
Sepulang dari shoping, Renata dan Retno bergegas kembali ke rumah sebelum Davin pulang dari kantornya. Mereka menyadari sesuatu yang tidak beres telah terjadi.
"Apakah ramuan ini sudah tidak manjur, ma? kenapa Davin bisa tiba-tiba menanyakan perihal kecelakaannya? Bagaimana dia bisa tahu? Pokoknya aku tidak mau sampai Davin mengingat masa lalunya."
"Tenang Renata. Dari tadi kau uring-uringan terus gak ada diamnya. Mama pusing mendengarmu ngomel terus-menerus."
Retno mengecek wadah obatnya sama dan tidak ada yang berubah. Isinya pun juga sama, bahkan kadaluarsanya masih lama. Dia juga heran, bagaimana bisa ramuan itu tidak lagi manjur.
"Apa perlu kita mencari ramuan yang dosisnya lebih tinggi, pasti lebih manjur," ucap Retno.
"Ma, bisa rusak otak Davin kalau diberi dosis tinggi. Kalau dia mati bagaimana? Mama jangan aneh-aneh, deh."
"Bodoh! Biar saja Davin mati asal hartanya jatuh di tangan kita. Kamu masih bisa mencari pria yang lebih tampan dan mapan daripada Davin."
Sebenarnya Renata tidak setuju dengan ucapan ibunya. Retno selalu mengorbankan dirinya demi harta. Berapa lelaki yang harus Renata jadikan korban demi ambisi ingin kaya ibunya.
Sebenarnya lelaki yang dulu dia cintai adalah Devano. Karena ambisi ibunya, Renata tega menguasai harta Devano lalu meninggalkannya saat jatuh miskin.
Sebenarnya Renata malu, tempo hari dipertemukan kembali dengan mantan suaminya. Apa lagi mantan suaminya saat ini bangkit, bahkan lebih kaya daripada Davin.
"Tidak semudah yang mama kira, selagi Vey masih berstatus istri sah Davin. Jikapun Davin mati, pasti harta Davin akan jatuh di tangan istri sahnya, ma."
"Itu tugasmu, kamu harus segera hamil. Anak yang kamu lahirkan akan mewarisi semua harta Davin," ucap Retno masih dengan egonya.
Renata menatap ibunya, ada satu hal pada dirinya yang dilupakan oleh ibunya. Bahkan mendadak hatinya meradang mengingat hal itu.
__ADS_1
"Mama lupa, aku mandul, ma. Bagaimana mungkin aku hamil?" ucap Renata dengan nada tinggi.
Tapi namanya Retno tetaplah pada egonya. Masih memiliki ribuan cara, jika cara satu tidak bisa digunakan. Wanita licik tetaplah menggunakan akalnya untuk kelicikan.
"Bodoh, kau bisa pura-pura hamil dan soal anak, kita bisa mengadopsi bayi dari panti asuhan secara diam-diam. Yang terpenting harta Davin bisa jatuh di tangan kita. Atau kalau kamu tidak mau, cari tahu berkas-berkas perusahaan dan pindahkan atas namamu."
Dari balik pintu kamar Retno, Mita mendengarkan pembahasan antara ibu dan anak. Dia tidak habis pikir dengan kelicikan wanita yang berstatus majikannya.
"Tidak bisa dibiarkan, aku akan segera memberi tahu pak Bagas," gumam Mita.
Davin telah meninggalkan kantornya. Dia tidak langsung pulang ke rumah, melainkan pergi ke clinic Hendrik. Dia rasa, pusing di kepalanya adalah efek dari racun yang masih tersisa di tubuhnya.
Mengenai bayangan samar yang melintas di pikirannya, dia akan berkonsultasi pada dokter spesialis saraf. Bahkan semua mimpi-mimpinya tentang hal yang menjurus ke masa lalunya.
Disisi lain, dia baru pertama meminta bantuan pada orang-orang yang ahli dalam penyelidikan. Dia menyuruh mereka mencari tahu tentang almarhum istrinya dan di mana dia di makamkan.
Mobil Davin telah berhenti di depan klinik milik Hendrik. Untung saja clinic itu buka 24 jam, jadi setiap saat Davin masih bisa berkunjung.
Davin turun dari mobilnya, dari ambang pintu Hendrik sudah menyambut kedatangannya. Bahkan Haris si tukang bakso yang menyelamatkannya kebetulan juga ada di sana.
"Mas Davi, bagaimana kabar anda?" sapa Hendri dan Haris bersamaan.
"Baik, mas!!" sahut Davin. Mereka mempersilahkan Davin masuk. Karena tidak ingin mengulur waktu, Davin langsung menyampaikan tujuannya datang clinik.
"Dari semua yang mas katakan, saya dapat menyimpulkan. Pusing yang mas Davin alami bukan efek dari racun di tubuh anda. Melainkan racun itu mulai menghilang dan anda mulai mengingat masa lalu," ujar Hendrik berpendapat.
__ADS_1
"Tapi anehnya bayangan yang saya lihat samar dan tidak jelas," ucap Davin memotong ucapan Hendrik.
Hendrik meminta Davin mengikutinya masuk ke ruang praktek. Dia akan membantu membuang sisa racun di tubuh Davin.
"Saya akan membantu mengeluarkan racun serta memancing kinerja syaraf otak anda. Tetapi seperti saran saya kemarin, anda tetap harus konsultasi pada dokter bagian saraf. Karena alat-alat yang dimiliki dokter, dapat melihat kondisi bagian dalam saraf anda."
Davin mengangguk, memang besok dia berencana ke dokter spesialis syaraf. Dia tidak peduli berapapun biayanya, yang penting dia bisa sembuh. Tidak ada siapapun yang bisa menolongnya kecuali dia bertindak sendiri.
Kedua orang tuanya sudah tiada, bahkan dia tidak memiliki saudara. Dulu yang dia punya hanyalah Vey yang selalu menemaninya. Tetapi untuk saat ini Davin masih belum mengingat Vey. Jangankan mengingat Vey, isi kepalanya hanya ada masa saat ini dan menghapus memori masa lalu.
Entah jenis amnesia semacam apa yang Davin alami. Atau mungkin syarafnya telah rusak akibat dari mengkonsumsi ramuan pemberian Renata dan ibunya.
Davin meringis kesakitan. Ternyata terapi jarum tak seperti yang dia bayangkan. Dalam keadaan sadar, efeknya sangat sakit. Jarum-jarum itu menancap di bagian kepalanya. Seolah bagaikan terkena sengatan listrik, begitulah yang dia rasakan saat ini.
Namun tidak berlangsung lama, cukup setengah jam, terapi itu telah selesai. Davin bisa melihat sendiri hasil dari terapi. Di sana memperlihatkan racun-racun berwarna hitam yang keluar dari tubuhnya. Tetapi tidak sehitam sebelumnya, lebih ke abu-abuan. Apa artinya racun di tubuh Davin sudah mulai hilang.
"Kurang sedikit lagi, racun-racun di tubuh anda akan hilang, mas. Kemarin racun ini berwarna hitam, hari ini berwarna abu-abu. Mas harus terapi sampai jarum ini bersih tanpa warna apapun. Itu bisa dikatakan, mas Davin telah terbebas dari racun-racun di tubuh mas Davin," ujar Hendrik.
"Entah apa yang harus saya ucapkan pada anda. Saya sangat berterima kasih pada anda dan juga mas Haris. Jika saya tidak dipertemukan dengan kalian, entah apa yang terjadi pada diri saya," ucap Davin. Dia merasa bersyukur, Tuhan telah mempertemukannya dengan dua orang yang menolongnya.
"Bukankah kita sebagai manusia harus saling menolong, mas? Ini semua belum seberapa. Mas Davin bisa terbebas dari racun di tubuh Mas. Tapi soal amnesia yang mas Davin alami, sepertinya membutuhkan waktu untuk pemulihannya. Bersabarlah, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini asal kita terus berusaha," ujar Hendri melanjutkan ucapannya tadi.
Hendrik juga menyarankan Davin agar lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi obat-obatan yang bukan resep dari dokter. mengkonsumsi obat-obatan asal-asalan sangat membahayakan diri sendiri.
"Tapi tunangan saya selalu memberi obat dan saya tidak tahu obat apa itu, mas. Tapi katanya, obat itu adalah vitamin kesehatan pria!!"
__ADS_1
"Berapa lama anda mengkonsumsi? Lebih baik anda tanyakan ke dokter spesialis, untuk keterangan lebih lanjut, mas. Saran saya hanya seperti itu, mengingat racun di tubuh mas Davin cukup banyak, jangan mengkonsumsi obat berlabel apapun kecuali resep dari dokter," Hendrik tak hentinya menjelaskan agar Davin menerapkan