
Vey dan Mita sama-sama sedang di rawat di rumah sakit yang sama. Setelah mendengar kabar kaburnya Renata dari penjara, Bagas memerintahkan beberapa orang untuk menjaga Vey dan Renata.
Setelah beberapa menit kemudian, Vey tersadar dari pingsannya. Davin masih setia menemaninya sedari tadi.
"Mas!!" panggil Vey, melihat suaminya duduk di sampingnya tapi terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Sayang, kau sudah sadar!!" ucapnya tersenyum mengelus rambut Vey.
Vey mengangguk, tapi tiba-tiba dia merasakan mual yang tak mampu ditahannya. Dia turun dari ranjang menuju toilet dan memuntahkan semua isi di dalam perutnya yang berupa air saja.
"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya Davin khawatir.
"Mas, ruangan ini bau obat, aku tidak kuat dan ingin muntah!!"
Davin tersenyum, karena dia tahu wanita hamil memang seperti itu apalagi di semester pertama.
"Sayang, kau muntah bukan karena ruangan ini bau obat. Tapi karena, di dalam sini ada Davin junior!!" ucap Davin, tangannya mengelus lembut perut Vey yang masih datar.
Dengan susah payah Vey mencerna ucapan suaminya. Matanya menatap Davin, sedangkan Davin tetap tersenyum tak menyadari keterkejutan istrinya.
Beberapa saat kemudian, setelah melihat Vey hanya terdiam tanpa reaksi, Davin berpikir Vey tidak bahagia dengan berita kehamilannya. Atau memang dia masih trauma dengan kematian anak pertama mereka dulu.
Bahkan Vey meneteskan air matanya dan pandangannya beralih memandang perut datarnya. Dia masih belum bersuara, hanya tetesan air matanya yang belum juga berhenti mengalir.
__ADS_1
"Sayang, kau baik-baik saja? Apa kau tidak bahagia dengan kehamilanmu kali ini?"
Mata Vey berganti menatap wajah suaminya. Bukannya menjawab, dia malah berhambur memeluk Davin.
"Mas, aku bahagia dengan kehamilanku. Tapi aku sedih karena di saat aku hamil, Renata kabur dari penjara. Aku takut dia akan memisahkan ku kembali dengan calon bayi kita!!"
Ketakutan itu memang wajar masih dirasakan oleh Vey. Dia tidak mau sejarah terulang kembali. Davin mencoba menenangkan istrinya dan meyakinkannya bahwa ketakutannya tidak akan terjadi.
"Kamu tenang ya, sayang. Aku dan Bagas tidak akan membiarkan sejarah terulang kembali. Kami sedang menyuruh orang untuk mencari keberadaannya. Kamu jangan takut, kali ini aku akan benar-benar melindungi mu!!"
"Udah-udah jangan nangis lagi, nanti dedek bayinya cengeng. Duduk sini ya, aku ambilkan makan siang buatmu!!"
Tapi Vey menggeleng, mendengar makanan saja dia sudah merasa mual, apalagi melihatnya.
"Tapi kamu belum makan dari tadi, sedikit ja, ya?"
Vey tetap saja menolak, itu karena faktor kehamilannya yang membuatnya tidak nafsu makan. Apa yang bisa Davin lakukan, hanya mencemaskan kondisi istri dan calon bayi mereka kalau sampai kekurangan nutrisi dan gizi.
"Mas, aku pingin keluar dari ruangan ini. Aku ingin melihat kondisi Mita, apakah dia sudah sadar?"
"Sayang, Mita belum sadar. Please kamu pikirkan kondisimu dan bayi kita, ya. Soal Mita, dokter sudah memberitahu, pelan-pelan dia akan sadarkan diri. Kamu istirahat dulu, ya!!''
Di tempat lain, di sebuah kamar kos, dua wanita sedang menatap tajam foto Vey secara bersamaan. Masing-masing memiliki dendam pada orang yang sama dan ingin segera membalaskan dendamnya.
__ADS_1
Renata dan Andien ternyata selama ini bekerjasama. Mereka memiliki misi membuat Vey menderita. Dua wanita itu sama-sama buronan. Renata menjadi buronan polisi dan semua orang suruhan Bagas dan Davin.
Andien pula juga menjadi buronan orang suruhan Davin. Bahkan hanya keluar kos pun mereka tidak berani. Sesekali keluar harus melakukan penyamaran.
"Rumah sakit tempat Vey saat ini masih dijaga ketat oleh orang-orang Davin dan juga Bagas. Sepertinya mereka tahu rencana kita dan apa mereka membuntuti kita? Semua ini gara-gara kau bodoh. Jika kemarin kau tidak gegabah, pasti salah satu di antara kita masih aman!!"
Renata memarahi tindakan Andien yang terlalu gegabah. Kalau Andien tidak gegabah menabrak Vey namun salah sasaran, pasti mereka berdua tidak akan di kejar-kejar polisi.
"Gara-gara kebodohan mu, aku jadi sial!!"
"Eh, lo tuh seharusnya bersyukur gua kasih tumpangan gratis di kos-kosan ini. Lagian lo kaburan dari penjara punya apa? Bisa tidur dan makan gratis udah enak lo!!" Andien tak terima dengan protes Renata. Setelah mendengar ucapan Andien, Renata terdiam. Karena yang dikatakan Andien memang benar, bisa dibilang dia numpang hidup di kos-kosan Andien.
Dua wanita itu terjebak oleh tindakan mereka sendiri. Dimanapun tempatnya, selalu ada orang-orang Bagas yang sedang berpencar mencari jejak Renata dan juga Andien. Bahkan untuk makan pun, terpaksa mereka hanya bisa makan mie instan. Selain harus ngirit, hanya makanan itu yang bisa dimakan tanpa harus keluar dari kos-kosan.
"Kita gak bisa terus-terusan seperti ini. Kapan kita bisa melenyapkan Vey, kalau kita saja seperti ini. Keluar dari penjara lalu terkurung di sini yang tak jauh beda dari penjara!!"
"Lo bisa diam gak sih, Renata. Lama-lama lo gue usir dari kos-kosan ini dan jadi gelandangan di luaran sana, mau?" ancam Andien yang sudah merasa risih dengan Renata. Bahkan sikapnya jauh berbeda dari waktu Renata masih berstatus menjadi tunangan Davin dulu.
Jika dulu dia cari muka, maka sekarang dia buang muka. Terlebih Renata kere tidak memiliki apapun. Pakaian saja, dia meminjam pakaian Andien. Andien merasa seperti memungut gembel yang tidak berguna.
"Kita harus memikirkan cara yang tepat untuk membawa Vey, lalu membunuhnya. Kita sama-sama menaruh dendam pada wanita itu. Dendam kita harus terbalaskan, karena aku tidak ikhlas dia hidup berkecukupan sedangkan aku menjadi gembel."
Mulut Renata terus mengomel, Andien lama-lama stres mendengar omelan Renata. Dia memilih pergi keluar mencari sumber ide. Pastinya dia harus menutup rapat wajahnya agar tidak di kenali para orang-orang suruhan Bagas.
__ADS_1
Wanita itu memakai cadar dan busana muslim serba tertutup. Sehingga bagian wajahnya pun hanya terlihat bagian matanya saja. Jadi, sulit bagi orang lain mengenalinya.