
Andien masih bisa berkeliaran dengan penyamarannya. Dengan menyamar menjadi wanita muslim bercadar, dia bisa memata-matai keberadaan Vey.
Rumah sakit kasih bunda, Vey masih berada di sana. Kondisinya sudah membaik meski terkadang mual-mual masih saja hadir dan pergi semaunya.
Dengan bantuan kursi roda, sikap Davin yang over possessive tidak ingin istrinya terlalu kelelahan berjalan. Kehamilan Vey kali ini harus benar-benar dia jaga. Dia tidak ingin kehilangan calon penerusnya untuk kedua kalinya. Nasib baik, Tuhan masih mempercayakan mereka berdua untuk menjadi orang tua.
"Mas, aku malu, aku tidak sakit kenapa harus duduk di kursi roda?"
Vey merengek karena melihat mata semua orang yang duduk di deretan kursi yang mereka lewati sedang memandang ke arah Vey dan Davin.
"Abaikan saja, sayang. Apa kau ingin aku menggendongmu saja? Pokoknya aku tidak akan membiarkan kamu kelelahan!!"
"Gak mau, gak usah aku malu!!"
Davin menggeleng seraya tersenyum, tanpa sadar mereka telah berada di depan ruang rawat Mita.
Vey merengek terus dari tadi, ingin melihat kondisi Mita saat ini. Mereka berdua masuk dan melihat Bagas ada di dalam sana. Dia masih setia menunggu Mita sadar. Tapi Mita belum juga sadar, dan bisa dikatakan dia sedang koma.
Vey bisa melihat kesedihan di mata kakaknya. Kesedihan yang sama seperti yang dilihatnya sewaktu ibu mereka tiada. Vey tidak ingin kakaknya merasa kehilangan lagi. Dia tahu, di balik sikap tegasnya Bagas sebenarnya ada luka di sudut hatinya. Luka itu kembali lagi Vey lihat di mata kakaknya.
"Kakak!!" sapanya.
"Vey, kau sudah sadar?"
Bagas bangkit dari duduknya, menghampiri adiknya. Dia berjongkok meneliti kondisi fisik adiknya. Takutnya ada yang terluka walau sedikitpun.
__ADS_1
"Hentikan, kak. Kau berlebihan, aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan Mita saat ini? Apa sudah ada kemajuan?" tanyanya. Bagas menggeleng dan tatapannya mengarah pada Mita yang masih berbaring dengan mata terpejam di atas ranjang perawatan.
"Dia mengalami koma, sepertinya kakak akan memindahkannya ke singapura. Di sana lebih lengkap, di rumah sakit tempat kau di rawat sewaktu koma dulu!!"
"Tapi kak, apa tidak apa-apa? Singapura jauh, maksudku apa tidak masalah dengan kondisi Mita yang seperti itu?"
Bagas mengusap kepala Vey dengan penuh sayang. Bibirnya tersenyum, menatap wajah adiknya.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Doakan saja Mita segera pulih kembali dan kau jaga diri baik-baik. Dan kau Davin, jaga adiku baik-baik. Dua wanita itu sedang berkeliaran ingin mencelakai adikku!!"
"Tenanglah, aku pasti menjaganya!!"
"Buktikanlah, jangan menjadi pria bodoh untuk kedua kalinya. Aku akan menyuruh beberapa orang untuk menambah penjagaan. Bagaimanapun aku tidak bisa tenang, meninggalkan adikku dalam situasi seperti ini," ucap Bagas serius.
Hari ini juga, Bagas akan membawa Mita ke rumah sakit di Singapura. Rumah sakit tempat Vey di rawat sewaktu koma dulu. Dia harus mengambil tindakan cepat demi menyelamatkan nyawa calon istrinya. Disisi lain dia juga mencemaskan adiknya jika dia pergi.
"Kakak gak usah mengkhawatirkan aku, mas Davin pasti menjagaku. Kakak fokus saja demi kesembuhan Mita. Aku di sini dan mas Davin selalu mendoakan yang terbaik untuk kesembuhan Mita!!"
Bagas langsung memeluk tubuh Vey. Meninggalkan adiknya terasa sangat berat baginya.
"Baiklah, jaga diri baik-baik. Jangan keluar tanpa penjagaan dan selalu hubungi suamimu dan para penjaga ketika ada sesuatu yang terlihat membahayakan!!" pesan Bagas sebelum pergi.
Vey mengangguk dan memeluk kakaknya sekali lagi sebagai penyemangat. Setelah itu, rombongan petugas rumah sakit membantu memindahkan Mita menuju ke helikopter yang telah tiba di atas gedung rumah sakit.
Hari ini juga dan detik itu juga, Bagas akan membawa Mita pergi ke singapura. Helicopter itu akan membawanya menuju bandara. Untuk menghindari kemacetan, oleh karena itu Bagas memilih menggunakan helikopter untuk mengantarnya ke bandara. Semua hal sudah disiapkan sebelumnya agar perjalanannya lancar.
__ADS_1
Vey dan Davin ikut menuju atas gedung, mengantar keberangkatan Bagas dan Mita.
"Hati-hati kakak. Jaga dirimu dan jaga Mita, aku ingin dia segera sembuh dan aku ingin melihat kalian segera menikah!!" teriak Vey, disaat helikopter yang ditumpangi bagas telah lepas landas.
"Bagus, si Bagas pergi ke Singapura, berarti tinggal Davin dan Vey. Aku harus bisa memancingnya keluar rumah, agar mudah membawa Vey pergi!!" gumam Andien pelan, yang sedari tadi menguping tanpa ada yang curiga padanya.
"Yuk sayang, kita pulang. Dokter memperbolehkan mu pulang, asal kamu jangan mengerjakan pekerjaan yang berat, alias berdiamlah saja, karena mbak di rumah yang akan membantumu!!"
"Tapi mas, bolehkah aku turun dari kursi roda ini? Aku gak nyaman!!"
"Oh, jadi kau ingin ku gendong rupanya, hemm?" tanpa Aba-aba, Davin langsung menggendong tubuh Vey. Dengan sangat hati-hati karena istrinya saat ini sedang mengandung calon bayinya.
Hingga tibalah ke basement rumah sakit, Davin menjadikan tubuh Vey dengan sangat pelan di kursi samping kemudinya.
Davin melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tangannya memegang jemari tangan Vey yang cantik, lalu menciumnya sambil matanya tetap fokus pada jalan di depannya.
"Terimakasih sayang. Terimakasih telah mengandung anakku kembali!!"
"Anak kita, mas!!" protes Vey.
"Iya anak kita. Duh bumil salah ngomong sedikit saja langsung sewot!!" goda Davin, ketika melihat istrinya tersinggung dengan ucapannya barusan.
"Cih, nikmatilah kemesraan yang tersisa untuk kalian. Sebelum aku membalas dendamku pada kalian. Jangan kira aku akan membiarkan kebahagiaan kalian abadi. Terutama kau Vey, gara-gara kau aku menjadi gelandangan!!" ucap Andien, yang sedari tadi mengintip interaksi suami istri itu sebelum meninggalkan area basement rumah sakit.
Andien segera pergi dari sana, menuju ke tempat kosnya dan memberitahu Renata tentang kabar yang baru saja dia ketahui.
__ADS_1