Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 9


__ADS_3

"Aku muak dengan semua ulah mereka, kak!!" jerit Vey, dia mulai frustasi.


Setelah menceritakan keanehan sikap suami nya pada Bagas. Bagas menduga ada yang tidak beres dengan adik ipar nya.


Bagas menduga, Renata memberikan sesuatu untuk menghambat ingatan Davin. Mendengar dugaan yang keluar dari mulut kakaknya, Vey langsung tersulut emosi.


"Dasar rubah betina!! Aku akan membalas perbuatan mereka, kak," ucap Vey frustasi.


"Jangan gegabah. Semua harus dipikirkan secara matang-matang. Butuh strategi, karena dua wanita itu sangatlah licik."


"Lalu apa yang harus aku lakukan, kak? Kalau saja tidak ada hukum di negara ini, sudah pasti ku cekik mati saja Renata dan Retno."


"Tenanglah! Serahkan semuanya padaku. Kau cukup urus suamimu dan satu lagi, kau ambil semua data-data penting perusahaan. Jangan sampai semua data jatuh ke tangan manusia laknat itu."


Vey mengangguk. Diam-diam dia sudah mengurus semua data perusahaan. Dia menyimpannya sangat rapi. Sehingga baik Davin maupun Retana tidak akan tahu.


Vey tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya. Rumah, suami, calon bayi, adalah pelajaran bagi Vey untuk kedepannya.


Mengingat perlakuan suaminya tadi pagi, mendorong Vey hingga dahinya terbentur di dinding. Membuat Vey mengaduh ketika tangannya menyibak poni rambutnya.


Suara Vey yang kesakitan memancing perhatian Bagas. Bagas segera memeriksa bagian wajah adiknya. Bagas menemukan luka lebam di bagian dahi adiknya dan membuatnya langsung menanyai Vey.


"Kenapa dengan dahimu, Vey? Bagaimana bisa memar seperti ini?"


"Hanya terbentur di dinding, karena aku tidak hati-hati aja, kak," bohong nya.


"Kamu tidak pandai berbohong, jadi jangan coba-coba membohongi kakakmu ini."


Bagas bisa menduga, memar di dahi adiknya tak lain pasti karena Davin. Mendengar cerita Vey tentang perubahan sikap Davin saja, Bagas sudah bisa menebaknya.


"Keterlaluan, ini tidak bisa dibiarkan," ucap Bagas bangkit berdiri. Reflek Vey menahan tangan Bagas yang hendak melangkah entah kemana.


"Mau kemana, kak?" tanya nya khawatir.


"Membunuh wanita itu!!" ucapnya emosi.


"Aku ikut!!" rengek Vey. Baga memandangi wajah adiknya yang memelas. Dia menundukan tubuhnya menatap wajah adiknya.


"Jangan kotori tangan mungil ini untuk membunuh seseorang. Biarkan kakak saja yang membunuh mereka. Kakak tahu penderitaanmu, dan kakak mana yang sanggup melihat adiknya menangis. Lihatlah Vey, bahkan kakak kehilangan senyum ceriamu. Dua wanita itu memang seharusnya mati di tanganku."


Bagas benar-benar marah. Seujung kuku pun dia tidak ingin ada yang menyakiti adik kesayangan. Melihat memar di dahi adiknya, membuat Bagas emosi.


"Jangan, kak. Bukankah kakak sendiri yang menasehatiku agar jangan gegabah. Duduklah, apa kakak menyayangiku?"


Bagas mengangguk dan langsung memeluk adiknya. Tentu saja Bagas sangat menyayangi adiknya. Sebelum almarhumah ibu mereka meninggal. Beliau berpesan kepada Bagas, agar selalu melindungi Vey.

__ADS_1


"Bisa bantu mengompres dahiku? Maksudku, tolong ambilkan sedikit es batu untuk mengompresnya," pinta Vey.Bagas bangkit dan menuruti kemauan adiknya.


Di dapur, Bagas tidak langsung mengambil pesanan adiknya. Dia merogoh sesuatu di kantong celananya. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Teror mereka! teror seperti cara mereka melukai adikku," perintah Bagas kepada seseorang.


Baginya ini adalah tugas dia sebagai seorang kakak untuk melindungi adiknya. Siapa lagi yang akan melindungi Vey selain Bagas.


Suami yang sedang amnesia? Ayah yang dikuasai ibu tirinya? Semua tidak berguna bagi bagas. Bagas menilai adik ipar sekaligus ayahnya adalah pria-pria lemah.


Ini adalah salah satu alasan, Bagas tidak ingin menikah selama ini. Dia terlalu tidak bisa mempercayai seorang wanita. Di dunia ini yang dia percayai hanyalah mendiang ibunya dan adik perempuannya.


"Sudah lama aku ingin mencekik mati dua wanita itu. Tapi, sebaiknya kita bermain-main sebelum kalian mati," ucapnya menyeringai.


Segera di ambilnya es batu pesanan adiknya. Bagas meninggalkan dapur dengan membawa seember es batu kecil-kecil, guna mengompres dahi adiknya.


Di ruang tamu Vey sedang melamun, mengingat moment- moment indahnya dulu bersama suaminya. Bagaikan mimpi yang sekejap sirna begitu saja. Ketika suara kakaknya menegurnya berkali-kali.


"Memikirkannya lagi?" tanya Bagas. Vey hanya tersenyum menanggapi.


Bagas mengompres dahi adiknya dengan penuh kelembutan. Sesekali terdengar suara Vey yang menahan rasa sakit di dahinya.


"Istirahatlah. Kakak akan keluar sebentar!!" ucapnya setelah selesai mengompres dahi adiknya.


Tak butuh waktu lama, dalam waktu satu jam, orang-orangnya telah menghubunginya. Bagas langsung melempar Vape di tangannya, setelah mendengar info dari seseorang.


Mereka berhasil menyelundup masuk ke dalam rumah Davin. Dengan membius semua orang yang ada di rumah itu. Mereka dengan leluasa masuk dan menjalankan perintah Bagas.


Bagas yang awalnya memerintah untuk meneror Retno dan Renata, di urungkannya. Dia memerintah pada seseorang untuk mencari tahu obat apa yang dikonsumsi Davin saat ini.


Benar saja, Renata menyuruh Davin mengkonsumsi obat merk xxx untuk menghambat ingatanya. Bukan itu saja, mereka juga menemukan ayahnya yang seperti mayat hidup di kamarnya. Dan menemukan beberapa obat-obatan yang diduga bisa membuat seseorang lumpuh jika mengkonsumsinya.


Kabar itu membuat Bagas bertambah murka. Dia baru tahu, ternyata Retno dan Renata menyiksa ayahnya selama ini. Sebelumnya dia tidak ingin tahu tentang ayahnya dan tidak akan tahu jika tidak mendengarnya langsung dari mulut orang suruhannya.


"Bedebah. Kalian memang pantas mati di tanganku. Kalian hancurkan keluargaku, kalian hancurkan keluarga adikku. Aku yakin, kalian jugalah yang membuat ibuku meninggal."


Pusing dengan semua beban di pikirannya, Bagas menyalakan mobilnya menuju ke sebuah bar pelanggannya. Dia memang bukanlah pria baik, tapi dia selalu berusaha baik demi keluarganya.


Lampu diskotik berwarna-warni menyorotinya yang baru saja masuk. Para wanita-wanita malam telah menunggunya dari tadi. Wanita yang selalu memuaskannya ketika Bagas membutuhkannya.


"Ada barang baru, bos. Di jamin masih segel!!" bisik seorang lelaki yang selalu menawarinya wanita malam.


Mendengar masih segel, membuat Bagas tertarik dan penasaran. Wanita seperti apa yang ingin menjual keperawananya padanya.


"Bawa dia ke tempatku!!" perintahnya.

__ADS_1


Bagas berlalu menuju tempat pribadinya. Karena Bar yang dia tempati memanglah miliknya. Dia masuk ke sebuah ruangan yang tidak sembarangan orang bisa masuk.


Disiapkannya dua gelas kosong dan sebotol whiskey untuk menyambut wanitanya. Dia akan melampiaskan kemarahannya pada wanita itu.


Bunyi Bell di luar ruangannya membuatnya menyeringai. Seseorang yang sedang di tunggunya telah datang. Dengan langkah pelan, Bagas menekan kode pintu ruangan nya.


Setelah pintu terbuka, Bagas memicingkan matanya. Melihat seorang wanita seumuran adiknya berdiri memandangnya. Dan di sebelahnya, berdiri seseorang yang menawarinnya tadi.


"Masuk!!" perintahnya, menatap wanita itu.


Hanya cukup melihat dari wajahnya saja, Bagas sudah bisa melihat, wanita itu memang masih perawan. Matanya tetap memandangi wanita yang masih berdiri di depan pintu, tidak berani menatapnya.


"Benarkah kau masih perawan?" tanyanya dengan nada dingin. Membuat wanita itu tersentak di lamunannya.


"Iya, tuan!!" jawabnya gugup.


Entah kenapa, hasrat yang sebelumnya ada mendadak hilang setelah melihat wajah penuh ketakutan wanita di depanya.


"Duduklah dan katakan kepadaku berapa harga keperawananmu?"


"Bisakah ditukar dengan biaya cangkok jantung ayah saya, tuan?"


Begas tersenyum sekaligus heran dengan wanita ini. Mereka sedang tawar menawar harga sebuah keperawanan, seperti menawar sebuah barang.


"Jadi kau menjual keperawananmu demi biaya cangkok jantung ayahmu?" tanya Bagas dan di angguki wanita itu.


Bagas merasa iba pada wanita di depannya yang sedang menundukan wajahnya. Dia enggan menatapnya, sepertinya memang dia ketakutan. 


Dilihat dari wajahnya, sepertinya dia gadis baik-baik. Hanya keadaanlah yang memaksanya nekat dan terjerumus di dunia malam.


"Kau pikir aku akan sudi membeli keperawananmu?" ucap Bagas. Wanita itu langsung memandangnya dengan pandangan memohon dan butiran air bening tiba-tiba menetes di pipinya.


Melihat wanita itu menangis, mengingatkanya pada air mata adiknya. Seketika bagas tersadar, dia bangkit dari duduknya menuju ke sebuah jendela kaca dan menatap dunia malam di luar sana.


"Siapa namamu?" tanyanya dengan suara tercekat, menahan sakit di dadanya. Seburuk apapun Bagas, dia bukan pria brengsek yang akan membeli keperawanan seseorang. Apa lagi wanita lugu yang masih duduk di tempatnya.


"Mita, tuan!!"


"Aku tidak tertarik dengan keperawananmu!!" ucapnya, masih menatap dunia luar di balik jendela kaca yang sepertinya lebih menarik daripada wanita di sampingnya.


"Tapi tuan. Saya mohon bantu saya, tuan. Saya bingung harus dengan cara apa saya bisa mendapatkan uang untuk biaya cangkok jantung ayah saya, tuan. Saya rela menjadi budak anda, asalkan anda mau membantu saya."


Bagas membalikan badanya menatap Mita yang menangis tersedu-sedu. Entah kenapa, tangisan Mita sama persis dengan tangisan Vey adiknya.


"Sepertinya tawaran menjadi budak lebih membuatku tertarik. Baiklah, mulai sekarang kau akan menjadi budakku dan turuti semua perintahku," ucap Bagas dengan seringai liciknya.

__ADS_1


__ADS_2