
Mereka terus berciuman hingga lupa waktu. Padahal penerbangan ke Indonesia siang hari ini tinggal setengah jam lagi. Untung saja Mita sadar dan langsung melepas pagutannya.
"Yang, cukup! Kita jadi pulang ke Indonesia, gak sih?" tanya Mita menyadarkan kelalaian Bagas.
"Astaga, aku lupa. Kamu tunggu sebentar, aku akan ambilkan kursi roda!!"
"Gak perlu, aku bisa jalan!!" tolak Mita.
Akhirnya walaupun jalannya pelan, Bagas tetap tlaten membantu Mita berjalan sampai di lobby rumah sakit. Di depan sana sudah ada sebuah mobil yang akan mengantarkan mereka ke airport.
Dengan sangat pelan, Bagas membantu Mita naik ke dalam mobil. Mereka duduk berdampingan di kursi penumpang, karena ada sopir khusus yang mengemudikan mobilnya.
Bagas menggenggam tangan Mita, sesekali mencium punggung tangan Mita. Posisi mereka sangat intim, maklum calon pengantin baru yang ngebet pengen nikah.
"Yang, malu di lihatin drivernya!!" bisik Mita.
Bagas tidak peduli, dia yang berkuasa di sana. Lagi pula salah drivernya sendiri yang mengintip orang yang sedang bermesraan. Lagian Bagas sudah membayarnya mahal, jadi untuk apa Bagas sungkan pada Driver.
Tak mendengar bisikan Mita, tangan Bagas malah merangkul bahu Mita dan menyuruh gadis itu bersandar di bahunya. Sesekali Bagas mengecup kening Mita, membuat gadis itu bertambah malu.
"Sudah, ngapain kamu malu? Bersikaplah biasa saja, ini Singapura bukan Indonesia!!" ucap Bagas lirih.
"You're a sweet couple!!" puji si Driver.
Bagas berterimakasih lalu tersenyum dan melanjutkan bermesraan dengan Mita. Pokoknya dunia milik berdua, entah di Singapura ataupun di Indonesia.
Bahkan di dalam pesawat sekalipun Bagas tetap bermesraan dengan Mita. Menganggap penumpang lain tidak ada dan hanya mereka berdua.
__ADS_1
Mereka menggunakan pesawat umum, walaupun di business class. Bagas memilih business class karena ingin bermesraan dengan Mita. Mita semakin terbiasa dengan sikap Bagas yang berubah total.
Bagas yang sekarang lebih menonjol sisi manjanya. Itu karena rasa nyaman yang didapatkannya dari Mita. Seperti rasa nyamannya yang dirasakan pada almarhumah ibunya dan adiknya. Tapi rasa nyaman di sini ada perbedaannya. Rasa nyaman selayaknya lawan jenis atau pasangan kekasih.
Hingga tibalah di Indonesia, mereka benar-benar ingin memberikan surprise untuk keluarganya. Sampai saat ini belum ada satupun yang mengetahui kepulangan mereka.
Keesokan harinya tepatnya hari Minggu, Davin mengajak Vey berkunjung ke kediaman ayahnya. Meskipun Davin dan Vey sudah menempati rumah baru mereka, tapi rumah lama mereka tidak dijual, melainkan ditinggali oleh Bagus ayahnya Vey.
Bagas mendengar hari ini Davin dan Vey akan berkunjung ke rumah lama mereka. Mendengar hal itu Bagas mengajak Mita untuk pergi ke sana, sekaligus memberi surprise kedatangan mereka kepada semua keluarganya.
Meskipun rumah itu menorehkan luka yang cukup dalam bagi Vey, tapi Vey akan mencoba berdamai dengan masa lalunya.
Pukul 10.00 siang Davin dan Vey telah tiba di kediaman ayahnya. Ketika Vey turun dari mobilnya Pandangan Pertama yang dia lihat adalah bangunan tua yang menyimpan banyak kenangan Indah sekaligus kenangan buruk di masa lalu.
Menyadari itu Davin merangkul istrinya, Seraya membisikan sesuatu. "Kau tidak apa-apa, sayang? Ayo lupakan masa lalu, berdamailah dengan masa lalu dan kita buka lembaran yang baru untuk masa depan kita yang lebih indah bersama calon bayi kita!!" ucap Davin mengelus lembut perut istrinya yang terlihat sedikit membuncit.
Setelah Vey dan Davin bertemu dengan Bagus. Beberapa menit kemudian dihebohkan dengan kedatangan dua orang yang tak lain Bagas dan Mita.
"Surprise! Kami pulang!!" teriak mereka berdua kompak.
Mita langsung berhambur memeluk Vey. "Vey bagaimana kabarmu dan calon keponakanku ini? Lihatlah perutmu sudah mulai membuncit , aku tidak sabar menantikan kelahirannya. Aku tak sabar menimang-nimang bayimu, Vey!!" ucap Mita antusias.
"Hei, kenapa kau menantikan kelahiran bayiku? Kenapa kalian tidak bikin sendiri? menikahlah dan buatkan aku keponakan!!" timpal Vey, membuat semua orang yang di sana tertawa dengan jawaban konyolnya.
Saat mereka semua tertawa, netra Bagas dan netra Bagus bertemu. Ayah dan anak itu sampai sekarang belum bertegur sapa.
Davin mencolek istrinya meminta Vey memandang ke arah Bagas dan juga ayahnya. Paham dengan maksud suaminya, Vey berinisiatif agar Bagas dan juga ayahnya bisa akur seperti dulu lagi.
__ADS_1
"Hei dua lelaki tua, Sampai kapan kalian akan diam-diaman terus seperti ini? Ayolah, lupakan masa lalu. Bahkan aku sendiri sudah mencoba berdamai dengan masa lalu. Aku ingin melihat kalian seperti dulu lagi, Aku mohon, please!!"
Bagas memandang ke arah Vey, kemudian memandang ke arah Mitha. Seolah dua wanita itu mendukungnya untuk berdamai dengan ayahnya.
Bagas memejamkan matanya sejenak, menarik nafasnya pelan. Hari ini adalah waktu yang tepat untuknya, berdamai dengan masa lalu. Melupakan semua kenangan pahit yang pernah terjadi di hidupnya, dan mencoba membuka lembaran baru yang lebih indah dan damai.
Vey memegang tangan kakaknya dan juga tangan ayahnya. Dia mempersatukan dua tangan lelaki yang sangat berharga dalam hidupnya itu, agar mereka mau berdamai lagi dan kembali seperti dulu.
Entah siapa yang memulai duluan. Kini dua lelaki itu langsung saling berpelukan. Melampiaskan kerinduan yang selama ini mereka pendam.
"Maafkan Bagas ayah, karena selama ini Bagas selalu menjadi anak yang pembangkang. Selalu melukai hati ayah dan tidak pernah menuruti semua perintah ucapan ayah!!"
"Cukup nak, kamu tidak salah, tapi selama ini Ayah yang salah. Ayah tidak bisa menjadi seorang ayah yang baik untuk kalian berdua. Ayah selalu membuat kalian berdua menderita. Kalian memang pantas membenci ayah. Maafkan semua kesalahan ayahmu ini nak!!"
"Tidak perlu saling menyalahkan masing-masing. Ini semua merupakan garisan takdir dari Tuhan. Kita harus berterima kasih pada Tuhan, karena Tuhan, sampai detik ini melindungi keluarga kita. Sehingga kita bisa terbebas dari kekejaman masa lalu. Kakak,,, ayah, kita tutup masa lalu dan kita buka lembaran baru yang lebih indah!!" ucapkan memeluk mereka berdua.
Suasana di rumah itu menjadi sangat mengharukan sekaligus membuat mereka semua bahagia. Davin dan juga Mita yang melihat mereka bertiga pun ikut terharu.
"Sudah-sudah, kenapa jadi saling lomba menangis seperti ini? dan kalian berdua, kenapa kalian mendadak pulan dan tidak mengabari kami?" tanya Davin kepada Bagas dan Mita.
Dua sejoli itu saling tatap lalu tersenyum. "Karena kami memang sengaja ingin membuat kejutan untuk kalian, sekaligus kami ingin beritahukan kepada kalian, bahwa lusa kami akan menikah!!" sahut Bagas.
"Ah ,syukurlah Aku sangat senang akhirnya kakakku menikah!!" sahut Vey.
"Ayah juga sangat senang mendengar kalian akan menikah. Cepatlah menikah, beri Ayah cucu-cucu yang lucu untuk menemani masa tua ayah!!"
"krik krik krik!!" seperti ada suara jangkrik yang baru saja lewat membuat Bagas dan Mita Saling pandang, setelah mendengar permintaan ayahnya barusan.
__ADS_1