
"Sayang, sebenarnya aku masih ingin di sini. tapi gara-gara adikku dan permintaannya itu, terpaksa kita harus kembali ke Indonesia. Lagi pula kondisimu sudah membaik dan dokter mengijinkan kamu pulang!!" ucap Bagas lembut, memberitahu Mita.
Mita menatap wajah Bagas. Kini dia semakin berani menatap wajah calon suaminya itu. Seperti janji Bagas Sebelumnya dia akan mengubah sikapnya, setelah Mita sadar dari komanya. Ternyata Bagas benar-benar menepati ucapannya. Sikap lelaki itu tidak lagi seperti Patung Pancoran yang kaku.
Sikapnya melunak dan lembut, sehingga Mita tidak lagi merasa takut di dekatnya. Bahkan Gadis itu semakin merasa nyaman di dekat Bagas. Bagas pun tak kalah merasa nyaman dengan sikap Mita yang sekarang.
"Baiklah kita kembali ke Indonesia saja, yang. Lagipula aku sangat merindukan Ayahku dan yang lain!!" ucap Mita semakin Luwes memanggil Bagas dengan panggilan sayang.
Dari hari ke hari mereka berdua semakin mesra. Bagan Sikap mereka yang dulu hilang entah ke mana.
Bagas membantu Mita mengemasi barang-barangnya. Sedangkan Mita hanya disuruh duduk saja tidak diperbolehkan mengerjakan apapun karena dia baru saja sembuh dari sakitnya.
Mita tersenyum dan hanya memperhatikan calon suaminya. Mita yang sekarang semakin gemah dengan pria itu. Bagas memperlakukannya layaknya seorang putri. Seolah tidak membiarkan tubuhnya lecet sedikitpun.
"Kita akan melakukan perjalanan pukul 02.00 siang hari ini. Sengaja aku tidak memberitahu Vey, Davin dan yang lainnya agar kedatangan kita menjadi surprise untuk mereka. Untuk permintaan Vey, aku membelikannya laksa instan saja, yang penting made in Singapura. Lagi pula di bandara tidak akan diperbolehkan membawa makanan semacam itu."
Mita terkekeh mendengar ucapan Bagas. Dia menerawang jika dirinya di posisi Vey, Apakah Bagas juga akan bersikap yang sama.
Mita melamun sehingga dia tidak mendengar panggilan Bagas. Bagas mendekatkan wajahnya, berjarak 1 cm sehingga membuat Gadis itu terkejut.
"Astaga sayang, kau membuatku terkejut!!"
__ADS_1
Bagas tidak menjauh, dia tetap memandang wajah Mita. Seolah dia ingin menanyakan sesuatu yang sedang dipikirkan Mita.
"Apa yang sedang kau lamunkan? Ayo ceritakan padaku!!"
Mita tergagap, tidak mungkin dia menceritakan perihal yang dilamunkan pada Bagas. Dia menyangkal, tetap berkata bahwa dia tidak sedang melamun. Tapi Bagas tidak percaya dan tetap menunggu sampai Mita menceritakan lamunannya padanya.
Melihat semburat merah di wajah Mita membuat Bagas menerka-nerka. Pasti Mita sedang membayangkan yang tidak tidak. Bagas mulai menggodanya, memaksa Mita menceritakan semua lamunannya kepadanya.
Dengan menahan malu, akhirnya Mita menceritakan semua lamunannya kepada Bagas. Bagas sampai menahan senyum ketika mendengar cerita Mita.
"Janji jangan di ketawa ya, sayang. Aku tadi membayangkan ketika kita sudah menikah lalu aku hamil dan ngidam seperti Vey. Terus aku minta ini itu dan kamu selalu menuruti kemauanku. Duh, betapa senangnya dan bahagianya aku di manjain kamu!!" ucap Mita saking semangatnya hingga dia tidak sadar Bagas menatapnya sangat dekat.
Setelah dia tersadar, gadis itu terkejut dan mencoba menjauhkan wajahnya dari Bagas. Tapi Bagas menahan tubuhnya dan mengunci tubuhnya menggunakan kedua tangannya.
"Oh, jadi rupanya kau sudah tidak sabar ingin cepat hamil seperti Vey? Bagaimana kalau kita mencicilnya saja sekarang, sayang? Dijamin sekali main langsung jadi!!" goda Bagas menahan tawanya melihat ekspresi ketakutan di wajah Mita.
Calon istrinya itu adalah gadis yang sangat polos. Jadi, jika Bagas membahas sesuatu yang intim, maka dia akan ketakutan. Entahlah bagaimana malam pertama mereka nantinya setelah menikah. Apakah Mita akan kabur di malam pertamanya karena ketakutan melihat ular piton milik Bagas.
"Jangan membahas yang macam-macam. Ingat kata Vey, kita tidak boleh macam-macam sebelum menikah!!" ucap Mita mendorong Bagas sedikit menjauh dari wajahnya.
"Gak macam-macam, kok. Lagian siapa yang macam-macam sih? Kan cuma satu macam, sayang. Lagian kan aku tanya ke kamu, kalau iya ayuk, kalau tidak ya gak kita lakukan, hehehe. Tapi beneran kamu gak pengen nyicil? Enak loh, yank!!" goda Bagas sekali lagi.
__ADS_1
"Siapa bilang enak? Kata Vey sakit. Kamu jangan bohongi aku, ya!!"
Bagas mendengus kesal, sepertinya adiknya sudah meracuni pikiran calon istrinya. Tapi dia merasa bersyukur, Mita memiliki pendirian yang kuat.
Dulu, awal mereka bertemu, gadis itu rela menjual keperawanannya pada Bagas. Untung saja yang ditawari adalah Bagas. Jika orang lain, mungkin gadis sepolos Mita sudah rusak.
Tapi, di jual ataupun tidak, pada akhirnya tetap Bagas lah pemiliknya. Sebentar lagi mereka akan menikah, itu artinya semua yang dimiliki Mita akan menjadi miliknya, pun semua yang dimiliki Bagas akan menjadi milik Mita.
"Vey membohongimu. Awalnya memang sakit, tapi lama-lama enak dan bikin nagih. Beneran tidak mau mencobanya sekarang? Kalau kamu mau, aku sudah siap loh!!" Bagas tak henti-hentinya menggoda Mita.
Kepolosan yang dimiliki Mita membuatnya senang untuk terus menggodanya. Apalagi wajah Mita saat ini sudah bersemu merah menahan malu. Sangat menggemaskan sehingga Bagas tak tahan untuk tidak menciumnya.
"Sayang, jangan macam-macam, ini rumah sakit!!" ucap Mita di saat Bagas hendak menciumnya.
"Apa sih yank? ini ruangan VIP, jadi tidak sembarangan orang bisa masuk ke sini. Lagian siapa yang mau macam-macam, sih? Aku cuma ingin menciummu, tidak untuk hal lain!!"
Mata Mita melirik ke kanan dan ke kiri dan benar saja di ruangan itu hanya ada dirinya dan Bagas. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke ruangan itu.
Karena tidak ada respon dari Mita, Bagas yang tak tahan pun langsung menyambar bibir ranum milik calon istrinya.
Hanya ciuman bibir, tidak untuk yang lainnya yang disebut Mita dengan sebutan macam-macam.
__ADS_1
Tapi ciuman bibir yang dilakukan Bagas dan Mita bermacam-macam gaya. Tetap saja judulnya mereka sedang macam-macam.