
Dengan langkah yang sangat anggun, Vey berjalan penuh percaya diri menuju ruang kerjanya. Pagi-pagi sekali dia menjalankan tugasnya selayaknya sang sekretaris.
"Sudah tidak sabar menunggu dia tiba," ucapnya tersenyum menunggu suaminya.
Tak menunggu waktu lama, sosok yang sedang ditunggu-tunggu pun tiba dengan pesonanya. Seorang pria dengan tubuh tinggi tegap layaknya seorang model, berjalan dengan wajah angkuhnya.
Kedatangan pria dengan karisma yang kuat itu langsung menarik perhatian semua orang. Mereka langsung memberikan penghormatan.
"Selamat pagi, pak!!" sapa semua karyawan dan tiada satupun yang di respon.
Mereka semua sudah menganggapnya wajar. Setelah kabar kecelakaan bosnya tempo hari, membuat sikap bosnya berubah drastis.
Jika dulu Davin adalah bos yang ramah, dan murah senyum. Sangat berbeda dibanding Davin yang sekarang. Tatapan tajam, sikap yang terkadang dingin dan mudah marah.
Pria itu hanya melewati mereka begitu saja, seakan ia tidak melihat mereka sama sekali. Apalagi karena saat ini ia sedang sibuk mengotak-atik ponselnya.
"Selamat pagi, Pak."
Wanita muda yang menempati meja yang terletak di depan ruangannya pun langsung berdiri menyambut kedatangan pria itu. Wanita yang tak lain adalah Vey dengan sejuta pesonanya.
Davin hanya melirik nya saja dan hanya melewatinya saja tanpa merespon sapaannya. Ada yang aneh pada suaminya pagi ini.
Tiba-tiba Rizal menepuk bahunya dari arah samping. Ketika Vey hendak melangkah menemui suaminya. Vey menoleh ke arah seseorang yang berdiri di sampingnya karena di buat nya terkejut.
"Jangan kaget dengan sikap pak. Davin. Memang begitu orangnya menjadi aneh setiap harinya," ucap Rizal.
Vey mengangguk, dia akan membuatkan segelas teh hangat untuk suaminya. Barangkali mud nya langsung membaik.
"Nanti saja ngobrolnya. Saya mau buat teh untuk pak. Davin, pak."
Setelah membuat teh hangat untuk suaminya, Vey langsung masuk ke dalam ruangan suaminya. Dilihatnya suaminya sedang memegangi kepalanya.
"Tehnya, pak!!"
Davin hanya berdehem, wajahnya menahan rasa sakit di kepalanya. Vey mendekat, membantu nya memijat kepala suaminya.
"Apa yang kau lakukan!!" bentaknya, membuat Vey langsung terkejut. Apa lagi dorongan tangan Davin membuatnya terdorong hingga membentur dinding.
"Ach, sakit!!" cicitnya setelah dahinya terbentur dinding.
__ADS_1
Davin tidak membantu nya bangkit. Dia hanya memandangnya saja dengan ekspresi dinginnya. Vey merasakan keanehan pada diri suaminya. Sangat berbeda dengan Davin kemarin, yang hampir bisa diluluhkan.
"Siapa kamu?" tanya Davin.
Pertanyaan Davin membuatnya terkejut dan juga heran. Dia tahu suaminya sedang amnesia, tapi amnesia Davin sangat aneh. Bagaimana bisa dia melupakan segalanya dalam waktu sehari.
"Saya sekretaris anda, kan? Apa pak. Davin lupa?"
Davin melirik name tag di dada Vey, yang bertuliskan secretary Vey. Dia tidak bisa mengingat apapun dan siapapun kecuali Renata. Melihat sikap suaminya yang seperti itu, rasa khawatir Vey semakin bertambah.
"Jadi kau sekertaris baruku?" tanya Davin.
"Pertanyaan macam apa ini? Kenapa dia bisa lupa posisiku di kantor ini?" gumam Vey lirih.
"Kenapa kau masih di situ? Berdiri dan kerjakan semua tumpukan dokumen ini," perintahnya dengan nada kasar.
Selama ini Davin tidak pernah bersikap kasar padanya. Sekalinya mendapat perlakuan kasar dari suaminya. Hati Vey terluka, ingin menangis tetapi kenyataan menyadarkanya tentang kondisi suaminya saat ini.
"Kuat Vey, kamu harus kuat!!" gumamnya, menguatkan diri sendiri.
Vey tetap memasang senyuman manisnya, meskipun wajah datar dan dingin suaminya yang ia dapati. Tangannya mengambil tumpukan berkas di meja kerja suaminya. Memindahkanya ke meja kerjanya dan mulai memeriksanya.
"Tunggu. Apa kita pernah bertemu sebelumnya? Sepertinya wajahmu tidak asing bagiku?"
Lagi-lagi Vey dibuat tercengang dengan pertanyaan suaminya. Hingga Vey semakin penasaran dan ingin mengulik amnesia jenis apa yang diderita suaminya saat ini.
"Tentu saja kita pernah bertemu, anda adalah bos saya dan saya adalah sekretaris anda, pak," jawab Vey kemudian.
"Oh ya, saya pikir juga begitu, keluarlah!!" perintah Davin.
Vey berjalan keluar menuju meja kerjanya dengan menekan dadanya. Rasa hatinya saat ini bercampur aduk bertabrakan dengan pikirannya. Dia penasaran dengan perubahan suaminya. Padahal kemarin malam mereka berdua baru saja menyalurkan hasrat berdua. Pagi harinya, suaminya berubah dan melupakan segala nya.
Vey menatap tumpukan berkas di depan matanya. Semua pekerjaan Davin, dilimpahkan kepadanya. Mungkin Vey akan sedikit kewalahan dan lembur malam ini. Melihat tumpukan berkas di hadapannya bukan hanya satu melainkan sangat banyak.
Vey yakin, merosotnya perusahaan ini selama dia koma. Pasti tidak ada yang menghandle perusahaan ini dengan cukup baik. Mengingat kondisi suaminya yang seperti itu. Membuat Vey berpikir untuk mengambil alih perusahaan ini. Tapi bukan sekarang tentunya, dia akan melihat situasi dan kondisi selanjutnya.
Siang harinya Davin menyuruh Vey memesankan makanan untuk nya. Vey yang masih disibukkan dengan tumpukan dokumen di hadapannya pun menghentikan aktivitasnya.
Tanpa membuang waktu, Vey berjalan ke luar kantor menuju mall yang tidak jauh dari lokasi. Dia sangat tahu makanan favorit suaminya apa.
__ADS_1
Unagi-no-kabayaki, belut yang dicelupkan pada saus dan dipanggang diatas arang. Vey sangat tahu makanan jepang yang satu itu adalah favorit suaminya.
Dengan senang hati dia akan membelikannya untuk suaminya. Jika dulu mereka sering makan sepiring berdua. Untuk saat ini sepertinya belum bisa, mengingat kondisi suaminya tidak mengingatnya sama sekali.
Setelah mendapatkan Unagi-no-kabayaki. Vey berjalan kembali menuju Wing corporation. Di tengah langkahnya, dia mendadak menghentikan langkahnya. Pandangan matanya menangkap dua wanita yang saat ini di bencinya sedang shoping di Mall yang dia datangi.
"Cih, dasar lintah, penjilat, menikmati harta orang sesuka hati kalian. Nikmati saja sisa uang di tabungan suamiku, sebelum semua beralih ke tanganku. Jangan kira dengan merusak rumah tanggaku, menguasai suami dan juga sebagian hartaku, kalian bisa hidup enak selamanya. Akulah pemegang kendali atas semua hartaku," ucap Vey menatap tidak suka pada Renata dan Retno yang sedang menghambur-hamburkan hartanya.
Dengan perasaan dongkol, Vey melanjutkan langkahnya kembali ke kantor. Pasti Davin sedang kelaparan karena menunggunya.
Sepuluh menit kemudian, Vey baru tiba, tepatnya di depan ruangan kerja suaminya. Dia langsung mengetuk pintu dari arah luar.
"Tok...tok!!"
"Masuk!!" perintah Davin.
Vey segera masuk setelah mendapat jawaban dari dalam. Di tangannya sudah ada sekantong makanan pesanan suaminya.
"Saya taruh disini ya, pak?" ucapnya menunjuk meja tamu di samping kanan pintu masuk.
Davin yang memejamkan matanya pun langsung membuka matanya kembali. Melihat sekantong makanan yang dibawa sekretarisnya.
Davin beranjak dari duduknya, setelah hidungnya mencium aroma makanan kesukaanya. Kakinya melangkah menuju tempat di mana Vey menaruh makanan untuknya.
Vey telah menghidangkannya lengkap dengan sebotol air mineral untuk suaminya. Davin di buat bertanya-tanya, setelah melihat menu makanan yang Vey hidangkan.
"Bagaimana kau tahu makanan favoritku?" tanyanya, menatap ke arah Vey.
"Tentu saja aku tahu. Karena aku adalah istrimu sayang," gumamnya dalam hati.
"Oh, jadi ini makanan favorit pak. Davin? Kebetulan sekali makanan favorit kita sama, pak. Tadi saya asal-asalan membelinya. Tidak tahunya pak. Davin suka, syukurlah."
"Ya. Kau boleh keluar!!" ucapnya.
Vey menunduk hormat lalu keluar dari ruangan suaminya. Jika suaminya tidak berubah dan tetap seperti kemarin. Sudah pasti Vey memilih tinggal di tempat dan menyuapi nya dengan sangat mesra.
Tentu saja dia harus mengurungkan niatnya itu. Selain kondisi Davin yang sangat aneh hari ini, di sisi lain tumpukan pekerjaan sedang menunggu untuk di kerjakannya.
Setidaknya Vey merasa cukup senang. Dari sekian hal yang suami nya lupakan. Ternyata makanan favorit suaminya tetaplah sama.
__ADS_1