
"Apa yang ingin kau lakukan, Vey? Jangan nekat!!" teriak seseorang yang baru masuk ke dalam apartemen.
Suara Bagas berteriak ketika matanya melihat adiknya hendak memotong nadinya menggunakan pisau buah.
Vey terkejut hingga pisau di tangannya jatuh begitu saja. Bagas segera menghampiri adiknya dengan tatapannya yang tajam.
Bagas sudah memiliki feeling buruk, ketika dia melihat Davin keluar dari apartemennya. Dan benar saja, setelah dia masuk ke dalam apartement, Bagas melihat adiknya akan bunuh diri.
"Apa kau sudah gila, Vey? Apa yang akan kau lakukan, hah? Kenapa lelaki itu kesini?" tanya Bagas mengintrogasi.
Vey berhambur memeluk kakaknya. Rasanya dia sudah tidak ingin hidup. Dia lelah, mencoba mendapatkan kembali hati suaminya. Namun hanya Renata yang ada di dalam pikiran suaminya saat ini.
"Aku lelah, kak. Aku ingin mati! Buat apa aku hidup? Suamiku lebih mementingkan wanita itu, kak," ucap Vey, di sela-sela tangisnya.
Bagas mengepalkan tangannya. Dia menatap wajah adiknya yang di penuhi air matan. "Kau tahu, siapapun yang melukaimu, kakak mampu membunuhnya saat ini juga termasuk suamimu," ucap Bagas, yang telah dipenuhi emosi.
Dia masuk ke dalam kamarnya, membuka laci dan mengambil sebuah pistol. Vey terkejut, dia berlari menghampiri kakaknya, setelah melihat pistol di tangan Bagas.
"Kak, apa yang akan kakak lakukan?" tanya Vey, ketakutan.
"Membunuh suamimu. Jika dia adalah sumber dari penderitaanmu, maka sepantasnya dia mati saja," ucap Bagas.
Vey menahan tangan kakaknya, bahkan dia bersimpuh di depan kaki Bagas. Dia menangis, memohon agar kakaknya tidak membunuh suaminya.
"Aku mohon kakak, jangan bunuh suamiku. Dia tidak bersalah, dia dalam pengaruh obat, kak," ucap Vey, menangis dalam posisi masih bersimpuh di kaki Bagas.
Bagas berjongkok, menyuruh Vey menatapnya. Hati seorang bagas yang setipis tisu, hanya dapat dikalahkan oleh adiknya.
Dihapusnya air mata Vey yang terus mengalir membasahi wajah cantiknya. "Kau tahu, harus berapa kali kakak tegaskan kepadamu, Vey? Kakak tidak suka melihat air matamu. Berdirilah, kakak sudah memasukan seseorang ke dalam rumah Davin. Kakak belum menemukan penangkal dari ramuan yang diberikan dua rubah betina itu pada Davin. Tapi, kakak akan menyuruh seseorang menukar ramuan dalam bentuk yang sama. Setidaknya, Davin tidak akan lagi meminum ramuan terkutuk itu," ujar Bagas.
"Benarkah, kak? Apa orang itu mampu melakukannya?" tanya Vey.
__ADS_1
Bagas mengangguk. Orang yang diperintahkan Bagas, tak lain adalah Mita. Mita lah pengganti asisten rumah tangga di rumah Davin yang lama. Dia akan melakukan semua perintah Bagas, termasuk memperhatikan kondisi Bagus ayahnya.
Dalam keadaan kacau, Davin mengemudi mobilnya dengan kecepatan pelan. Davin merutuki dirinya, karena dia bersikap kasar pada sekretarisnya.
"Apa ucapanku tadi terlalu kasar pada Vey? Seharusnya aku tidak menyebut nama Renata setelah semua yang terjadi!!" gumam Davin, sambil mengemudi mobilnya.
Mata renata menatap tajam, setelah melihat mobil Davin memasuki halaman rumah. Dia baru saja selesai meredam emosinya. Setelah melihat wajah Davin, mendadak emosinya muncul kembali.
Bayangan ketika Davin dan Vey memasuki apartemen bersama. Renata sudah menduga, pasti mereka melakukan hal lebih di dalam apartemen.
Dia tidak rela, Lelaki yang didapatkannya susah payah, kembali kepada istri sahnya. Renata melipat kedua tangannya, matanya masih menatap tajam Davin, yang berjalan menghampirinya.
"Hai, udara di luar sangat dingin, kenapa kamu tidak menungguku di dalam?" tanya Davin.
"Dari mana saja kamu? Kenapa jam segini baru pulang?" tanya Renata mulai mengintrogasi. Apa lagi bau perfume wanita bisa Renata cium dari tubuh Davin.
Kali ini Davin lupa membersihkan tubuhnya maupun mengganti kemejanya. Hal itu karena pertengkaran kecil antara dirinya dan Vey tadi.
"Bau perfume wanita. Apa kamu selingkuh di belakangku, Davin?" tanyanya menatap tajam wajah Davin.
"Apa maksudmu? Aku baru pulang kerja dan kau langsung menuduhku."
Davin mencoba menyembunyikan semua yang terjadi padanya dari Renata. Meskipun hal itu percuma saja. Karena Renata sudah melihatnya bersama Vey tadi sore.
"Bohong. Ini bau perfume wanita!!" ucap Renata masih mengintrogasi, berharap Davin berterus terang padanya.
Davin malas menanggapi ocehan Renata. Disisi lain dia juga khawatir, hubungannya dengan sekretarisnya akan diketahui Renata.
Davin melangkah masuk kedalam rumah dan meninggalkan Renata begitu saja di luar. Renata mempercepat langkahnya dan tetap menuntut jawaban dari Davin.
"Apa lagi, sih? Jangan menuduh aku dan jangan sampai aku selingkuh sungguhan karena tuduhanmu, Renata," Bentak Davin seraya menaiki tangga, meninggalkan Renata begitu saja dengan emosinya.
__ADS_1
"Davin, jangan mengelak," teriak Renata, masih saja mengejar Davin.
Retno hanya menjadi penonton pertengkaran antara putrinya dengan Davin. Sebenarnya dia tadi sudah melarang Renata agar diam. Tapi, emosi putrinya hari ini tidak bisa dikendalikan.
"Davin. Kenapa kamu jadi berubah seperti ini? Pasti kamu beneran punya wanita lain, bukan?"
Davin melepas kemeja kerjanya dan membuangnya begitu saja di atas ranjang. Tidak menghiraukan omelan Renata, Davin langsung masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya dengan sangat keras.
Renata terkejut dan menjerit atas sikap Davin padanya. Dia sudah seperti orang kesetanan hanya gara-gara Davin bersama Vey. Kini ditambah Davin mengacuhkanya, membuat Renata semakin emosi.
Retno bergegas masuk ke dalam kamar putrinya. Bahkan semua benda di dalam kamar itu terlihat berserakan semua di lantai. Retno menarik tangan putrinya keluar dan menutup pintu kamar.
"Apa kau sudah gila? Kau ingin memancing emosi Davin?" tanya Retno.
"Ma, Davin mengacuhkanku. Dia menjadi berubah semenjak bertemu dengan Vey. Aku tidak ingin semua usahaku selama ini sia-sia hanya karena kehadiran Vey kembali," keluh Renata.
"Bodoh, beri saja Davin ramuan seperti biasanya. Maka dia akan tunduk lagi denganmu dan melupakan kejadian hari ini," ucap Retno, menghasut pikiran putrinya.
Renata membenarkan ucapan ibunya. Dia juga merutuki perbuatannya barusan. Renata bergegas mengambil ramuan yang biasanya dia berikan kepada Davin.
Sedangkan di balik pintu, Mita yang berhasil menjadi pengganti Surti, mendengarkan semua obrolan Renata dan Retno.
"Info ini harus segera dilaporkan pada pak Bagas. Aku harus bisa menukar ramuan itu dengan obat ini,"ucapnya melihat sebotol obat yang sengaja dibuat sama mirip dengan ramuan yang disimpan Renata.
Mita juga mengintip di balik pintu, melalui cela cela kecil, demi melihat di mana Renata menyimpan obat itu. Ternyata Renata menyimpannya di kamar Retno.
Matanya masih saja memperhatikan interaksi ibu dan anak yang sedang menyiapkan ramuan untuk diberikan pada Davin.
Bahkan Renata sudah menyiapkan segelas air khusus yang akan dicampurkan dengan ramuan di tangannya.
"Pyarrrrrr," suara pecahan kaca terdengar dari lantai atas.
__ADS_1