
Setelah melewati beberapa tahap, akhirnya jenazah Retno dimakamkan hari ini di tempat pemakaman umum setempat. Renata turut hadir di peristirahatan terakhir ibunya. Tentu saja dalam pengawasan pihak kepolisian. Karena dia hanya diizinkan melihat ibunya dimakamkan, setelah itu akan kembali menerima hukuman di rutan.
Tidak banyak pelayat yang datang, hanya Davin, Vey, Bagas, Bagus dan juga Devano. Dan hanya Renata saja yang menangis di lokasi. Sedangkan yang lain hanya menyaksikan tangisannya dari awal jenazah Retno hendak di makamkan hingga jenazah itu telah dimasukkan ke liang lahat.
Renata tak henti-hentinya menangis, merasa dirinya sebatang kara didunia ini. Satu-satunya keluarganya telah tiada. Dulu sewaktu ayahnya meninggal, Renata tidak merasakan sakit yang dirasakannya saat ini. Karena masih ada ibunya si sisinya waktu itu. Sedangkan sekarang, Renata tidak memiliki siapapun di dunia ini. Ibunya telah meninggalkannya dan dia harus menerima hukuman di dalam penjara seorang diri.
"Waktumu telah habis!!" ucap salah satu petugas kepolisian yang mengawasinya.
"Sebentar saja, pak. Beri waktu saya untuk melepas kepergian ibu saya," Renata memohon. Tetapi polisi tidak akan memberinya waktu lebih diluar batas yang ditentukan.
Renata pun ditarik paksa, ketika dia enggan pergi dari lokasi pemakaman ibunya. Wanita itu meronta-ronta minta dilepaskan. Tetapi kekuatannya kalah kuat dibanding dua orang polisi yang menariknya.
"Lepaskan saya, pak. Izinkan sebentar saja, ini terakhir kali saya bisa mengantar ibu saya!!"
Teriakannya hanya sia-sia, hanya membuat sakit tenggorokannya saja. Hukum tetaplah hukum yang tidak bisa ditawar.
Petugas kepolisian melanjutkan langkahnya menarik Renata untuk ikut dengan mereka. Pandangannya tajamnya tertuju pada Vey, yang saat ini sedang melihat ke arahnya.
Ketika Renata berpapasan dengan Vey, sempat-sempatnya wanita itu berucap. "Ini semua karenamu Vey, aku akan membalas semua ini suatu saat nanti!!" ucap Renata lirih namun nadanya penuh penekanan.
Davin menjauhkan istrinya dari jangkauan Renata. Wanita itu makin kesini semakin tidak waras.
"Hatinya pasti sangat hancur, mas!!" ucap Vey pada Davin.
"Sudahlah, orang seperti mereka tak sepantasnya di kasihani, sayang!!" ucap Davin.
Bagas melirik ayahnya yang sedang berjongkok memandangi batu nisan Retno. Sampai sekarang pun Bagas belum bertegur sapa dengan ayahnya. Hanya bisa memantau ayahnya dari kejauhan.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian semua kembali ke tempat tujuan masing-masing. Vey dan Davin kembali ke kantor. Bagas juga pergi ke kantornya.Sedangkan Bagus masih duduk di depan gundukan tanah makam Retno. Entah apa yang ingin dia lakukan. Vey, Davin dan Bagas memilih meninggalkan ayah mereka sendiri di sana.
Di perjalanan menuju kantor, Vey membahas tentang Andin pada suaminya. Dia memiliki feeling buruk jika wanita itu tetap dipekerjakan di kantornya. Selain itu Vey memang tidak menyukainya. Bahkan Vey telah mencatat namanya sebagai karyawan yang akan di pecat-nya ketika dia dulu masih menjadi sekretaris Davin.
"Aku ingin Andin dipecat, mas. Dia sebelas dua belas dengan Renata. Kau tahu, kemarin saja dia menatap tidak suka padaku!!"
"Pecat saja, kau pun bisa memecatnya, sayang!!"
Kalaupun mau sudah Vey pecat dari kemarin. Tapi Vey malas berhadapan dengan wanita itu. Dia lebih menginginkan suaminya lah yang memecat wanita itu.
"Baiklah, nanti ku buat surat pemecatan untuknya," ucap Davin kemudian. Tangannya menggenggam erat tangan Vey, lalu mencium punggung tangannya.
Lagi pula Davin juga tidak menyukai karyawan seperti Andien. Jadi dia lebih memilih kenyamanan istrinya dibanding mempertahankan karyawan seperti Andin.
Wanita itu memang ingin berencana mendekati Davin. Benar kata Vey, Andin sebelas dua belas dengan Renata. Tapi kali ini Vey akan lebih waspada. Tidak ingin rumah tangganya dirusak lagi oleh hadirnya orang ketiga.
Vey melihat Andin yang sedang tersenyum melirik Davin. Senyum dan liriknya seperti sedang berusaha menggoda Davin.
Meskipun Davin acuh, tetapi Andin merupakan sebuah ancaman baru bagi Vey, untuk lebih berhati-hati.
Tangan Vey langsung menarik tangan suaminya. Matanya berubah tajam mengarah pada Andin. Sedetik kemudian tatapan Andin menyiratkan kebenciannya pada Vey.
Davin memandang Vey dan Andin secara bergantian. Dua wanita itu sedang berperang dalam diam.
Andin terus menatap penuh kebencian pada Vey. Seolah wanita itu lupa siapa Vey di perusahaan itu. Andin terus memandang ke arah Vey, hingga kakinya terpeleset.
Seorang office boy sedang mengepel lantai yang kotor. Andin sendiri yang salah, karena dia tidak fokus pada jalan di depannya. Vey mengulum senyum, menahannya agar tawanya tidak meledak.
__ADS_1
"Mbak Andin maaf, saya bantu berdiri, mbak!!" ucap si office boy hendak membantu Andin berdiri. Namun Andin malah menampik uluran tangan si office boy, berharap Davinlah yang membantunya berdiri.
"Pak Davin tolong saya!!" ucap Andin mulai bernada manja. Vey langsung membelalakkan matanya, setelah mendengar Andin berucap demikian.
"Pak satpam, tolong bantu mbak Andin berdiri. Kalau dia menolak, biarkan saja dia berdiri sendiri!!" ucap Vey, mengajak pergi Davin.
Andin semakin kesal melihat sikap Vey seperti tadi. "Sok banget kamu Vey, mentang-mentang istri pak Davin!!"
Akhirnya Andin menolak bantuan security penjaga kantor. Dia bangkit sendiri meskipun kakinya sangat sakit akibat terkilir.
Di dalam ruangan Davin, Vey diam dengan kemarahannya. Di dalam pikirannya masih memikirkan tentang Andin. Hingga dia tidak sadar, kedua tangan suaminya telah melingkar di perutnya.
Bahkan ciuman Davin di lehernya pun tidak mampu mengalihkan pikiran Vey dari Andien. Melihat kedua tangan istrinya terkepal, Davin pun mengarahkan arah pandang istrinya menatapnya.
"Ada apa, Hem?" tanya Davin. Ibu jarinya mengusap-usap dagu Vey.
"Mas Davin tidak lihat tadi? si Andin curi-curi pandang pada mas. Dan berani-beraninya dia minta tolong pada mas. Dia benar-benar tidak menganggapku. Wanita itu sepertinya ingin menjeratmu dan merebutmu dariku, mas!!"
Mendengar keluh kesah istrinya, Davin malah tersenyum. Sesekali merapikan helaian anak rambut istrinya yang berantakan karena tiupan angin.
"Jadi kamu cemburu pada Andin? Please sayang, Andin di bandingin kamu, jauh banget. Cantikan kamu kemana-mana, buat apa mas tergoda dengan wanita lain, jika yang halal saja lebih menggoda!!"
Setelah mengucapkan kata-kata yang bisa di sebut rayuan, Davin menarik dagu Vey dan menciumnya. Semarah apapun Vey saat ini, dia tidak mau menolak keinginan suaminya.
Bahkan Vey akan selalu siap melayani suaminya. Kalau bisa dia harus menunjukan pada suaminya, bahwa istri sah lebih hebat daripada Pelakor.
Davin tersenyum ketika istrinya mengimbangi ciumannya. Bahkan kali ini malah Vey yang memegang kendali. Vey terus memperdalam ciumannya hingga dia lupa akan kemarahannya pada Andin.
__ADS_1