
Sejak pagi, Vey belum melihat batang hidung suaminya di kantor. Dia sangat mencemaskan Davin. Dia sangat takut terjadi sesuatu pada suaminya. Apa lagi kemarin Davin terlihat terburu-buru saat pulang kantor.
Dari tadi Vey hanya memegang ponselnya, lalu meletakkannya kembali ke meja kerjanya. Begitu terus dan berulang-ulang. Ingin menghubungi suaminya, namun dia ragu.
Apa lagi jam dua siang ini, Wings Corporation akan mengadakan rapat dengan perusahaan milik Devano. Vey bisa saja menggantikannya, karena dialah pemegang saham tertinggi di Wings Corporation. Tetapi mengingat penyamarannya menjadi sekretaris, tidak mungkin Vey turun tangan tanpa adanya Davin sebagai ceo di Wings Corporation.
Vey menjadi kelabakan sendiri karena ulah suaminya. Sebagai sekretaris dia harus mengundur jadwal hingga suaminya datang. Dia tidak menyukai hal seperti itu. Kalau dibiarkan terus menerus, akan berdampak buruk bagi perusahaannya.
"Kemana kamu, mas? Sudah jam segini tapi kamu belum juga datang."
Sedangkan yang di tunggu-tunggu masih di rumahnya. Renata merengek melarang Davin ke kantor. Dia masih parno jika ada teror susulan di rumah itu.
"Kamu jangan pergi, aku takut, Mas. Atau aku ikut kamu ke kantor, ya?" rengeknya memohon.
"Baiklah. Asal kamu jangan mengganggu pekerjaanku dengan rengekanmu ini."
Terpaksa Davin mengajak Renata ke kantornya. Apa lagi, Davin baru saja mendapat pesan dari Vey, bahwa setengah jam lagi akan ada rapat dengan perusahaan Devano.
Setibanya di lobby kantor, Renata berjalan sambil bergelayut manja di lengan Davin. Seolah-olah menunjukan kepada para karyawan yang melihat mereka, bahwa Davin adalah miliknya.
Semua karyawan sudah mengetahui hubungan bosnya dengan Renata. Bahkan Renata sebelumnya juga pernah datang ke kantor itu.
Kasak kusuk terdengar bisikan para karyawan membicarakan mereka berdua. Renata dengan angkuhnya mengacuhkan sapaan para karyawan.
"Sombong banget. Padahal masih berstatus tunangan, belum tentu menikah," ucap Sarah lirih.
Sarah segera merogoh ponselnya dan mengirim pesan pada Vey. Saat ini Vey telah berada di ruang rapat. Bahkan Devano telah datang sepuluh menit yang lalu. Itu artinya, Davin terlambat lebih dari sepuluh menit.
"Selamat siang semua. Maaf atas keterlambatan saya," ucap Davin baru saja tiba dan duduk di tempat yang telah disediakan Vey.
Vey bernafas lega, akhirnya suaminya datang juga. Padahal jantungnya hampir terlepas, takut jika suaminya tidak jadi datang.
Sementara Renata menunggu di ruang kerja Davin. Vey belum sempat membuka pesan dari Sarah. Jadi, dia belum tahu Renata saat ini ada di kantor yang sama dengannya.
__ADS_1
Lama menunggu kedatangan Davin. Ujung-ujungnya Davin tetap memasrahkan semuanya kepada Vey. Devano semakin curiga, bahkan Vey tahu banyak tentang Wings Corporation.
Bisa dilihat dari cara Vey menjelaskan saat rapat berlangsung. Vey lebih banyak tahu tentang perusahaan itu, dibanding Davin yang seorang ceo di Wings Corporation.
Devano semakin mengagumi secretaris kolega bisnisnya. Siapa yang tidak tertarik dengan wanita cantik plus pintar seperti Vey. Tetapi sebelum semakin jauh, Devano harus memecahkan rasa penasarannya tentang Davin dan Vey.
Tepukan tangan dari semua orang membuat Vey merasa puas. Semua yang hadir di rapat itu menatap kagum pada Vey. Davin pun mengakui sekretaris barunya membawa dampak positif bagi perusahaannya.
Vey baru bekerja selama beberapa hari. Namun kemajuan perusahaan itu sangat jelas terlihat. Davin sangat bersyukur memiliki secretaris seperti Vey.
"Nona Vey. Saya sangat menyukai kinerjamu. Saya mengundangmu dan pak. Davin untuk makan malam besok. Apakah kalian tidak ada acara penting besok?" tawar Devano.
"Tentu saja kami akan datang pak. Devano. Bukankah begitu nona Vey?" tanya Davin, ikut memanggil Vey dengan sebutan nona, seperti Devano memanggilnya.
"Baik pak. Devano. Kami pasti datang, suatu kehormatan anda mengundang kami," ucap Vey.
Setelah rapat selesai, Devano kembali ke kantornya. Davin kembali ke ruangan nya, di ikuti Vey di belakangnya.
Davin menghentikan langkahnya mendadak, membuat Vey membentur dada bidangnya.
"Setelah ini saya tidak mau diganggu oleh siapapun dan apapun," ucapnya berlalu masuk ke dalam ruangan nya.
Vey yang mendapat pesan dadakan dari suaminya hanya diam saja. Dia duduk di meja kerjanya, dibukanya ponsel yang sedari tadi tidak diaktifkan. Matanya membulat ketika membaca pesan dari Sarah.
"Brengsek. Rupanya si rubah betida ada di dalam. Pantas saja mas Davin tidak mau diganggu. Apa yang mereka lakukan di dalam, sampai tidak boleh ada yang mengganggu mereka."
Vey semakin gusar. Pikiranya sudah bercabang-cabang kemana-mana. Apa yang dilakukan suaminya dan Renata di dalam. Sehingga Davin tidak ingin diganggu oleh siapapun.
"Ya Tuhan, jangan biarkan suamiku berzina dengan rubah betina itu," ucap Vey. Kakinya berjalan mondar mandir di depan pintu ruang kerja suaminya.
Sementara di dalam ruangan kerja Davin. Renata berada di atas pangkuan Davin. Renata terus merayu Davin agar pria yang saat ini dikuasainya itu tergoda olehnya.
"Sayang, aku menginginkanmu. Bagaimana kalau kita melakukannya di ruangan ini?" rayu Renata.
__ADS_1
"Aku lelah, aku sedang tidak ingin melakukannya Renata. Lagipula kita belum menikah, turunlah dari pangkuanku."
"Dasar lelaki payah!!" desis Renata lirih.
"Ya sudah, mending aku belanja ke mall dan melakukan perawatan. Mungkin setelah perawatan, kamu mau menyentuhku, sayang," bisiknya.
Davin hanya mengibaskan tangan nya, menyuruh Renata pergi. Semalaman sampai pagi, Davin dibuat lelah hanya gara-gara rengekan manja Renata.
Kepala Davin terasa pusing memikirkan siapa yang meneror di rumahnya. Bahkan sampai Surti asisten rumah tangganya pun minta berhenti kerja.
Renata mencium pipi Davin singkat, lalu dia keluar meninggalkan ruangan kerja Davin. Melihat pintu terbuka, Vey buru-buru menutupi wajahnya menggunakan masker.
"Selamat siang nona Renata!!" sapa Vey.
Renata menghentikan langkahnya, matanya meneliti penampilan Vey dari atas hingga ke bawah.
"Apa kau sedang sakit? Jangan dekat-dekat tunangan saya, nanti tertular penyakitmu!!" ucap Renata dengan angkuhnya, lalu berlalu begitu saja.
"Dasar penjilat. Orang sombong tak bermodal, numpang hidup, merampas harta orang lain, menghabiskan hartaku untuk berfoya-foya. Tunggu saja sebentar lagi, black card yang kamu gunakan untuk menghabiskan hartaku tidak akan berfungsi lagi, rubah betina," ucap Vey, memperhatikan kepergian Renata hingga wanita itu hilang dari pandangannya.
"Vey. Cepat ke ruangan saya!!" teriak Davin. Membuat Vey terkejut.
Dia segera melangkah masuk kedalam ruang kerja suaminya. Dilihatnya rambut Davin yang acak-acakan. Bahkan dasi miliknya telah di buangnya asal di lantai.
"Apa yang sebenarnya mereka berdua perbuat tadi?" batin Vey gusar.
"Buatkan saya kopi!!" perintah Davin, segera dilaksanakan Vey.
Vey keluar menuju pantry dengan membawa banyak pikiran di otaknya. Dia masih memikirkan apa yang dilakukan suaminya dan Renata tadi.
Pikirannya sudah menjurus ke yang tidak-tidak. Bahkan ketika dia membuat kopi untuk Davin pun, Vey masih melamun. Membuatnya kurang fokus, dan mengakibatkan tanganya terkena air panas.
"Aduh!!"
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa, Vey? Mana yang sakit?" suara seorang lelaki mengejutkannya.