
Sesampainya di dalam apartemen. Vey dengan senyum cerianya memeluk Bagas yang sedang sibuk dengan gawainya. Kelakuan adiknya membuat Bagas terkejut dan meletakan gawaenya begitu saja. Melihat adiknya seceria itu membuatnya lebih penasaran dengan cerita yang akan adiknya katakan kepadanya.
"Kak, misi pertama sesuai rencana. Dalam sehari aku telah menaklukan hati suamiku. Dia akan selalu terjerat pada pesonaku yang akan membuatnya pelan-pelan berpaling dari si rubah betina," ucap Vey antusias.
Bagas mentoel hidung mungil nan mancung milik adiknya. Lalu dia bertanya, hal apa yang Vey perbuat hingga secepat itu menaklukan seorang Davin Damian yang terkenal seperti manusia ice.
"Rahasia!! Ini adalah cara yang dilakukan pasangan yang sudah menikah. Kau penasaran? Maka menikahlah secepatnya dan beri aku kakak ipar yang baik dan cantik," canda Vey.
Kata-kata itu hanyalah sebuah pancingan untuk kakaknya yang tidak pernah dekat dengan wanita selama ini. Entar pernah dekat namun Vey tidak tahu. Atau memang kakaknya ini memiliki trauma terhadap perempuan. Sehingga di umurnya ke 30 ini, dia belum juga menikah.
"Sudahlah! Tanpa memintaku segera menikah, kakak sudah tahu apa yang kau lakukan untuk menjerat suamimu," ucap Bagas kemudian. Vey hanya tersenyum lalu masuk ke kamarnya.
Di dalam kamar dia langsung membaringkan tubuhnya terlentang menatap langit-langit kamarnya. Bayangan ciuman panasnya dengan suaminya tadi membuatnya tersenyum.
Vey tidak sabar menanti hari esok tiba. Dia akan memberi kejutan-kejutan berikutnya untuk semakin menjerat suaminya. Hingga Davin kembali lagi ke pelukanya.
"Minumlah obat ini, sayang. Kamu pasti lelah bekerja seharian penuh. Obat ini akan membuat tubuhmu lebih segar besok pagi," pinta Renata.
Tanganya membelai dada bidang Davin, dia adalah perayu yang handal. Buktinya, tanpa memastikan obat pemberianya, Davin langsung meminumnya begitu saja.
"Bagus! Tidak akan aku biarkan kamu mengingatnya sampai kapanpun, Davin," gumamnya tersenyum licik.
Lima menit setelah meminum obat tersebut, Davin tidur begitu saja. Sementara Renata keluar menemui ibunya yang menunggunya di balik pintu kamar.
"Bagaimana? Apa dia sudah meminumnya?" tanya Retno.
"Tentu saja sudah. Besok pagi, dia pasti melupakan kejadian hari ini. Obat ini sangat berguna untuk menghambat fungsi otaknya. Dia tidak akan pernah mengingat wanita itu, selama obat ini masih di konsumsinya."
Ibu dan anak itu tertawa renyah, sekali licik tetaplah licik. Hanya demi harta, mereka tega menghancurkan kebahagiaan seseorang.
Bukan hanya Davin yang jadi korban keserakahan Renata dan ibunya. Bagus ayah kandung Vey, ternyata selama ini lumpuh. Dia seperti mayat hidup yang hanya berbaring di ranjangnya.
__ADS_1
Bagus juga bernasib sama dengan Davin. Bedanya, Bagus di serang tulangnya sedangkan Davin pikirannya.
Dua rubah betina itu, dengan bebasnya menguasai harta Davin dan juga Bagus. Tetapi mereka cukup bodoh, karena Vey lah pemegang harta terbanyak daripada mereka.
Tawa renyah ibu dan anaknya itu terdengar hingga ke telinga Bagus. Meskipun kakinya lumpuh, telinganya cukup tajam untuk mendengarkan pembicaraan Renata dan Retno.
Terkadang Bagus menyesali pilihannya menikahi Retno. Seharusnya dia mendengarkan ucapan putranya Bagas. Demi Retno, Bagus membiarkan Bagas meninggalkan rumah dan memilih hidup sendiri.
Pria tua itu meneteskan air matanya, dia teringat anak-anaknya yang entah kemana. Penyesalan hanyalah penyesalan dan tidak bisa di putar ulang seperti sedia kala. Hanya harapan semoga anak-anaknya baik-baik saja dan menemukan kebahagiaan masing-masing.
Lumpuh bukan berarti dia tidak mengetahui semua ulah istri dan anak tirinya. Mendengar anak dan menantunya kecelakaan, Bagas tidak henti-hentinya menangis.
"Bagaimana nasib Vey? Apakah dia selamat?" Pertanyaan yang sama terus dia gumamkan. Dia sangat mengkhawatirkan putrinya.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka. Siapa lagi yang masuk kalau bukan Retno istrinya. Setiap hari istrinya itu memberinya kapsul guna membuatnya lumpuh selamanya.
"Kapan kau akan mati, suamiku sayang?" Tanyanya.
"Kau sudah tidak berguna lagi. Menantumu adalah ladang uang untuk ku dan putriku. Jadi lebih baik kau cepat mati saja menyusul putrimu," ucapnya berbohong.
Sengaja Retno menekankan kata mati, agar suaminya cepat mati karena mendengar putri kesayanganya telah mati.
Retno sama sekali tidak memberitahunya bahwa tempo hari Vey mendatangi rumahnya. Dia tidak akan membiarkan ayah dan anak itu bertemu.
Retno tertawa terbahak bahak setelah melihat wajah terkejut suaminya. Itulah yang dia inginkan, kalau bisa suaminya terserang penyakit jantung agar semakin cepat matinya.
Retno keluar dari kamar Bagus, dari luar masih terdengar suara Retno yang masih tertawa. Sementara Bagus menangisi nasib putrinya yang malang. Bagus percaya begitu saja ucapan istrinya.
"Vey, maafkan ayah yang tidak bisa melindungimu, nak. Maafkan ayahmu ini yang tidak berguna. Maafkan ayahmu ini yang menjadi penyebab penderitaanmu. Tapi kenapa begitu cepat kau meninggalkan ayah, nak. Di saat ayah belum mampu menebus semua dosa dosa ayah kepadamu."
Bagus terus menangisi nasibnya dan juga nasib putrinya. Lebih baik dia mati secepatnya agar bisa bertemu kembali dengan Vey dan mengucapkan permohonan maafnya secara langsung.
__ADS_1
Dia sudah putus asa. Daripada menjadi mayat hidup yang tidak berguna, lebih baik dia mati secepatnya.
"Kenapa tidak kau beri racun saja aku, Retno? Bukankah kau menginginkan kematianku?" Teriaknya dalam hati.
Ikatan batin antara orang tua dan anaknya tetaplah utuh dan tidak berubah.Meskipun mata tak lagi bertatapan. Tiba-tiba Vey mengingat ayahnya dan merasakan sesuatu pada dirinya.
Wanita itu mendadak dilanda kegundahan. Mendadak mencemaskan kabar ayahnya yang seperti hilang tanpa jejak.
"Kau apakan ayahku, Retno? Kau dan putrimu harus membayar semua ini. Rasa sakitku karena ulah kalian. Kebahagiaanku yang kalian rampas begitu saja. Bayiku yang malang, maafkan mama yang tidak bisa melindungimu, nak."
Di depan pintu balkon kamarnya, Vey menangisi segala hal yang menjadi beban di pikirannya. Tanganya meraba perutnya yang seharusnya sudah melahirkan bayinya.
"Nyawa harus dibayar nyawa. Betapa hancurnya hati ini kehilangan bayi yang selama ini kami tunggu-tunggu. Kau rebut suamiku, kau nikmati hartaku, kau bunuh calon anakku. Kalian harus membayar semua yang kalian perbuat kepadaku," teriak Vey.
Bagas yang mendengarnya pun langsung bergegas masuk ke dalam kamar adiknya. Takut ada hal yang buruk yang terjadi pada adiknya.
Vey menangis pilu.Bagas segera membawanya ke dalam pelukannya. Tubuh adiknya bergetar dan dia paham. Luka di hatinyalah yang membuatnya seperti itu.
"Tenang, Vey. Ada apa? Apa yang mengganggu pikiranmu? Katakanlah pada kakak."
Vey melepas pelukannya di tubuh kakaknya. Dia menatap Bagas dengan kondisi matanya yang sudah memerah.
"Aku teringat ayah, kak. Tiba-tiba aku mengingatnya. Apakah ada hal yang buruk pada ayah kita? Apa selama ini kakak tahu kabar ayah?"
Bagas menggeleng, semenjak dia keluar dari rumah ayahnya, dia tidak lagi tahu kabar tentang ayahnya.
"Dadaku terasa sakit, kak. Aku merasakan hal yang mengganjal di hatiku tentang ayah. Kita harus mencari tahu tentang ayah juga, kak. Seburuk apapun beliau, seberapa banyak nya kesalahan yang beliau perbuat pada kita. Dia tetap ayah kita dan satu-satunya orang tua kita di dunia ini."
"Tenanglah Vey, kamu jangan terlalu memikirkan tentang hal itu. Kakak akan berusaha mencari info tentang ayah. Istirahatlah, hari sudah terlalu larut untukmu yang masih terjaga."
Vey mengangguk, meskipun dia kesulitan tidur. Mengingat besok pagi dia harus menjalankan misi selanjutnya. Vey harus tetap tidur lebih awal agar rencananya berjalan maximal.
__ADS_1