
"Senang, dapat uang banyak?" ucap Bagas, membuat security yang masih memandangi uang pemberian Davin pun terkejut.
Bagas berdiri tepat di depan si security dengan posisi tangan dilipat di dada. Jangan dibayangkan ekspresi si security tersebut, sudah jelas dia terkejut dan segera menyembunyikan uang pemberian Davin.
"Jaga keamanan, jangan biarkan orang lain masuk di apartemen ini kecuali orang yang memberimu uang, tadi!!" ucap Bagas, di luar dugaan si security.
Bagas hanya berpesan itu saja, setelahnya dia pergi. Si security tersebut langsung mengelus dadanya, untung Bagas tidak memarahinya.
Sedangkan Davin berdiri di depan pintu apartemen istrinya. Jika tadi dia begitu bersemangat bertemu istrinya. Mendadak dia ragu, takut Vey akan terkejut dan marah karena kedatangannya.
Namun rasa rindunya mengalahkan segalanya, hingga dia tidak peduli lagi jika istrinya marah padanya setelah ini. Dipencetnya bell apartment, lalu Davin bersembunyi di samping pintu. Dia tahu, Vey akan mengintipnya lewat lubang yang terletak di tengah pintu.
Vey yang sedang nonton Televisi dengan volume keras pun tidak mendengar bell apartemennya berbunyi. Hingga bunyi ketiga kalinya, Vey baru bisa mendengarnya.
Tanpa mengintip siapa yang datang, Vey pun langsung membuka pintu. Di situlah Davin langsung berdiri di depannya dengan senyuman hangatnya.
Kaleng potato di tangannya pun hampir terjatuh di lantai, saking terkejutnya.
"Mas Davin!!"
"Sayang!!"
Mereka berdua saling menyapa, bedanya Davin menyapa dengan senyuman. Vey menyapa dengan ekspresi keterkejutannya.
Vey masih bengong, kesadarannya hilang entah kemana. Davin melambai-lambaikan tangannya di depan mata istrinya. Membuat Vey mengedipkan matanya dan tersadar dari lamunannya.
"Apa kamu tidak merindukan suamimu ini, sayang?" tanya Davin, masih dalam ekspresi tersenyum hangat menatap istrinya.
__ADS_1
Lagi-lagi Vey terkejut, karena dia tidak tahu ingatan Davin sudah kembali. Bagas juga tidak memberitahunya. Pantas saja Vey terkejut melihat suaminya telah mengingatnya.
"Kamu mengingatku, mas?" tanyanya dengan kedua bola matanya berkaca-kaca ingin menangis. Davin mengangguk seraya mengedipkan matanya dengan ekspresi coolnya.
"Aku boleh memelukmu?" pinta Vey, meletakkan kaleng potatonya di sembarang tempat, lalu dia segera memeluk suaminya yang telah merentangkan tangannya.
Vey terisak pelan, seraya menenggelamkan dirinya di tubuh kekar suaminya. Dia menangis, seakan terbayar lunas penantian-nya selama ini. Rasa cinta, rindu, menjadi satu dan dilampiaskan dengan pelukannya yang sangat erat di tubuh suaminya. Seolah dia takut orang lain akan mengambil suaminya lagi.
Dikecupnya kening istrinya dengan sangat lembut. Bukan hanya Vey yang merindukannya, Davin pun tak kalah merindukannya juga.
"Sayang, apakah kamu ingin memamerkan kemesraan kita di depan pintu? Sehingga jika ada orang yang lewat akan merasa iri pada kita? Apa kamu tidak ingin mempersilahkan suamimu masuk?" tanya Davin lembut, lebih seperti bisikan kecil di telinga Vey.
Tak tunggu lama, Vey tersenyum lalu ditariknya tangan Davin masuk ke dalam apartemennya. Lalu di dorongnya Davin, hingga dia terbaring di atas sofa.
Vey tiba-tiba menindih tubuh suaminya, seraya memandangi wajah Davin yang di tumbuhi bulu-bulu halus di dagu dan sekitarnya.
"Kenapa kamu semakin cantik, sayang? Aku jadi tidak rela jika kau tinggal sendirian di apartemen sebesar ini. Apalagi jika kau keluar sendirian dan mata para lelaki melirikmu!!" ucap Davin, dia juga mengelus lembut wajah istrinya yang semakin cantik.
Tangan Davin membelai rambut panjang Vey yang tergerai indah. Bahkan aroma sampo yang begitu harum, membuat Davin berkali-kali menciumnya.
"Ya, aku cemburu dan tidak ada yang boleh melirik istriku!!" ucapnya kemudian, membuat Vey terkekeh lalu menatap kembali wajah tampan suaminya.
"Katakan padaku, kabarmu baik-baik saja, sayang!!" ucap Davin membalas tatapan Vey. Kali ini Davin serius bertanya kabar istrinya. Bagaimanapun sebagai suami, Davin merasa kurang tenang membiarkan istrinya tinggal sendirian di apartemen ini. Meskipun apartemen ini dijaga ketat, namun mengingat si security tadi bisa disuap, Davin menjadi takut jika ada orang lain melakukan cara yang sama dengannya.
"Beri aku ciuman!!" pinta Davin.
Vey tersenyum lalu mengecup singkat bibir suaminya. Namun Davin menggeleng seraya berucap. "Bukan seperti itu, berilah ciuman yang benar untuk suamimu ini."
__ADS_1
"Tunggu dulu. Katakan padaku dulu, bagaimana kamu bisa masuk ke sini, mas? Apakah kakakku tidak melihatmu? Bagaimana jika dia tahu, kamu kesini?"
"Aman, sayang. Bahkan aku sudah memberi uang tutup mulut pada penjaga di bawah," ujar Davin menjelaskan.
Vey mengernyitkan Dahinya. Seakan dia tidak yakin, security di bawah sana akan menutup mulutnya. Davin memutar posisinya, sehingga kini giliran Vey yang berbaring di bawahnya.
Indahnya langit siang itu, dan sinar matahari seolah menjadi saksi pertemuan kembali antara mereka berdua. Mereka saling melepaskan rasa rindu keduanya dengan sedikit percintaan yang telah lama tidak mereka lakukan.
Perasaan keduanya bercampur aduk, setelah mendapatkan penyatuan kembali. Bahkan Vey merasa kali ini dia benar-benar bercinta dengan suaminya, bukan lagi dengan bosnya.
Memang sejatinya dulu, mereka adalah sepasang suami istri yang harmonis. Saling melengkapi, dan setia satu sama lain. Sebelum Retno dan Renata masuk ke dalam kehidupannya dan merusak segalanya.
Setelah percintaan panas antara Davin dan Vey. Kini Vey kembali masuk ke dalam pelukan hangat suaminya dan masing-masih hanya menutupi tubuh mereka dengan selembar kain selimut.
Entah semenjak kapan mereka tiba-tiba sudah berada di dalam kamar Vey. Vey memejamkan matanya di dalam dekapan hangat tubuh suaminya.
"Mas, jangan melakukan seperti yang baru saja kita lakukan tadi, pada Renata. Aku tidak ikhlas, tubuh suamiku dijamah olehnya."
Davin tertegun, seolah ucapan istrinya adalah sebuah ancaman untuknya. Rasa berdosa itu hadir, ketika Davin mengingat percintaan dengan Renata. Namun semua itu diluar kesadarannya dan sebelum Davin mengingat masa lalunya.
Vey seolah mengerti ketika mendapati suaminya hanya diam saja. Tetapi gerakan tangan Davin memeluk erat tubuhnya, seolah tidak ingin melepasnya.
"Maafkan aku, sayang. Mungkin aku pernah melakukannya dengan Renata. Tetapi aku bersumpah, semua itu di luar kesadaranku. Bahkan aku sempat terkejut serta takut, mendengar Renata hamil. Aku takut menyakitimu dengan kara itu. Untung saja kehamilannya merupakan kebohongannya juga."
Vey melepas pelukan Davin, lalu menatap wajah suaminya. "Kau sudah tahu, mas?" tanya Vey serius. Karena memang dia tidak tahu, suaminya telah mengetahui semuanya.
Davin membenamkan wajah Vey ke dalam dadanya lagi, seraya berkata sesuatu. "Kemarin aku ke kantor kakakmu, Davin. Di sana aku mengetahui semua yang terjadi selama aku amnesia. Aku sudah mengetahui semuanya, sayang. Kamu tenang, semua akan baik-baik saja. Perlahan kita akan menjebloskan mereka kedua ke dalam jeruji penjara dengan pasal berlapis-lais.
__ADS_1
Vey mengangguk, dia juga ingin melihat cara suaminya melindunginya. Beban di hati dan pikirannya telah berkurang. Mendapati suaminya telah sembuh dari amnesia dan mengingatnya kembali merupakan kebahagiaan yang tidak bisa di gadaikan dengan apapun dan siapapun.
"Lupakan tentang masalah kita, bagaimana jika kita lanjutkan proses membuat adonan bayi?" ucap Davin menggoda