Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 24


__ADS_3

Vey Masih menahan agar amarahnya tidak meledak. Setiap ucapan Renata mampu memancing emosinya.


"Kau pikir, kau bisa melawanku, Vey? lihatlah, kamu tidak ada apa-apanya tanpa harta suamimu yang saat ini menjadi milikku? bisik Renata di dekat telinga Vey.


Vey menarik dress Renata, ketika wanita itu menjauhkan tubuhnya dari Vey. "Kau pikir aku peduli? penjilat sepertimu hanya bisa numpang hidup dengan merampok milik orang lain. Cih, menjijikan sekali dirimu Renata," bisik Vey.


"Kau!!" Renata hendak menampar Vey, namun tangan kekar Davin menahannya.


"Apa yang hendak kau lakukan Renata? pulang. Bukankah kau ingin pulang tadi?" tanya Davin.


"Gak. Aku tidak akan pulang sebelum mas Davin memecat wanita ini," Renata mulai berulah kembali. Davin tidak habis pikir, sedangkan Vey hanya menahan senyum.


Dia pikir semudah itu memecat Vey, yang sejatinya adalah pemilik saham terbesar di Wings Corporation. Kalaupun mau Vey akan membongkar jadi dirinya yang sebenarnya. Tetapi Vey tidak ingin gegabah, ini belum saatnya.


"Jangan ngawur kamu Renata. Semenjak ada Vey di perusahaan ini, perusahaan ini semakin berkembang pesat. Jangan karena cemburu kau memintaku untuk memecatnya," tegur Davin.


"Tapi mas, dia pasti merayumu. Kau tahu sendiri incaran wanita itu adalah orang-orang sukses sepertimu," ucap Renata.


"Pecat saja Vey, pak Davin. Meresahkan saja semenjak kehadiran dia, karyawan lelaki suka lalai atas pekerjaannya hanya untuk pdkt dengan Vey," ucap salah satu karyawan yang membenci Vey.


Mata Vey langsung terarah pada karyawan itu. Dia melihat nama karyawan itu yang tertempel di kemejanya. Vey akan mencatatnya, memasukkannya ke dalam daftar karyawan yang akan dipecatnya kelak.


Berbeda dengan Renata, dia tersenyum ke arah karyawan yang berada di pihaknya. Dia akan memberi sedikit tips sebagai bentuk terima kasihnya nanti.


"Kau dengar, mas? bahkan semua karyawan di sini tidak menyukai wanita ini. Apa kau ingin kehilangan puluhan karyawan demi satu secretaris seperti dia?" ucap Renata, jari telunjuknya mengarah pada wajah Vey.


Vey tetap diam, menunggu respon Davin. Jika Davin menuruti permintaan Renata. Maka mungkin hari ini adalah saatnya dia membongkar jati dirinya.


Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi semua orang setelah mengetahui istri dari CEO Wings Corporation adalah dia. Dan pemilik terbesar saham di situ adalah dia.


Mungkin semua karyawan yang tidak berpihak padanya akan menyembah kakinya. Meminta maaf dan berpura-pura mengucapkan kata khilaf.


"Ehm, bagaimana pak Davin. Apakah anda akan memecat saya?" tanya Vey.


Davin tidak menjawab, dia malah kembali masuk ke dalam ruangannya. Sedangkan Renata berucap kepada semua karyawan, sesuatu yang membuat Vey ingin muntah.

__ADS_1


"Siapa yang ingin wanita ini dipecat, silahkan angkat tangan!!" ucap Vey. Mayoritas mengangkat tangannya karena tidak ingin kehilangan pekerjaannya.


Bagaimanapun Renata adalah tunangan dari atasannya. Mana mungkin mereka berani tidak memihak Renata. Meskipun kebanyakan dari karyawan itu tidak menyukai Renata.


Vey tersenyum kecut. Bahkan dia melihat Sarah dan Rizal ikut mengangkat tangannya. Renata tersenyum mengejek menatap Vey yang masih bersikap santai.


"Mulai besok, kamu dilarang menginjakan kakimu di perusahaan ini!!" ucap Renata.


"Cih, anda pikir anda siapa? anda tidak berhak memecat saya karena anda bukan bos saya, nona Renata," ucap Vey, menekankan kata nona Renata.


"Kau berani melawanku? dasar sekretaris sombong."


"Si Vey makin ke sini semakin kurang ajar, ya? dia berani sama mbak Renata," bisik salah satu karyawan, mengundang karyawan lain sependapat dengannya.


Renata semakin marah, melihat Vey menertawakannya. Bukannya takut, Vey malah dengan santainya menertawainya.


"Ternyata kalian semua munafik, ya. Hanya demi posisi kalian di kantor ini, kalian menuruti ucapan wanita ini,'' ucap Vey, menunjuk wajah Renata.


"Vey, kamu jangan kurang ajar. Bagaimanapun dia adalah tunangan bos kita," tegur Sarah.


Lagi-lagi Vey hanya tersenyum, bahkan senyumnya terlihat meremehkan Renata. Karena emosi, Renata langsung menampar wajah Vey. Kali ini tamparannya mengenai pipi Vey sebelah kanan.


Susana kantor semakin Ramai, bahkan para karyawan tidak ada yang berani melerai perkelahian antara Renata dan Vey.


Tangan Renata mencekik leher Vey, membuatnya kesulitan bernafas. Vey mencoba mendorong tubuh Renata yang lebih besar darinya.


"Hentikan! apa kalian sudah gila?" teriak Davin yang baru saja keluar lagi dari ruangannya setelah mendengar keributan di luar.


Seolah tidak mendengar teriakan Davin, dua wanita itu masih melanjutkan perkelahiannya.  Rambut keduanya sudah tidak lagi berbentuk. Bahkan bekas cakaran membuat tangan dan wajah mereka berdua memerah.


Sungguh perkelahian yang sangat memalukan. Apalagi Vey dan Renata menjadi bahan tontonan semua karyawan. Davin mencoba melerai, namun tubuhnya terpental ke belakang karena kewalahan.


"Kau harus mati, Vey. Kehadiranmu hanya meresahkan hidupku," ucap Renata.


Perkelahian antara Renata dan Vey, sampai terdengar di telinga Bagas. Bagas langsung menutup telepon dari seseorang yang memberinya kabar.

__ADS_1


"Kurang ajar. Apakah, memang wanita itu harus segera ku cekik mati," ucap Bagas, dia bangkit dari kursi kebesarannya.


Renata terus memukuli tubuh Vey, karena posisinya saat ini berada di atas tubuh Vey. Dia semakin ganas, karena dia ingin Vey segera mati.


"Hentikan Renata. Apa kau sudah gila?" teriak Davin.


"Untuk apa kalian menjadi penonton di situ? cepat bantu pisahkan mereka!!" perintah Davin.


Akhirnya setelah mendapat teguran dari bosnya. Semua karyawan maju untuk memisahkan perkelahian antara Renata dan Vey.


Sama saja, mereka pun kewalahan memisahkan perkelahian antara Vey dan Renata. Renata selalu mendorong semua orang yang mulai mendekatinya.


Setelah di gegerkan soal perkelahian antara Renata dan Vey. Kini hadir pula seseorang yang membuat geger semua karyawan di Wings Corporation.


Pesonanya memang tidak diragukan lagi. Orang itu keluar dengan sorot mata tajamnya yang mampu membuat tunduk setiap orang yang melihatnya.


Kakinya melangkah menuju tempat lokasi kejadian. "Selamat siang, apakah anda ingin menemui pak Davin, tuan?" tanya bagian resepsionis.


Lelaki itu tidak merespon ucapan seorang resepsionis itu. Dia berlalu begitu saja dan masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.


Vey mendorong tubuh Renata dari atas tubuhnya. Renata benar-benar gila dan nekat ingin mencoba membunuhnya. Bahkan leher Vey memerah akibat cekikan Renata.


"Perempuan gila!!" teriak Vey marah. Orang-orang yang belum pernah melihat Vey marah pun terkejut.


"Hentikan perbuatan gilamu sebelum kamu menyesal, Renata!!" bentak Vey. Bahkan panggilannya telah berubah aku, bukan anda lagi.


Rasanya Vey telah terpancing emosi, karena dia hampir mati dicekik Renata. Vey terbatuk-batuk, lehernya terasa sakit.


"Kau harus mati, Vey!!" teriak Renata bangkit hendak mencekik Vey kembali. Seseorang lebih dulu mencekik lehernya hingga mata Renata seolah ingin terlepas dari tubuhnya.


"Apa kau ingin mati, wanita menjijikan? kau gunakan tanganmu untuk menyakiti Vey lagi, maka ku kirim kau ke neraka saat ini juga."


Suara menggelegar membuat terkejut semua orang yang ada di sana. Bagas langsung melangkah ke arah Vey dan Renata yang masih berkelahi. Mendadak mereka berdua melepaskan tangan masing-masing yang saling mencekik.


"Kak! lepaskan dia bisa mati," Vey berusaha melepaskan cekikan tangan Bagas dari leher Renata. Semua terkejut oleh tindakan Bagas, termasuk Davin.

__ADS_1


Enaknya di bongkar gak, ya? pemirsa ^ ^


Bagaimana reaksi mereka setelah tahu, Vey adalah pemilik saham terbesar di Wings Corporation?


__ADS_2