Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 20


__ADS_3

Malam ini Vey berdandan sangat cantik. Dia mengenakan dress berwarna lilac yang di belikan Davin kemarin siang.


Waktu telah menunjukan pukul tujuh malam. Kemarin, Davin berkata akan menjemputnya. Vey Masih menunggu suaminya datang menjemputnya.


Sebenarnya Vey Masih marah pada suaminya atas sikap Davin kemarin. Tapi dia mencoba membuang jauh-jauh egonya Dan mencoba melupakan. Toh, Davin pasti sudah lupakan soal kemarin.


Sementara di rumah Davin. Renata merengek ingin ikut Davin. Melihat penampilan Davin sangat rapi Dan wangi. Serta mengingat Davin Dan Vey kemarin baru saja ke butik. Renata yakin, pasti malam ini Davin akan keluar dengan Vey.


Seolah tidak ingin kecolongan untuk kesekian kalinya. Renata tidak mengizinkan Davin pergi, kecuali Davin mengajaknya.


Davin bingung, pasalnya dia sudah berjanji akan menjemput Vey. Bagaimana mungkin dia menjemput Vey, sedangkan Renata meminta ikut.


Bahkan Renata telah berdandan Dan soap pergi mengikuti Davin. tidak ada pilihan lain bagi Davin, terpaksa dia mengajak Renata.


Davin menyalakan mobilnya dengan perasaan bimbang. Dia belum sempat memberitahu Vey. Karena Renata terus memperhatikan gerak-geriknya.


Sedangkan Vey Masih tetap menunggu kedatangan Davin. Semakin Lamar, Vey semakin gelisah. Dia sudah sangat Lama menunggu Davin, tetapi yang ditunggu belum juga tiba.


"Jangan bilang kamu lupa, mas!!" gumamnya menduga.


Davin telah tiba di sebuah restaurant mewah tempat Devano mengundangnya. Dia membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan Renata keluar.


Renata tersenyum penuh kemenangan. Dia merasa berhasil menyingkirkan Vey malam ini. Dia telah mengetahui posisi Vey di kantor Davin. Wanita itu adalah sekretaris Davin. Hanya itu yang Renata ketahui, dari info mamanya tadi siang.


Mereka beriringan masuk ke dalam restoran, mencari sang pemilik acara. Hingga mata Davin menemukan sosok Devano berjalan menghampirinya.


Devano mandang Renata dengan pandangan asing. Sekaligus matanya mencari cari keberadaan Vey, yang disangkanya berangkat bersama Davin. Nyatanya dugaannya salah, bukan Vey yang di gandeng Davin, melainkan wanita yang tak asing baginya.


"Selamat malam pak Davin," sapanya, tetapi matanya masih melirik Renata. Davin yang menyadari lirikan Devano pun memperkenalkan Renata.


"Perkenalkan wanita di sebelah saya adalah tunangan saya, pak Devano!!"

__ADS_1


Devano tersenyum menjabat tangan Renata, dengan tatapan yang berbeda. Lain halnya dengan Renata yang terkejut melihat sosok Devano.


"Akhirnya aku menemukanmu, penipu!!" gumam Devano tersenyum mengerikan.


Renata gugup, sepertinya keputusannya mengikuti Davin malam ini adalah keputusan yang salah. Devano mempersilahkan tamunya menuju meja khusus yang telah di siapkannya.


Mereka bertiga duduk di tempat yang telah disediakan. Devano masih melirik Renata, seakan dia ingin membunuh wanita itu saat itu juga. Namun ada Davin di sebelahnya.


"Hmm, ngomong-ngomong, dimana sekretaris anda, pak Davin? Kenapa dia tidak datang?" tanya Devano.


Davin sudah menduga sebelumnya, pasti Devano akan mempertanyakan keberadaan Vey. Bahkan dia sendiri masih merasa bersalah pada Vey. Dia tidak bermaksud ingkar janji. Tetapi Renata mendadak mengacaukan rencananya.


"Dia_


"Saya di sini pak Devano. Maafkan saya terlambat datang!!" ucap Vey, dengan sangat lantang dan matanya melirik tajam ke arah Davin dan Renata.


Davin terkejut, tidak menyangka Vey akan hadir juga. Dia pikir, Vey tidak akan hadir tanpa nya dan ternyata dugaannya salah.


Devano menghampiri Vey, dan mencium punggung tangan Vey. Vey membiarkan saja, Devano mencium punggung tangannya. Sekaligus hukuman untuk suaminya yang membuatnya merasa kesal malam ini.


"Terimakasih atas pujiannya, pak. Tetapi anda berlebihan, padahal dandanan saya biasa-biasa saja," respon Vey, lalu menerima uluran tangan Devano.


Devano merasa senang karena Vey menerima uluran tangannya. "Wanita cantik memang selalu berkata demikian jika ada yang memuji," ucapnya tersenyum dan membawa Vey duduk di sampingnya. Sehingga Vey berhadapan langsung dengan Davin. Sedangkan Devano berhadapan dengan wanita yang sedari tadi menahan emosinya.


"Selamat malam pak Davin!!" sapa Vey, hanya menyapa suaminya dan mengacuhkan wanita di sebelahnya.


Vey tidak sadar, semenjak kehadirannya hingga saat ini, Davin terus memperhatikannya. Bahkan dia juga memperhatikan ketika Devano memperlakukan Vey dengan sangat istimewa.


Davin merasa risih dan ada sesuatu di sudut hatinya yang tidak rela, Vey di sentuh pria lain. Davin terus menatap Vey, dengan tatapan bercampur aduk.


Tatapan mengagumi kecantikan Vey, sekaligus merasa senang karena Vey mengenakan dress pemberiannya. Tatapan tidak suka karena Vey terlalu dekat dengan Devano. Dan juga tatapan merasa bersalah karena mengingkari janjinya yang membuat Vey kecewa padanya.

__ADS_1


Lain halnya dengan Renata yang tidak suka dengan kehadiran Vey. Dia merasa perhatian Davin tertuju pada Vey. Bahkan penampilan Vey lebih cantik dibanding dirinya. Dress yang dikenakan Vey pun lebih bagus dibanding gaun yang dia pakai.


"Brengsek, kenapa wanita ini harus datang. Awas kau Vey, aku benci kau yang selalu lebih unggul dariku," gumam Renata dalam hatinya.


Vey tersenyum melihat wajah Renata yang menahan amarah. Bahkan Renata nampak posesif kepada Davin. Takut-takut bila Davin kembali lagi pada Vey.


"Pak Davin, mari silahkan di nikmati hidangannya selagi masih hangat. Nona Vey, kau pun harus mencicipi menu di restoran ini sangat lezat."


Devano mengambilkan beberapa menu untuk Vey cicipi. Perhatian Devano kepada Vey sangatlah mengganggu penglihatan Davin. Bahkan Davin telah mengepalkan tangannya karena api cemburu yang hadir secara tiba-tiba.


"Oh, anda terlalu repot-repot pak Devano. Sebenarnya saya bisa sendiri, tetapi terima kasih," ucap Vey tersenyum sangat manis memandang Devano.


"Sayang, apa kamu tidak ingin mengambilkannya untukku?" tunjuk Renata pada salah satu hidangan di depannya. Dia tidak ingin kalah dengan Vey yang mendapat perhatian Devano.


Vey mendengar ucapan Renata, dan dia ingin tertawa saat itu juga. Tidak ada yang memperhatikan Renata, sehingga dia mengemis perhatian pada suaminya.


"Dasar rubah betina," gumamnya, lalu menikmati hidangan yang diambilkan Devano untuknya.


"Bagaimana nona Vey? Apakah sangat lezat?" tanya Devano.


Vey mencicipi dan menimbang-nimbang rasa pada salah satu menu. Dia seperti seorang chef yang sedang menilai rasa sebuah masakan. Beberapa detik kemudian matanya berbinar. Benar kata Devano, menu di restoran itu sangatlah lezat.


"Astaga, ini adalah makanan terlezat yang pernah saya rasakan, pak. Anda sangat ahli dalam memilih tempat dengan hidangan terlezat," puji Vey tulus.


Devano tersenyum, bahkan seolah dunia hanya milik Devano dan Vey. Sedangkan Davin dan Renata hanya menjadi penonton perbincangan mereka berdua.


"Berarti selera kita sama nona Vey. Lain kali saya akan mengajak anda mencoba kuliner lainya," ucap Devano kemudian.


Vey tersenyum mengangguk, menerima ajakan Devano. Sudut matanya melirik suaminya yang terbakar api cemburu. Vey ingin tertawa, apalagi wajah Renata juga menatap kesal ke arahnya.


"Ini adalah hukuman untukmu, suamiku sayang!!" gumam Vey tersenyum ke arah Davin.

__ADS_1


Vey beranjak dari duduknya. Dia izin sebentar ke toilet. Devano hendak mengantarnya, tetapi Vey melarangnya. Vey berjalan sendiri menuju toilet yang tidak jauh dari tempatnya duduk.


Tak lama kemudian Davin juga izin ke toilet. Membuat Devano menatap curiga pada kolega bisnisnya. Sedangkan Renata menatap kesal ke arah Davin.


__ADS_2