Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 43


__ADS_3

Pagi harinya Davin terbangun, setelah semalaman pingsan di dalam gudang. Semalam dia bermimpi, dan mimpinya ternyata nyata.


Mungkin ini semua adalah petunjuk baginya. Semua memori di masa lalu telah kembali. Davin telah mengingat semuanya tanpa terkecuali.


Tetapi dia akan tetap berpura-pura amnesia, demi mengungkap siapa pembunuh istrinya. Davin tidak akan memaafkan orang yang telah membunuh Vey.


Dia bangkit dan keluar meninggalkan gudang, menuju rumah utama. Jam telah menunjukan pukul lima dini hari. Hanya Mita dan satpam penjaga rumah yang sudah bangun. Sedangkan Retno dan Renata masih tidur di dalam kamar.


"Astaga pak Davin. Anda membuat saya kaget!!"


Mita hampir saja terjengkang, karena tiba-tiba Davin membuka pintu. Davin tersenyum dan minta maaf. Dia melanjutkan langkahnya menuju kamar atas.


Tidak heran dia bersikap biasa saja setelah menyadari perubahan di rumahnya. Dia mengingat semua masa lalunya dan memory-memory terbaru.


Satu jam kemudian, Davin kembali turun di lantai bawah dalam keadaan rapi. Davin siap pergi ke kantor pagi ini. Renata juga baru keluar dari kamar ibunya. Davin mengernyitkan dahinya ketika melihat kantong mata di bawah mata Renata yang nampak jelas. Sepertinya wanita itu semalaman tidurnya tidak nyenyak.


"Pagi sayang. Kamu mau berangkat ke kantor? Gak sarapan dulu?"


Davin bersikap seperti biasanya, agar Renata tidak curiga padanya. Dia tersenyum dan dengan terpaksa mencium kening wanita itu.


"Aku ada meeting pagi ini, kamu sarapan saja di rumah. Aku akan sarapan di kantor selesai meeting. Aku berangkat dulu, jaga dirimu baik-baik."


Davin membalik badannya, melangkah keluar menuju garasi mobil. Ketika keluar, ekspresi wajahnya telah berubah lagi. Davin menaruh curiga yang teramat besar pada Renata dan ibunya.


Tapi dia tidak akan gegabah, semua ini demi mengungkap fakta yang sebenarnya. Semua ini terasa aneh baginya. Bagaimana awal mula dia bisa bersama Renata. Bagaimana awal mula istrinya sendiri menjadi sekretarisnya. Bagaimana awal mula istrinya bisa terbunuh dengan kondisi yang mengenaskan. Semua akan dikupas pelan-pelan tanpa menimbulkan kecurigaan pada siapapun.


Di perjalanan menuju kantor, Davin menghentikan mobilnya di toko bunga. Dia membeli bunga lili kesukaan istrinya. Dia akan mampir ke pemakaman sebelum dia ke kantor.


"Sayang, aku merindukanmu!!" gumamnya memandang buket bunga lili di tangannya kirinya, sedangkan tangan kanannya menyetir mobilnya.


Di lampu merah mobil Davin berhenti. Tanpa dia tahu ada seseorang di dalam mobil berwarna merah sedang memperhatikannya melalui jendela kaca mobilnya.

__ADS_1


Davin menginjak pedal gasnya , setelah lampu berubah berwarna hijau. Seseorang di dalam mobil merah itu diam-diam mengikutinya. Hingga sampailah Davin di TPU, tempat dimakamkan jasad istrinya.


Seseorang di dalam mobil merah yang ternyata adalah Bagas dan Vey, memperhatikan langkah Davin memasuki area pemakaman.


"Apa yang mas Davin lakukan di sini, kak?" tanya Vey.


Bagas mengedikan bahunya, tak lama kemudian bersuara. "Mungkin dia numpang tidur," ucap Bagas asal. Vey langsung memukul lengan kakaknya.


"Serius, kak!!"


"Pertanyaan macam apa yang kau tanyakan padaku, Vey? Tanpa bertanya kau pun tahu, biasanya orang kalau ke makam mau ngapain?"


Vey semakin mendengus kesal mendengar jawaban kakaknya. "Aku tahu, maksudku dia mau ke makam siapa?"


"Ke makammu. Lihatlah, dia sedang berjongkok di depan makammu."


"Kakak, aku belum mati!!"


Vey memandang suaminya dari kejauhan. Meskipun dari jarak jauh, dia bisa tahu, saat ini suaminya sedang menangis di depan pusara wanita penggantinya.


"Sayang, aku datang kesini untuk meminta maaf. Maafkan aku yang sempat melupakanmu dan maaf tidak mengingatmu untuk beberapa saat. Ingatanku telah kembali, tapi kau pergi meninggalkanku. Apa aku telah membuatmu menunggu begitu lama, sayang? Hingga membuatmu lelah menungguku?"


"Mana mungkin aku mampu memutar waktu kita yang sempat hilang. Bahkan jasadmu saja sudah tak mampu ku gapai. Di balik batu nisan ini, kau tidur dalam damai. Mas, berjanji akan mencari tahu siapa orang yang telah membunuhmu."


Davin lagi-lagi menangis pilu. Dadanya terasa sesak ketika kesadarannya kembali, namun wanita yang sangat dicintainya telah tiada.


"Bunga lili, kau sangat menyukai bunga ini, bukan? Aku membelikannya untukmu. Tiada lagi ucapan terimakasih yang kau ucapkan untukku. Biasanya, setiap kali aku memberimu hadiah, kau akan selalu mengucapkan terimakasih sambil mencium punggung tanganku dan pipiku. Aku hampir gila, jika terus mengingat kenangan kita."


Davin meletakkan bunga lili di tangannya, di atas pusara. Tangannya mengelus batu nisan yang terukir indah nama istrinya. Bibirnya tersenyum meskipun air matanya masih menetes. Lalu dia bangkit, berdiri, karena jika terlalu lama di sana, Davin akan semakin tersiksa.


"Mas, pergi dulu, ya? Mas, akan sering kesini!!"

__ADS_1


Melihat Davin berdiri dan hendak meninggalkan makam Vey. Davin segera menyalakan mobilnya, pergi dari sana sebelum keberadaan mereka diketahui oleh Davin.


Davin langsung pergi ke kantornya. Pagi ini Davin membalas sapaan setiap karyawan dengan senyuman. Jika biasanya dia akan mengabaikan sapaan karyawannya. Hari ini ada yang beda pada diri Davin. Sehingga membuat semua karyawannya tidak habis pikir, merasa kebingungan.


"Selamat pagi, pak Davin!!"


"Pagi!!" jawab Davin dengan senyumannya, walaupun matanya terlihat sembab.


Para karyawan berkumpul membicarakan atasannya yang terlihat aneh pagi ini.


"Kupingku gak budek, kan? Kalian juga dengar pak Davin membalas sapaan kita, kan?" tanya salah satu karyawan dan di angguki karyawan lainnya.


"Kalian melihat ada yang aneh pada pak Davin, gak? Sepertinya pak Davin kembali seperti pak Davin yang dulu. Apalagi senyumnya, oh my god, andai saja tidak ada mbak Renata, aku bersedia menggantikan almarhum mbak Vey."


"Hus, ngawur kamu, ya? almarhum istrinya tidak terima, baru tahu rasa kamu. Sudah, semuanya bubar waktunya kerja jangan terus bergosip," ucap Sarah, membubarkan para karyawan yang bergosip.


Davin berhenti tepat di depan pintu ruangannya. Dia melihat arlojinya, kemudian dia berkata sesuatu yang di luar akal sehatnya.


"Vey, hari ini schedule saya apa?" tangannya masih mengotak atik arlojinya. Dia belum sadar bahwa dia sedang berbicara sendiri.


"Vey, apa kau tidak mende_


Davin menggantung ucapannya ketika dia tersadar. Dia lupa, sekretarisnya sekaligus istrinya telah tiada. Davin membuka pintu ruangannya, dia bersandar di kursi kebesarannya.


"Ternyata duka anda begitu dalam, pak. Maafkan saya, sungguh saya sangat menyesal!!" ucap Rizal, yang tak sengaja melihat Davin, ketika dia tadi berbicara sendiri.


Di dalam ruangan Davin memejamkan matanya. Bahkan di setiap sudut ruangannya pun meninggalkan setiap jejak kenangannya bersama istrinya.


Berbagai kenangan Vey, ketika menjadi sekretarisnya, berputar di pikirannya.


"Maafkan, Mas. Selama ini telah memperlakukanmu dengan sangat buruk. Bahkan tangan ini telah melukaimu. Mendorongmu, memukulmu, maafkan Mas, sayang!!"

__ADS_1


__ADS_2