
"Minumlah!!" Renata memberi Davin obat seperti biasannya.
Emosi Davin naik seketika, melihat obat di tangannya pemberian dari Renata. Bahkan dia sudah tahu selama ini dirinya di beri obat pencuci otak oleh Renata dan Retno. Bagas telah menceritakan semua pada nya tanpa terkecuali.
Davin masih melihatnya saja enggan meminumnya. Dia masih ragu, masih menimbang-nimbang ucapan Bagas mengenai obat itu.
"Kau tak perlu khawatir karena obat itu sudah ku tukar dan obat aslinya sudah ku buang. Asisten rumah tangga di rumahmu yang bernama Mita adalah orang ku. Jadi kamu tidak perlu khawatir, hanya Renata dan Retno lah setan di rumahmu. Selebihnya berhati-hatilah, dua wanita itu sangatlah licik."
Setelah mengingat ucapan Bagas, Davin meminum obat di tangannya. Obat itu hanyalah suplemen daya tahan tubuh biasa.
Renata tersenyum dengan seringai liciknya. Davin bisa melihatnya dari sudut matanya. Setelah meminum obat itu dan segelas air putih pun tandas tak tersisa. Davin memberikan kembali gelas itu pada Renata.
"Apa kau sering pusing akhir-akhir ini, sayang?" Renata penasaran dan ingin memancing Davin. Tapi Davin faham maksud pertanyaan Renata hanya untuk mengetes kondisi amnesianya saja.
"Tidak lagi, bahkan aku sendiri tidak mampu mengingat apapun selain sesuatu yang baru terjadi. Davin berbohong, yang benar dia sudah sembuh total.
Davin telah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia akan pergi ke kantor, karena kantor lebih membuatnya nyaman daripada rumahnya.
Davin menyambar tas kerja serta kunci mobilnya. Dia tidak ingin berlama-lama di rumahnya apa lagi bersama Renata.
"Apa kau akan berangkat sepagi ini? Kenapa akhir-akhir ini kau berangkat pagi-pagi sekali?" Renata bertanya pada Davin yang telah berada di ambang pintu hendak keluar.
"Pekerjaanku banyak. Kau sendiri tahu, saat ini aku tidak memiliki secretaris!!" jawab Davin.
"Apakah kamu memerlukan bantuanku, sayang?"
"Aku bisa mengerjakan sendiri, tahu apa kamu soal perusahaan," respon Davin, bersikap dingin dan datar seolah dia sangat malas untuk berinteraksi dengan Renata.
"Kenapa kamu ketus sekali? Aku kan hanya ingin membantumu, sayang!!" ucap Renata, merubah ekspresinya nampak sedih setelah mendengar jawaban ketus Davin.
__ADS_1
Seolah-olah Renata sedang mencemaskannya dan ingin membantunya. Padahal hanya alasannya saja supaya dia bisa ikut Davin ke kantor.
Davin mengusap wajahnya kasar, dia lupa saat ini dia masih harus bersandiwara.
"Maafkan aku," ucap Davin memeluk Renata, agar wanita itu tidak curiga.
Menghadapi musuh memang seharusnya menggunakan trik halus. Tapi nanya lelaki mana bisa bersikap halus apa lagi pada orang yang menghancurkan rumah tangganya dan mencoba membunuh istrinya.
"Kapan kamu akan cek kandungan? Aku akan mengantarmu!!" tanya Davin, giliran memancing Renata. Nampak jelas keterkejutan di wajah Renata, seolah takut ketahuan akan kebohongannya.
"Kenapa kamu terkejut?" tanya Davin santai, tetapi merupakan sebuah ancaman bagi Renata.
"Tidak, sayang!!" jawab Renata terbata, mengontrol rasa takutnya.
"Lalu kenapa kamu seperti terkejut dan ketakutan? Apa kau tidak ingin ku antar? Aku juga ingin melihat kondisi anaku," ucap Davin, menekankan kata anak.
Renata menggeleng, dia masih memiliki segudang alasan. Kebohongannya akan terungkap jika sampai Davin mengantarnya cek up di dokter kandungan.
Kalau tidak teringat ucapan Bagas, pasti Davin akan mencekik Renata. Menyeretnya ke dokter kandungan dan membongkar kebohongannya. Menyebarkan bukti-bukti kejahatannya selama ini dan melemparnya ke dalam sel tahanan.
"Lain kali saja, sayang. Bukankah katamu tadi pekerjaanmu banyak di kantor? Aku tidak ingin mengganggumu. Lagi pula masih ada mama, dia bisa menemaniku cek up. Soal hasil akan kuberitahu padamu nanti."
"Aku tidak menginginkan hasil kehamilan palsumu Renata. Yang aku inginkan secepatnya kamu membayar lunas semua perbuatanmu kepadaku, kepada istriku dan anak kami yang meninggal karena perbuatanmu," gumam Davin di dalam hatinya.
Davin menarik nafas panjang kemudian menatap Renata kembali. "Baiklah kalau itu maumu, tapi kirimi hasil cek up padaku nanti."
Renata mengangguk seraya tersenyum puas. Ternyata tidak sia-sia dia merayu Davin, akhirnya Davin mengurungkan niatnya untuk menemaninya cek up.
"Aku pergi, jaga diri baik-baik dan jaga calon bayi kita!!" ucap Davin lain di mulut lain di hati.
__ADS_1
"Dasar wanita licik!!" desisnya pelan setelah berada di dalam mobil. Davin langsung tancap gas, keluar dari gerbang rumahnya.
Dia tidak langsung menuju kantor, dia akan pergi ke apartemen yang dulu ditempati istrinya. Davin yakin istrinya masih tinggal di apartemen itu. Dia tidak peduli dengan larangan Bagas. Rasa rindunya dan ingin bertemu istrinya lebih besar dan tidak bisa ditahan lagi.
Tak hanya itu, Davin membelikan bunga lili kesukaan istrinya. Membayangkan wajah bahagia istrinya ketika menerimanya.
Mobil Davin memasuki kawasan apartemen elite. Memarkirkan mobilnya di basement apartemen. Dengan penuh semangat dan senyuman yang tercetak indah di wajahnya, Davin keluar dari mobilnya membawa buket bunga lili untuk Vey.
Suasana basement nampak sepi, hanya tersisa satu dua mobil yang terlihat di matanya. Langkah kakinya menuju pintu utama, menyapa security yang telah mengenalnya.
"Selamat pagi, mas. Lama tidak kesini, bagaimana kabarnya?" sapa si security.
"Baik, mas. Apakah wanita yang menempati apartemen nomor 202 lantai 2f keluar? Maksudku dia masih di atas atau sudah turun keluar?" tanya Davin memastikan.
"Oh, mbak cantik adiknya mas Bagas, ya? Sepertinya belum turun, mas!!" jawab si security.
"Lalu Bagas?" tanya Davin sekali lagi untuk memastikan.
Nampak si security mengingat-ingat, kemudian dia menjawab pertanyaan dari Davin. "Beberapa hari ini sepertinya mas Bagas tidak kesini, mas. Dulu dia sering kesini dan tinggal ke sini. Entah kenapa sekarang jadi jarang kesini, mungkin karena apartemennya sekarang ditempati adiknya."
"Bagus, kedatanganku sangat tepat!!" ucap Davin lirih sembari tersenyum senang. Seolah semangatnya bertambah lagi setelah mengetahui Bagas tidak ada di sini.
Davin tersenyum dan berterima kasih kepada si mas security. Dia memberikan tips atau uang tutup mulut agar tidak memberitahu Bagas perihal kedatangannya ke situ.
Betapa senangnya si security, seperti kejatuhan rejeki nomplok. Davin memberinya uang ratusan ribu bukan hanya satu lembar, melainkan sepuluh lembar yang artinya berjumlah satu juta.
"Terimakasih mas Davin. Sering-sering ke mari, mas. Soal tutup mulut pasti aman, saya bisa dipercaya," ucapnya sambil menghitung uang yang berjumlah satu juta itu.
Davin tersenyum dan memberi kode lewat jarinya membentuk lambang "oke". Dengan langkah penuh semangat, Davin memasuki lift menuju lantai 2, tempat istrinya berada.
__ADS_1
Tanpa dia tahu, Bagas sedari tadi melihatnya mulai dari basement apartemen.
"Senang, dapat uang banyak?" ucap Bagas, membuat security yang masih memandangi uang pemberian Davin pun terkejut.