
Vey terkejut mendengar penuturan suaminya. Bagaimana semuanya bisa terjadi secara mendadak. Bahkan mereka di penjara baru dua-tiga harian. Bagaimana Retno bisa meninggal secara mendadak.
"Bagaimana ceritanya dia meninggal, mas? Apa dia sakit?"
Davin menggeleng, dia melihat kepanikan di wajah istrinya. Sebagai korban kejahatan Retno selama ini, tidak seharusnya Vey bersimpati. Karena istrinya terlalu baik, jadi Davin tidak heran jika istrinya terkejut.
"Dari yang mas dengar, Retno berkelahi dengan salah satu tahanan di sana. Tahanan itu bernama Therma, dan dia memukuli serta membentur-benturkan kepala Retno ke dinding hingga Retno sekarat," ucap Davin.
Vey menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya. Cerita suaminya begitu mengerikan jika dia bayangkan.
"Sekarang kita segera ke kantor polisi, mas!!" pinta Vey.
Davin menggeleng, karena jenazah Retno saat ini berada di rumah sakit. Itu artinya lebih baik Davin dan Vey segera menuju ke rumah sakit.
Bagaimanapun Retno masih berstatus sebagai ibu tiri Vey sekaligus istri ayahnya. Yang artinya keluarga Vey masih bertanggung jawab soal penanganan jenazah Retno.
Bagus dan Bagas juga telah mendengar kabar kematian Retno. Bagus terkejut, tetapi Bagas malah tertawa mendengar kematian Retno. Hingga Mita memandang penuh kebingungan melihat Bagas tiba-tiba tertawa.
"Akhirnya kau mati Retno. Jadi aku tidak perlu mengotori tanganku untuk membunuhmu dan aku tidak perlu membayar orang dan membuang-buang uang demi membunuhmu. Hukum karma tetap berlaku, kau bunuh ibuku maka kau pun mati terbunuh di tangan orang lain, hahaha."
Bagas sangat senang mendengar kabar kematian Retno. Dia segera memakai mantelnya dan pergi menuju jenazah Retno berada.
__ADS_1
"Jangan kemana-mana, tunggu aku pulang!!" pesan Bagas pada Mita dan di angguki gadis itu.
Kini masing-masing menuju ke rumah sakit tempat jenazah Retno di otopsi. Bagus mengendarai mobilnya sendirian menuju rumah sakit. Bagas juga mengendarai mobilnya sendirian menuju rumah sakit. Sedangkan Davin dan Vey, mereka berdua juga menuju rumah sakit.
Sementara Renata menjerit di dalam sel penjara, setelah mendengar kabar kematian ibunya. Dia berteriak ingin bertemu dan melihat jenazah ibunya.
Sebenarnya kepolisian tidak mengizinkannya, tapi Bagas memerintahkan agar Renata diizinkan melihat jenazah ibunya untuk terakhir kalinya. Bahkan Bagas juga mengizinkan jika Retno ingin ikut ke pemakaman ibunya.
Bukan berarti Bagas berhati baik dan merasa kasihan pada Renata. Lelaki itu hanya ingin melihat dengan jelas ketika Renata menangisi jenazah ibunya. Sama seperti ketika Bagas dan Vey menangisi kematian ibunya yang di racun oleh Retno.
Baginya membayangkan Renata menangis merupakan suatu kebahagiaan bagi Bagas. Pria itu menaruh dendam teramat dalam pada Renata dan Retno. Apalagi setelah Bagas melihat bukti yang menyatakan Retno Lah pembunuh ibunya.
Kini Vey dan Davin lebih dulu sampai di rumah sakit. Disusul lima menit kemudian Bagus dan Bagas tiba secara bersamaan.
Sepertinya Bagas belum siap bertegur sapa dengan ayahnya. Pria itu terlalu keras kepala dan sikap keras kepalanya juga diturunkan dari Bagus ayahnya.
"Kak, kau datang juga?" sapa Vey setelah melihat kedatangan Bagas. Bagas memeluk adiknya singkat. Lalu Vey juga menyapa ayahnya yang berada di belakangnya.
Tak lama dokter dan pihak kepolisian menghampiri Vey, Davin, Bagas dan juga Bagus. Mereka akan membicarakan perihal jenazah Retno.
"Tolong makamkan dia dengan selayaknya. Bagaimanapun dia masih berstatus istri saya," ucap Bagus.
__ADS_1
Tapi pihak kepolisian juga harus meminta persetujuan Bagas sebagai pihak yang menjebloskan Retno ke penjara.
"Turuti saja kemauannya!!" ucap Bagas singkat. Bagus memandang putranya yang masih enggan menatapnya. Di sudut hatinya terasa sakit melihat sang putra masih bersikap sama padanya.
Vey mengelus punggung ayahnya, seolah dia mengerti apa yang ada di pikiran ayahnya saat ini. Bagus menoleh memandang putrinya lalu tersenyum dan mengangguk.
Tak lama rumah sakit itu tiba-tiba dihebohkan dengan teriakan Renata yang meronta-ronta minta dilepaskan. Dia ingin memeluk jenazah ibunya, namun pihak kepolisian masih memborgol tangannya.
Seketika Vey, Davin, Bagas, dan juga Bagus menoleh memperhatikan Renata. Bahkan tatapan wanita itu terarah pada Vey dan dipenuhi kebencian.
"Puas kalian, hah? Puas kalian menyaksikan jenazah ibuku. Dan kau Vey, aku sangat membencimu. Aku sangat membenci kalian semuanya," teriak Renata mengamuk seperti orang kesetanan.
Bagas tertawa melihat reaksi Renata yang mirip seperti orang gila. Davin memeluk istrinya agar Vey tidak takut dengan ucapan Renata.
"Ini adalah karma kalian berdua, jadi terima saja hukuman dari Tuhan. Bukankah adil cara Tuhan menghukum ibumu? Dulu ibumu yang telah meracun ibuku hingga ibuku meninggal. Lalu kalian masuk di keluarga kami sebagai penghancur keluarga kami. Bukan hanya membunuh ibuku, tetapi kalian telah mencoba membunuh adikku dan juga ayahku. Apa kau pikir Tuhan masih berbaik hati pada orang-orang sepertimu dan ibumu? Maka terimalah karma ini. Dan bersiap-siaplah untukmu selanjutnya, Renata," ucap Bagas dengan penuh penekanan tapi ekspresinya tetap santai dan berwibawa.
"Bajingan. Kau benar-benar seperti iblis, Bagas!!" ucap Renata memaki-maki Bagas.
"Aku sudah berbaik hati mengizinkanmu melihat jenazah ibumu. Jika kamu banyak omong, aku akan menarik kembali izinku!!" ancam Bagas, seketika Renata terdiam.
Bagas meminta pihak kepolisian yang menangani Renata segera membawa wanita itu untuk melihat jenazah Retno. Setelahnya membawa kembali dan mengurungnya kembali ke dalam sel penjara.
__ADS_1
"Bawa dia menemui jenazah ibunya, kemudian bawa kembali dia ke dalam sel penjara. Teriakannya akan mengganggu pasien di rumah sakit ini!!" ucap Bagas berlalu meninggalkan mereka semua.