Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 25


__ADS_3

Pada akhirnya Bagas melepaskan cekikan tanganya di leher Renata. Wanita itu hampir mati di tangan bagas.


"Di sini bukan tempat yang pas untuk wanita iblis sepertimu. Hari ini nyawamu selamat, jangan salahkan jika aku membunuhmu suatu hari nanti," ancam Bagas.


Semua karyawan yang masih menjadi penonton, bergidik ngeri melihat Bagas. Terutama Davin yang tidak mampu berbuat apapun dari tadi.


"Ikut aku, obati lukamu," Bagas menarik tangan Vey, mengajaknya keluar meninggalkan Wings Corporations.


Mata Davin dan semua karyawan tak lepas memandang kepergian Bagas dan Vey. Segala macam dugaan muncul di pikiran masing-masing.


"Mas, tolong aku. Kenapa kau hanya diam saja, padahal aku hampir dibunuh oleh pria gila tadi," rengek Renata.


Pandangan Davin teralihkan menatap Renata. Sorot mata tajamnya terlihat memendam kekesalan. Rasa cemburu serta kemarahan menjadi satu.


Bahkan Davin tidak mengingat hubungan sebenarnya antara Bagas dan Vey. Di pikirannya saat ini, Vey adalah wanita murahan. Bergonta ganti pasangan dan parahnya incarannya adalah petinggi perusahaan semua.


"Memang kau pantas mati, Renata. Kau yang mencari gara-gara, untuk kau tidak dicekik mati olehnya," bentak Davin.


"Mas, kenapa kamu malah marah-marah padaku. Bukankah yang ku katakan semuanya benar? Kau lihat sendiri betapa murahannya sekretaris itu. Tadi malam bersama Devano, hari ini kau baru saja melihat pria tadi membawanya pergi. Lalu besok? Pasti besok wanita itu akan menggodamu," teriak Renata di sisa emosinya.


Bahkan para karyawan membenarkan ucapan Renata. Melihat Vey di bawa Bagas, membuat mereka yakin, Vey memiliki banyak gebetan petinggi perusahaan.


Wajar saja, Ceo mana yang tidak akan tergoda pada sosok Vey. Cantik, pintar, berbody bagus, semua kesempurnaan melekat pada diri Vey.


"Gak nyangka Vey orangnya seperti itu. Kalian lihat sendiri, bahkan kolega bisnis bos kita, hampir semuanya tunduk padanya," bisik salah satu karyawan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Saya menggaji kalian untuk bekerja, bukan ngerumpi. Bubar dan kerjakan pekerjaan kalian masing-masing. Dan kau Renata, lebih baik kau pulang sebelum kesabaranku habis," ucap Davin masuk ke ruangan kerjanya.

__ADS_1


"Sial, kenapa malah aku yang kena marah dia? Awas saja kau Vey, aku akan membalas semua perlakuanmu padaku," gumam Renata bangkit dan meninggalkan lokasi kantor.


"Kakak, kenapa kau bawa aku ke rumah sakit. Ini hanya luka kecil, di olesi obat akan sembuh dengan sendirinya."


Bagas tidak mengindahkan ucapan Vey, bahkan Bagas menggendong adiknya memasuki rumah sakit. Vey semakin di buat malu dengan perlakuan kakaknya.


Orang lain yang melihat mereka berdua, pasti beranggapan mereka adalah sepasang kekasih.


"Sus, tolong obati lukanya," perintah Bagas pada perawat yang lewat di depannya.


Mungkin kebiasaan orang kaya dan orang biasa berbeda. Orang kaya akan membesar besarkan luka kecil dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Berbeda dengan orang biasa, cukup mengoleskan cream pada lukanya.


"Kau terlalu berlebihan, kak!!" ucap Vey.


Diamlah, Vey. Kakak hanya khawatir, lihatlah ulah wanita gila itu padamu!!"


"Gak, kak. Ini belum saatnya yang tepat, aku takut akan berpengaruh pada mental suamiku. Kau tahu sendiri keadaannya bagaimana? Ditambah efek dari ramuan pemberian Renata sepertinya masih ada pada dirinya."


"Ramuan apa? bukankah Mita sudah menukarnya. Orang amnesia memang susah dipulihkan. Walaupun kita belum menemukan obat yang tepat, setidaknya dia telah berhenti mengkonsumsi ramuan itu. Perlahan Davin akan mengingat semuanya, dan itu tugasmu untuk memancing ingatannya, bukan malah membiarkannya begitu saja."


"Kak, aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Setiap kali aku hampir berhasil menundukan suamiku, obat dari Renata membuat usahaku sia-sia. Jika saat ini dia tidak mengkonsumsinya lagi, apakah jangan-jangan ada kerusakan lain di otak suamiku, kak?"


Vey semakin panik dengan dugaan-dugaannya. Dia merasa takut, jika obat itu membawa efek buruk pada otak Davin.


"Tenanglah, buang jauh-jauh fikiranmu, Vey. Kakak sudah menyuruh seseorang ke negri china. Kakak berharap di sana ada obat yang tepat untuk menolong suamimu. Dan satu hal lagi, bagaimana bisa kau berkelahi dengan wanita gila itu?"


"Semua berawal dari tersebarnya foto-fotoku bersama pak Devano semalam. Di foto itu seolah memperlihatkan aku dan pak Devano sedang berbuat mesum di dalam mobil. Padahal pak Devano hanya mengobati luka-lukaku."

__ADS_1


Vey terus melanjutkan ceritanya, walaupun dia mengaduh kesakitan saat perawat mengobati lukanya.


"Lihatlah lukaku semalam belum sembuh, wanita itu menambah banyak luka-luka di kulitku. Aku yakin penyebar foto-foto itu tak lain adalah Renata."


Bagas mengambil kesimpulan pada cerita adiknya. "Bagus, lebih baik kau pura-pura memiliki hubungan dengan Devano, suamimu pasti cemburu," ucap Bagas.


"Hei, kau malah mendukung perbuatan salah, kak. Aku saja masih berpikir, setelah kejadian tadi, pasti suamiku berpikir lain padaku. Apalagi kedatanganmu, dia tidak ingat bahwa kamu adalah kakakku."


Bagas duduk di sofa yang terletak di pojok ruangan. Dia membuka ponselnya, sesekali menanggapi ucapan Vey yang masih di obati lukanya oleh perawat.


"Anggap saja terapi untuk suamimu, dan lihat apakah dia cemburu. Dia melupakanmu sebagai istrinya, tetapi ku lihat dia menaruh perasaan padamu dalam status yang sekarang. Tetap rayu dia, buat dia menyingkirkan kutu-kutu busuk di rumah kalian," ucap Bagas enteng.


Vey turun dari ranjang, setelah perawat selesai mengobati lukanya. "Antar aku kembali ke kantor," pinta Vey. Bagas bangkit dari duduknya  menghampiri Vey.


"Apa urat malumu sudah putus? Lihatlah wajahmu yang tak berbentuk. Tidak usah kembali ke kantor, hari ini kamu harus pulang dan istirahat. Kau tahu, hari ini aku sampai mengundur jadwal meeting hanya karena ulah gilamu dengan wanita itu."


"Tapi aku tidak memintamu datang, kak," ucap Vey, merasa tidak bersalah.


"Kalau aku tidak datang tepat waktu, kau akan mati di cekiknya. Bahkan suamimu yang tidak berguna itu hanya diam saja. Dan satu lagi, pecat karyawan yang tidak berguna di perusahaan. Mereka hanya berdiri menjadi penonton saat kau hampir mati dicekik," ucap Bagas dengan emosinya.


Vey mendekat mengelus dada kakaknya agar emosi kakaknya mereda. "Tenanglah, aku sudah memasukan nama-nama mereka di daftar list orang-orang yang akan kupecat.


"Bagus, sekarang kau ku antar pulang, ingat pesan kakak, kau harus beristirahat dan jangan bekerja sampai lukamu sembuh.


Bahkan perintah Bagas adalah perintah mutlak yang tidak bisa di bantah. Vey tahu, sikap kakaknya karena Bagas terlalu menyayanginya. Soal Davin, Vey akan memikirkannya nanti. Pasti sikap suaminya akan berubah kepadanya.


Vey telah duduk di kursi samping kemudi. Sedangkan kakaknya belum juga masuk ke dalam mobilnya. Vey memperhatikan kakaknya masih menelpon seseorang, entah dia sendiri tidak tahu.

__ADS_1


"Beri pelajaran yang setimpal untuk si iblis betina itu sekarang juga," perintah bagas pada seseorang lewat sambungan teleponnya.


__ADS_2