Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 34


__ADS_3

Seperti pesan Bagas tadi malam, Vey berusaha bersikap biasa saja, seolah dia tidak terpengaruh dengan foto kiriman Renata. Vey melihat Renata sepagi ini memasuki ruangan Davin sendirian.


Sebelum memasuki ruangan Davin, Renata sempat berhenti di depan meja Vey. Matanya menatap Vey dengan sorot penuh ejekan. Seolah dialah pemenangnya, karena berhasil mengirim foto bercintanya bersama Davin.


Setelah Renata telah memasuki ruangan Davin, dia bertanya-tanya di mana suaminya. Di mana Davin, kenapa hanya Renata yang datang ke kantor. Pertanyaan kurang lebih seperti itu yang ada di dalam pikiran Vey.


Renata langsung mengecek rekaman cctvnya kemarin siang. Sebelum Davin melihatnya, dia akan menghapus jejaknya. Takut-takut Davin akan menaruh curiga padanya.


Sedangkan Davin saat ini berada di sebuah rumah sakit. Dia akan menemui dokter Danu, dokter ahli syaraf yang akan memeriksanya.


Sebelumnya Davin sudah janjian, makanya sepagi ini, tepatnya pukul sepuluh pagi, Davin sudah berada di rumah sakit.


Kini Davin sudah berhadapan dengan dokter Danu yang akan memeriksanya. Dari pemeriksaan dokter Danu sama persis seperti pemeriksaan yang dilakukan Hendrik padanya tempo hari.


"Ada kerusakan di bagian otak kiri anda, pak Davin. Seperti yang ditunjukkan di monitor itu, anda bisa melihat sendiri warna merah pada gambar itu menggambarkan ada luka di bagian otak kiri anda," ujar dokter Danu menjelaskan.


Davin terus menyimak ucapan dokter Danu, matanya berfokus pada monitor di hadapannya. Sesekali dia merasa kepalanya bagian Kiri yang akhir-akhir ini kadang terasa sakit.


"Berarti benar, saat ini saya mengalami amnesia, dok? Lalu apakah bisa disembuhkan?" tanya Davin.


"Sebenarnya sampai detik ini belum ada obat untuk menyembuhkan amnesia, pak. Apalagi jenis amnesia yang pak Davin alami adala amnesia retrograde. Pada kondisi ini, anda tidak bisa mengingat informasi atau kejadian di masa lalu, bukan? Gangguan ini bisa dimulai dengan kehilangan ingatan yang baru terbentuk, kemudian berlanjut dengan kehilangan ingatan yang lebih lama, seperti ingatan masa kecil."

__ADS_1


Davin mengangguk, membenarkan ucapan dokter Danu. Bahkan masa kecilnya pun Davin tidak bisa mengingatnya.


"Entahlah, dok. Saya sendiri juga tidak mampu mengingat semua masa lalu saya. Tapi akhir-akhir ini, ada sekilas bayangan samar yang terlintas di pikiran saya. Kepala saya sering terasa pusing, apalagi jika saya memaksakan diri mengingat bayangan samar itu. Seperti putaran film, bayangan itu terlihat buram, saat saya melihat atau melakukan sesuatu."


"Kalau boleh saya tahu, bayangan apa yang anda lihat?" tanya dokter Danu, masih menyimak semua ucapan Davin.


"Saya sendiri juga kurang tahu sih, dok. Soalnya buram dan kurang jelas. Tetapi sepertinya sosok wanita yang pernah dekat dengan saya. Tapi anehnya dok, saya sering merasa pusing setelah berinteraksi dengan sekretaris saya di kantor. Setiap memandang wajahnya, melihat cara dia berinteraksi dengan saya, semuanya mampu membuat kepala saya mendadak pusing. Seperti yang saya bilang tadi, saya seperti melihat kilatan memori, seperti film yang diputar berulang-ulang secara cepat tapi blur."


Dokter danu mulai menduga-duga setelah mendengar semua yang diucapkan Davin. "Secretaris anda? Apa pusing yang anda alami hanya terjadi setelah anda berinteraksi dengan sekretaris anda saja?" tanyanya kemudian.


Davin menggeleng, karena bukan hanya itu penyebab dirinya mengalami pusing. "Ada hal lain yang mampu memicu rasa pusing itu, dok. Seperti halnya setelah saya melihat kebiasaan orang lain, ucapan orang lain, tiba-tiba saya merasa dejavu. Seolah saya pernah mengalami hal yang sama seperti yang orang itu lakukan."


"Dan setiap saya mencoba mengingat semua hal yang terlintas di pikiran saya, kepala saya terasa sangat sakit, dok," lanjutnya lagi.


"Lantas bagaimana dengan amnesia yang saya derita saat ini, dok? Kapan bisa sembuh?" tanya Davin lagi.


Dokter Danu tersenyum simpul, melihat pasiennya yang sudah tidak sabar ingin mengingat memori lamanya. Tapi, amnesia bukanlah sebuah penyakit yang mudah disembuhkan. Yang bisa menyembuhkan adalah si penderita sendiri. Secara perlahan akan mengingat kembali memori yang pernah terhapus di pikirannya.


"Saya tahu anda ingin segera pulih dari amnesia yang anda derita. Tetapi saran saya, anda jangan membebani otak anda dengan berusaha keras mengingat apa yang pernah terjadi di masa lalu. Biarkan semua mengalir dengan sendirinya. Dan satu lagi, jangan meminum obat sembarangan tanpa resep dari saya."


Davin mengangguk. Memang akhir-akhir ini dia tidak meminum obat apapun selain obat dari Hendrik. Bahkan obat pemberian Renata, diam-diam Davin lempar ke luar jendela setelah Renata memberikan padanya.

__ADS_1


Davin keluar dari ruangan dokter Danu, setelah konsultasinya selesai. Di tangannya ada selembar kertas berisi semua resep obat yang dokter Danu berikan padanya tadi.


Setelah dari rumah sakit, Davin akan menuju ke apotik terdekat untuk menebus semua obat-obatan resep dari dokter Danu. Lalu dia akan menyembunyikan obat itu. Davin tidak ingin terapinya di ketahui siapapun termasuk Renata maupun sekretarisnya.


Entah kenapa, akhir-akhir ini Davin menaruh kecurigaan pada tunangannya dan sekretarisnya. Di mulai dari perkelahian Renata dan Vey waktu itu. Membuat Davin melihat hal yang tidak wajar dari keduanya. Oleh karena itu lebih baik Davin merahasiakan terapinya dari mereka.


Davin kembali ke kantornya tepat pukul satu siang. Dia tahu Renata berada di kantornya saat ini, karena dia menyuruhnya berangkat duluan tadi pagi. Untung saja Renata tidak mencurigainya dan langsung berangkat sendirian ke kantornya.


Tanpa Davin ketahui, memang ada niatan terselubung Renata. Tanpa Davin ketahui, perintahnya merupakan kesempatan bagi Renata untuk menghapus jejak cctv perbuatannya kemarin.


Pintu lift terbuka, Davin keluar lalu berjalan menuju ruangannya. Matanya melihat sekretarisnya yang disibukkan dengan tumpukan berkas yang seharusnya menjadi tugas Davin.


Entah kenapa, semenjak ada Vey, Davin merasa pekerjaanya sepenuhnya teratasi oleh Vey. Maka dari itu Davin tidak ingin kehilangan sekretaris yang pintar seperti Vey.


"Ehmmm!!" Davin berdehem tepat di depan meja kerja Vey. Vey yang masih berkutat dengan laptopnya segera berdiri setelah melihat suaminya sudah datang.


"Selamat siang pak Davin!!" sapa Vey dengan senyuman manisnya.


Davin melihat hal berbeda pada penampilan Vey hari ini. Rambut Vey yang biasanya di gerai indah, hari ini di ikat ke atas. Memperlihatkan leher jenjangnya yang putih mulus dan mengundang mata lelaki untuk menciumnya.


Ada rasa tidak suka dan tidak rela pada diri Davin, melihat penampilan Vey. Dia tidak ingin leher jenjang Vey yang putih mulus menjadi konsumsi public. Apalagi karyawan pria di kantornya banyak yang naksir pada sekretarisnya.

__ADS_1


"Kau terlihat jelek hari ini. Lepaskan ikatan rambutmu, karena terlihat jelek. Saya tidak suka, cepat lepaskan saat ini juga!!" perintah Davin, membuat mulut Vey menganga mendengar protes dari suaminya.


__ADS_2