Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 36


__ADS_3

"Pak Davin. Ternyata anda di sini juga?" sapa Vey dan juga Devano.


Ternyata orang yang duduk di kursi belakang Devano tak lain adalah Davin. Dia seperti tersenyum terpaksa, memandang Vey dan Devano secara bergantian.


"Bukannya pak Davin dan mbak Renata tadi keluar bersama? Lalu di mana mbak Renata, pak?" Tanya Vey, mengalihkan keterkejutannya.


"Sudah pulang!!" jawabnya singkat dengan wajah datarnya.


Devano dan Vey saling pandang setelah melihat sikap Davin pada mereka. Seolah apa yang dipikirkan Devano sama seperti yang dipikirkan Vey.


"Jam istirahat telah habis. Maaf pak Devano, saya harus membawa secretaris saya kembali lagi ke kantor.


Vey langsung melihat jam tangannya. Belum juga dia memesan makan siang, Davin sudah memintanya kembali ke kantor. Devano yang paham pun mempersilahkan Davin membawa pergi sekretarisnya.


Seolah seperti pasangan yang posesif, Davin memegang pergelangan tangan Vey, mengajaknya kembali ke kantor. Devano menggeleng seraya tersenyum, melihat sikap kolega bisnisnya.


"Pak Davin. Saya kira pak Davin tidak kembali ke kantor!!" ucap Vey, ketika dirinya telah duduk di kursi samping kemudi.


"Jadi kamu memanfaatkan jam kosong untuk pacaran? Ini masih jam kerja, dan siapa yang mengizinkan kamu keluar kantor di jam kerja?" tegur Davin.


"Huff!!" begitulah respon Vey sambil mengelus dada. Suaminya telah kembali pada mode possesive dan tukang protes dan tukang ngatur.


Tidak ada percakapan antara mereka berdua setelah itu. Tiba-tiba Davin mengeluh kepalanya pusing. Dia menghentikan mobilnya di depan Alfamart.


"Pak Davin kenapa? Apa kepala pak Davin sakit lagi?" tanya Vey merasa khawatir.


Davin meminta Vey, menggantikannya menyetir mobil. Vey langsung terdiam, bukan berarti dia tidak mau ataupun tidak bisa mengemudi mobil. Dia sangat jago mengemudi mobil, tetapi dia memiliki trauma.


"Gantikan saya menyetir mobil!!" perintah Davin.


Bahkan Davin telah keluar dari mobil, berpindah posisi di kursi yang tadinya di duduki Vey. Kini Vey telah bergeser di kursi kemudi. Tangannya berkeringat dingin ketika menyentuh stir racing mobil.


"Sayang, rem mobilmu kenapa tidak berfungsi?" ucap Davin, ketika matanya melihat mobil besar dari arah belakang yang hendak mendahuluinya. Saking fokusnya pada mobil yang akan mendahului mobilnya, Davin tidak melihat ada truk besar dari arah Depan.

__ADS_1


"Mas Dav, awas!!" teriak Vey.


"Tidaaaak!!'' teriak Vey menutup matanya. Davin yang masih merasa pusing pun mengalihkan pandangannya menatap Vey.


"Kamu kenapa Vey?" tanya Davin. Dia melihat Vey masih menutup mata menggunakan kedua telapak tangannya. Keringat dingin bercucuran dari dahinya, membasahi wajahnya.


"Jangan meminta saya mengemudi, pak. Saya takut, saya belum siap," ucapnya masih menutup matanya.


"Hey, kamu kenapa Vey? Apa yang terjadi denganmu?" tanya Davin. Merasa tidak ada jawaban Dari Vey, Davin memutuskan mengambil alih kembali kemudinya.


Vey membuka matanya, menyingkirkan kedua telapak tangannya yang menutupi wajahnya. Dia memegang tangan Davin, ketika Davin hendak keluar dari dalam mobilnya.


"Jangan, pak. Kepala anda sedang sakit, lebih baik kita naik taxi, biarkan saja mobil ini di parkir sementara di sini. Keselamatan kita lebih utama daripada mobil ini."


Davin menimbang-nimbang ucapan Vey memang ada benarnya. Dia memanggil tukang parkir, memberinya selembar uang seratus ribu sebagai uang titip mobilnya untuk beberapa waktu sampai sakit kepalanya menghilang.


Mereka tidak langsung keluar dari mobil, Vey masih menetralkan dirinya. Davin keluar dari mobil, memasuki mini market. Dia membeli sebotol air mineral untuk Vey.


Tak lama dia kembali masuk ke dalam mobil, memberikan sebotol air mineral pada Vey. Vey tersenyum menerima sebotol air mineral dari suaminya. Perhatian kecil dari Davin sudah cukup membuat Vey tersenyum bahagia.


Davin mengangguk, dia juga memperhatikan dari mulai Vey membuka tutup botol air mineral hingga meminumnya hampir setengah botol.


"Katakan padaku, apakah kamu memiliki trauma? Kenapa kamu terlihat takut mengemudi mobil? Atau, kamu tidak bisa mengemudi mobil?"


Vey menatap Davin, dia bingung bagaimana dia menjelaskannya pada Davin. Trauma yang dialaminya juga ada sangkut pautnya dengan Davin.


"Saya memiliki trauma mengemudi mobil, pak. Saya pernah kecelakaan dan hampir merenggut nyawa saya."


Vey melirik respon suaminya, terlihat Davin seperti sedang memikirkan sesuatu. Vey berharap Davin mengingat kejadian kecelakaan itu. Tapi sepertinya suaminya bersikap biasa-biasa saja.


"Oh, jadi kecelakaan itu membuatmu trauma?" ucap Davin mengusap-usap Dagunya sambil berfikir.


"Dan suami saya melupakan saya setelah kecelakaan itu terjadi!!" sambung Vey, melanjutkan ucapannya dan membuat Davin menatapnya penuh tanya.

__ADS_1


"Suami? Jadi kamu masih memiliki suami?" respon Davin kemudian, Vey mengangguk, lalu melanjutkan ucapannya, berharap Davin mengingatnya.


"Suami saya mengalami amnesia yang cukup parah, pak. Dia melupakan saya, dia tidak mengingat saya sebagai istrinya dan kami kehilangan calon bayi kami setelah kecelakaan maut yang menimpa kami."


"Jadi pada saat kejadian itu, kau sedang hamil?" tanya Davin, di angguki Vey.


Vey terus menatap suaminya yang masih belum terpancing dengan ceritanya. Sampai dia mengusap wajahnya karena frustasi. Bahkan ceritanya tidak mampu memancing ingatan Davin.


"Sudahlah, pak. Lebih baik kita kembali ke kantor sekarang!!" ucapnya kesal. Dia keluar lebih dulu dari mobil dan menghentikan taxi. Disusul Davin berlari mengikuti Vey. Mereka memasuki taxi, duduk berdampingan di kursi penumpang.


Di dalam taxi mereka hanya diam, berada pada pikiran masing-masing. Vey memalingkan mukanya, pandangannya berfokus pada lalu lalang mobil di luar sana. Sedangkan Davin masih memikirkan semua cerita Vey tadi. Hingga mereka tiba di Wings Corporation.


Vey berlalu meninggalkan Davin begitu saja. Sedangkan Davin masih berdiri di lobby kantor, menimbang-nimbang cerita Vey tadi.


"Trauma, amnesia, kecelakaan, kehilangan bayi," ucapnya tanpa sadar. Dan semua hal itu bagaikan kaset yang berputar di kepalanya.


"Trauma, amnesia, kecelakaan, kehilangan bayi," kata-kata itu terus terngiang-ngiang di pikiran Davin hingga berkali-kali, membuat kepalanya kembali sakit.


Davin berjongkok sambil memegangi kepalanya yang terasa ingin pecah saat itu juga. Security penjaga kantor berlari menghampiri Davin.


"Pak Davin. Anda kenapa, pak?" tanya si security panik, melihat bosnya berjongkok memegangi kepalanya terlihat seperti kesakitan.


"Mas Dav, awas!!''


"Mas, kita sebentar lagi akan punya anak, aku positif hamil!!''


Kilasan bayangan buram pada waktu kecelakaan itu terlintas di pikiran Davin. Davin semakin mengaduh kesakitan, bahkan dia berteriak-teriak merasakan rasa sakit. Si security semakin panik, tak lama Davin pun pingsan.


Semua karyawan berlarian melihat Davin, setelah mendengar kabar dari karyawan satu ke yang lain.


"Ada apa? Kalian mau kemana?" tanya Vey.


"Pak Davin pingsan di lobby, mbak Vey!!" ucap Rizal memberitahu Vey.

__ADS_1


"Apa?" Vey terkejut dan ikut berlari bersama karyawan lain menuju lobby. Sesampainya di sana, Vey berteriak menyuruh salah satu karyawan memanggil ambulan.


"Mas Davin, bangun mas!!" Vey menangisi kondisi suaminya yang tidak sadarkan diri. Dia tidak sadar semua mata karyawan menyaksikannya bahkan mendengarnya memanggil Davin dengan panggilan Mas Davin.


__ADS_2