
Andien segera masuk ke kamar kosnya dengan langkah kaki setengah berlari. Dia langsung membuka pintu dan menutupnya kembali.
Renata yang sedang tidur terbangun setelah mendengar suara pintu terbuka dan ditutup kembali dengan cukup keras.
"Enak sekali kau tidur! Kau tahu, aku baru saja melihat wanita itu di rumah sakit," ucap Andien sambil menuangkan air di gelasnya dan meminumnya.
Memakai cadar membuatnya gerah dan dehidrasi karena tak berani minum di depan umum.
"Maksudmu, Vey?" tanya Renata yang posisinya sudah duduk dan menantikan cerita dari Andien.
"Siapa lagi kalau bukan dia. Sepertinya hari ini dia akan pulang ke rumahnya. Tadi aku melihat Bagas kakaknya berangkat ke Singapura, sepertinya dia akan memindahkan pacar komanya ke sana."
"Baguslah, karena orang itu sangat berbahaya untuk kita. Dia tidak akan segan-segan membunuh kita jika dia menemukan keberadaan kita," timpal Renata.
"Itu tidak penting, yang lebih penting bagaimana cara kita memancing si Vey agar keluar dari rumahnya. Sepertinya suami dan kakaknya mempekerjakan banyak orang untuk menjaganya. Cih, siapa dia? dikawal banyak orang seperti ratu!!"
Renata sedang memikirkan sebuah cara, setelah mendengarkan semua ucapan Andien.
Andien melirik Renata yang hanya diam tidak meresponnya. "Kau dengar ucapanku tadi, tidak? Jawablah, kasih solusi, bantu mencari cara agar kita bisa segera melenyapkan wanita itu."
"Diamlah, kau pikir aku tidak berpikir? Aku sedang memikirkan cara yang tepat untuk membawa pergi Vey. Kau kira mudah? Mengingat banyaknya orang yang menjaganya."
Di lain tempat, Davin dan juga Vey baru saja tiba di rumah barunya. Bagus ayahnya juga menyambut kedatangan putrinya. Mendengar kehamilan Vey dan hari ini Vey akan pulang di rumah baru yang telah disiapkan Davin. Bagus bergegas datang untuk menyambut putrinya.
"Ternyata ayah di sini juga, mas?"
"Ya, dia ingin menyambutmu dan calon cucunya yang sedang kau kandung, sayang!!"
Davin memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Dia melarang Vey turun sebelum dia turun lebih dulu.
__ADS_1
Davin membukakan pintu mobil untuk Vey, lalu menggendongnya. Vey sangat malu dengan perlakuan Davin padanya. Bukan hanya ayahnya yang memandang ke arah mereka berdua. Para asisten baru yang bekerja di rumah itu juga sedang menyambut kedatangan mereka.
"Turunin, mas! Aku malu di lihat mereka."
Davin menggeleng dan tersenyum, dia tidak mau menuruti kemauan istrinya. Vey menutup wajahnya ketika mereka sampai di depan semua orang yang sedang menyambut kedatangannya.
"Selamat datang di rumah baru kalian, anak-anakku!!" sambut Bagus.
"Selamat datang tuan dan nyonya!!" sambut dua maid baru yang dipekerjakan Davin untuk mengurus rumahnya dan melayani istrinya.
Davin membawa istrinya duduk di atas sofa ruang tamu. "Mbak, tolong bantu semua keperluan istri saya di saat saya tidak ada di rumah."
"Sayang, kenalkan ini mbak neneng dan di sebelahnya mbok Darmi. Mereka berdua akan membantumu selama aku kerja!!"
"Kami berdua siap melayani semua yang nyonya perintahkan!!" ucap mbak neneng dan mbok Darmi.
"Vey, bagaimana kondisi calon cucu ayah? Ayah sangat bahagia mendengar kabar kehamilan mu dari Davin!!"
Bagus menggeser tubuhnya mendekat pada putrinya. Vey tersenyum mengusap perutnya yang masih rata. Walaupun rasa takut dan trauma nya masih ada pada dirinya. Tapi Vey sekuat tenaga menutupinya ketika berhadapan dengan ayahnya.
"Baik, ayah. Vey juga sangat bahagia begitu pula mas Davin. Kami sangat bahagia, Tuhan masih mempercayakan kami berdua menjadi calon orang tua bagi anak-anak kami kelak!!"
"Ayah mendoakan semoga rumah tangga kalian selalu bahagia dan dijauhkan dari orang-orang jahat. Semoga bayimu dan kamu selalu diberi kesehatan sampai lahiran nanti. Hanya doa yang bisa ayah berikan padamu, nak. Tidak ada harapan besar selain ayah berharap anak-anak ayah hidup bahagia."
Vey terharu mendengar doa dan kata-kata dari ayahnya. Sampai sekarang, Bagas kakaknya belum juga mau bicara dengan ayahnya.
Vey merasa kebahagiaan dia kini belumlah lengkap. Setelah Mita sembuh nanti dan Bagas kembali lagi ke Indonesia. Vey akan bicara sekali lagi pada Bagas, agar Bagas dan ayahnya bisa seperti dulu lagi.
"Bagaimana kabar kakakmu? Apa dia baik-baik saja?" tanya Bagus dan Vey sudah menduganya. Bagaimanapun seorang ayah tetap saja mengkhawatirkan semua anak-anaknya. Terbukti meskipun ayah dan kakaknya sama-sama diam, tapi ayahnya tetap menanyakan kabar Bagas begitupun Bagas tetap menanyakan kabar tentang Bagus ayahnya.
__ADS_1
"Kakak baik-baik saja, yah. Dia baru tadi pagi berangkat ke Singapura. Beberapa hari yang lalu, Mita kecelakaan dan kondisinya sekarang koma. Maka kakak melarikan dia ke rumah sakit di Singapura tempatku di rawat dulu."
"Apa? Mita kecelakaan? Bagaimana bisa? Ceritakan pada Ayah!!"
Vey memandang ke arah Davin, tidak mungkin dia menceritakan bahwa yang seharusnya ditabrak adalah dia. Pasti ayahnya akan bertambah khawatir. Terpaksa Vey berbohong demi kebaikan bersama.
"Dia korban tabrak lari dan saat ini pelakunya masih dalam pencarian. Dia mengalami koma seperti yang pernah ku alami. Tapi ayah tenang saja, kita berdoa bersama semoga Mita segera pulih dan kita bisa melihat kakak menikah dengannya!!" ucap Vey yang tidak semuanya bohong.
Dia menggenggam tangan Bagus, meyakinkan pada ayahnya semua akan baik-baik saja. Dia tidak ingin ayahnya kebanyakan pikiran yang akan mengganggu kesehatannya.
Bagus sangat menyayangi Mita seperti putrinya sendiri. Gadis itu sangat baik dan dialah yang membantu Bagus sembuh dari sakitnya selama ini.
Mendengar gadis itu akan menikah dengan putranya, Bagus sangat bahagia. Dia berharap Mita segera pulih dan melengkapi kehidupan putranya.
"Gadis yang malang, semoga dia segera pulih. Kakakmu pasti sangat mengkhawatirkannya, semoga Mita baik-baik saja!!" ucap Bagus, ada gurat kecemasan di wajahnya saat ini.
"Sepertinya hari ini akan turun hujan, sebaiknya ayah bermalam di sini. Aku akan memasakkan makanan yang lezat untukmu, yah. Bagaimana, apa ayah mau? Aku mohon!!"
Vey mencoba mengubah suasana agar ayahnya tidak merasa sedih karena memikirkan Mita dan Bagas.
"Sayang, kamu jangan capek-capek. Ingat kau sedang mengandung!!" tegur Davin yang sedari tadi hanya diam sebagai penyimak interaksi ayah dan anak.
"Mas, aku hanya memasak tidak akan membuatku lelah. Lagi pula ada mbak neneng dan mbok Darmi yang akan membantuku."
"Vey, patuhlah pada ucapan suamimu. Bagaimanapun dia sangat mengkhawatirkanmu dan calon anak kalian!!" tegur Bagus ikut menimpali.
"Tidak, pokoknya aku mau masak. Malam ini aku ingin makan macam-macam seafood dan harus aku yang memasaknya. Ini keinginan bayiku, harus dipenuhi kalau tidak takutnya bayiku akan ileran setelah lahir!!"
"Apa ini termasuk nyidam, sayang?" tanya Davin di angguki Vey.
__ADS_1