Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku

Ku Rebut Kembali Karena Dia Miliku
Chapter 75


__ADS_3

Renata mengajak Andien mengambil mobil Devano di bengkel xxx. Sesampainya di bengkel, mata Renata tidak melihat mobil Devano ada di sana. Tapi alamat bengkel itu sama dengan alamat yang diberikan oleh Devano.


Tak lama ada seorang lelaki muda menghampiri Renata. "Apakah anda Mbak Renata?" tanyanya.


"Iya, benar saya Renata. Ada apa ya?"


"Ini saya diminta Pak Devano memberikan kunci mobilnya. Mobilnya ada di sebelah sana yang berwarna hitam."


Tangan telunjuk lelaki itu menunjuk pada mobil hitam yang sudah terparkir di depan sana. Mobil itu tampak asing bagi Renata, karena biasanya bukan mobil itu yang dikendarai oleh Devano.


Untuk memastikannya Renata menghubungi Devano. Takutnya dia salah mengambil mobil atau salah pergi ke bengkel.


"Halo Devano. Apakah benar mobil berwarna hitam itu adalah mobilmu? kok aku tidak pernah liat, ya?" tanya Renata.


"Itu mobilku yang lainnya. Cepat kamu bawa pulang mobil itu!!" perintah Devano.


Setelah mendapatkan penjelasan dari Devano akhirnya Renata membawa pergi mobil itu bersama Andien.


Mereka tidak langsung pulang Mereka ingin menggunakan mobil itu untuk jalan-jalan. Toh Devano belum pulang dia tidak akan tahu dan tidak akan marah.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan menggunakan mobil ini!!" tawar Renata.


"Bodoh, ini bukan waktunya untuk bersenang-senang. lebih baik kita kejar Mobilnya Davin dan Vey. Kita lihat kematian mereka!!" bantah Andien.


"Memangnya masih ada waktu?" tanya Renata tidak yakin.


"Tutup mulutmu, cepat kejar mobil Davin dan juga Vey. Percepat laju mobil ini agar kita bisa melihat kematian mereka."


Meskipun kurang yakin Renata tetap mendengarkan ucapan Andien. Dia mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan benar saja mereka masih bisa mengejar mobil Davin dan juga Vey.


Renata sempat bingung, kenapa mobil Davin juga Vey masih berada di area sana. Perasaan mobil Mereka sudah pergi dari tadi. mobil yang dikendarai Davin juga sangat lambat tidak seperti yang mereka kira.

__ADS_1


"Kalau mobil mereka selambat itu kapan Matinya?" tanya Renata.


"lalu apa yang harus kita lakukan?" sahut Andien.


Mobil yang ditumpangi mereka berdua tepat di belakang mobil Davin dan juga. Davin sengaja memperlambat laju mobilnya setelah mendapat panggilan telepon dari Devano.


"Aku nggak menyangka Renata sejahat itu. Dia ingin mencelakai kita dengan merusak rem mobil kita untuk kedua kalinya, mas. Untung saja Pak Devano segera menghubungi kita. Kita sangat berhutang Budi kepadanya," ucap Vey.


Matanya masih menoleh ke arah belakang tepat pada mobil hitam yang sedang mengikuti mobilnya.


"Benar sayang. Untung ada Pak Devano yang membantu kita. Aku juga tidak habis pikir wanita itu tidak ada kapoknya. Ditambah lagi satu wanita yaitu Andien mantan karyawan kita itu benar-benar gila," ucap Davin.


"tin tin tin tin tin!!" suara klakson mobil yang ditumpangi Renata berbunyi. Tandanya dia meminta mobil di depannya agar lebih cepat sedikit.


Mobil yang ditumpangi Renata sengaja memepet mobil Davin agar Davin mempercepat laju mobilnya.


"Sial, Kenapa mereka mengendarai mobil itu dengan sangat pelan," umpat Renata kesal.


"Ren, Biarkan saja mobil mereka kita harus mempercepat mobil kita soalnya di belakang kita ada truk besar," ucap Andien.


Renata langsung menyalip mobil Davin. Mobil yang ditumpangi Renata melaju dengan kecepatan tinggi. Tadinya dia mempercepat mobilnya untuk menghindari truk di belakangnya. Tidak disangka di depan sana banyak mobil yang berjejer akibat kemacetan lalu lintas.


"Sial, kenapa remnya tidak berfungsi bagaimana ini?"


Renata mendadak panik apalagi Andien. Rem mobil yang kendarai Renata benar-benar tidak berfungsi. Sedangkan dia terlanjur menambah kecepatan mobilnya.


"Ren, lo jangan bercanda! Yang benar saja rem mobil ini tidak berfungsi? Gue nggak mau mati muda."


Andien semakin ketakutan, dia terus Merantau tidak jelas. Sedangkan Renata juga panik Bagaimana cara dia menghentikan mobilnya.


Handphone di dalam tas Renata berbunyi. Dia meminta Andin segera mengangkatnya. Devano sedang menelponnya Andien segera mengangkat telepon dari Devano.

__ADS_1


"Devano tolong aku. Kenapa rem mobil ini blong? bukankah kau tadi bilang mobil ini baru saja diservis?" teriak Renata minta tolong dibalik teleponnya.


Renata dan Andien malah mendengar suara Devano tertawa di seberang sana.


"Selamat tinggal Renata sayang jamu akan teraman menjemput mu. Bukankah Kalian tadi ingin mencelakai Davin dan juga Vey? Sama persis seperti Kejadian beberapa tahun yang lalu? Inilah yang dinamakan Senjata makan tuan. Karena kau tetap jahat Renata, Lebih baik kau mati dengan temanmu itu. Rem mobil itu sudah dirusak dan kau tidak akan selamat. Selamat tinggal mantan istriku!!" ucap Devano di balik telepon dengan suara tawanya yang sangat nyaring.


"Brengsek kau Devano. Ternyata selama ini kau menjebakku!!" teriak Renata lalu menjerit.


"Ren, Bagaimana ini? lakukan sesuatu gue tidak mau mati muda!!" teriak Andien tak kalah panik.


Dengan kecepatan tinggi mobil hitam yang dikemudikan  Renata  hendak mendahului kendaraan yang berada di depannya, demi menyelamatkan diri karena rem mobilnya yang blong.Saking tingginya kecepatan mobil itu, sehingga ban depan dan belakang sebelah kanan berjalan di badan jalan sebelah kanan menyalip satu persatu mobil di depannya.Tiba-tiba dari arah depan datang mobil yang tidak diketahui identitasnya, mobil yang dikemudikan Renata banting setir ke kiri namun tidak bisa dikendalikan sehingga keluar jalur sebelah kiri dan masuk jurang.


Mendadak terjadi kemacetan lalu lintas karena tragedi kecelakaan yang barusan terjadi. Para pengemudi mobil turun satu persatu untuk melihat kecelakaan yang barusan terjadi, termasuk Davin dan Vey.


Vey sangat syok, karena melihat dengan mata kepalanya sendiri, mobil yang dikendarai Renata dan juga Andien terjun ke dalam jurang.


Andin langsung meninggal di tempat sedangkan Renata masih sekarat, tapi dia masih menghubungi Devano. Melihat panggilan telepon dari Renata Devano langsung mengangkatnya.


"Aku tidak menyangka ternyata inilah tujuanmu ingin Membunuhku. Tadinya aku pikir kau masih mencintaiku nyatanya aku salah. Tapi aku sadar ini adalah hukuman yang pantas untuk perbuatanku padamu selama ini. Terima kasih atas waktu yang pernah kau berikan untukku selama ini. Aku mencintaimu, selamat tinggal," ucap Renata kepada Devano sebelum dia meninggal.


Tubuh Devano bergetar hebat setelah mendengar ucapan Renata. Dia tidak menyangka ternyata Mantan istrinya itu masih mencintainya. Entah ini perpisahan yang manis atau perpisahan terpahit dalam hidupnya. Dialah yang menginginkan kematian Renata, Tetapi setelah Renata meninggal ada benda yang tak kasat mata sedang menusuk hati dan jantungnya.


Devano langsung menyambar kunci mobilnya dan menuju ke TKP tempat terjadinya kecelakaan yang menimpa Renata dan Andien. Jalan di area terjadinya kecelakaan sedang macet total.


Para petugas kepolisian pedangan menuju ke TKP. Vey terus menangis histeris karena merasa syok. Davin juga terus memeluknya dan mencoba menenangkan istrinya.


Sekitar 10 menit Devano tiba di lokasi, tapi dia tidak bisa masuk karena kemacetan. Akhirnya dia berlari menuju ke tempat  kecelakaan kurang lebih 100 meter.


Setelah Devano tiba di lokasi, mendadak tubuhnya menjadi lemas. Devano langsung bersimpuh telah melihat mobilnya yang dikendarai Renata dan juga Andien telah hancur di bawah saya.


Tiba-tiba butiran air mengalir dari matanya membasahi pipinya. Ada rasa sesal di hatinya atas perbuatan yang baru saja dia perbuat kepada Renata. 

__ADS_1


Kalau saja Renata tidak mengakui perasaannya tadi, mungkin Devano tidak akan sehancur ini.


"Maafkan aku Renata!!" teriak Devano.              


__ADS_2