Davin.


"Aku di sini, mas!!" sahut Vey yang baru saja masuk kedalam ruangan suaminya. Matanya melirik secangkir kopi yang telah diletakkan Andien di atas meja.


"Maaf Andien, suami saya tidak bisa minum sembarangan kopi. Lagian kami tidak menyuruhmu membuatkan kopi untuk pak Davin. Itu sudah menjadi tugasku, semua keperluan dan keinginan pak Davin sudah saya handle. Jadi maaf, bawa kembali kopimu, karena pak Davin tidak suka kopi manis!!" ucap Vey, membuat Andien menahan emosinya.


Wanita itu segera bergegas keluar dari ruangan Davin. Dia ngomel-ngomel di luaran sana.


Davin mengusap punggung tangan istrinya, setelah melihat ekspresi kekesalan di wajah Vey.


"Kemarilah, sayang!!" pinta Davin, agar Vey duduk di pangkuannya.

__ADS_1


Vey masih belum bisa tersenyum gara-gara sikap Andien yang semakin ngelunjak. Dia mengambil surat pemecatan yang telah dibuatnya tadi. Lalu memberikannya pada Davin untuk ditandatangani.


"Tanda tangani, mas. Aku sudah muak dengan wanita itu. Semakin kesini semakin terang-terangan dia menggodamu. Tidak menganggapku ada dan tidak bisa menghargai ku!!"


Davin langsung menandatangani surat pemecatan Andien. Vey langsung bangkit dari pangkuan suaminya dan keluar menemui Andien. Kali ini Kesabarannya telah habis tak tersisa. Davin pun ikut bangkit menyusul istrinya.


Vey tak langsung menemui Andin, tetapi dia malah menuju ke ruang cctv. Dia mengecek detik-detik Andien sebelum membuatkan kopi untuk Davin.


Mata Vey langsung menajam, ketika melihat Andien mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya lalu dituangkan ke dalam kopi itu.


"Feelingku tidak salah, wanita itu berniat tidak baik pada suamiku!!" gumam Vey.


Vey langsung menyalin rekaman cctv itu, hanya di edit bagian tertentu saja. Lalu dia memindahkan ke dalam ponselnya.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini, sayang?" tanya Davin. Vey meminta suaminya menunggunya sebentar. Video itu masih dalam tahap pengiriman, belum masuk sepenuhnya ke dalam ponselnya.


Davin langsung membuka video itu, seketika dia terkejut. Hampir saja dia terjebak untuk kedua kalinya pada dua wanita yang berbeda. Untung saja istrinya sangat waspada dan jeli.


"Ini sudah kelewatan, apa mau dia sebenarnya!!" gumam Davin.


"Apa lagi kalau bukan merebutmu dariku, mas. Mas Davin lihat kan tadi? Obat apa yang di tuangkan ke dalam kopi itu? Ini tidak bisa dibiarkan."


Vey meninggalkan suaminya di ruangan cctv dan berjalan menuju meja kerja Andien. Davin mengikutinya dari belakang.


"Maaf, kamu saya pecat!!" ucap Vey menyodorkan surat pemecatan di meja kerja Andien.


Andin yang sedang duduk di kursi kerjanya pun langsung bangkit karena terkejut.


"Kenapa saya dipecat? Apa salah saya?" tanya Andien yang pura-pura tidak tahu letak kesalahannya.

__ADS_1


Semua karyawan berdatangan untuk melihat lebih jelas apa yang sedang terjadi antara Vey dan Andien.


"Kamu masih tanya apa salahmu? Apa saya perlu menunjukan rekaman cctv yang kamu lakukan di pastry tadi?"


Andien langsung membeku, dia melupakan ada cctv di pastry.


"Saya tidak menerima karyawan yang ngelunjak seperti kamu. Obat apa yang kamu ingin berikan pada suami saya? Jangan macam-macam ya kamu. Sekarang cepat kemasi barang-barang kamu, kamu saya pecat."


"Kamu tidak bisa memecat saya begitu saja karena bos saya adalah pak Davin, bukan kamu," Andien masih bisa membantah. Vey tersenyum miring, dan berfikir mungkin Andien belum tahu siapa dia.


"Andien, jaga sikap kamu. Saya yang memecat mu karena kamu sudah kelewat batas. Saya ataupun istri saya berhak memecatmu. Karena istri saya juga memiliki saham di perusahaan ini. Jangan memancing emosi saya, segera kemasi barang-barangmu. Dan untuk karyawan lainnya, siapapun yang berniat tidak baik, saya tidak segan-segan memecat kalian!!" ucap Davin memperingatkan.


Wajah Andien sudah berubah memerah karena marah. Dia segera mengemasi barang-barangnya. Dia merasa dipecat dengan cara tidak hormat. Pandangannya tajam memandang ke arah Davin dan Vey yang sedang berjalan kembali ke ruangannya.


"Syukur, makanya jadi orang jangan sok. Sok mau deketin pak Davin. Lo gak bisa ngaca? Muka Lo dibanding muka nona Vey, ibarat berlian dengan batu karang," celetuk salah satu karyawan.


Andin semakin marah dan malu, dia berteriak agar teman-temannya tidak mengejeknya. Tidak ada yang memihaknya dan tidak ada yang membantunya.


Teman-temanya hanya mengolok dan memandangnya saja. Setelah mengemasi semua barang-barangnya, wanita itu langsung pergi meninggalkan kantor tempatnya bekerja selama setahun ini.


"Mbak Andien dipecat, ya?" tanya security di lobby kantor. Andien tidak menjawab, berlalu pergi dengan kemarahannya.


"Dasar sombong, pantas saja dipecat, kebanyakan tingkah!!" ucap si security itu, yang terus memandangi Andien hingga wanita itu masuk ke dalam taxi.


Di ruangan Davin, Vey bisa bernafas lega, karena ancaman di kantor ini telah dipecat. Memiliki suami tampan memang banyak rintangannya. Banyak yang naksir dan ingin merebut suaminya darinya.


Meskipun dua ancaman telah disingkirkan ya, bukan berarti Vey tidak lagi waspada. Dia tetap harus waspada, karena masih banyak Renata dan Andien di luar sana.


Apa lagi setelah ini, Andien pasti menuntut balas padanya. Wanita seperti Renata dan Andien tidak bisa intropeksi diri akan kesalahannya. Mereka akan senang jika kejahatannya berhasil. Dan akan balas dendam ketika kejahatannya gagal.

__ADS_1


__ADS_2