
Penampilan Mita benar-benar berubah total gara-gara Vey. Sepertinya sebentar lagi tembok pertahanan Bagas akan runtuh.
Pagi ini mereka berdua sarapan pagi bersama. Mita sudah terlihat cantik dengan dress selutut berwarna navy. Bagas hanya meliriknya sebentar tanpa berkomentar.
Mita membantu Bagas mengoleskan blueband di selembar roti tawar. Jarak mereka sangat dekat, bahkan Bagas mampu mencium aroma perfume di tubuh Mita.
Ekspresi Bagas tetap kaku, tidak bergeming sedikitpun seperti patung pancoran. Sesekali dia membuka mulutnya hanya untuk memakan sarapannya.
"Mau kemana kamu?" tanya Bagas, baru membuka suara.
Mita yang baru saja ingin mengunyah roti tawarnya pun mendadak tersedak. Buru-buru dia meneguk segelas susu putih di hadapannya.
Bagas hanya memperhatikannya yang masih terbatuk-batuk. Bahkan dia tidak ingin membantunya sekedar menepuk-nepuk bahu Mita.
Dirasa batuknya sudah hilang, Mita pun menjawab pertanyaan Bagas. "Maaf pak, hari ini saya hanya di rumah saja. Bukanya pak Bagas melarang saya keluar rumah?"
"Dengan penampilan seperti ini?" tanya Bagas, menunjuk dress selutut yang Mita kenakan.
Mita menundukkan wajahnya, takut-takut Bagas akan memarahinya. Ekspresi Bagas sulit di tebak. Bahkan tidak terlihat dia tidak menyukai penampilan Mita. Hanya pertanyaan singkat itu tapi mampu membuat Mita tak enak hati.
"Apakah penampilan saya ada yang salah, pak?"
Dengan sangat hati-hati Mita bertanya. Jikapun penampilannya salah di mata Bagas, dia akan segera mengganti pakaiannya.
"Tidak ada yang salah, saya hanya bertanya!!"
Benar-benar pria yang sulit di tebak. Dari cara dia bertanya saja sudah menunjukan permasalahan pada dress yang Mita pakai. Tapi setelahnya dia sendiri menjawab tidak ada masalah.
Mita menghembuskan nafas pelan, entah dia merasa lega atau merasa kesal pada Bagas.
"Ambil tasmu dan ikut saya ke kantor!!" perintah Bagas seraya menghapus sisa sisa makanan di sudut bibirnya menggunakan tisu.
__ADS_1
"Saya tunggu di mobil dan cepatlah, tidak pakai lama!!"
Mita segera menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya. Dia tidak ingin membuat Bagas marah, meskipun Bagas jarang marah. Hanya wajahnya yang datar sudah mampu membuatnya merasa takut. Bagas tersenyum melihat kepanikan di wajah gadis itu.
Pesan masuk dari Vey membuyarkan senyuman Bagas. Tapi setelahnya dia tersenyum kembali setelah membaca isi pesan itu.
"Kakak, bagaimana, apakah penampilan Mita pagi ini sudah berubah? Apa dia mengenakan dress yang aku pilihkan? Jangan jadi patung Pancoran terus. Bersikaplah sedikit lembut, jangan membuatnya takut. Kalau dia kabur, baru tahu rasa kau!!"
Begitulah isi pesan dari adiknya yang mampu membuat Bagas tersenyum. Tak lama Mita pun telah masuk ke dalam mobil Bagas dan duduk di samping kemudi.
Bagas hendak menjalankan mobilnya, namun pandangan matanya terarahkan pada seatbelt yang belum Mita pasangkan untuk keamanan dirinya.
"Dasar ceroboh, kau ingin aku kena denda?" ucapnya langsung membantu Mita memakaikan seatbeltnya.
Jantung Mita sudah berdetak tak karuan. Saat wajahnya dan wajah Bawas hanya berjarak dua cm. Bahkan Mita tak berani bernafas dan menahan nafasnya.
Bagas belum menyadari ketegangan yang dialami Mita. Hingga setelah selesai memasangkan seatbelt dia pun tersadar dan menoleh menatap wajah Mita.
"Cethak!!" Bagas menyentil dahi Mita, membuat gadis itu mengasuh sakit dan mengusap-usap dahinya.
"Apa kau ingin mati? Kenapa kau menahan nafasmu?" tegur Bagas yang masih setia menatap Mita. Hanya saja Bagas mengurangi jarak antara keduanya.
"Dada saya terasa sesak kalau anda sedekat ini, pak!!" ucap Mita. Bahkan jari telunjuknya mendorong tubuh Bagas agar menjauh.
"Kenapa memangnya, hem?" bukannya menjauh, Bagas masih setia menatap Mita. Sepertinya Bagas mulai termakan ucapan Vey.
Mita gelagapan, dia memalingkan muka karena tidak mampu berlama-lama menatap Bagas.
"Pak Bagas, Bukannya kita akan ke kantor? Nanti keburu telat, pak!!"
Mita mengalihkan suasana, tapi Bagas tetap tidak bergeming. Dia terus menatap wajah Mita yang memalingkan muka enggan menatapnya.
__ADS_1
"Saya ada di depanmu, apakah jendela kaca mobil ini lebih menarik dibanding wajahku?"
Mita memejamkan matanya, tapi posisi mukanya sudah diubah menghadap Bagas. Dia benar-benar terkunci dan tak mampu menghindar. Rasanya dia ingin menenggelamkan dirinya di tengah danau, agar terhindar dari pria yang masih setia menatapnya.
"Pak Bagas, ayo kita segera berangkat. Jauhkan tubuh anda dariku, dada saya terasa sesak dan kenapa setelah masuk di dalam mobil terasa sangat gerah!!"
Bagas mengernyitkan dahinya, padahal dia sudah menyalakan AC mobil. Melihat semburat merah di pipi Mita, diapun faham maksud gadis itu.
Ternyata menggoda gadis sepolos Mita dapat menghiburnya. Bagas segera menjauhkan wajahnya dari Mita seraya tersenyum. Jika dia terus menatap gadis itu, yang ada dia akan kelewat batas.
Mita segera menghembuskan nafas lega, setelah Bagas menjauhkan wajahnya darinya. Pria itu segera menjalankan mobilnya menuju Angkasa group.
Baru pertama kalinya Mita di ajak Bagas ke kantornya. Setahu dia hanyalah Bar tempat pertama kali mereka bertemu yang dimilikinya. Ternyata pria tampan di sampingnya seorang CEO Angkasa group.
Benar-benar tajir melintir dan benar ucapan Vey kemarin. Untuk apa semua harta Bagas jika dia tidak memiliki istri dan anak. Maka harta itu hanya menjadi hiasan bank.
Lima belas menit mereka telah tiba di depan Angkasa group. Gedung yang menjulang tinggi dan seluas itu, membuat Mita kagum. Bahkan matanya tak henti-hentinya melihat setiap sudut lobby kantor.
Semua karyawan di buat heran dengan adanya sosok wanita cantik yang berjalan di samping Bagas. Karena selama ini bosnya tidak pernah membawa wanita selain Vey adiknya.
Bahkan secretaris Bagas berjenis kelamin lelaki. Hanya karyawan-karyawan lainnya saja yang berjenis kelamin wanita. Bahkan mereka semua tidak diizinkan masuk ke dalam ruangan Bagas.
Semua karyawan berbisik satu per satu membicarakan Bagas dan Mita. Mita nampak risih karena tidak sengaja dia pun mendengarnya. Berbeda dengan si patung Pancoran tetap bersikap cool seolah telinganya tuli.
Tiba-tiba Bagas menggenggam tangan kanan Mita, membuat gadis itu terkejut serta mendadak berkeringat dingin karena gugup. Hal itu memperkuat dugaan para karyawan bahwa gadis di samping bosnya memiliki hubungan spesial dengan bosnya.
"Patah hati aku, kalah saing dengan wanita itu. Manis dan sangat imut, pantasan pak Bagas memilihnya. Beruntung sekali wanita itu bisa menaklukkan bos kita yang sekeras batu!!" ucap salah satu karyawan.
Semua karyawan Bagas termasuk karyawan pilihan. Tidak seperti karyawan-karyawan di Wings Corporations. Bagas tidak asal-asalan merekrut karyawan yang bekerja di perusahaannya.
Semua karyawan Bagas memiliki attitude yang baik. Good looking, good working, good speaking good attitude. Jika tertangkap basah melakukan kesalahan, Bagas tidak segan memecat mereka. Bagas terlalu tegas, tidak seperti Davin
__ADS_1