Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 26


__ADS_3

"Ma. Bantu obati lukaku," teriak Renata sesampainya di rumah.


"Ada apa sih teriak-teriak? Kuping mama belum tuli. Astaga, kenapa dengan wajah dan tubuhmu, Ren? Apa yang terjadi padamu?" tanya Retno panik.


"Wanita sialan itu hampir saja membunuhku, ma. Bukan dia saja, si Bagas kakaknya juga mencekikku."


"Apa? Kurang ajar, bagaimana bisa?"


"Sudah, jangan mencecarku dengan banyak pertanyaan. Lebih baik bantu aku mengobati lukaku. Lihatlah wajah cantik dan kulit mulusku hampir hancur karena dia."


"Mita. Ambilkan kotak p3k kesini cepat!!" teriak Retno.


Mita segera mengambilkan kotak p3k dan memberikannya pada Retno. Matanya melirik melihat wujud wajah dan tubuh Renata yang memerah. Dia sudah menduga, pasti semua ini tak lain adalah ulah Vey dan Bagas.


"Apa kau lihat-lihat? Kembali ke dapur!!" bentak Renata.


Sepulang kerja, Davin tidak langsung pulang. Seharian penuh, konsentrasinya rusak karena memikirkan Vey.


Davin berada di bawah apartemen Vey. Satpam penjaga telah mengenalnya sehingga dia mudah masuk. Entah dorongan hatinya atau kekesalannya, sehingga dia nekat menemui Vey malam ini.


Bel pintu apartemen Vey berbunyi. Vey sempat heran, siapa yang bertamu. Pasalnya di apartemennya ini, tidak bisa sembarangan orang masuk tanpa ada janji dengan si pemilik.


Vey melihat dari lubang pintu, seorang pria tampan berdiri membelakangi pintu. Dari postur tubuhnya dia sudah kenal. Tak tanggung-tanggung, Vey segera membukakan pintu untuk suaminya.


"Selamat malam pak Davin!! Kenapa anda tiba-tiba datang ke sini tanpa memberitahuku?"


"Bisakah saya masuk terlebih dahulu? Tidak sopan membiarkan tamu berdiri di ambang pintu," ucap Davin dengan wajah datarnya.


Melihat penampilan Vey, membuat Davin memalingkan muka. Bagaimana tidak, Vey hanya memakai baju tidur transparan dan ********** terlihat jelas di mata Davin.


"Apa kau sengaja menggodaku?" tanya Davin, masih di posisi memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Vey baru menyadari apa yang salah pada dirinya. Tetapi dia malah tersenyum, apalagi melihat reaksi suaminya.


"Saya tidak menggoda anda, pak. Bagaimana bisa saya menggoda anda, bahkan anda datang tanpa ada janji dengan saya. Tapi, apakah anda tergoda? Apa saya terlihat sexy?"


Vey menggoda suaminya, lagi pula apa yang salah menggoda suami sendiri. Melihat Davin masih diam dan memalingkan muka. Vey berdiri dan pindah duduk tepat di sebelah Davin. Dia tersenyum dan mencegah di saat Davin lagi-lagi memalingkan muka nya.


"Ganti pakaianmu, Vey. Jangan kira aku akan tergoda dengan wanita sepertimu."


Bohong jika Davin tidak tergoda dengan sekretarisnya. Tetapi mengingat ucapan Renata, membuatnya jijik dengan Vey.


"Cih, kau tidak menuruti perintahku? Apa malam ini kau sengaja berpenampilan seperti ini untuk menanti kedatangan Devano atau bahkan Bagas?"


Vey yang sedari tadi diam, terkejut dengan ucapan suaminya. Benar dugaannya, Davin berfikiran yang tidak-tidak padanya.


"Pasti anda kena hasutan lagi!!" ucapnya menatap Davin.


"Tidak ada yang menghasutku, saya juga melihat foto-foto mesra bersama Devano, dan tadi siang, bagaimana bisa Bagas membawamu begitu saja di jam kerja, kalau kalian tidak memiliki hubungan."


Davin menatap Vey, kedua tangannya meremas kedua lengan Vey. Sementara Vey bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba Bagas kembali, terdengar suara pintu terbuka.


Davin berdecak, membenarkan dugaanya tadi. Dia bangkit, melepaskan kedua tangannya dari lengan Vey. Dia menatap tajam ke arah Bagas, kemudian keluar meninggalkan apartemen.


Vey berteriak memanggil nama suaminya, ingin mengejar di urungkannya mengingat busananya minim bahan.


Sementara Bagas yang tidak tau menau hanya diam. Vey berlari masuk ke dalam kamarnya, bergegas mengganti pakaiannya. Dia akan mengejar suaminya sebelum suaminya semakin salah paham.


"Kau mau kemana malam-malam seperti ini, Vey?" tegur Bagas, melihat Vey.


"Tentu saja mengejar suamiku, kak!!"


"Tutup pintunya kembali, jangan bodoh, dia sudah pergi. Apa kau ingin mengejarnya hingga ke rumah kalian?"

__ADS_1


"Ini semua gara-gara kakak. Kenapa kamu harus pulang secepat ini. Bukankah setengah jam lalu, kau keluar?"


"Aku tidak tahu dia di sini. Lagi pula aku hanya mengambil paspor yang tertinggal. Jangan bikin ulah lagi, kakak tidak ingin penerbangan kakak batal lagi karenamu."


Bagas akan ke singapura malam ini, karena perjalannya batal gara-gara perkelahian Vey dan Renata. Membuatnya membatalkan meetingnya dengan koleganya di singapura. Untung saja pesawat belum take off, apa jadinya jika Bagas tidak datang tepat waktu. Pasti Vey habis di tangan Renata.


Davin membanting setir mendadak, ketika mobilnya hendak menabrak gerobak bakso. Untung saja dia bisa menghindar dan tidak sampai menabrak.


Davin keluar dari mobilnya, menemui pemilik gerobak. "Maaf mas, saya tidak sengaja. Apakah anda yang terluka? Atau gerobak mas ada yang lecet, biar saya ganti rugi," ucap Davin panik.


"Kalau nyetir jangan ugal-ugalan, mas. Ini jalan kecil, bukan jalan tempat balapan mobil. Gerobak saya tidak lecet, tubuh saya juga tidak lecet, jantung saya yang hampir copot. Kalau terjadi sesuatu pada saya bagaimana nasib istri saya di rumah yang sedang hamil muda. Kalau saya mati, istri saya jadi janda, anak kami jadi anak yatim."


Penjual bakso itu marah-marah, karena Davin di nilainya ugal-ugalan dalam mengendarai mobilnya. Davin langsung tertegun, bukan karena takut melihat kemarahan si penjual bakso. Ucapan si penjual bakso yang berkata istrinya sedang hamil muda, tiba-tiba mengingatkannya pada seseorang.


"Mas Davin. Alhamdulillah sebentar lagi kita punya anak, sayang. Lihatlah, hasil testpack menunjukan garis dua yang artinya aku positif hamil."


Sekelebat bayangan samar membuat kepala Davin mendadak sakit. Si penjual Bakso menjadi panik, padahal dia hanya marah-marah.


"Mas, anda kenapa, mas?" ucapnya panik, lalu membimbing Davin duduk di trotoar jalan.


"Gak, mas! Saya hanya sedikit pusing. Terimakasih dan maaf atas ulah saya tadi."


Davin merogoh saku jasnya, lalu mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu di dompetnya. "Terimalah, ini tidak seberapa tapi bisa untuk membantu biaya persalinan istri anda."


Si penjual bakso ragu-ragu untuk menerimanya, sekaligus merasa malu karena dia sempat marah-marah tadi. "Gak usah mas, lagian tidak terjadi apapun pada diri saya, gerobak saya juga tidak lecet," tolak si penjual bakso.


Davin tetap memaksa agar menerima pemberiannya. "Terimalah, setidaknya pikirkan istri dan calon bayimu," ucap Davin sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


"Terimakasih mas. Akhirnya uang itu diterima si penjual bakso. Davin bangkit dari duduknya, hendak masuk ke dalam mobilnya. Tapi si penjual bakso menahannya.


"Kepala anda sedang pusing, lebih baik jangan mengemudi untuk saat ini. Apakah anda memiliki istri? Setidaknya pikirkan keselamatan anda demi istri anda," ucapnya. Lagi-lagi ucapan si penjual bakso membuat kepala Davin semakin pusing dan jatuh pingsan.

__ADS_1


__ADS_2